Ketika Cinta Datang Season 2

Ketika Cinta Datang Season 2
Chapter 46 Ketahuan....


__ADS_3

Darania masih tersenyum menerima sepatu flatshoes dan obat antiseptik dari laki-laki itu, yang justru memberikan perhatian lebih kepadanya. Pikiran tentang bosnya ini, salah dimata gadis itu, ternyata tak sesombong dan sedingin itu, terhadap seorang wanita. Dia lebih dari itu, dengan sikap lembut, perhatian dan hangat untuk seorang laki-laki seperti Azka. Sekarang Azka memberi perhatian lebih untuknya.


Perasaan gadis itu, kepada bosnya mulai bersemi dan tubuh, walau ia tak mengakui itu. Tanpa ia sadari, gadis itu, begitu erat memeluk kantong pemberian bosnya itu, dengan begitu erat.


"Cie, serasa meluk orangnya nihh," goda Lilian lagi.


Gadis itu tersenyum, walau belum mau mengakui perasaannya namun ia sudah tak mau mengungkapkan perasaan.


Elis masih memperhatikan Darania, ia berpikir tentang bosnya yang menyukainya, "Mba Dara memang hebat, belum lama iya bekerja disini. Sudah membuat mas Azka yang dingin kaya es batu mencair begitu saja, Kali ini, aku harus belajar banyak dari gadis itu."


Entah kenapa Soni memikirkan Elis sekarang. Gadis itu, telah menggoyahkan hatinya? Laki-laki itu, benar- benar ingin memiliki Elis, sepenuhnya. Laki-laki tersebut beranjak dari tempat duduknya, ia berjalan menuju meja Elis, "Hey, boleh duduk di sini?" tanya Soni, mengejutkan gadis itu, yang masih melamun sedari tadi.


"Bo boleh," jawabnya gugup, masih terkejut dengan keberadaan laki-laki itu, yang kini ada dihadapannya. Sekarang Soni dan Elis begitu dekat, hati dan jantungnya berdegup begitu kencang dari biasanya, gadis itu begitu shock karna, kehadiran Soni. Gadis itu, menjadi salah tingkah, dengan keberadaan laki-laki itu, di hadapannya. Laki-laki tesebut hanya duduk sambil memainkan ponselnya, namun hati gadis itu, menjadi bingung dengan perasaannya sendiri, gadis itu, gundah tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Semua campur aduk. Tak bisa gadis itu mengerti harus bagaimana?


"Kayanya akan ada dua pasangan yang akan berlabuh, nih!" ledek emak-emak itu, wanita itu, memperhatikan Soni yang tak biasanya duduk di tempat Elis.


Soni masih pura-pura cuek, laki-laki itu tahu, reaksi gadis itu, masih terlihat biasa saja. Laki-laki itu, tak tau saja, apa yang gadis itu rasakan. Hatinya tak karuan di bombardir, secara mendadak, oleh pasukan perang dari laki-laki yang ia cintai. Hatinya gelisah, bercampur aduk tak tentu, membuat seluruh badannya bergetar. Membuat, laki-laki itu meloncat karna, terkejut, "Akh gempa," gumanya. Namun saat melihat sekeliling masih diam di tempat tak ada bergerak sama sekali, membuatnya bingung.


Semua tersenyum melihat tingkah Soni.


"Gempa dari mana?" tanya Darania melihat sekeliling tak ada yang bergerak.


Meja gadis itu ikut bergetar karna, Sejujurnya tubuhnya bergetar, ia bingung dengan keadaan tubuhnya, "Bagaimana ini?" Itu yang dipikirkan gadis itu. Tubuhnya sendiri shock dengan tindakan laki-laki itu, secara tiba-tiba. Gadis tersebut pun tak tau, kenapa tubuhnya seperti itu.

__ADS_1


"Kamu sakit?" tanya Soni, menyadari tubuh gadis itu, yang bergetar bukan gempa.


Gadis itu, menunduk wajahnya sudah merah sekarang. Kali ini badanya sudah mempermalukan dihadapan laki-laki yang ia sukai.


Soni mengerutkan keningnya. Tak mengerti dengan keadaan gadis itu, yang tak menjawab pertanyaannya. Membuat laki-laki tersebut khawatir, "Elis, kamu tidak apa-apa? Apa perlu kita ke rumah sakit?" tanyanya duduk dihadapan Elis.


Elis dan Soni hanya terhalang meja. Ia tak bisa menyembunyikan kegugupanya. Kali ini, sikap laki-laki itu, membuat tubuhnya terkejut hebat. Tubuhnya masih belum menerima kalau laki-laki ini, bisa sedekat ini dengannya.


Elis menggelengkan kepalanya. Menandakan ia baik-baik saja. Namun tubuhnya terus bergetar tanpa henti, sampai gadis itu, bingung. Bagaimana menghentikan tubuhnya untuk berhenti bergetar.


Lilian pun beranjak dari tempat duduknya, menuju meja Elis disusul Darania dan Shintia.


"Kamu minggir sana!" seru Lilian pada Soni. Laki-laki itu pun beranjak dan berdiri agak jauh dari tempat gadis itu, laki-laki tersebut, memperhatikan gadis itu, dengan menyilangkan kedua tangannya di dadanya, pikiran laki-laki itu pun menjadi gelisah, bingung dengan apa yang terjadi kepada Elis.


Elis menggelengkan kepalanya, ia tak ingin diihat laki-laki iti, sekarang. Wajahnya sudah merah melebihi buat tomat, mungkin seperti semangka atau apel yang sedang matang sekarang.


"Lis, bener kamu tidak apa-apa?" tanya Darania memastikan.


Lilian melirik Darania, tampa alas kaki, celana panjangnya sobek, ada luka berdarah dilututnya, dan juga tumit kakinya bengkak memerah.


"Kamu kenapa Ra?" tanya Lilian mengerutkan keningnya, baru menyadari keadaan Darania.


Darania melihat ke bawah kakinya, "Biasa kecelakaan kecil," ucapnya sambil tersenyum. Gadis itu tak ingin Lilian semakin kepo tentang dirinya.

__ADS_1


Lilian berpikir sejenak, memikirkan kantong yang dititipkan Azka padanya untuk Darania, "Ada kejadian apa? Yang ia lewatkan antara Azka dan Darania." itu yang pikirkan Lilian sembari melihat ke arah Darania.


Ponsel laki-laki itu berbunyi, membuat Soni keluar untuk mengangkat telponnya.


Elis melihat Soni keluar dengan ujung matanya, ia pun bangun, duduk di posisinya semula, namun badanya masih bergetar.


"Mba kenapa sih? Pasti karna, Mas Soni?" tanya Shintia tiba-tiba.


Mendengar ucapan Shintia, Darania dan Lilian saling pandang. Tak mengerti maksud Shintia.


Elis menganguk, gadis itu sudah tak bisa menutupi lagi persaannya Karna, kondisi tubuhnya tadi. Sekarang tubuhnya tak bergetar lagi saat laki-laki itu, pergi dari ruangan itu.


"Jadi selama ini, kamu suka Soni!" seru Lilian langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Elis menganguk lagi. Karna tubuhnya, gadis itu menjadi ketahuan kalau ia menyukai Soni.


"Sejak kapan?" tanyanya lagi mulai penasaran dengan gadis itu, yang menyukai Soni. Karna selama ini, Lilian tak pernah memperhatikannya. Gadis itu, terlalu tertutup, sudah didekati berbeda dengan Darania.


"Semenjak aku masuk sini? jawab Elis mulai merasa diinterogasi oleh Lilian.


"What's? Selama itu kah! Itu sudah lama, sebelum Soni menikah dengan almarhum Kalula, sampai masih menyukainya, sedalam itu kah." Lilian benar-benar tak percaya dengan cinta Elis sampai sedalam itu, terhadap Soni.


"Aku menyukai Mas Soni dari awal aku masuk sini. Dia, cinta pertamaku, aku tak tau apa yang aku rasakan terhadapnya. Sampai dia menikah dengan orang lain, aku masih menyukai. Aku tak berharap, dia membalas rasa cintaku. Aku sudah berniat melupakannya. Namun sekarang dia malah membuatku bingung dengan sikapnya. Makanya tubuhku jadi shock. Saat Mas Soni tiba-tiba datang kepadaku. Aku sudah tak bisa menyembunyikan perasaanku kepada mas Soni. Aku tak bisa menutupi semua rasa cintaku dari kalian. Sekarang aku tak tau harus bagaimana?" ucap Elis panjang lebar.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2