Ketika Cinta Datang Season 2

Ketika Cinta Datang Season 2
Chapter 8 Hidup Baru


__ADS_3

Tak terasa sudah sepuluh tahun berlalu, tragedi itu, terlupakan. Semuanya sudah terkubur dalam hati Azka, yang paling dalam.


Azka sudah, memulai hidup baru bersama Ibu dan kedua adiknya. Usahanya, selama sepuluh tahun, sudah membawakan hasil. Kerja keras Azka selama ini, sudah membuat Azka jadi pemilik Resto bintang lima di kota Semarang. Resto yang dulunya hanya sebuah rumah makan kecil, jadi Resto paling terkenal, tak hanya di kota Semarang. Namun sudah masuk jajaran tahap Nasional dan Internasional.


Keluarga Azka sekarang, sudah mampu dan mapan. Tak seperti dulu, saat awal pertama pindah ke Salatiga. Hidup mereka terbilang susah. Tak ada sodara, yang membantu Bu Arisa dan Azka. Hanya satu keluarga yang membantu Bu Arisa yaitu Tante Arita, adiknya Ibu Arisa. Hanya dia, dan suaminya selalu membantu Azka dan keluarganya. Walau pun keadaan keluarga mereka, masih jauh dari mapan. Namun mereka berbaik hati membantu Bu Arisa.


Berbeda dengan kakak-kakaknya, mereka seakan meninggalkan Bu Arisa yg sedang susah. Bu Arisa memiliki saudara kandung, mereka semua ada tujuh bersaudara. Dua kakak perempuan dan dua kakak laki laki Bu Arisa sendiri anak ke enam dan Tante Arita si bungsu, yang delalu bantu Ibu Arisa. karena jarak Bu Arisa dan Tante Arita tak beda jauh.


Kakak sulung Bu Arisa Bude Ameta tinggal di Singapura karna, suaminya bekerja di sana. Mereka cuman datang sesekali. Itu juga saat omah ada. Sekarang sudah hampir tiga puluh tahun mereka tak pernah bertemu. Entah bagaimana kabarnya, sekarang? Terakhir bertemu, saat Bu Arisa melahirkan Azka.


Bude Amia kakak kedua Bu Arisa tinggal di Jogja. Sesakali mereka ketemu, dan mulai menjauh saat Bu Arisa, pindah ke Bandung ikut suaminya, orang Bandung asli. Terus pade Amran kakak ketiga Bu Arisa tinggal di Kalimantan. ikut transmigrasi ke sana. Sudah jarang memberikan kabar? Entahlah, susah dihubungi. Saat omah meninggal pun, Pade Amran tak datang. Terus Pade Asron, ia tinggal di Semarang. Bisa di bilang, Pade Asron yang paling kaya dari saudara-saudara Ibu Arisa saat ini. Namun mereka tak pernah, membantu Bu Arisa. Pade Asron dan Istrinya bude Mina, begitu pelit. Mereka selalu mempunyai alasan untuk tidak membantu Bu Arisa. Apalagi kedua anak mereka, begitu sombong. Tak mau mengakui Azka dan dua adiknya. Kakak kelima Bu Arisa, Bude Amira. Tinggal di bali ikut suaminya yg orang bali. Mereka sesekali ketemu. Hanya Tante Arita, yang selalu ada buat Ibu Arisa, walaupun suaminya Om Rudi hanya, seorang pekerja pabrik, namun mereka selalu membantu Bu Arisa.


Siang itu, Azka masih sibuk, dengan pekerjaan memeriksa dokumen-dokumen penting. Azka pemilik Resto, yang dulu hanya rumah makan milik Ibunya. Di tangan Azka, rumah makan kecil menjadi Resto besar dan paling terkenal di Semarang.


Tok Tok Tok.


Suara pintu di ketuk dari luar.


"Masuk saja," ucapnya masih sibuk dengan pekerjaan yang lumayan banyak.


Clek.

__ADS_1


"Mas Azka," ucap seseorang, memangil namanya, setelah membuka pintu ruangan Azka.


Azka melihat ke arah pintu, ingin tahu, siapa yang memangil namanya? "Nadia!" serunya, kembali mengerjakan pekerjaannya.


Nadia adalah istri Arya, sudah dua tahun mereka menikah. Azka tak keberatan dilangkahi, Arya. Azka masih belum bisa membuka hatinya, sulit baginya melupakan Laras dihatinya. Sampai saat ini, Hati Azka masih kosong, setelah Laras pergi. Bukan tak ingin menikah, hanya saja, belum ada gadis yang membuatnya jatuh cinta. Sampai sekarang Azka masih menutup rapat hatinya. Azka sudah nyaman dengan kesendirian, entah sampai kapan, Azka seperti ini? Azka sendiri tak tahu!.


Nadia sedang berbadan dua, langsung duduk di depan Azka. Nadia begitu lelah, dengan usia kandungan yamg menginjak semester tiga.


"Tumben kamu main ke sini? Ada apa..?" tanya Azka, tak memperhatikan Nadia. Karna, sibuk dengan tumpukan kerjanya yang banyak.


"Mas ada lowongaan kerja tidak, di sini?" tanya Nadia, sambil memegang perutnya yang sudah besar. Nadia begitu kelelahan berjalan di tempat parkir sampai masuk ruangan Azka.


"Untuk siapa?" tanya Azka, mulai serius. Menghentikan aktivitasnya sejenak. Dan penasaran untuk siapa? pekerjaan ini!. Karna, tak mungkin kalau buat Nadia. Toh dia, lagi hamil besar! Tinggal menunggu satu sampai dua bulan lagi, ia melahirkan. Itu yang di pikirkan Azka.


"Untuk temenku Mas, Ia sedang butuh pekerjaan? Untuk membayar hutang-hutang papahnya. Perusahaan papahnya diambil alih, oleh tunangannya, terus ia malah di putuskan setelah mengambil milik temenku. Aku datang ke sini. Atas rekomendasi, dari Arya! Kayanya, Mas Azka sedang butuh pegawai baru? Tolong lah, Mas. Kasihan temenku!" seru Nadia, menjelaskan panjang lebar. sembari mengelus perutnya sendiri.


Azka terdiam, pekerjaannya sudah menumpuk selama dua bulan terakhir. Karna, sekretaris lama, sudah keluar. Dan Azka belum menemukan pengganti. Azka mengerjakan, semuanya sendiri, sehingga Bu Arisa sering ngomel-ngomel pada Azka, karna pulang malam.


"Baiklah, Suruh besok datang ke sini," ucap Azka menyetujui permintaan Nadia, adik iparnya.


"Terima kasih Mas, aku seneng banget. Aku yakin, Mas Azka tak akan kecewa pada temanku, itu. Dia lulusan luar negri, dia juga cantik," ucap Nadia sumeringah, karna Azka, mau membantu sahabatnya itu.

__ADS_1


Nadia, gadis yang bawel. Nadia banyak bicara membuat Azka terkadang, pusing bila sedang berbicara dengan Nadia. Terkadang, Azka berpikir, Arya begitu kuat mendengar ocehan Nadia.


Azka tersenyum, dan kembali pada pekerjaannya.


"Aww," guman Nadia, merasa sakit saat janin dalam perutnya, menendangnya.


"Kamu kenapa?" tanya Azka, menghentikan pekerjaannya, dan beranjak mendekati Nadia.


"Tidak apa-apa Mas, ini sudah biasa, bayiku sedang bermain didalam perutku saat ini," guman Nadia, mengelus perutnya.


Hufffff.


Azka menghembuskan nafas panjang, mengerutkan keningnya, merasa khawatir dengan kondisi Nadia, "Benar, kamu tak apa-apa?" tanya lagi.


"Tidak apa-apa Mas, Ini sudah biasa. Makanya Mas Azka segera, Ops..." Nadia menghentikan ucapannya, "Maaf yah Mas," ucapnya lagi, merasa bersalah sudah menyinggung Azka. Arya sudah memceritakan semuanya, tentang kakak Iparnya ini, Nadia merasa bersalah sekarang.


"Aku tidak apa-apa? Mungkin aku juga akan menikah suatu hari nanti, walau tidak sekarang," ucapnya sambil tersenyum, walau sebenarnya, Azka bingung dengan jawaban sendiri.


Nadia tersenyum, Nadia sudah merencanakan sesuatu untuk Azka. Nadia berharap, Azka bisa move-on setelah bertemu dengannya, esok. Nadia berharap, Azka bisa kembali seperti dulu, itu menjadi keinginan Arya, suaminya. Arya begitu menyayangi, kakaknya ini. Arya menginginkan Azka bahagia, sama seperti Arya saat ini. Sudah cukup Azka, menderita selama sepuluh tahun, sudah saatnya Azka menemukan kebahagiaannya sendiri. Itu menjadi harapan Arya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2