
Sudah beberapa hari, Azka tak bertemu dengan Darania. Keduanya merasa merindukan satu sama lain, di dalam hatinya. Keduanya jatuh cinta satu sama lain. Hanya Darania, tak menyadari rasa dalam hatinya. Gadis itu, terus menepis setiap rasa dalam hatinya. Gadis tersebut terus-menerus menolak setiap cinta yang tumbuh dalam hatinya. Sekuat hati, ia tak ingin mencintai lagi, walau rasa cinta itu sudah menjalar dalam hatinya, untuk Azka.
Berbeda dengan Azka, laki-laki itu, dari awal sudah menyadari hatinya bergetar lagi untuk seorang gadis, setelah sekian lama harinya tertutup untuk gadis mana pun. Hatinya terus-menerus menginginkan gadis itu, untuk selalu dekat dengannya. Perasaannya bagai magnet yang terus menariknya ke sisi yang lainnya. Rasanya tubuh seiring berjalannya waktu. Ada rasa dekat dalam hatinya saat petama kali melihat Darania. Rasa itu, mengalir begitu saja, seperti air yang mengalir deras dalam hatinya untuk gadis itu, yang baru beberapa hari ia temui.
Laki-laki itu tak mengerti dengan hatinya sendiri. Begitu banyak gadis yang mendekatinya. Lebih segalanya dari Darania. Namun tak ada yang membuatnya bergetar seperti Darania. Laras menang tak akan tergantikan oleh Darania. Namun Darania bisa menghapus rasa sakitnya karna, kehilangan Laras. Hatinya merasa tenang dan tentram saat melihat Darania. Gadis itu, benar-benar membuat Azka bingung dengan hatinya yang tak bisa ia tahan untuk tak tergoda dengan Darania.
Tasya terus saja, menggangunya. Membuat Azka malas ke resto cabang. Hanya Darania yang membuatnya merasa tenang. Tak ada yang lain. Mengingat Tasya, membuatnya stress sendiri. Laki-laki itu, bingung cara mengusir gadis itu. Untuk tak mengganggunya lagi. Laki-laki itu, merasa risih dengan sikap agresif Tasya.
Laki-laki itu, masih melamun tak memakan satu suap pun, nasi goreng buatan ibunya, Arisa.
"Azka," panggil Arisa berteriak karna, putra sulungnya ini, melamun sedari tadi tak mendengar panggilannya. Membuat wanita separuh baya itu, kesal.
"Ehh iya, ada apa Bu!" jawabnya tersadar dari lamunannya. Karna, suara Arisa begitu keras terdengar di telinga putra sulungnya itu. Membuat Arya dan Nadia terkejut mendengar suara Arisa.
"Kamu kenapa?" tanya Arisa, khawatir dengan putra sulungnya.
Hufffff
Laki-laki itu mengembuskan nafas panjang. Kali ini, ia benar-benar lelah karna, gadis penggangu seperti, Tasya. Laki-laki itu, tak bisa bercerita pada siapapun? Azka tak ingin menggangu Arya yang masih cuti. Namun masalah ini, membuatnya stress sendiri.
__ADS_1
"Azka kamu kenapa?" tanya Arisa lagi. Karna, putranya masih melamun sampai Arisa berpikir, putranya lelah mengurus dua Restro sekaligus.
"Aku tidak apa-apa Bu?" jawabnya singkat kembali melamun.
"Arya, Kamu kapan mulai kerja lagi?" tanya Arisa kepada Arya putra keduanya.
"Entahlah," jawabnya singkat.
"Kamu tak boleh egois. Mentang-mentang kamu sudah punya anak dan istri. Kamu seenaknya melimpahkan semua kerjaan kamu kepada Masmu. Harusnya kamu, harus bisa bertanggung jawab dengan tugasmu. Kamu tak boleh malas-malasan, sedangkan Masmu kerja keras. Dia sudah berjuang dari nol untuk membuat resto kita maju sampai sekarang," ucapnya panjang lebar merasa kesal kepada putra keduanya ini.
Arya terdiam seribu bahasa, ia tak berani menjawab ucapan ibunya yang sedang marah. Laki-laki itu, benar-benar lupa kalau ia sekarang menjadi CEO, laki-laki tersebut terlalu senang, sampai ia melupakan tanggung jawabnya. Laki-laki itu, sudah membuat kakaknya menjadi lelah karna, harus mengurus dua resto selama ia cuti.
"Tidak apa-apa bagaimana? Setiap hari, kamu pulang malam. Sedangkan adikmu malas-malasan di rumah bersama anak dan istrinya. Harinya ia lebih dewasa sekarang. Dia sudah menjadi ayah. Harusnya lebih tangguh jawab dari kamu."
Nadia terdiam, mengendong putri kecilnya. Menantunya baru tau, kalau mertuanya kini, begitu marah pada putranya. Baru kali ini, ia melihat Arisa semarah ini, selama dua tahun ia tinggal bersama mertuanya.
"Baiklah, besok aku masuk kerja," ucap Arya pelan.
Arisa begitu kesal dan marah pada putra keduanya. Azka tak ingin berbicara lagi. Tak mau adiknya menjadi sasaran ibunya lagi. Azka bingung harus menceritakan bagaimana pada Arya. Untuk meluruskan salah paham ini. Azka tak bisa bercerita didepan Nadia. laki-laki itu, tak ingin adiknya bertengkar dengan istrinya karna, Tasya. esal dan Marah. Azka tak mau berucap lagi. Azka tau, Nadia begitu cemburu pada Tasya.
__ADS_1
Arisa, meninggalkan dari meja makan. Tanpa menghabiskan makanannya. Arisa merasa kasihan pada Putra Sulungnya. Sudah dilangkahi, sekarang melimpahkan tanggung jawab kepadanya. Arisa, begitu sedih melihat Azka begitu keras bekerja membangun Resto itu. Dari rumah makan biasa sampai menjadi Resto yang maju dan sukses bahkan sampai membuka cabang. Wanita separuh baya itu, tak menyalahkan Arya. Arisa hanya tak melihat putra sulungnya begitu kelelahan.
Baby Alinea menangis tiba-tiba, sesaat ayahnya dimarahi Omahnya. Baby kecil itu, seakan merasakan kesedihan Ayahnya. Nadia pun membawa baby Alinea ke kamarnya untuk menyusui putrinya.
"Maafkan Mas," gumanya pelan. Merasa bersalah karna Arisa tadi bentak-bentak adiknya.
"Kenapa mas Azka minta maaf, Kan Aku yang salah," ucap Arya, menyadari kesalahannya.
"Ibu salah paham de."
"Maksud mas Azka." Arya tak mengerti dengan ucapan kakaknya ini.
"Aku lelah, bukan karna kerjaan. Aku lelah karna beberapa hari ini. Aku digangu terus sama Tasya," bisik Azka pelan, sembari melihat kiri-kanan takut Nadia atau mendengar ucapannya.
Arya tersenyum, kakaknya ini, masih kaku terhadap seorang gadis seperti Tasya. Laki-laki itu, tau sikap agresif gadis itu. Membuat kakaknya risih dan tak nyaman.
Azka menceritakan dari mulai Doni sampai Tasya. Ia benar-benar lelah dengan mereka. Beberapa hari ini, laki-laki itu stress menanggung sendiri kekesalannya. Laki-laki tesebut tak bisa bercerita. Karna, Arya terus menempel pada Nadia. Azka juga tak bisa bercerita pada ibunya. Karna, Arisa pasti membela keponakanya itu. Arisa tak tau, begitu menyebalkannya, Doni di mata Arya dan Azka. Arisa tak tau kelakuan Doni. Azka sudah bersabar menghadapi kelakuan Doni. Namun tetap saja, kesabaran ada batasnya. Sekarang, Azka benar-benar sudah di puncak kesabarannya. Azka benar-benar sudah tak bisa menahan lagi. Sudah berbagai cara untuk menghadapi Doni. Namun tetap saja, sepupunya itu, selalu mengganggunya setiap saat. Sampai Laki-laki itu, benar-benar stress karna lelakuan Doni. Namun ia merasa lega sekarang, bisa menceritakan semuanya pada Arya.
Bersambung.
__ADS_1
Pembaca setiaku, mampir yah ke novel terbaruku yang berjudul, "Kisah Kita" terima kasih.