
Jam 06.00 sore, wanita itu sampai rumahnya. Seperti biasa, keadaan rumah sepi tak ada yang menyambutnya pulang. Emma dan Elsa berada di omahnya , karna beberapa hari ia pulang malam tak ada waktu untuk menjaga keduanya.
Wanita tersebut meneteskan air matanya, ia mulai mengingat rasa sakit di dalam hatinya. Entah sudah berapa lama, wanita itu berusaha menjadi lebih kuat untuk kedua putrinya.
Pria kurang ajar itu meninggalkan sehari sesudah ia melahirkan putri keduanya, Elsa. Dalam keadaan lemah, di ranjang rumah sakit, dia meninggalkan bersama wanita yang tiada lain, keponakannya sendiri. Gadis itu, ia besarkan atas amanat dari almarhum kakaknya Liffa. Yang meninggal saat melahirkan Vira. Gadis itu, sudah dianggap seperti putrinya sendiri. Namun apa yang gadis itu lakukan? Dia sendiri yang menjadi duri di dalam rumah tangganya. Wanita itu, kenal Awang, suaminya. Saat keduanya masih belajar di kampus yang sama. Ia dan Awang keduanya sahabat dekat. Dari awal masuk Kuliah, Awang sudah sering main ke rumahnya bertemu dengan keluarganya dan juga Vira. Hanya berbeda sepuluh tahun saja, antara aku dan keponakanku.Wanita itu, tak pernah sadar dan tau. Bila keponakannya itu memcintai sahabat, Awang. Ia tau, Awang juga menyayangi sama sepertiku. Kita sering menghabiskan waktu bersama. Aku selalu mengajak Vira jalan-jalan bersamaku dan juga Awang. Wanita itu, terlalu bodoh untuk mempercai mereka. Vira tumbuh menjadi gadis yang cantik sama seperti Liffa ibu kandungnya. Aku tak pernah menyangka dengan semua mimpi buruk ini. Sampai ia menikah dengan Awang. Wanita itu masih belum menyadari tentang perasaan Vira terhadap suamiku. Wanita tersebut tak pernah tau, sejak kapan suaminya tergoda dengan keponakanku? Awal menikah, Vira sudah tinggal bersamanya karna, rumah kami dekat dengan sekolahnya. Wanita itu, tak tau apa yang terjadi dengan mereka berdua. Hingga hari itu, mimpi buruk itu. Lamumanya buyar saat seseorang mengetuk pintu rumahnya.
Tok Tok Tok.
Wanita itu pun beranjak dari tempat duduknya dan mulai membuka pintu rumahnya.
Cleck.
"Bunda!" seru kedua putrinya Emma dan Elsa memeluk wanita ini yang menyambutnya dengan senang hati, wanita tersebut merindukan dua putrinya ini.
"Bunda," panggil seseorang yang membuat wanita itu terkejut dengan suara yang sudah lama ingin ia lupakan.
Wanita tersebut melepaskan peluka kedua putrinya, ia tak bisa berkata-kata lagi melihat seseorang yang tak ingin ia lihat selama tujuh tahun terakhir ini. Hatinya tersamat sakit mengingat semua perlakuan pria itu terhadapnya.
"Emma, Elsa kalian masuk dulu yah, bunda sudah bawa kue kesukaan kalian di lemari es, bunda mau berbicara sama Ayah," ucap wanita itu, menyuruh kedua putrinya untuk masuk ke dalam rumahnya. Ia tak ingin kedua putrinya mendengarkan apa yang ingin ia katakan kepada pria tersebut.
__ADS_1
Emma dan Elsa pun menganguk, masuk ke dalam rumah. Kedua putrinya ini paling mengerti kondisi ibunya saat ini. Walau pun mereka tak tak apa yang terjadi kepada orang tua mereka. Namun Emma sebagai putri sulung dari wanita itu, paham apa yang harus ia lakukan?
Pria tersebut menunduk, tak berani melihat wanita yang ia sakiti, "Mau apa lagi, kamu ke sini?" tanya wanita itu, berusaha tegar tak menangis di depan pria yang telah menghancurkan hidupnya.
"Elsa sudah besar yah, aku tak menyangka dia akan tumbuh menjadi gadis yang cantik sepertimu!"
"Cukup basa-basinya, aku tanya untuk apa kamu datang dalam hidupku dan kedua putriku!"
"Emma dan Elsa putriku juga, kamu tak berhak memisahkan hubungan ayah dan putrinya."
"Hubungan apa?" wanita itu, tesenyum kecut.
"Suami yang mana? Suami yang sudah meninggal istrinya saat ia baru saja melahirkan putri keduanya?"
"Maafkan aku, Li."
"Maaf saja, tak akan mengubah keadaan kamu sudah meninggal aku dengan kedua putrinya, dengan keponakan sendiri, masih pantaskah di sebut seorang suami," bentaknya mulai meneteskan air matanya yang sudah sejak tadi ia tahan.
"Aku tau aku salah, aku menyesal? Aku mohon maafkan aku, kita mulai dari awal lagi bentuk keluarga baru."
__ADS_1
"Tak semudah itu, tujuh tahun kamu meninggalkan aku dan kedua putriku, sekarang dengan mudahnya kamu minta maaf."
"Li." pria itu, mencoba memeluk wanita itu. Namun wanita tersebut mendorong tubuh pria itu sampai terjatuh ke tanah.
"Aku tak ingin kembali kepadamu, bodohnya aku. Seharusnya aku sudah mengurus surat perceraian kita," bentaknya meninggalkan pria itu, yang masih terkapar di tanah.
Wanita itu, membanting pintu dan menguncinya dari dalam. Wanita itu, duduk di balik pintu. Ia menangis sejadi-jadinya hatinya begitu sakit, tak bisa diungkapkan lagi dengan sebuah kata tak bisa menggambarkan hatinya yang begitu sakit karna, pria itu.
Emma putri sulungnya mendekati ibunya yang sedang menangis. Sekali lagi iya melihat ibunya terpuruk seperti itu. Oleh pria yang sama ayah kandungnya. Gadis itu, masih diam di tempatnya. Tak bisa berbuat apa-apa? Gadis itu tak tau, harus bagaimana? Ia hanya ikut menangis walau tak tau ia menangis karna, apa?
Pria itu, masih mencoba mengetuk pintu rumah itu dari luar, "Bun dengarkan penjelasan Ayah? Ayah minta maaf? Ayah mohon!"
Wanita itu, menutup kedua telinganya tak mau mendengarkan lagi suara dari pria yang sudah menyakitinya. Ia ingin dia pergi dari hidupnya selamanya. Wanita itu tak butuh dengan pria itu lagi. Dia sudah bisa hidup tanpanya selama tujuh tahun ini, ia baik-baik saja bersama kedua putrinya tanpa kehadiran pria itu. Sekarang setelah ia merasa ingin bangkit, pria itu datang kembali dalam hidupnya. Untuk apa lagi ia datang. Untuk menyakitinya lagi. Wanita itu tak ingin kembali pada masa lalunya yang kelam. Ia ingin hidup baru dengan seseorang yang tak akan menyakitinya seperti pria itu. Wanita itu sudah lelah dengan semua ini. Hatinya terlanjur sakit. Tak akan bisa kembali seperti semula.
Pria itu pun duduk di pintu luar, ia menyesali semua perbuatannya kepada wanita yang ia cintai selama ini. Pria tersebut tergoda dengan gadis yang lebih muda dari istrinya. Gadis itu tak membahagiakannya sama sekali. Pria itu mendapatkan karma dari perbuatannya menyakiti wanita yang telah memberinya dua putri untuknya. Sekarang sudah tak ada yang bisa ia lakukan. Pria itu, hanya ingin mendapatkan wanita itu lagi. Dan berjanji akan membahagiakannya.
Seseorang melihat pria itu dari jauh. Ia teringat dengan dirinya sendiri. Mungkin pria itu juga sama telah menyakiti istrinya. Sama seperti ia dulu. Tak akan mudah untuk bisa dimanfaatkan. Ia pun melangkah meninggalkan pria itu yang sedang duduk termenung sendiri.
Bersambung....
__ADS_1