
Elis masih memeluk tubuh Soni dari belakang. Membuat Soni benar benar sudah tak tahan karna nalurinya begitu menginginkan Elis.
Soni berbalik, melepaskan tangan Elis dari pinggangnya. Soni melihat Elis, dari atas sampe bawah. Tubuh Elis begitu mengodanya. Apalagi Elis hanya memakai pakaian dalam saja. Soni mulai memeluk Elis. Menjatuhkan tubuh Elis ke ranjang tempat tidur.
Tubuh Elis penuh tanda merah, yang Soni berikan pada Elis. Tanda merah itu, seperti bintang bintang yang menghiasi tubuh Elis.
"Kamu sudah siap sayang" bisik Soni pada telibgat Elis.
Elis menganguk pelan.
Soni membuka pakaian dalam Elis. Membuat tubuh Elis benar benar polos tanpa busana. Soni mulai menciumi seluruh bagian tubuh Elis lagi. Membuat Elis benar benar mabuk karna sentuhan Soni yang membuat Elis melayang layang di udara.
Soni mulai melayangkan senjata andalannya. senjata yang perlahan masuk, dalam bagian sensitif Elis.
Deg.
Hentakan tubuh Soni. Membuat Elis merasakan kesakitan yang luar biasa. Rasa sakit yang teramat sakit, membuat Elis mengeluarkan air matanya.
"Sakit" bisik Elis pelan.
"Sabar yah, sayang, kita baru mulai. Aku belum merasakan apa apa" bisik Soni lagi.
Elis benar benar merasa kesakitan. Saat Soni benar benar membenamkan senjatanya masuk ke dalam ruang sensitif itu. Elis menjerit kesakitan. Namun Soni berhasil memecahkan selaput Dara milik Elis.
Elis, belum bisa menikmati pertempuran ini. Hanya Soni yang menikmati, tubuh Elis yang masih gadis. Soni terus menghentakkan tubuhnya terus menerus, sampai cairan berwarna putih itu, keluar dari senjata andalan Soni bersamaan dengan darah segar yang keluar dari daerah sensitif milik Elis.
Soni benar benar menikmati tubuh Elis yang masih perawan. Soni begitu bahagia Karna Elis menjaganya untuk Soni.
Soni mengecup kening Elis. Sedangkan Elis masih mengeluarkan air matanya. Karna daerah sensitif Elis sudah di terobos masuk oleh senjata Soni tanpa perlawanan.
"Maafkan aku yah" bisik Soni lagi, sambil menghapus air mata Elis yang masih saja menangis karna terasa begitu sakit. Daerah itu, yang di terobos masuk Soni.
"Aku ga tau, bakal sesakit ini, Mas" guman Elis pelan.
__ADS_1
"Kamu menyesal sayang?" tanya Soni mendengar kata kata Elis tadi.
Elis memeluk tubuh Soni. Mereka berdua masih polos. Hanya Soni yang berkeringat. Pertempuran ini, belum imbang. Karna Elis masih merasa sakit. Dan hanya Soni yang merasa puas saja. Soni dan Elis, hanya di balut selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua yang polos.
"Aku tak menyesal Mas, Aku bahagia. Bisa merasakan ini, bersamamu. Aku hanya merasa sakit, karna ini pertama untukku" guman Elis.
"Makasih yah, Sayang. Sudah menjadikan aku yang pertama"
Soni kembali mencium bibir Elis. Dan melepas nya lagi.
"Aku ingin, aku yang pertama dan terakhir untukmu sayang. Walau kamu bukan yang pertama. Namun aku ingin kamu yang terakhir" tutur Soni memeluk erat tubuh Elis.
"Sayang, hari ini aku bahagia banget. Aku dan kamu jadi satu, ini jadi malam pertama kita" guman Elis lagi.
"Kita percepat pernikahan kita yah, aku tak tahan lama lama jauh sama kamu"
"Ikh Kamu nakal"
"Kita bertempur lagi yah, Aku masih ingin" bisik Soni lagi.
Soni benar benar membuat Elis, mengila. Walau ini, yang pertama untuk Elis. Namun Elis begitu bersemangat saat Soni benar benar menyentuh bagian sensitif itu. Apalagi cara main Soni yang sudah berpengalaman. Membuat Elis semakin jatuh cinta pada Soni.
Elis sudah tak merasa sakit lagi, Soni membuat Elis terus mendesah, menikmati setiap sentuhan Soni. Pertempuran itu, kini dinikmati oleh Elis. Soni dan Elis menikmati setiap pertempuran yang begitu dahsyat. Membuat keduanya mencapai klimaks secara bersamaan.
Soni menghembuskan nafas panjang, setelah, bertempur hebat tadi sore, sampe beronde ronde. Keringat sudah menguyur tubuh Elis dan Soni. Soni dan Elis sudah benar benar lelah.
"Minggu depan kita menikah yah" guman Soni.
" Secepat itu"
"Aku sudah mempersiapkan semuanya, undangan pun besok selesai di cetak"
Elis terkejut dengan ucap Soni.
__ADS_1
"Sejak kapan, kamu mempersiapkan ini?" tanya Elis penasaran.
"Aku ingin ngasih kejutan untukmu sayang. Mba Elina yang sudah mempersiapkan semuanya untuk kita".
"Mba Elina" gunan Elis, merasa tak percaya dengan kakaknya ini. Karna dari awal kakaknya ini. Begitu menentang pernikahan ini. Elis mulai meneteskan air matanya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Soni, terkejut karna Elis malah menangis.
"Aku ga nyangka, Mba Elina bisa mempersiapkan semua ini untukku. Aku kira, Mba Elina tak menyetujui kalo aku milih mas Soni" tutur Elis, merasa terharu.
"Mba Elina, sangat menyayangi mu Elis. Dia sangat sayang sama kamu percaya dech sama aku!" seru Soni sambil memeluk tubuh Elis yang masih polos, hanya selimut saja yang menutupi tubuh mereka berdua.
"Makanya, aku berani menyentuh mu, sayang. Aku titipkan benihku di rahimmu sayang. Walau aku, masuk duluan. Karna aku, benar benar tak tahan nunggu sampe Minggu depan"
Elis tersenyum, mendengar ucapan Soni. Soni telah menanam benih duluan. Sebelum resmi jadi pasangan suami istri.
"Ha, aku tak sabar, menjadikan kamu sebagai istriku yang syah".
Elis tersenyum lagi.
"Ntar bersiap saja, setelah syah, aku akan ngajak kamu tempur setiap hari yah, aku akan bikin kamu ga berkutik"
Elis tertawa mendengar ucapan Soni. Sekarang pun Elis, sudah tak bisa berkutik lagi. Karna perlakuan Soni, kali ini. Tinggal menunggu hitungan hari, Elis dan Soni akan menyatu.
Elis masih tak menyangka, Kalo akan menikah dengan Soni. Elis berpikir semua ini, hanya akan jadi mimpi saja. Namun ini benar benar menjadi nyata. Elis begitu memcintai Soni. Elis begitu bahagia, memeluk Soni begitu erat. Begitu juga Soni.
Setelah itu, Soni mengajak Elis mandi bersama. Karna tubuhnya sudah lengket karena keringat yang menempel pada tubuh Soni dan Elis.
Di dalam kamar mandi. Elis mendesah lagi, Entah lah, apa yang Soni dan Elis lakukan di kamar mandi bersama. Lama mereka di kamar mandi. Setelah itu, mereka bersiap untuk bertemu Yasmine.
Putri kecil Soni, yang akan jadi anak Elis juga nantinya. Elis masih, merasa sedikit sakit, di **** kakinya. Bagaimana tak sakit, baru pertama langsung di gempur terus menerus. Wajarlah area sensitif Elis merasa sakit, Karna ulah Soni. Pertama kalinya, langsung main beberapa ronde. Pastilah sangat terasa sakit. Namun Elis tak mempermasalahkan itu. Karna Elis juga menikmati itu.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like yah. Mampir ke novel aku yang lain. "Irani Gadis Indigo" dan " Kisah Kita" terima kasih sudah mampir. Dan membaca novel saya.
😘😘😘😘😘😘