
Gadis itu, mengakui perasaannya, pada semua orang. Ia menyembunyikan rapat-rapat rasa cintanya selama ini.
Darania terdiam, pengakuan Elis membuatnya teringat dengan Azka teman masa kecilnya. Gadis itu, ingin bertemu dengannya. Walau sekarang Darania sudah bertemu dengan Azka yang lain itu, menurutnya. Gadis tersebut, tak pernah tau tentang takdir yang mempertemukan mereka kembali, tentang sebuah cinta pertama, yang datang dari masa lalu.
"Tapi Lis, menurut aku, kamu terlalu baik untuk Soni. Aku takut Soni hanya main-main sama kamu, kamu masih polos belum berpengalaman," ucap Lilian merasa tak percaya dengan laki-laki itu.
"Aku juga berpikir seperti itu, Mba! Tapi kenapa sekarang aku ngerasa Mas Soni memberikan harapan itu, padaku?" ucapnya merasa gelisah dengan hatinya sendiri.
"Yah, aku cuman memberikan saran? Itu balik lagi sama kamu mau bagaimana?"
"Kalau menurut aku sih, kejar terus mas Soni. Sebelum ada janur kuning melengkung, Mba Elis sudah terlanjur suka. Kenapa hanya sebatas suka?Harus diperjuangkan, kejar apa yang menjadi k bahagian Mba Elis! Mumpung Mas Soni sudah memberi lampu hijau," tutur Shintia memberikan semangat pada Elis.
"Waw, tumben anak kecil jadi dewasa begini," ucap Lilian menyetujui ucapan gadis itu.
"Ihh Mba Lili, bilang aku anak kecil melulu, Aku sudah 24 tahun bukan akan kecil sebentar lagi, mau nikah? Oops keceplosan!" seru Shintia, membocorkan rencana pernikahan.
"Duch, anak kecil mau jadi manten, tuh Dara Elis kalian keduluan, anak bawang, kalian kapan?" goda Lilian lagi.
"Aku santai Mba!" seru Darania, walau sebenarnya gadis itu, ingin menikah. Gadis mana yang tak ingin menikah hidup bahagia berkeluarga. Namun sampai sekarang, jodohnya belum kunjung datang.
"Santai sih santai tapi umur tak bisa santai."
"sdah deh, Mba jangan bawa-bawa umur. Mentang- mentang aku paling tua gitu, dan masih singel." Darania cemberut, diantara Elis dan Shintia ia yang paling tua.
"Makanya cepet nikah, cari pasangan biar cepet cepet nikah."
"Aku santai Mba, tak mau buru- buru. Aku ingin nikah satu kali seumur hidup. Aku tak mau menyesal dikemudian hari. Kalau aku, cari pendamping yang salah?"
"Kamu membalas aku yah. Karna rumah tanggaku, kandas di tengah jalan!"serunya merasa tersinggung dengan ucapan Darania.
__ADS_1
"Ikh Mba, aku tak bermaksud gitu," ucap Darania merasa bersalah, pada Lilian.
"Iya, mudah-mudahan kalian bertiga mendapatkan jodoh yang terbaik yang akan menjaga kalian, sayang sama kalian sampai akhir. Satu kali seumur hidup tak seperti aku, yang kandas ditengah jalan," ucap Lilian mendoakan, rekan kerjanya.
"Amin," jawab semua secara bersamaan Azka dan Soni juga mengikuti ucapan amin mengikuti ketiga orang gadis itu. Secara bersamaan Darania dan Elis menoleh, melihat Azka dan Soni.
Deg.
Kedua gadis itu, berdebar hatinya melihat sang pujaan hati sudah berdiri di hadapan mereka. Dua laki-laki itu, begitu tampan dan menawan. Yang satu masih perjaka tong-tong, dan yang satu lagi, duren ting-tong.
"Ehmm" Lilian berdehem melihat kedua gadis itu, mulai salah tingkah melihat dua laki-laki itu.
Shintia tersenyum sendiri, melihat Darania dan Elis, mereka berdua sudah menjadi budak cinta dua laki-laki tampan itu.
"Bentar lagi bakal ada, yang mantenan nihh!" seru Lilian lagi.
"Salah satu dari tiga gadis ini," ucap Lilian mengoda dua laki-laki budak cinta dua gadis itu.
"Siapa Mba?" tanya Azka mulai pucat, takut Darania yang akan menikah karna, laki-laki tersebut tak berpikir Shintia yang akan menikah.
Soni terdiam, mungkinkah Elis yang akan menikah. Kedua laki-laki itu, menjadi pucat. Takut gadis yang mereka incar akan menikah dengan orang lain.
"Coba tebak siapa?" Lilian terus-terusan mengoda dua pria-pria itu.
"Siapa sih? Aku penasaran!" seru Soni lagi.
"Tebak saja."
"Ikh Mba Lili, tidak seru ini!"
__ADS_1
"Kamu yang tak seru, tak bisa menebak."
"Siapa sih?"
"Tebak saja?"
Azka, melirik Darania. Saat ini, Azka tak peduli jika memang Darania yang akan menikah. Laki-laki itu, hanya mencintai Darania. Tak dibalas pun tak masalah baginya.
Soni benar-benar penasaran. Hatinya tak menerima, jika yang akan menikah itu Elis. Soni baru mulai mengejarnya? Masa iya,harus merelakan untuk orang lain.
"Sudah deh, kita tunggu undangan pernikahan saja yah, kita mulai kerja lagi," ucap Lilian melirik Shintia, gadis itu mengerti maksud dari Lilian. Darania dan Elis pun kompak tak akan membocorkan pernikahan Shintia, untuk mengoda dua laki-laki itu.
Lilian, Shintia dan Darania kembali ke mejanya. Darania berjalan pincang tanpa alas kaki. Kali ini, luka di lututnya mulai terasa sakit. Laki-laki itu, datang ke ruang staf untuk melihat Darania. Namun malah, mendapat kabar salah satu dari tiga gadis itu, akan menikah. Membuatnya menjadi penasaran, siapa yang akan menikah dari tiga gadis itu?
Azka masih melihat Darania dengan Intens. Kali ini, Azka ingin memastikan keadaan Darania secara langsung. Darania memang terlihat tak baik.
"Ra, kamu kenapa?" tanya Soni tersadar kalau Darania tanpa alas kaki dan celana panjangnya sobek berserta lututnya terlihat merah karna, darah yang sudah kering menempel di lutut Darania.
"Oh, hanya kecelakaan kecil," ucap Darania sambil tersenyum. Namun berubah saat melihat Azka, gadis itu masih terlihat kesal pada Azka. Darania menyalahkan Azka atas kesialan hari ini.
"Kecelakaan bagaimana? Celana kamu sampai sobek begitu!" seru Soni lagi.
"Yah tak apa-apa? Tinggal di buang saja celananya, biar tidak sial lagi," ucapnya sambil melirik ke arah Azka lagi.
Kali ini, Azka menunduk, merasa bersalah pada Darania. Tapi gimana caranya Azka minta maaf? Azka gengsi bila harus mengakui kesalahannya di depan semuanya. Karna, Darania terlihat marah sekali kepadanya.
Darania tak bisa menyembunyikan kekesalannya pada Azka. Gadis itu ingin sekali menonjok muka bosnya. Tapi tak bisa, Laki-laki itu bosnya, ia tak bisa berbuat apa-apa sekarang, hanya bisa pasrah saja. Tak ingin membuat masalah dengannya. Gadis tersebut masih butuh pekerjaan ini, ia tak ingin mencari pekerjaan ini. Darania betah kerja disini, walau belum sebulan ia bekerja di sini, namun gadis itu, merasa senang bisa bekerja di tempat ini, bersama teman-temannya yang begitu terbuka dan menyanyanginya. Gadis tersebut, merasa mempunyai keluarga baru saat ia bekerja di resto. Gadis itu, menang beluk pernah bekerja di mana pun. Makanya ia merasa senang. Apalagi saat melihat bosnya ini, walau pun laki-laki itu menyebalkan namun ada perasaan yang membuatnya jatuh cinta kepada laki-laki itu, Laki-laki bernama Azka itu. Mengingatkanya pada temannya di waktu ia kecil, seorang teman yang sudah mengorbankan segalanya, untuknya.
Bersambung....
__ADS_1