Ketika Cinta Datang Season 2

Ketika Cinta Datang Season 2
Chapter 24 Nia bagian 7


__ADS_3

Masih Flashback.


Beberapa kali, Irani menelpon mamahnya Nia. Tapi tak ada yg mengangkat tlpn rumahnya.


Kejadian ini, terjadi sekitar tahun 1992. Belum ada handphone atau pun Smartphone Seperti Tahun 2019 ini. Di tahun itu, masih jarang yg punya telpon rumah. Hanya keluarga yg berada, yang mempunyai telpon rumah. Di desa ini, hanya rumah Irani yang mempunyai telpon rumah. Keluarga Nia, termasuk yang mempunyai mempunyai telpon rumah.


Irani terlihat cemas, Sudah dari tadi Ia menelpon Yesa, mamahnya Nia. Namun tak di angkatnya.


"Mereka kemana? Sedari tadi tak di angka-angkat terus," gumanya sendiri.


Keadaan Nia, sangat mengkhawatirkan. Ia berjanji akan mengobati Nia, sampai sembuh. Wanita itu, sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun tetep saja, hanya Alloh SWT yang menentukan. Sebagai manusia Irani hanya berusaha sebisanya untuk menyelamatkan gadis kecil itu. Namun semakin hari keadaannya semakin buruk. Wajahnya pucat, badanya kurus, rambutnya sudah botak. Beberapa hari ini, setiap makanan yang masuk ke tubuhnya, tubuhnya menolak dan memuntahkannya kembali, makanan itu. Tubuhnya menolak, menerima asupan makanan.


Sebelum Azka datang ke Desa itu, Keadaan Nia seperti gadis kecil lainya. Walau Nia kurus, masih bisa memakan makanan yg ia makan. Namun, saat Azka datang, Apalagi saat Azka masuk ke alam bawah sadarnya? Keadaannya semakin buruk.


Irani, mencari cara untuk menyelamatkan Nia. Ia tak pernah bisa masuk ke alam bawah sadar Nia. Masuk Ke alam lain, saat jiwanya di kurung. Dingding penghalang itu d


sulit sekali di tembus. Azka, anak laki-laki berusia tujuh tahun, bisa masuk dan menolong Nia kabur dari sana. Namun tetep saja, Azka masih belum bisa menyelamatkan Nia.


Sekarang Dingding penghalang itu sudah bisa di tembus. Namun keadaannya semakin parah. Mahluk-mahluk itu, berani mengusik ketenangan warga. Warga ikut diteror dengan mimpi buruk setiap malam.


Irani, takut Nia tak bisa bertahan. Tubuhnya masih lemas. Hari ini ia, sudah tujuh kali pingsan tanpa sebab. Membuat badanya semakin kurus dan lemah. Kondisi Itu, yang ingin diberitahukan Irani pada orang tua Nia.


Azka sedari tadi menangis. Ia tak tega melihat keadaannya yang begitu lemah mengkhawatirkan.


"Nia bangun, Aku akan nolong kamu lagi. Nia aku tidak akan membiarkanmu nikah sama ular besar itu, setelah dewasa nanti, aku yang akan menikahimu Nia," ucap Azka sambil menangis.


Anak Laki-laki berusia tujuh tahun itu, terus menangis. Azka belum lama bertemu Nia, namun ia sudah sayang kepadanya.


Nia dan Azka seperti ada ikatan. yang tak bisa di pisahkan. Ikatan yang tak dimengerti, sampai Azka bisa masuk ke Alam lain untuk menyelamatkan Nia.


Sebagian Warga sudah ada yg mengaji. Mereka bener-bener kasihan pada gadis kecil itu. Tak seharusnya mengalami kejadian seperti ini.

__ADS_1


Tiba-tiba tlpn berdering di rumah Irani. Irani segera mengangkat Telpon rumah itu. Irani menunggu. Orang Tua Nia nelpon . Karna sedari tadi Telpon Rumah keluarga Nia tak ada yg menjawab


"Halo Sa" jawab Tante Irani, begitu mengangkat telpon rumahnya.


"Ada apa Iran, Kamu membuatku takut dengan beberapa kali menelpon ke rumah," tanya Yesa ibu Nia, di balik tlpn.


"Kamu kemana saja? Aku menelponmu sedari tadi," tanya Irani bingung.


"Maaf aku sedang, di luar rumah,


bagaimana keadaan Nia?" tanya Yesa, mamahnya Nia.


"Pokoknya, kamu harus ke rumahku sekarang."


"Ada apa Iran? Kamu membuatku takut, apa yang terjadi dengan Nia," tanya panik dan khawatir.


"Aku tak bisa menjelaskannya ditelpon, segeralah ke rumahku sekarang."


"Ada apa mah?" tanya Aldi, pada istrinya.


"Nia?"


"Apa yg terjadi pada Nia?"


"Aku tidak tau, kita ke rumah Irani sekarang?"


"Ayo kita berangkat."


Yesa dan Aldi tak tau apa yang terjadi pada Nia, putrinya. Sudah dua tahun ini, Putrinya tinggal bersama Irani. Dan sekarang Irani meminta mereka untuk datang ke rumahnya.


Bukan tanpa sebab. Irani melarang Orang tua Nia, untuk berkunjung ke rumahnya. Ia hanya ingin fokus mengobati Nia. Gadis kecil itu, dapat melukai orang tuanya, bila mereka berada di sini. Maka dari itu, Irani tak mengizinkan orang tuanya datang atau sekedar berkunjung.

__ADS_1


Sebagian warga sudah menggelar karpet di pekarangan rumah Irani. Mereka akan mengadakan pengajian berjamaah di rumahnya. Karna teror siluman itu, menggangu ketenangan warga, membuat takut dan resah warga desa.


Tepat jam 5.00 sore, Asep dan Arisa sampai kota Solo. Orang tua Azka, turun di sebrang jalan, menuju desa tempat tinggal Arita dan suaminya. Mereka datang dari Semarang ke Solo memakai kendaran umum. Asep dan Arisa memakai Bus umum menuju Solo. P Asep tak mempunyai Mobil seperti Rudi suami Arita dan Kakak-kakaknya Arisa yang mempunyai kendaraan sendiri.


Dari jalan raya, menuju desa tempat tinggal Arita dan suaminya. Harus mengunakan Ojeg lagi, Karna kendaraan umum, tak dapat masuk desa.


Asep pun memanggil tukang ojeg di sebrang jalan, "Ojeg Mas," panggil Asep.


Dua tukang ojeg yang sedang mangkal pun menghampiri Asep dan Arisa.


"Kemana Mas?" tanya tukang ojeg itu.


"Ke Desa Misari, Mas," jawab Asep.


Dua tukang ojeg itu, saling melihat. Mereka berdua sudah mendengar rumor tentang warganya yang mengalami mimpi buruk meneror mereka, katanya mimpi itu, sangat seram. Warga pun takut untuk tidur pada malam hari.


Arisa dan Asep saling melihat, dua tukang ojek itu, merasa gugup dan ketakutan. Saat mendengar nama desa Misari di sebut.


"Emang ada apa Mas?" tanya Asep penasaran, dengan gerak-gerik dua tukang ojeg itu.


"Tidak Mas, tidak ada apa-apa? Namun maaf Mas, sepertinya kita tak bisa mengantar Mas dan Mbanya ke sana?" jawabnya, mereka ketakutan.


"Kenapa Mas? kok tidak mau mengantar kita, tolonglah Mas! Di sini, tak ada ojeg lain. Kita ingin bertemu anak kita," pinta Arisa memohon sambil menangis, begitu merindukan putranya, Azka.


Dua tukang ojek itu, masih menolak permintaan Asep dan Arisa. Membuat keduanya bingung, harus membujuk mereka lagi.


"Kita kasih lebih, ongkos Ojegnya Mas, bagaimana?" tawar Asep mencoba membujuk dua tukang ojeg itu, agar mereka mau mengantarkan mereka berdua.


Sebenarnya dua tukang ojeg itu, merasa kasihan kepada sepasang suami-istri. Apalagi istrinya sedang hamil besar? Dua tukang ojeg itu, takut masuk desa tersebut. Karna, rumor yang tersebar dari mulut ke mulut. Membuat Desa itu, menjadi seram.


Pada akhirnya, dua tukang ojek itu, bersedia mengantar mereka dengan ongkos tiga kali lipat. Dengan pertimbangan yang cukup lama. Karna Asep, terus membujuk dua tukang ojek itu. Dan melihat Arisa menangis, tepaksa mereka mengantar sepasang suami-istri itu, ke desa Misari.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2