Ketika Cinta Datang Season 2

Ketika Cinta Datang Season 2
Chapter 32 Keluarga.


__ADS_3

Pukul 12.00 malam, Azka baru sampai rumah. Badannya lelah, ingin segera istirahat. Hari ini benar-benar hari yg melelahkan baginya.


Azka, mempertimbangkan kembali obrolannya dengan Soni. Hatinya ragu untuk memulai awal yang baru. Namun ia jua tak ingin, kalau Soni mengejar Darania. Rasanya Darania terlalu baik untuk Soni. Azka lama mengenal Soni, yang tak pernah serius sama cewe. Kecuali almarhum Kalula, Istrinya. Selebihnya yg begitulah.


Azka disambut hangat oleh Kila dan Tante Arita. Rumahnya begitu rame saat ada Kila adik sepupunya.


"Mas Azka," panggilnya, memeluk kakak sepupunya, saat Azka membuka pintu rumahnya.


Azka tersenyum, saat Kila memeluknya. Azka pun membalas pelukan hangat sepupunya ini.


"Kapan kalian datang?" tanyanya masih memeluk Kila. Sepupunya ini, sudah menjadi seorang gadis yang cantik.


"Dari tadi, Kamu ke mana saja, jam segini baru pulang?" tanya Arisa, penasaran.


Azka tersenyum, "Maaf Bu, tadi keasikan ngobrol bareng Soni diResto, sampai lupa waktu," ucapnya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Bener cuma mengobrol ma Soni? Tidak mampir ke rumah Dara?" goda Arisa sambil tersenyum. Ia menyangka kalau Azka, menghabiskan waktu bersama Darania bukan dengan Soni.


"Tidak Bu, aku beneran menemani Soni di Resto. Kalau tak percaya, tanya Soni saja," ucapnya.


Arisa tersenyum.


"Mas Azka udah punya cewe yah?"


"Siapa sih?"


" Kenalin dong."


"Aku penasaran!"

__ADS_1


"Apaan sih?,Aku masih singel kok!" jawabnya sambil tersenyum.


"Tapi gadis itu, calon pacar Mas Azka kan?" tanya Kila, penasaran.


Kila merasa bahagia sekali, Bila beneran kakak sepupunya ini punya pacar. Sepupunya ini, merasa kasihan dengan nasif dari kakak sepupunya ini. Ia sudah besar sekarang, membuarnya tau, apa yang terjadi pada Azka, sampai mereka pindah ke Salatiga lagi?


"Belum menjadi pacar."


"Kamu beneran, menyukai Dara, Ka?" selidik Arisa berharap putranya serius menyukai Darania. Arisa begitu senang mendengar putranya bisa membuka hatinya lagi untuk gadis lain. Ia takut, putranya akan sendiri sekamanya. Walaupun hati kecilnya berharap Azka bisa bertemu dengan Nia. Berharap Nia yang menjadi jodoh Azka.


"Tak tau Bu," jawab Azka bingung.


Arisa terdiam, "Maksudnya gimana?" Arisa semakin tak mengerti dengan putranya.


"Azka tak tau Bu."


"Yah sudah, jangan paksa dulu Azka Mba? Semua butuh proses, biarlah semua mengalir seperti air," ucap Arita.


Arita penasaran dengan gadis yang membuat keponakannya, bisa membuka hatinya, ia yakin gadis itu, begitu special dan cukup hebat. Sudah membuat seorang Azka yang patah hati menjadi bersemangat kembali.


"Sampai kapan ka? Kamu seperti ini! Ibu semakin hari semakin tua loh. Ibu tidak tau, umur ibu sampai kapan? Ibu tidak mau, Ibu keburu mati, sebelum melihat kamu menikah," ucapnya lirih.


Azka, mendekati Ibunya, orang tuanya yang tinggal satu-satunya ini. Memeluknya dengan erat, dan seketika melepaskannya kembali.


"Ibu jangan ngomong gitu. Ibu itu, akan berumur panjang, akan melihat Azka menikah dan mempunyai anak. Dan juga melihat anak Azka tumbuh besar," ucapnya sambil menggenggam tangan ibunya dengan lembut.


"Tapi itu kapan? Arya sudah memberikan cucu untuk Ibu! Kamu kapan? Arta sudah, mengandeng gadis kemana-mana. Ibu ingin putra sulung Ibu juga bahagia, seperti anak ini yang lain?" gandeng cewe kemana mana. Kamu kapan nak? Kapan anak sulung ibu ini bahagia sama seperti yg lain?" ucapnya sambil menangis.


Azka memeluk ibunya lagi.

__ADS_1


Sebenarnya ia juga ingin bahagia. Ingin seperti orang lain, ingin jatuh cinta lagi, ingin bangkit dari keterpurukannya. Ia laki-laki normal, namun harus bagaimana? Azka sudah hidup seperti, mayat hidup selama sepuluh tahun ini. Untuk kesekian kalinya hatinya, berdetak kembali untuk seorang gadis. Hatinya, seperti kembali diguyur hujan. Setelah sekian lama gersang. Hatinya mulai merasa ingin memiliki seorang gadis, Darania yang membuatnya merasa harus melanjutkan hidup. Berharap bahagia bersamanya, ia takut perasaan ini, hanya terjadi kepadanya saja. Azka sudah jatuh cinta padanya. Laki-laki ini, takut dengan penolakan dari Darania, dan memulai semuanya dari awal.


Azka melepaskan pelukan ibunya. Dan kembali mengegam erat tangan Ibunya.


"Kamu harus bahagia sayang," ucap Arisa sambil memegang kepala Azka dengan tangan kanannya.


Azka menganguk.


"Ibu dukung, dengan siapa pun, kamu memulai!"


"Makasih yah Bu"


Kila memeluk pinggang Ibunya, Arita. Melihat Ibu dan anak yang membuatnya terharu. Perlahan keduanya meneteskan air matanya.


"Lah kok, pada sedih-sedihan kaya gini sih?"ucapnya sambil tersenyum.


"Kalian tidak pada tidur, lihatlah sudah jam berapa sekarang?" Arisa melihat jam dinding rumahnya sudah menunjukan jam 3.00 subuh.


"Akh aku, tak mengantuk Bude," ucap Kila.


"Terus mau apa?"


"Kita membuat makannan yuu," ajak Kila.


Kila memang senang masak. Kila juga ingin seperti budenya punya Resto sendiri. Setiap hari Kila memasak untuk ayah-bundanya.Kila sampai masuk kelas memasak, untuk membuat Skil memasaknya ke tahap internasional. Kila serius dengan hobinya ini. Walau jurusan kuliah Kila beda dengan hobinya. Kila merasa ingin mengembangkan hobinya ketahap lebih tinggi.


Kila mahasiswa tingkat dua jurusan Arsitek. Kila suka menggambar sama seperti Azka. Ia juga hobi memasak sama seperti Azka. Kedua orang tuanya selalu mendukung apa yg Kila lakukan? Asalkan itu positif, Rudi dan Arita tak pernah membatasi Kila untuk melakukan apapun yang putrinya inginkan dan lakukan? Semua terserah pada Kila. Apapun itu? Mereka mendukung, keduanya menyayangi Kila. Gadis itu, bahagia mempunyai orang tua dengan pemikiran modern tidak membatasi keinginannya. Ia gadis yang cerdas, selalu terbuka dengan apa yg Kila inginkan? Tak ada batasan dari semua itu. Selama itu, tak menentang norma-norma agama. Orang tua Kila tak menentang, bagi Rudi dan Arita, apa pun untuknya, membuatnya selalu bersyukur dengan semua ini.


Kila bahagia terlahir dari keluarga yang selalu mendukungnya. Walau terkadang Kila merasa kesepian karna, hanya Kila sendiri di rumahnya. Kila iri sama Azka, Arya dan Arta ketiga sepupunya ini, selalu kompak. Yah walau terkadang mereka berselisih. Kila cuman sendiri, tak ada yang membuatnya kesal, tak ada yg membuatnya marah karna, hal-hal kecil. Orang tuanya selalu memanjakannya. Makanya Kila selalu senang bila ketemu Budenya dan Ketiga putranya. Gadis itu merasa ia, punya keluarga yang lengkap dan saling berbagi dan mengasihi. Membuatnya merasa berarti, dengan selalu berkumpul dengan semuanya. Karna, hanya dengan Arisa dan ketiga putranya, Kila dekat. Dengan sodara yang lain dari ibunya, tidak. Ayahnya hanya sendiri, sama sepertinya. Selalu merasa kesepian. Untungnya Ayahnya menikah dengan Ibunya.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2