
Darania masih melihat gadis itu, dari jauh secara tak langsung ia memperhatikan gadis itu.
"Gadis itu, begitu sempurna, setidaknya mata Darania, sebagai perempuan ia merasa cemburu kepada gadis itu! Kenapa Azka menolaknya?" Itu yang dipikirkan Darania sedari tadi.
Gadis itu, terus- menerus memaksa waiters untuk mengizinkannya bertemu Azka. Waiters itu, menjadi bingung bagaimana untuk mengusir gadis cantik itu? Karna, kelakuan gadis itu, mereka berdua menjadi pusat tontonan, karyawan dan juga pengunjung lain.
Soni merasa kasihan pada waiters itu. Laki-laki tersebut, menghampiri mereka.
"Hay, Stella!" sapa Soni, sembari melambaikan tangannya pada gadis itu.
Ia mengenali gadis itu. Waiters itu, merasa tertolong saat Soni menghampirinya. Ia merasa kewalahan menghadapi gadis agresif itu. Waiters itu, pun berlalu meninggalkan gadis agresif itu dan juga Soni.
"Soni," ucapnya, menjabat tangannya sambil mencium pipi kanan-kiri laki-laki itu. Ekpresinya berubah saat Soni menghampirinya. Baginya kehadiran Soni sudah mengobati rasa penasarannya pada Azka. Walau yang ingin ditemuin gadis itu Azka. Gadis itu masih bersikap manja, sembari merangkul tubuh laki-laki itu..
Darania langsung menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Ia tak menyangka Laki-laki itu mengenal nona sempurna itu . Ia semakin terkejut dengan perlakuan gadis itu, kepada Soni.
Sepasang mata yang sedari tadi berseri-seri, kini telah terbakar api cemburu. Kehadiran gadis itu, membuat seorang Elis begitu kesal. Karna, sikap gadis itu, terlalu agresif.
Elis masuk ruanganya, ia tak ingin melihat mereka. Ia merasa sakit hati dan juga kesal setengah mati.
Shintia memperhatikan Elis sedari tadi, ia tau Elis cemburu. Namun gadis itu, hanya diam saja. Tak ingin mencampuri urusan orang lain, yang bukan urusannya.
"Soni, Aku kangen Azka," ucapnya manja, merangkul tubuh laki-laki itu, di depan umum. Mereka berdua masih menjadi tontonan yang lain.
"Sama aku, tidak kangen!!!" seru laki-laki tersebut, pura-pura marah pada gadis itu, Stella.
Stella, menarik wajah laki- laki itu dengan lembut, membuat wajah keduanya bertemu saling berhadapan. Wajah Soni memang tampan begitu juga Stella, begitu sempurna. Keduanya saling menandang satu sama lain.
"Aku kangen kamu juga, namun aku lebih kangen kepada Azka," bisiknya kepada telinga kiri Laki-laki itu.
Laki-laki itu, masih cemberut, sesaat setelah gadis itu melepaskan pelukannya. Ia menyadari kalau, keduanya masih menjadi pusat perhatian.
"Azka tak ada," ucapnya tiba-tiba.
"Kamu bohong?" ucap gadis itu, tak percaya sembari memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Aku tak bohong," ucap Soni serius.
"Emang, Azka kemana?" tanya gadis itu, penasaran.
"Azka ada di resto cabang," jawabnya.
"Ko bisa? Bukanya Resto itu, Arya yang urus!" seru Stella masih cemberut, tak mempercayai ucapan laki-laki itu.
"Aku sudah datang jauh-jauh dari Manado untuk bertemu Azka. Tapi Azkanya tak ada," guman gadis yang bernama Stella itu.
"Sekarang Arya sedang cuti, jadi Azka yang mengurus resto cabang."
"Ohw gitu?" Stella kecewa mendengar ucapan Soni.
"Mending cari yang ada saja! Aku juga tak kalah tampan dibandingkan Azka," ucap Laki-laki itu, terlalu percaya diri.
"Maaf yah!" serunya sambil tersenyum.
"Maaf untuk apa?"
"Oh itu, kirain Apa?"
"Andai Azka, bersikap sama seperti Soni. Mungkin ia tak akan Segundah ini," Itu ia pikirkan.
"Padahal, Aku ingin memberikan kejutan padanya."
"Emang kamu, tak menelpon Azka terlebih dahulu?"
"Sudah, ponselnya tak aktif."
Soni berpikir sejenak, "Tak biasanya ponsel Azka mati, pasti ada sesuatu."
"Soni," panggil Stella manja, membuyarkan lamunannya.
"Iya La."
__ADS_1
"Kalau begitu, Kamu harus menemani aku jalan-jalan."
"Bagaimana yah, di sini lagi banyak kerjaan,? Azka sedang tak ada! Aku tak bisa meninggalkan Resto!" serunya bingung.
"Ayolah, Aku tidak setiap hari ada di sini. Hanya punya waktu dua hari saja," ajak gadis itu memohon.
Soni terdiam.
"Aku mohon."
"Sebentar, Aku kerjakan pekerjaanku terlebih dahulu, sebentar saja. Kamu bisa menungguku di dalam resto, sambil ngopi atau ngejus, bagaimana?" Laki-laki tersebut memberi tawaran untuk gadis cantik itu.
"Terima kasih," ucapnya sembari mencium pipi kanan laki-laki itu, membuatnya tersenyum malu.
Darania dan Lilian yang sedari tadi memperhatikan mereka. Keduanya masuk ke dalam ruanganya saat melihat laki-laki itu, berjalan ke arah mereka, berdua.
Darania tak menyangka, kalau gadis itu, begitu agresif. Membuatnya malu sendiri. Darania masih terkejut dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya itu. Kalau Soni dan gadis itu. Darania tak berani berkomentar.
"Tak usah, kaget begitu! Gadis itu, kelakuan memang seperti itu!" seru Lilian saat keduanya masuk ke dalam ruangannya. Untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
"Kaya di luar negri saja, dia bersikap seperti itu," gumannya pelan.
"Yah memang seperti itu, mengikuti gaya kebarat-baratan," ledek Lilian mendengarkan ucapan Darania.
Darania tersenyum, Lilian mendengar ucapannya. Darania sudah pernah tinggal di luar negri, kelakuan gadis itu sudah biasa. Namun jika di sini, rasanya kurang pantas saja. Apalagi sampai menjadi tontonan seperti itu. Setiap orang, akan berpikiran jelek tentang gadis itu. Darania pun, tersadar dari lamunannya. Tak seharusnya ia mencampuri urusan mereka.
Elis masih kesal dengan sikap gadis itu. Ia tak senang dengan sikap manja gadis itu. Elis begitu cemburu, membuatnya merasa terus-menerus kesal kepada gadis itu dan juga Soni. Membuat pekerjaannya berantakan.
Darania dan Lilian sudah kembali ke mejanya. Hiburan tadi, membuat keduanya fress kembali siap untuk bekerja. Azka tak pernah membatasi karyawannya. Namun tetap saja, mereka tau diri. Merasa tak enak melihat Bosnya sibuk, mereka santai.
Berbeda dengan bagian depan, memang sibuk. Banyak pelanggan yang datang, apalagi dengan pesanan online, yang sama-sama banyak pula. Bahkan Azka sudah menambah karyawan baru. Untuk ditempatkan khusus untuk pembelian online.
Soni membereskan kerjaanya. Laki-laki itu serius mengerjakan pekerjaan. Membuat hati Elis merasa lega dan bersemangat. Melihat laki-laki itu, tak bersama gadis itu. Api cemburu yang sedari tadi berkobar. Kini padam sudah, aesaat melihat wajah Soni. Membuat Elis begitu tenang dan nyaman sepanjang waktu. Keinginan gadis ini, hanya simple hanya ingin melihat wajah Soni saja, itu sudah cukup membuatnya bahagia. Elis begitu memcintai. Melihatnya setiap hari, membuatnya begitu bahagia. Itu sebelum kehadiran Darania. Sekarang gadis ini, ingin meminta lebih dari hatinya sendiri. Ingin tak sekedar melihatnya setiap hari. Ia menginginkan lebih dari itu. Rasa cintanya begitu besar. Gadis ini, ingin menjadikan Soni sebagai satu-satunya miliknya. Elis juga ingin menjadi seseorang yang begitu berarti untuk laki-laki yang ia cintai sekarang.
Bersambung....
__ADS_1