
Soni dan Elis meninggalkan Bu Irma di kantor Polisi. Soni tak berniat mengeluarkan Karen. Ya sampai hari pernikahan berlangsung. Soni tak ingin ada halangan lagi.
Sebenarnya Soni tak tega, melihat Bu Irma menangis di depan kantor Polisi. Tapi mau gimana lagi. Karen sudah membahayakan Elis dan juga Yasmine. Soni tak ingin mengambil resiko besar untuk, membebaskan Karen.
Rasa lelah saat itu, seketika hilang begitu melihat Elis memakai baju pengantin yang akan Elis kenakan di hari pernikahannya. Elis begitu cantik dengan gaun berwarna putih itu.
Tadi, setelah ke kantor polisi. Elina langsung membawa Elis dan Yasmine ke butik. Elina sudah memesan gaun pengantin untuk pernikahan adik sesayanganya, di butik langganan Elina.
Soni sudah mempercayakan semuanya pada Elina. Menyerahkan segala keperluan dan kebutuhan di hari pernikahannya pada Elina. Soni ingin Elina yang mengatur semuanya.
Pilihan Elina, begitu cocok dengan Elis. Gaun yang di kenakan Elis begitu pas. Tak terlalu sexy namun begitu elegan dan juga menawan.
Soni tak berhenti berkedip melihat kecantikan Elis. Yang begitu terpancar, walau pun belum memakai make up. Namun Elis sudah begitu membuat Soni berdebar.
Lamunan Soni buyar saat, terdengar suara dari Elina. "Gimana, cocok ga,?" tanya Elina. Belum dijawab Soni. Karna masih terkesima melihat Elis.
Soni berpaling, tersenyum sendiri. Begitu juga Elis tersenyum melihat Soni.
"Cantik"
"Ayah..." pangil Yasmine.
"Apa sayang?" tanya Soni melihat Yasmine sudah mengunakan gaun yang pas buat Yasmine. Dengan warna senada dengan Elis.
Yasmine langsung meloncat ke pangkuan Soni. "Ayah, aku cantik ga,?" tanya Yasmine polos dengan suara khas bocah berusia lima tahun.
"Cantik dong" jawab Soni sambil mencubit pipi Yasmine karna gemas. Soni melihat ada kebahagiaan di mata Yasmine. Rasa ketakutannya sepertinya sudah hilang. Karna tadi bersama Elina.
Soni merasa lega sekarang, keputusannya untuk memilih Elis tepat. Elis benar benar berasal dari keluarga baik. Semuanya juga baik.
"Terus kenapa, Ayah mau menikah sama Tante Elis, kalo aku cantik?" tanya Yasmine polos di barengi senyum Elis dan Elina.
Soni terlihat bingung dengan pertanyaan Yasmine. Bingung harus menjawab apa?.
__ADS_1
"Karna, Tante Elis mau jadi Bunda Yasmine, makanya Ayah harus menikah dulu dengan Tante Yasmine kalau jadi Bunda Yasmine" jawab Elina, dari pertanyaan Yasmine yang membuat Soni bingung untuk menjawab pertanyaan itu.
Yasmine melihat ke arah Elis, yang sedang tersenyum.
"Apa, Tante Elis beneran mau jadi Bunda aku?" tanya Yasmine lagi, masih belum puas dengan jawaban Elina. Makanya Yasmine bertanya kembali pada Elis.
Elis menganguk, kemudian berjalan ke arah Yasmine. Mengambil Yasmine, dari pangkuan Soni.
"Aku akan jadi bunda Yayas. Bunda janji, akan selalu sayang sama Yayas, dalam keadaan apapun. Menjaga Yayas selamanya selama Bunda hidup. Mau menerima Bunda jadi Bunda Yayas?" tanya Elis, dengan penjelasan yang Elis berikan untuk menenangkan Yasmine. Untuk percaya pada Elis. Kalo Elis, akan jadi Ibunya Yasmine.
Gadis berusia lima tahun itu, memeluk Elis begitu erat. Yasmine sudah merasa kalo Elis beneran tulus menyayangi Yasmine. Walaupun Yasmine tak di lahirkan dari rahim Elis, namun saat pertama melihat Yasmine. Elis sudah jatuh cinta pada gadis, berusia lima tahun itu.
Elis beneran menyukai Yasmine. Gadis kecil yang cantik bagai boneka itu. Soni melihat itu, meneteskan air matanya. Soni tadinya takut. Yasmine tak mau menerima Elis. Di luar dugaan, Yasmine begitu Welcome pada Elis.
Beberapa saat kemudian, Pak Ismed dan Bu Fatimah datang, bersamaan dengan Dokter Rian dan Suster Emi.
Selesai memcoba gaun pernikahan untuk Elis. Giliran Soni yang memcoba taxsedo. Soni terlihat gagah dan juga tampan. taxsedo yang di pakai Soni begitu membuat Elis terkesima. Soni berbeda sekali saat memakai pakaian resmi.
Elis memperhatikan orang tuanya dan orang tua Soni terlihat akrab. Elis baru tau, kalo mereka sudah akrab seperti itu. Ternyata mereka benar benar merencanakan semua ini, di belakang Elis.
Sebenarnya Elis tak masalah, tak di libatkan dengan semua ini. Elis tak mengerti, soal gaun cetak undangan dan segala persiapan pernikahannya. Elis sangat bersyukur saat Elina, kakak kandung Elis begitu perhatian pada Elis.
Elina benar sudah mengwujudkan mimpi Elis. Tentang pernikahan nya yang begitu indah dan romantis. Elis mulai meneteskan air matanya. Merasa terharu dengan apa yang di lakukan Elina.
Soni mendatangi Elis, sedangkan Yasmine langsung berlari ke arah Dokter Rian dan Suster Emi begitu mereka datang. Soni masih memakai taxsedo duduk di samping Elis.
"Kamu, kenapa sayang?" tanya Soni, sembari menghapus air matanya.
Elis, menyenderkan kepalanya di bahu Soni.
"Aku ga nyangka Mas, Mba Elina melakukan semua ini untukku. Aku sempat salah paham ma Mba Elina" Elis benar benar merasa bersalah.
Soni tersenyum, sembari mengelus elus rambut Elis. "Aku dah, bilang Elina itu, sayang banget ma kamu".
__ADS_1
Elis menganguk. Tersenyum bahagia. Elis bagun dari bahu Soni. Menghapus air mata bahagianya.
Dokter Rian dan Suster Emi bersama Yasmine. Mendatangi Elis dan Soni.
"Kamu ga apa apa, nak Elis?" tanya Suster Emi, kwatir. Yasmine sudah menceritakan semuanya pada Dokter Rian dan Suster Emi. Makanya keduanya langsung mendatangi Elis dan Soni.
Elis menggelengkan kepalanya. Menandakan kalau Elis baik baik saja.
"Ayah dan Ibu, ga udah kwatir, Aku sudah membereskan Karen!" seru Soni, masih merasa jengkel karna kelakukan Karen tadi.
"Ayah ga nyangka Karen bisa senekat itu" guman Dokter Rian merasa kecewa dengan
kekakuan Karen.
Suara telpon dari ponsel Dokter Rian pun berbunyi. Dokter Rian, hanya melihat ponselnya, melihat layar ponselnya. Namun tak diangkat telpon masuk itu.
Soni mengerutkan kening, Soni sudah menduga pasti suara telpon itu dari Ibu Irma, ibu dari Karen.
"Siapa yang telpon Yah?" tanya Soni penasaran, Soni memperkirakan itu dari Ibu Irma. Namun Soni ingin tau, kepastiannya saat mendengar langsung dari Ayahnya siapa yang menelponnya barusan.
Dokter Rian melihat Soni, tanpa menjawab pertanyaan Soni. Soni mengerti siapa yang menelpon Dokter Rian.
"Ayah angkat saja, bilang pada Bu Irma, aku ga akan mencabut tuntutan aku terhadap Karen" Soni mengucapkan itu, dengan nada yang sinis dan sebal. Soni sudah tak ingin berurusan dengan mereka lagi.
"Bukanya, Soni ingin mematahkan silahturahmi antara Soni, Dan Orang tua Karen. Namun Karen itu, sudah tak waras. Soni tak ingin membahayakan Elis dan Yasmine, karena Karen. Kali ini, Karen harus benar benar dihukum. Karna perbuatan nya. Sudah merugikan Elis dan membuat Yasmine ketakutan.
Bersambung...
Maaf, telat 🙏🙏🙏 Up. Karena kondisi Author yang lagi sakit kepala dalam seminggu terakhir ini. Maaf yah, Author akan usahakan untuk Up tepat pada waktunya, kalo kondisi Author sudah lebih baik.
Like nya, jangan lupa yah...
Mampir juga ke karya Author yang lain. "Irani Gadis Indigo" dan "Kisah Kita" covernya nya udah di ganti semoga kalian suka dengan Cover barunya. Kalo untuk novel ini, Covernya tetap. Terima kasih...
__ADS_1