
Masih Flashback.
Azka masih menatap siluman ular itu, dengan tatapan membunuh. Azka semakin berani dengan bala bantuan yang datang. Apalagi saat Cris dan Bela ada di sampingnya, untuk membantu melawan siuman ular itu.
Aura mengalir kedalam tubuh Azka. Ia merasa jauh lebih kuat dari yang sebelumnya. Apalagi Cris dan Bela, begitu siap di sampingnya, untuk melawan siluman itu.
"Kamu hanya bocah kecil, walaupun kamu sudah di pinjaman kekuatan oleh manusia lainya. Tetap saja, kamu tak akan pernah bisa mengalahkan aku," ucapnya sombong, membanggakan diri. Sembari tertawa mehina Azka.
"Aku bukan bocah?" bentaknya sembari mendorong tubuh ular besar itu, sampai terseret jauh. Namun tetap saja, ia tak melepaskan Nia. Ia semakin melilit tubuh kecil Nia. Membuat Nia, begitu sesak nafas.
Ular itu, semakin murka. Azka berhasil menghempaskan tubuhnya sampai jauh bermil-mil.
"Bocah sialan," bentak ular itu, menghembuskan angin dan Api secara bersamaan. Azka begitu gesit melompat sana-sini untuk menghindari serangan ular besar itu.
Pertarungan itu terjadi, hingga malam! Semua terlihat lelah, Azka tak menyerah dan siluman itu, tak mau kalah. Tetap saja, siluman itu, tak melepaskan tubuh Nia.
"Bagaimana ini? Kalau seperti ini, terus kita yang akan kalah!" seru Irani bertelepati pada Asep dan Mbah Buyut.
"Cari kelemahannya, agar siluman itu, melepaskan tubuh Nia," ucap Mbah, masih berkonsentrasi.
"Mungkin kelemahannya ada diekornya, yang melilit gadis itu," guman Asep berkomunikasi lewat telepati dan masih kosentrasi.
Azka masih loncat-loncat seperti kucing, menghindari serangan siluman itu. Azka tau bila terkena serangan siluman itu, tamat sudah riwayatnya.
__ADS_1
"Azka sayang," panggil Ayahnya.
"Iya-yah," jawabnya masih menghindari serangan siluman itu.
"Hey bocah bau kencur, coba serang aku sekarang, jangan menghindar terus," ucap ular besar itu, Ia begitu kesal dan marah karna, anak manusia yang berusia tujuh tahun itu, terus menantang.
"Azka sayang, dengerkan Ayah Nak."
"Iya."
"Ekor ular itu, mungkin kelemahannya. Coba kamu, cari cara untuk menyentuh ekornya. tanpa melukai gadis itu," ucap sang Ayah masih berkomunikasi lewat telepati.
Azka terdiam sejenak, hampir saja Azka terkena serangan itu, kalau Cris dan Bela tak menolongnya.
Sekarang tak hanya Azka, yang melihat siluman ular itu, hampir semua warga termasuk Arisa, Aldi dan Yesa bisa melihat ular besar itu. ular besar itu mulai menampakan dirinya, pada manusia dengan kekuatannya.
Siluman ular itu, semakin marah. Rasa kesalnya sudah memuncak. Ia kembali menyerang Azka. Namun serangannya mulai melemah, tak seperti tadi.
Asep melihat kesempatan yang tak datang dua kali. Memangil putranya Azka.
"Azka sekarang," teriaknya sambil membuka matanya dan beranjak dari duduknya.
Azka mendengar teriakan Ayahnya. Melompat dan menyentuh Ekor ular besar itu. Ternyata benar, titik lemah siluman ular itu, terletak pada ekornya.
__ADS_1
Begitu ekornya disentuh Azka. Siluman ular itu langsung melepaskan Nia. Dengan sigap Asep berlari dan melompat untuk menangkap tubuh Nia, yang mulai terjatuh ke tanah.
"Untung saja aku segera menangkapmu gadis kecil" guman Asep karna, berhasil menangkap tubuh Nia.
Semua warga yang melihat itu, termasuk Aldi, Yesa dan Arisa merasa lega, akhirnya Nia selamat.
Ular besar itu semakin marah. Pengantinnya terlepas dari ekornya yang dipatahkan Azka. Saat ular besar itu, melepaskan Nia.
Siluman itu, semakin marah ekornya patah terlepas dari badanya dengan seketika menyambung kembali menyerang Azka. Namun serangan itu, terkena Mbah Buyut yang menghalangi Azka. Mbah Buyut pun terluka di bagian dadanya, terkena kibasan ekor siluman ular itu. Ular besar itu, masih tak menyerah. Ia mengambil tubuh Nia di pangkuan Asep, namun Asep melempar tubuh Nia kepada Aldi yang menangkap tubuh kecilnya. Serangan itu, tak terhindarkan lagi Asep terkena serangan ular besar itu. Membuat tubuhnya ambruk seketika, tersungkur jatuh ke tanah. Ular besar itu, murka menyerang untuk melukai Arisa. Namun serangan itu, dihalangi Irani, agar tak terkena Arisa. Irani terus menyerang siluman itu, dengan bantuan Cris dan Bela. Kekuatan siluman itu, mulai melemah membuarnya tak sanggup untuk melawan lagi, sampai tubuhnya terpental jauh, membuat ia kabur melarikan diri, tak ingin menghadapi manusia-manusia itu.
Arisa menangis melihat suaminya terbujur kaku di tanah. Mbah Buyut bangkit melihat keadaan Asep. Azka pun berlari ke arah Ayahnya sambil menangis.
Seluruh warga sudah berkumpul di depan tubuh Asep. Serangan siluman ular itu, begitu dahsyat, luka dalam yang diterima Asep begitu dalam sampai tubuhnya tak bisa bertahan.
"Azka sayang, kemarilah Nak." ucapnya terbata-bata memangil putra sulungnya.
Azka menghampiri ayahnya, yang telah berbaring dipangkuan ibunya yang hamil besar. Semua bersedih melihat Asep! Begitu banyak yang ingin Arisa tanyakan pada suaminya. Namun sudah tak Ada waktu lagi, untuk menanyakan semua rasa penasaran dalam hatinya. Arisa tak menyangka bahwa malam ini, menjadi malam terakhir baginya untuk melihat suaminya, Asep.
"Azka sayang! Kamu sungguh sangat berani hari ini. Tapi Ayah minta, kamu lepaskan kekuatan kamu ini. Ayah tidak mau Azka, sama seperti Ayah Nak. Ayah ingin kamu hidup normal sama seperti anak lainya" ucapnya berpesan pada putranya di sisa waktu terakhirnya.
Azka menganguk, Walau sebenarnya ia tak mengerti maksud dari sang Ayah. Azka juga tak tau, kalau hari ini menjadi hari terakhirnya bertemu sang Ayahnya.
Asep pun meminta tolong pada Irani dan Mbah Buyut untuk menghapus kekuatan Azka dan menutup mata batinnya untuk selamanya. Itu permintaan terakhir Asep pada Irani dan Mbah Buyut. Mereka berdua menyanggupi permintaan terakhir Asep, karna ia sudah membantu Irani Dan Mbah Buyut, untuk menyelamatkan Nia.
__ADS_1
Tak ada yang tau, berapa sakitnya hati Arisa saat itu. Ia menangisi kepergian suaminya. Ia tak tau, tentang suaminya. Delapan tahun berumah tangga, ia sama sekali tak mengenal suaminya. Ia tak tau, kalau suaminya bukan manusia biasa seperti yang ia pikir. Kenyataan ini, membuatnya harus kehilangan dia untuk selamanya. Arisa begitu tulus memcintai Asep dengan sepenuh hatinya. Kini Asep hanya tinggal kenangan yang tak bisa Arisa dapatkan lagi. Mau tidak mau, ia harus merelakan Asep pergi untuk selamanya. Walau terasa begitu sakit, namun ia harus ikhlas. Arisa terus menangis bersama putranya Azka. Bagi Arisa, Asep sudah menjadi suami yang terbaik untuknya. Tak ada yang bisa menggantikan Asep dihatinya. Arisa begitu memcintai Asep. Namun takdir berkata lain, Takdir membawa Asep kembali padaNya.
Bersambung....