
Darania masih berdiri mematung dan menunduk gadis itu tak berani menatap wajah laki-laki yang sedang asik menatap wajah cantiknya.
Laki-laki itu memperhatikan wajah cantik gadis itu, dengan kulit putihnya berserta tubuh mungilnya. Gadis itu, tak tinggi namun menjadi nilai plus untuknya, hanya gadis itu yang bisa membuatnya jatuh cinta.
Laki-laki itu, senang membuat gadis mungil itu, sibuk. Badanya yang tak sampai sedadanya ini. Seperti anak kecil berlari-lari kecil mengerjakan tugas yang laki-laki tersebut berikan. Umur gadis itu, hampir kepala tiga, namun wajahnya seperti gadis ABG. Gadis itu, menolak tua.
"Kamu cantik," gumannya pelan.
"Apa Mas?" tanya gadis itu, terdengar begitu jelas ucapan dari laki-laki yang ada dihadapannya itu, membuat keduanya saling memandang satu sama lain.
"Aku tidak berbicara apa-apa?!" serunya berpaling.
Gadis tersebut, cemburu. Ia yakin sekali mengdengar ucapan laki-laki itu. Walau pelan, namun telinganya masih bagus untuk mendengar ucapan Azka. Gadis itu, bertanya-tanya dalam hatinya, "Maksudnya apa bilang, kamu cantik." Darania menjadi bingung apakah, ia salah mendengar? Kata-kata itu, malah teringan di telinganya membuat wajahnya merah semerah buah tomat.
Wajahnya memerah, membuat Azka tersenyum. Laki-laki itu, malah sibuk sendiri dengan memperhatikan setiap garis halus di lekukan wajahnya yang masih kencang tak terlihat tua sama sekali.
Gadis itu, menunduk lagi, tak ingin melihat wajah laki-laki yang begitu membuatnya kesal setengah mati. Kakinya mulai pegal, tumit kakinya berdenyut. Ia melihat kakinya sendiri sudah merah dan bengkak.
Laki-laki itu, memperhatikan wajah gadis itu, yang tak nyaman. Beberapa kali mengerutkam kening menahan sakit. Kepalanya sudah bercucuran keringat karna, panas tubuhnya yang sudah sampai ubun-ubun karna, lelah sedari tadi bolak-balik karna, perintah dari Azka.
"Kamu kenapa?" tanyanya, melihat gadis itu menahan rasa sakit di tumit kakinya.
"Aku tidak apa- apa Mas," ucapnya berbohong. Namun terlihat jelas, gadis itu sedang berbohong, untuk menutupi lukanya di tumit kakinya.
Laki-laki itu pun beranjak dari kursinya. Ia menghampiri gadis itu, laki-laki tesebut melihat tumit kakinya, memerah karna, bengkak. Azka mengerutkan keningnya, merasa kasihan pada gadis itu, "Coba buka sepatumu?" tanyanya masih melihat ke bawah kaki gadis yang ada dihadapannya.
__ADS_1
"Mas Azka mau apa?" tanya gadis itu bingung, tak mengerti maksud dari laki-laki ini.
Laki-laki itu mulai berjongkok karna, gadis itu tak mau membuka sepatunya. Namun gadis itu, malah mundur satu langkah merasa takut dengan kelakuan dari laki-laki itu.
"Mas Azka mau apa?" tanyanya lagi, mulai panik dan juga bingung. Namun laki-laki itu tak menghiraukan pertanyaan dari gadis itu,
"Lepaskan sepatumu!" seru laki-laki itu, mengulangi ucapanya.
Gadis tersebut, beberapa kali mengelengkan kepalanya. Ia merasa tak enak bosnya berlutut dihadapannya. Gadis itu, gugup masih tak mengerti dengan ucapan bosnya itu. Ia mulai merasa takut.
"Kalau kamu, tak mau lepas. Aku tepaksa lepaskan sepatumu secara paksa," ancamnya mulai gemes melihat wajah ketakutan gadis itu. Laki-laki itu, ingin tertawa namun ia tahan. Laki-laki itu, berusaha berwajah serius.
" Iya-iya Aku lepas," ucapnya menurut, takut bosnya secara paksa melepaskan sepatunya. Gadis itu, mengerutkan keningnya, saat sepatunya ia lepaskan dari kakinya. Gadis itu, merasakan nyeri yang begitu sangat di tumit kakinya. Kulit kakinya, sampai terkelupas karna luka bengkak di tumit kakinya.
Laki-laki itu berbalik badan, menahan tawa melihat reaksi gadis itu, ketakutan sampai tubuhnya bergetar. Ia berjalan ke mejanya, untuk mengambil sesuatu di laci mejanya. Gadis itu, masih merasa ketakutan dengan apa yang akan dilakukan oleh bosnya itu. Laki-laki tesebut, berjalan menghampiri gadis itu, yang masih dalam keadaan ketakutan. Darania deg deg deg an saat laki-laki itu menegang kakinya. Azka mulai mengoleskan salep kepada kaki sebelah kirinya yang nyeri. Perlakukan bosnya ini, membuat gadis itu, terkejut. Gadis itu, sudah berpikiran jelek dan kotor sejak tadi, "Ya ampun apa yang ia pikirkan," pikirnya mengelengkan kepalanya sendiri.
Gadis itu, memperhatikan wajah dari bosnya, dilihat dari dekat, wajahnya begitu tampan, rambutnya lurus dan rapih, bola matanya berwarna hitam dan tegas, hidungnya mancung, bibirnya sedikit tebal dan sexy. Kulitnya tak putih, dan juga tak hitam. Kulit khas orang Jawa Tengah. Apalagi laki-laki ini, sudah mapan.
Gadis itu, masih memperhatikan wajahnya dari Bosnya. Sedari tadi ia terus saja, memperhatikan bosnya. Yang sedari tadi secara tak langsung mengagumi wajahnya tampan Azka.
"Sudah selesai, kamu jangan pakai sepatu hak tinggi lagi, sampai kakimu sembuh. Kan sayang, kaki secantik ini, harus terluka karna lecet," ucapnya membuyarkan lamunan dari gadis ini.
Darania masih sibuk mengagumi wajah tampan dari seorang Azka. Ia tak tau, kalau laki-laki itu, sudah selesai mengoleskan salep di kaki kirinya.
Laki-laki tesebut, sengaja tak membuyarkan lamun dari gadis itu. Karna ia menyukai gadis itu, saat sedang serius memikirkan sesuatu. Laki-laki itu, tak tau kalau sedari tadi gadis itu memikirkannya.
__ADS_1
Gadis itu, mulai tersadar kalau ia sedang memikirkan laki-laki itu. Sepasang mata mereka bertemu menyadari kalau bosnya ini sedang memperhatikan wajahnya.
Gadis itu beranjak, tak ingin berlama-lama berada di ruangan bosnya. Sudah cukup jadi ini, ia olahraga jantung. Karna, sempat berpikir jahat pada bosnya ini. Ia merasa malu dengan pikiranya itu. Walau bosnya tak tau, apa yang gadis ini, pikirkan saat ini.
"Kamu mau kemana?" tanyanya masih berjongkok di hadapan gadis itu.
"Aku mau kembali ke ruanganku," jawabnya tak mau melihat wajah dari bosnya ini.
"Tunggu."
"Ada apalagi, belum puas ngerjain aku sedari tadi. Kaki ku lecet karnamu. Mau menyuruhku apa lagi!" serunya kesal mengeluarkan semua kekesalan di dalam hatinya.
Azka, memberikan sandal jepit miliknya. " Nih pakai ini. Sepatunya jangan dipakai lagi, sementara pakai ini dulu," ucapnya sambil tersenyum, mengingat kakinya sakit karna, kelakuannya.
Gadis itu, mengambil sandal jepit milik Azka. Karna, saat ini Darania tak memakai alas kaki. Ia memakai sandal jepit yang kebesaran. Membuat Azka tersenyum sendiri. Melihat kaki gadis ini begitu kecil.
"Sebaiknya aku pakai, sepatu lagi dech," ucapnya melepaskan sandal jepit punya bosnya. Sendal itu, begitu besar membuatnya merasa tak nyaman dengan sendal yang begitu besar di kakinya.
"Tak boleh, pakai sendal itu, kalau tidak, aku potong gajimu," ucapnya menahan tawa yang sejak tadi sudah tak bisa ia tahan lagi.
Gadis itu, kembali memakai sendal kebesaran itu, dengan terpaksa karna, Azka mengancamnya akan memotong gajihnya bila ia tak menurut. Darania pun meninggalkan ruangaan bosnya, dengan cemberut.
Bersambung...
Mampir tak ke novel Author yang lain. "Irani Gadis Indigo" dan "Kisah Kita".
__ADS_1