Ketika Cinta Datang Season 2

Ketika Cinta Datang Season 2
Chapter 25 Nia Bagian 8.


__ADS_3

Masih Flashback


Tubuhnya tak bisa bergerak sama sekali. Badan Nia, begitu lemah, jangan kan untuk bergerak untuk melihat saja, matanya tak bisa digerakkan, namun telinganya masih jelas untuk mendengarkan semua ucapan mereka semua.


Secara tidak langsung. Nia berterima kasih pada Azka. Anak laki-laki itu sudah menolongnya, selama mereka berada di alam lain. Sebagian jiwanya dikurung di sangkar emas. Terkadang, jiwanya dililit oleh ular besar, bila siluman itu bosan. Gadis itu tau, kenapa ia berada di sana? Tempat berbeda yang tak ingin ia datangi. Istananya, begitu indah terlihat dari luar. Begitu banyak emas, permata di sisi dinding luar Istana. Di depan Istana ada ribuan bunga yang cantik nan indah. Semua terlihat sempurna, namun saat pintu Istana itu, di buka. Yang tercium bau busuk, bau nanah darah, menyenga. Bahkan bila manusia biasa yang menciumnya, akan langsung muntah karna, tak tahan dengan baunya. Bau di dalam istana begitu busuk, terlalu busuk sampai bila lama-lama tercium, bakal mati seketika. Apalagi mahluk-mahluk itu? Begitu menyeramkan? Wajah-wajah mereka begitu mengerikan, dengan badan yang besar, hitam dan bau. Baunya sama seperti bau yg ada di istana itu. Banyak tumpahan darah dan nanah di mana-mana. Sangat menjijikan, mungkin itu, yang membuat Nia pingsan di dunia nyata? Karna, jiwa Nia, tak kuat berada di alam itu.


Nia sendiri masih heran, kenapa Azka bisa masuk istana itu? Untuk menyelamatkan Nia, padahal Irani sendiri, susah menembus dingding penghalang di Istana itu.


Mata Nia terbuka tiba-tiba. Membuat Azka menjadi takut. Nia terus melotot pada Azka. Azka perlahan mundur. Azka terus mundur sampai tak sadar sudah menabrak seseorang. Azka melihat ke atas. Ternyata itu, Irani yang ada di belakangnya. Irani tersenyum pada Azka dan Azka pun tersenyum pada Irani.


Mata Nia masih melotot, melihat Azka dan Irani. Ia mendekati Nia. Sedangkan Azka masih berdiri melihat Nia dan Irani.


Dengan lembut Irani menutup ata Nia.


"Sekarang Nia sudah aman. Kamu tak perlu khawatir," ucap Irani pelan.


Azka mengangguk, ia merasa itu bukan Nia.


Azka melihat dua orang yang begitu asing, mengikuti Irani. Mereka memakai pakaian yang aneh. Dan wajahnya, terlihat pucat.


"Kamu bisa melihat saya?" tanya Bela mendekati Azka.


Azka mengganguk, ia begitu jelas melihat, melihat Bela dan Cris. Azka masih, belum bisa membedakan antara hantu dan manusia.


Bela melihat Azka begitu serius. Bela merasa, anak laki-laki ini, memiliki kemampuan yang sama dengan Irani. Namun kemampuan belum diasah.


Azka terus melihat wajah Bela. Ia sama sekali tak takut pada Bela mau pun Cris.


"Kamu kenapa, melihatku terus?" tanya Bela, penasaran dengan apa yang dipikirkan anak laki-laki ini.


"Aku bingung kak, kakak dari mana? Kok pakaian kakak aneh!" serunya.


Bela tersenyum, mendengar ucapan Azka.


Mata Nia melotot lagi. Membuat Azka merasa takut, kali ini, ia mendekati Azka. Namun Cris segera menarik tangan Azka.

__ADS_1


"Kamu tak apa-apa dik?" tanya Cris.


Azka mengelengkan kepalanya. Namun lagi-lagi tatapan Nia begitu membuat semua orang takut.


Tiba-tiba saja, tubuh Nia ambruk lagi. Azka merasa kasihan melihat gadis kecil itu. Azka melihat, tadi bukan Nia. Melainkan seseosok Mahluk yang sering menggangu warga desa.


Cris dan Bela menghilang. Sekarang Irani yang menjaga Azka.


"Tante, kemana Nia?" tanyanya,


Irani menoleh ke arah Azka, "Kamu bisa melihat mereka de?" tanya Irani serius.


"Melihat apa, Tante?"


"Tadi kamu menanyakan Nia?"


"Aku melihat, ular berbadan manusia tante,? Makanya aku bertanya Nia ke mana?"


Irani melirik Azka. Ia merasa, Azka bukan anak biasa. Kekuatan dalam dirinya begitu besar. Tinggal di asah, ia akan menjadi manusia hebat. Namun Irani melihat, kekekuatan Azka ini, kekuatan luar biasa. Membuat Irani merasa takut.


"Kamu kenapa?"


"Tubuh tante aneh."


"Aneh bagaimana?"


"Aku melihat, warna tubuh Tante warna-warni."


Irani begitu kagum dengan penglihatan Azka. Anak berusia tujuh tahun ini, bisa melihat aura dalam diri Irani.


"Awww," guman Azka, memegang dadanya.


"Kamu kenapa?" Irani terkejut, melihat kondisi Azka. Ia melihat ada sayatan pisau di jantung Azka. Benar-benar tak masuk akal.


Azka, menutup matanya, memegang dadanya. Dan menarik pisau yang menancap di jantungnya. Irani begitu terkejut dengan aksi yang di lakukan Azka. Sangat mustahil untuk dilakukan untuk anak usia tujuh tahun.

__ADS_1


"Bagaimana, kamu melakukan itu?" tanya Irani masih terkejut melihat aksi anak itu.


"Aku tak tau Tante, Ada seseorang yang berbisik kepadaku untuk aku menutup mata. Dan aku harus menarik pisau ini, Aku bingung Tante, ko pisau ini, bisa masuk dada aku," ucap polos bocah tujuh tahun itu.


Irani melihat Azka, tak ada kodam, disekitar Azka. Namun kejadian ini, membuat Irani yakin. Azka bisa menolong Nia.


"Azka, Tante mau tanya kepadamu, di sana kamu melihat apa saja?"


"Aku melihat istana yang besar. Namun di sana begitu bau darah sama nanah."


Irani memcoba masuk sesuai dengan petunjuk Azka. Namun tetap saja, ia tak bisa masuk.


"Kamu mau menolong Nia?"


Azka menganguk.


"Bisa kah, kamu membuka jalan untuk masuk ke tempat Nia?"


Azka tak mengerti dengan ucapan Irani. Azka masih belum mengerti dengan apa yang terjadi kepadanya. Ia juga bingung, semenjak datang ke sini. Begitu banyak hal ia lihat yang tak bisa ia mengerti.


Irani membaca pikiran Azka. Ia tak ingin memaksanya. Ia tau, Kekuatan bocah berusia lima tahun ini, belum sepenuhnya keluar. Namun Irani sudah kagum dengan kemampuan Azka sekarang. Irani begitu tak tega melihat Nia. Apalagi, ia putri dari sahabatnya sendiri, Yesa.


Azka melihat Nia, melihat gadis itu sedang di kurung oleh siluman ular. Azka bisa melihat jauh sampai ke dimensi lain. Kemampuannya begitu luar biasa. Azka meneteskan air matanya.


"Apa yang kamu lihat?"


"Nia?"


"Nia kenapa?"


"Nia begitu tersiksa di sana. Aku ingin menolongnya. Tapi aku bingung, bagaimana aku menolong Nia?" ucapnya sambil menangis.


Irani melihat Azka lagi, sudah hampir dua tahun. Irani memcoba mencari cara, untuk menyembuhkan Nia. Namun hasilnya nol. Tapi bocah ini, dengan sekali datang, bisa langsung masuk tempat itu. Irani saja, tak bisa melihat tempat itu, karna Mahluk itu, menyembunyikan tempat tinggalnya dengan kekuatan level tinggi.


Azka, bocah tujuh tahun itu, masuk begitu saja, menembus dingding penghalang itu, dengan mudah, bahkan bisa keluar masuk seenaknya. Namun Azka masih belum tau caranya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2