Ketika Cinta Datang Season 2

Ketika Cinta Datang Season 2
Chapter 34 Tamu tak di undang.


__ADS_3

Azka sudah memeriksa dan menghendel kerjaan Arya. Tak ada yg salah dengan sistem kerja di Resto Cabang. Semua sudah seperti yang ia ajarkan, mengikuti prosedur ia terapkan. Tapi tetap saja, masih ada yang kurang. Resto Cabang masih tak berkembang dan tak mundur. Padahal sudah empat tahun, Resto ini berdiri.


Laki-laki tersebut sedang memikirkan itu. Tiba- tiba seseorang datang, masuk tanpa permisi ke ruang direktur utama.


Laki-laki itu, begitu malas, saat melihat Doni, sepupunya datang. Doni sendiri anak dari padenya, Asron. Tingkahnya tak sopan, tak berpendidikan, tak punya etika dan tatakerama. Lulusan luar negri tak menjamin, kalau kelakuannya beradap, ini malah sebaliknya.


Doni sering bolak-balik Resto. Semenjak Restonya menjadi Resto no satu, di kota Semarang dan sudah terkenal satu Indonesia. Semua berkat kerja keras Azka bersama Arisa, ibunya. Doni dan keluarganya merasa kalau Azka pantas menjadi keluarganya. Karna kondisi ekonomi keluarganya sudah menurut, membuat mereka perlu ditolong oleh Azka dan Ibunya. Mereka tak ingat kelakuan mereka pada keluargan Azka. Satu persen pun, mereka tak pernah membantu Azka atau Arisa ibunya. Mereka selalu masa bodo dan tak peduli. Sekarang mereka tak tau mau, meminta tolong pada Azka. Perlakukan mereka, masih membekas di hati Arya sampai saat ini. Arya masih menyimpan dendam pada mereka.


Arisa selalu bersikap baik pada keluarga kakaknya itu. Arisa tak pernah menyimpan dendam pada mereka. Itu yang membuat Arya dan Azka kesal. Ibunya terlalu baik pada mereka. Malahan, Arisa meminta Azka untuk menolong mereka saat mereka dalam keadaan susah. Azka sendiri, tak keberatan soal itu. Sifat Azka menurun dari ibunya, Arisa. Hanya saja, Arya masih bersih keras tak ingin menolong mereka. Arya ingin mereka merasakan, apa yang pernah keluargnya rasakan, setelah itu. Beri membantu mereka.


Doni sudah berani meminjam uang pada Azka sebesar 100 juta. Katanya Papahnya butuh modal. Sudah dua tahun belum dikembalikan janjinya hanya sebentar. IArisa tak tau perihal ini, hanya Azka dan Arya yg tau. Mereka sengaja menyembunyikan ini dari Ibunya. Pasti Ibunya merelakan uang itu, untuk tak di kembalikan. Namun tidak bagi Arya, baginya uang segitu begitu banyak, kakaknya Azka sudah berkerja keras untuk mendapatkan uang itu, mereka seenaknya meminta.


Doni duduk didepan Azka, dengan tidak sopanya, kakinya naik keatas mejanya, Azka membuat mejanya kotor karna, sepatu Doni yang sangat kotor.


Laki-laki itu diam saja, ia pun memindahkan laptop dan berkasnya kepinggir satunya lagi. Ia benar-benar tak peduli dengan sikap Doni. Mungkin kalau Arya sudah mengusir Doni, dengan sikap tak sopanya ini. Arya begitu keras, sekali tak suka, ya tak suka. Beda dengan ia yang bisa sedikit bersabar menghadapi orang yang menyebalkan seperti Doni.


"Gue butuh duit dong!" serunya enteng.

__ADS_1


Laki-laki tersebut masih terdiam, tak mempedulikan Doni. Rasanya malas untuk meladeni Doni. Sudah beberapa kali Doni seperti ini. Emang Azka nenek moyangnya atau ATM berjalannya yan bisa kapanpun? la butuh uang, tinggal minta pada Azka. Kali ini, Azka tak akan memberikan uang lagi pada Doni? Sepupunya itu sudah keterlaluan, dengan sikapnya seperti ini. Awalnya ia hanta kasihan kepadanya. Namun semakin dibiarkan malah semakin melunjak membuatnya kesal. Bila terus-menerus ditodong seperti ini.


Doni kesal, dengan sikap laki-laki yang dihadapannya ini, sama sekali tak peduli dengan Doni.


"Lo tidak mendengar, apa yang gue bilang?" tanyanya kesal, sembari mengebrak meja Azka dengan begitu keras, mungkin sampai tanganya sakit karna, Azka melirik tanyanya Doni, sudah merah.


"Lo, sudah membuat gue kesel," ucapnya lagi, sambil menarik baju Azka.


"Sabar Bro," ucap Azka santai.


Doni melepaskan kerah baju Azka, yang ia rapihkan kembali kemejanya, laki-laki tersebut, menelpon securiti.


Beberapa saat kemudian, dua orang securiti datang ke ruangnya, atas perintah direktur utama.


"Azka Lo, tidak bisa berbuat seperti ini, sama gue? Gue kakak sepupu Lo!" serunya memohon.


Dua securiti itu, membawa Doni keluar dengan paksa. Atas perintah dari Azka.

__ADS_1


"Pak lain kali , bila orang ini, berkeliaran disekitar Resto tangkap saja. Bahkan jika perlu lapor saja pada polisi. Orang ini sudah menggangu kenyamanan saya," perintahnya pada kedua securiti itu.


Dua securiti itu, menganguk dan berkata, "Sisp Pak Laksanakan."


"Ka, Lo tidak bisa berbuat seperti ini? Lo akan menyesal, ingat itu! serunya lagi, sembaei masih memberontak karna, kedua securiti itu, memegang tubuhnya, untuk menyeret Doni keluar dari ruangan Azka.


Huffff


Laki-laki tersebut, menghela nafas panjang, "Akhirnya, satu masalah selesai." Itu yang ada dalam pikirkannya, sesaat dan kembali pada kerjaanya. Dan sebelum itu, Azka menelpon office boy untuk membersihkan kotoran dimejanya, bekas sepatu Doni yang kotor.


Doni tak terima perlakuan Azka. Laki-laki itu kesal bukan main. Ia mengira Azka akan memberikan uang seperti biasanya. Doni selalu berpikiran kalau Azka itu, bodoh dan bisa dimanfaatkannya. Ia tak mengira, kalau kali ini, Azka tak memberikan uang sepeser pun padanya. Ia sangat membutuhkan uang itu. Karna, rentenir selalu mengejarnya, untuk meminta bayaran atas hutang judinya. Yang setiap harinya bunganya semakin besar.


Laki-laki itu, sudah tak bisa meminta uang pada orang tuanya karna, usaha orang tuanya hampir bangkrut. Mamahnya yang pelit tak akan memberikan uang padanya lagi. Karna, baru dua hari yang lalu, mamahnya memberikan uang kepadanya.


"Brengsek," gerutunya kesal memukul setir kemudi didalam mobilnya.


Awalnya, Azka kasihan saat melihat Doni, meminta bantuannya. Azka begitu iba pada kakak sepupunya ini. Namun sikap Doni, begitu seenaknya saat ditolong olehnya. Doni benar-benar memanfaatkan kebaikannya. Azka sudah cukup bersabar untuk menghadapi Doni. Laki-laki itu, sudah memberikan tahukan kelakuan Doni pada orang tuanya. Namun di luar dugaan, mereka malah menyalahkan Azka dan Arya. Mereka malah menceramahi Azka, kalau sodara harus saling menolong. Azka begitu kesal mengdengar ucapan pade dan budenya ini. Mereka berdua benar-benar tak bisa mendidik putranya Doni. Semakin dibiarkan sikap Doni semakin menjadi. Bukanya tak ingin menolong Doni lagi, namun Doni harus belajar bekerja untuk mencari uang, dari hasil keringatnya sendiri. Doni selalu dimanja oleh kedua orang tuanya. Membuat Doni, menjadi kurang ajar dan tak tau malu. Setiap harinya, ia hanya berpoya-poya menghabiskan uang orang tuanya. Perusahaan orang tuanya hancur pun karnanya. Ia tak bisa menjalankan usaha milik orang tuanya, yang papahnya rintis dari nol. Dengan sekejam Doni hancurkan begitu saja.

__ADS_1


bersambung.


__ADS_2