
Waktu masih menunjukan Jam 12.00 siang. Darania berjanji akan ke rumah Nadia sekitar jam 03.00 sore, masih ada waktu tiga jam lagi untuk untuk datang ke acara aqikah keponakan bosnya ini, sekaligus putri dari sahabatnya Nadia. Karyawan staf wajib hadir ke acara itu, makanya pada hari ini, keempat perempuan ini, kompak memakai hijab.
Semua sibuk membantu di dapur. Nadia masih menyusui baby Alinea di kamarnya. Sedangkan Arya, Azka dan Arya membantu memasang tenda di depan rumahnya, untuk menyambut seluruh kampung yang akan datang ke acara aqikah putri pertama Arya.
Setelah selesai pasang tenda sebuah mobil berwarna putih, parkir di depan rumah Arisa. Arya dan Azka saling melihat satu sama lain. Tak tau, siapa yang berada di dalam mobil itu.
Seseorangpun keluar dari mobil, Asron dan Mina, kakak dari Arisa. Keduanya malas melihat mereka, berpikiran yang sama kalau Arisa, ibu mereka yang mengundang dua orang ini.
Kedua manusia itu, tak mempunyai urat malu, dengan bangga keduanya melangkah masuk rumah Arisa yang sudah siap menyambut kedua kakaknya itu. Sepasang suami-istri ini, begitu takjub dengan rumah peninggalan orang tua Aston, menjadi sebuah istana yang begitu mewah dan megah. Kedua suami-isteri itu, berpikiran yang sama, untuk meminta bayaran dari rumah yang Arisa tempati, atau menjual ke pada orang lain dengan harga yang tinggi.
"Mas, rumah ini, menjadi bagus dan berkelas. Aku menyesal sudah memberikan rumah ini, kepada adikmu," bisik wanita itu, kepada suaminya yang sama-sama mata duitan.
"Aku juga tidak menyangka, kalau rumah ibu menjadi sebagus ini," bisik Aston kepada istrinya itu.
Arisa tersenyum menyambut kedatangan Kakaknya dan Istrinya, ia begitu baik pada kakaknya tak pernah mengungkit-ungkit kekakuan kakaknya kepadanya. Arita tak suka melihat kedua kakaknya ini, apalagi istrinya?
"Hay Arita, gimana kabarmu? Dimana suamimu? Masih kerja di pabrik!" serunya, meremehkan adik dari suaminya. Kedua manusia ini, tak tau kalau dunia ini, susah berputar pada posisi yang berbeda, bisa dibilang Arita sudah hidup lebih dari cukup.
"Aku baik Mba? Mas Rudi, sedang perjalanan bisnis ke Singapura," jawab Arita bangga.
"Apa, aku tak salah mendengar, buruh pabrik bisa perjalanan bisnis ke Singapura. Kamu tau kan Singapura itu, luar negeri, jangan becanda kamu!" serunya meremehkan kembali, karna wanita ini begitu yakin kalau hidup Arisa masih seperti dulu.
"Ohw, Aku lupa memberitahukan kalian, tentang bisnis baru kita. Aku punya bisnis furniture, R.A furnitur tau kan. Toko itu, milik aku Mba, Mba tau kan, kalau toko kami sudah mendapat penghargaan tentang kualitas produk yang sudah di akui Internasional. Tak hanya di dalam negeri namun luar negeri juga," tutur Arita panjang lebar
__ADS_1
"Oh." Mina tak bisa berkata-kata lagi. Wajahnya sudah pucat pasi, dahulu Mina senang menghina Arita dan Arisa. Sekarang dunia berputar, kini hidup kedua adik iparnya jauh lebih darinya.
"Sudah-sudah, kita masuk yu," ucap Arisa memcoba menghangatkan suasana, wanita ini, tak ingin membuat suasana semakin panas dengan kelakuan Arita.
Arita tersenyum puas, wanita itu, melirik tas Hermes yang dijingjing Mina, dengan bangga, "Eh, sebentar Mba?" tahan Arita memperhatikan Mina.
"Ada apa lagi?" tanya Mina masih kesal dengan ucapan Arita tadi.
"Eh itu, tas Hermes yah." sambil menunjuk tas milik Mina.
"Iya." Mina membanggakan diri. Wanita itu, berpikir, tak mungkin adik iparnya membeli tas, dengan brand terkenal.
"Tas punya Mba, bukanya koleksi tahun lalu yah, sekarang kan sedang trend model ini," ucapnya sambil memamerkan tas miliknya yang baru saja, keluar satu minggu yang lalu.
Mina shock dan juga terkejut, adik iparnya memilikinya tas keluaran baru, yang begitu Mina incar, harganya itu luar biasa, membuat jantungnya lemah seketika.
Mina benar-benar merasa terhina, kepalanya pusing seketika. Wanita itu, tak terima bahwa adiknya iparnya sudah lebih dari dia, sampai bisa membeli tas itu, sedangkan dirinya harus rela menjual tas koleksi miliknya kepada teman-tenanya untuk kebutuhan ekonominya. Semua itu membuat wanita itu semakin kesal.
Arita tersenyum jahat, wanita itu, hanya melakukan apa yang dulu pernah dilakukan Mina kepadanya dan juga Arisa. Sekarang terbuktikan, Mina tak bisa menerima itu. Arita hanya ingin memberi pelajaran kepada Mina, hidup itu berputar, di saat kita berada di atas lebih baik kita bersyukur, tak memamerkan apa yang kita punya kepada seseorang yang keadaan kurang dari kita.
"Mas, aku pusing, kita pulang saja," ucapnya ingin segera pergi dari rumah ini. Wanita itu, tau betul Arita sengaja membalas perlakuannya dulu kepadanya. Wanita tersebut benar-benar terhina saat ini. Bila terus berada di sini. Arita akan terus semakin menghinanya. Mina benar benar merasa terhina kali ini.
"Ko pulang, kan acaranya belum dimukai?" tanya Aston, tak menyadari perubahan sikap dari istrinya ini.
__ADS_1
"Pokoknya aku ingin pulang?" Mina memaksa, sambil berbalik badan, berjalan terus menuju tempat parkir mobilnya tanpa melihat ke belakang.
"Maaf yah, sepertinya Mina kurang enak badan," ucap Asron menyusul istrinya yang lebih dulu berjalan keluar.
Arita tersenyum bahagia. Wanita itu, yakin Mina pasti kesal sekali kepadanya karna, kelakuannya hari ini.
"Kamu kok seperti itu, kepada Mba Mina," kata Arisa merasa kecewa dengan perbuatannya adiknya tadi.
"Tidak apa-apa Mba, sesekali, kita memberikan pelajaran sama kakak ipar. Biar sifat sombongnya hilang. Mba ini, aku sengaja beli tas ini menguras tabunganku, untuk memberitahu kakak ipar, bahwa sekarang aku itu mampu beli tas branded," ucap Arita sambil tersenyum.
"Tapi tak begitu juga."
"Mba jangan terlalu baik sama mereka. Kali-kali kita harus balas perlakuan mereka. Mba tak ingatkah perlakuan mereka dulu sama Mba dan aku."
"Yang diucapkan Tante Arita bener Bu. Ibu jangan terlalu baik sama mereka. Lagian kenapa sih Ibu ngundang mereka tanpa Izin dari aku?" tanya Arya tiba-tiba ikut nimbrung dengan ibu dan tantenya.
"Kamu tak boleh seperti itu, walau..." ucapan Arisa berhenti saat Arya langsung memotongnya.
"Sudah lah, Bu? Aku masih kesal sama kelakuan mereka pada kita dulu. Lebih baik aku tak mempunyai saudara seperti mereka bu," ucapnya kesal dan berlalu begitu saja, meninggal kan Arisa yang masih merasa bersalah.
Bila diingat kembali, kelakuan mereka dulu, begitu keterlaluan kepadanya dan juga anak-anaknya, sampai sekarang anak-anaknya masih belum bisa memaafkan mereka. Arisa tak ingin memutuskan silahturahmi saja, Arisa memaafkan semua kesalahannya mereka dahulu. Sekarang Arisa ingin membantu mereka, melihat kondisi kakaknya seperti itu, akan sulit untuk mendapatkan bantuan.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa Like...