Ketika Cinta Datang Season 2

Ketika Cinta Datang Season 2
Chapter 14 Rumah Sakit


__ADS_3

Azka berdiri di depan mobil Pajero sportnya. Karna, Darania tak mengizinkan Azka untuk masuk ke gang sempit di kontra-annya. Ia masih di tepi jalan, saat Darania masuk ke dalam gang.


Beberapa saat kemudian, Darania datang dengan seorang wanita paruh baya duduk dikursi roda. Wajahnya pucat, dan terlihat lemah, saat Darania mendorong kursi rodanya.


Azka berlari, menghampirinya, "Tante biar saya bantu," ucap Azka menawarkan bantuannya. Hendak mengendong tubuh wanita separuh baya itu.


Dengan wajah pudarnya, wanita separuh baya itu tersenyum, "Terima kasih, nak," gumanya pelan.


Darania membuka pintu tengah, mobil Azka, saat melihat Azka mengendong mamahnya. Dengan hati-hati ia, melepaskan gendongan, untuk mendudukkan tubuh wanita tua itu. Mamah Yesa, menatapnya sendu, Ia tak menyangka kalau, ada laki-laki yang tulus sudah menolongnya dan putrinya. Darania pun melipat kursi roda mamahnya di bagian belakang mobil Azka.


Azka sudah siap, di kursi kemudinya. Darania membuka pintu tengah, dan duduk di samping mamahnya.


"Terima kasih nak, sudah banyak merepotkan mu," ucap Mamah Yesa, bersender di kursi mobil.


"Sama-sama Tante," ucapnya sambil tersenyum.


"Siapa nama kamu nak? tanya Mamah Yesa.


"Azka, Tante," jawab Azka, melirik Darania dengan ujung matanya. Karna, sedari tadi Darania memperhatikannya.


"Azka," panggilnya, mengingat sesuatu dengan nama yang menurutnya tak asing ditelinganya.


"Iya, Tante," sahut Azka, melihat wajah wanita tua itu, di kaca spionnya. Membuat sepasang mata mereka bertemu. Azka tak berhenti melihatnya, namun Darania membuang mukanya. Pikiranya kacau, karna sikap Azka. Membuatnya bingung dengan perasaannya sendiri.


Mamah Yesa masih mengingat Azka. Wajahnya tak asing baginya. Ia menerawang jauh, mengingat tentang masa lalunya, namun ia berpikir kembali, kalau yang namanya Azka itu banyak. Pangdangannya teralihkan, sesaat dengan sikap Azka, yang terus saja memperhatikan putrinya diam-diam.


Mamah Yesa, menoleh pada putrinya, ia pun sama dengan Azka, diam-diam memperhatikan laki-laki yang sedang menyetir di depannya.


🍀🍀🍀🍀


Tiga puluh menit kemudian, Mereka sudah sampai di rumah sakit Harapan Kita. Azka keluar dari mobilnya terlebih dahulu, setelah memarkirkan mobilnya, Ia segera membuka pintu tengah mobilnya, mengendong kembali, wanita tua itu, Darania pun turun mengambil kursi roda yang dilipatnya tadi. Setelah siap, Azka mendudukkan tubuh, wanita tua itu, untuk duduk di kursi roda yang di siap kan Darania.


Azka, mendorong kursi roda wanita tua itu, tak membiarkan Darania mendorong kursi roda mamahnya sendiri. Azka berjalan sembari mendorong kursi roda itu, sedangkan Darania berjalan di belakang mereka. Hatinya terpukau oleh sikap Azka, menolongnya sampai tuntas. Baru dua hari saja, sudah membuat pandangannya berubah pada Azka. Membuatnya bingung.

__ADS_1


Azka mendorong kursi roda mamahnya Yesa, menuju klinik Dokter Rian. Darania tak pernah memberitahukan pada Azka, di klinik mana, Mamahnya kontrol. Namun Azka sudah tau tanpa bertanya pada Darania.


Darania berjalan cepat, untuk melangkah untuk menghadang Azka. "Stop," gumanya menahan Azka untuk tak membawa kursi roda itu, terlalu jauh.


"Kenapa?" tanyanya bingung, memberitahu Azka untuk tak mendorong kursi roda milik mamahnya.


"Sudah cukup anda mengantar saya sampai di sini," ucapnya mengambil alih kursi roda mamahnya.


Azka masih masih berdiri, mematung. Sampai seseorang menghampirinya. "Azka," panggilnya. Azka menoleh, tersenyum pada perawat yang keluar dari klinik Dokter Rian.


Darania tak memperhatikan Azka, saat ia membawa mamahnya masuk ke klinik dokter Rian.


Perawat itu, memeluk tubuh Azka dengan hangat. Ia begitu rindu, dengan Azka. Azka pun membalas pelukan hangat perawat wanita itu, yang umurnya hampir sama dengan mamahnya Darania.


"Sedang apa kamu di sini, Ibumu kambuh lagi?" tanya perawat Emi, setelah melepaskan pelukannya.


Azka tersenyum, "Aku sedang mengantar teman, untuk kontrol," jawabnya.


"Teman, kantor."


"Seorang gadis?"


Azka tersenyum. tak menjawab pertanyaan dari perawat, yang sudah cukup lama mengenal Azka dan Ibu Arisa.


Darania menunggu di luar ruangan menunggu giliran mamahnya di panggil oleh dokter. Ia memperhatikan Azka masih ada di sana, sedang berbincang dengan seorang perawat. Ia bertanya-tanya dalam hatinya, "Kenapa Azka belum juga pergi?".


"Dara," pangil Mamah Yesa, membuyarkan lamunan Darania.


Darania menoleh, "Iya mah?" jawabnya.


"Siapa dia?" tanyanya, menanyakan tentang Azka.


"Maksud mamah, Azka?."

__ADS_1


Mamah Yesa, menganguk.


"Azka itu, pemilih Resto. Bos aku mah!"


"Bos?"


"Iya."


Mamah Yesa, memperhatikan Azka, ia yakin dia anak itu, anak yang sama, namanya juga sama.


"Kenapa?" tanya Darania, membuyarkan lamunannya.


"Tidak apa-apa, hanya salut saja, di jaman ini masih ada laki-laki baik seperti Azka," jawabnya ingin memastikan kalau Azka anak laki-laki itu.


Darania tersenyum, Azka memang baik. Itu yang membuat pikiranya kacau. Hatinya masih belum bisa menerima. Terlalu sakit, luka yang di berikan mantan tunangannya, membuatnya tak bisa melihat ketulusan Azka.


Darania, memcintai orang yang salah, selama sepuluh tahun, dibohongi oleh laki-laki yang berpura-pura memcintainya. Cintanya tulus pada laki-laki brengsek itu. Ibas hanya memcintai harta Darania. Hingga ia sukses, membuat orang tua Darania percaya. Untuk menyerahkan putri semata wayangnya pada Ibas.


Seluruh perhatian yang Ibas, curahkan untuk Darania, itu palsu. Darania terlalu mencintai Ibas. Ia tak tau, kalau cintanya hanya permainan untuk Ibas. Ibas sudah mengambil milikinya, sahabatnya pun mengkhianatinya untuk bersama Ibas. Mereka berdua bekerja sama untuk menipunya, menipu keluarganya.


Semua terjadi begitu cepat, dalam waktu sebulan, semuanya telah berubah, menjadi air mata dan rasa sakit untuk Darania.


Selama ini, ia tak tau, mana temannya mana musuhnya. Gadis itu, di kelilingi boleh orang-orang munafik untuk memanfaatkan kekayaan keluarganya. Setelah semuanya tak ada, mereka pun ikut tak ada. Ikut meninggalkannya.


Meratapi nasibnya, tak akan merubah apapun?. Darania dan mamahnya harus hidup. Walau sampai sekarang, mereka berdua tak tau di mana keberadaan papahnya. Sehari sebelum, Ibas mengambil alih, papahnya sudah menghilang sampai sekarang. Darania dan Mamahnya berharap, di manapun papahnya berada, ia anak baik-baik saja?


Darania tak pernah membayangkan jika nasifnya akan menjadi seperti ini. Dari semua yang terjadi padanya, ia mengambil pelajaran, teman sejati itu, ada di kala ia susah. Hanya Nadia dan Arya, sepasang suami itu, yang membantunya. Arya baik sama dengan Azka.


Azka, mulai menggangu pikiranya saat ini. Ia berusaha, agar tak jatuh cinta pada Azka. Ia masih takut, dengan yang namanya cinta. Takut dengan hubungan baru. Mengingat Azka, membuatnya teringat dengan anak laki-laki itu. Beberapa hari ini, ia merindukan anak laki-laki itu. Anak laki-laki yang mungkin seumur Azka sekarang. Darania menepis pikirannya, tentang anak itu dan Azka.


Bersambung,


Semangat terus....

__ADS_1


__ADS_2