
Meninggalkan Ibas dan Vivian. Kini ada pasangan Soni dan Elis bersama Azka dan Darania. Dua pasang sejoli ini. Sedang merasakan manisnya rasa cinta itu sendiri.
Yang mereka rasa, terlihat indah Badi Darania dan Elis. Terlebih lagi Elis. Yang untuk pertama kalinya, merasakan cinta yang telah lama di tunggu nya kini jadi miliknya.
Setiap hari, Elis di antar Soni pulang. Dan meminta Azka untuk bisa libur di waktu yang sama. Azka pun menyetujui nya. Karna Azka pun begitu. Libur di waktu yang sama bersama Darania.
Hari ini, Soni dan Elis bagian libur. Mereka berdua memutuskan untuk jalan jalan. Layaknya pasangan kekasih lainya. Jalan jalan, nonton film, makan bareng. Yah seperti kencan biasa sama kaya pasangan lainya.
"Kamu suka?" tanya Soni saat sedang makan bareng Elis di sebuah resto di salah satu mall yang ada di kota Semarang.
Elis menganguk. Mulutnya penuh dengan makanan. Membuat Elis tak bisa berbicara sama sekali.
Soni tersenyum. Melihat Elis yang sedang menikmati makanannya. Soni terus melihat Elis. Melihat Elis, sebagai seorang wanita yang akan menjadi istrinya nanti. Akan menjadi Ibu sambung Yasmine nantinya.
Elis menelan setiap makanan yang masuk dalam mulutnya. Soni sedari tadi terus melihat Elis. Membuat Elis jadi malu sendiri.
"Kapan aku di kenalin ma Yasmine?" tanya Elis setelah menyelesaikan makan nya.
"Kamu maunya kapan?" balik tanya Soni.
"Aku terserah ma Soni aja!" seru Elis sambil tersenyum.
"Hari kamu mau".
"Boleh".
"Tapi mampir dulu ke rumah aku yah"
"Ke rumah dokter Rian"
"Bukan, itu rumah orang tua aku. Aku dah punya rumah sendiri, yah walaupun kecil. Tapi cukup nyaman untuk kita tinggal di sana bersama Yasmine nanti. Kita, Yasmine dan anak kita kelak" tutur Soni.
Mendengar itu, tiba tiba Elis tersedak dan batuk batuk. Membuat Soni panik. Dan memberikan segelas air pada Elis. Dan dengan segera Elis meminum air yang di berikan Soni.
__ADS_1
"Kamu ga apa apa ?" tanya Soni kuatir.
Elis menggelengkan kepalanya. Elis tak menyangka. Soni sudah mempersiapkan sebuah rumah untuknya kelak. Ternyata Soni benar benar mandiri. Dan Laki laki yang sangat Romantis. Membuat Elis semakin mencintai Soni.
Elis tersenyum melihat Soni.
Soni membalas senyuman Elis.
"Kamu ga apa apa? tanya Soni masih kuatir.
Elis mengelengkan kepalanya. Namun sepasang mata Elis masih memandang wajah Elis. Membuat Soni jadi salah tingkah.
"Udah, kami jangan liat aku kaya gitu, aku bisa malu loh" guman Soni, yang wajahnya sudah memerah.
Elis tertawa, Laki laki semaco ma sekeren Soni bisa salah tingkah. Itu jadi sesuatu yang lucu bagi Elis.
"Kamu kenapa lagi??" tanya Soni. Karna Elis terus terusan ketawa. Entah apa yang di tertawakan Elis.
"Lucu" ucap Soni mengerutkan keningnya. Soni berpikir dalam hatinya. "Lucu dari mananya".
Elis masih, ketawa. Membuat Soni semakin bingung.
Selesai makan. Elis dan Soni beranjak. Melangkah pergi menuju rumah yang akan mereka tempati setelah menikah nanti.
Elis dan Soni berjalan jalan sambil berpegangan tangan. Sampai tak sadar. Ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka dari jauh. Seseorang itu, terlihat tak suka melihat Elis dan Soni.
Soni dan Elis berjalan jalan. Tak memperhatikan dan tak memperdulikan orang orang sekitar mereka. Bagi Soni dan Elis, dunia ini milik mereka berdua yang lain ngontrak.
Elis memeluk erat tubuh Soni dari belakang. Saat Elis di bonceng Soni. Mereka berjalan jalan dulu di sekitar kota. Dan sampailah mereka di sebuah komplek perumahan.
Soni dan Elis sampai di sebuah rumah yang asri dan terlihat nyaman di luar. Elis langsung suka. Begitu sampai di rumah yang sudah di beli Soni ini.
Elis begitu senang, sampai tak sabar ingin segera masuk kedalam. Di dalam rumah, belum terlalu banyak barang. Namun Elis sudah sangat jatuh cinta pada rumah yang di beli Soni.
__ADS_1
"Gimana, kamu suka?" tanya Soni. Karna melihat Elis begitu semangat melihat lihat setiap ruangan di rumah itu.
Elis menganguk.
"Rumah ini, tadinya aku persembahkan untuk mendiang Kalula, tapi sebelum Kalula melihat rumah ini. Kalula keburu meninggal. Tadinya aku akan menjual rumah ini, setelah aku selelah melunasi rumah ini. Tapi saat, aku tau, kamu suka sama aku. Aku jadi semangat untuk melunasi rumah ini" tutur Soni.
"Makasih" ucap Elis sambil memeluk Soni.
Soni melihat, Elis dari dekat. Memandangi wajah Elis yang sangat cantik. Soni tak tahan melihat Elis. Soni langsung mencium bibir Elis. Membuat Elis terkejut. Karna ciuman itu, begitu tiba tiba. Dan ciuman itu, menjadi ciuman pertama untuk Elis.
Elis begitu menikmati, setiap sentuhan yang Soni berikan. Sentuhan pertama yang Soni berikan membuat Elis langsung terkena. Soni melumat bibir Elis begitu mesra. Soni begitu tak tahan dengan bibir Elis yang begitu menggoda Soni.
Soni mulai nakal, menciumi seluruh bagian wajah Elis. Elis benar benar tak bisa menolak itu. Elis pasrah saja, di perlakukan seperti itu oleh Soni. Soni mulai meraba seluruh bagian tubuh Elis dari ujung kepala sampai ujung bawah tempat bagian tubuh paling sensitif milik Elis.
Kali ini, Soni benar benar tak tahan. Naluri laki laki nya merajuk meminta lebih pada Elis. Satu persatu pakaian Elis di lepas Soni, sampai tinggal pakaian dalam saja. Elis senaki bernafsu melihat tubuh Elis yang putih dan belum terjamah oleh laki laki manapun.
Soni menciumi seluruh tubuh Elis, membuat tanda merah di setiap bagian tubuh Elis. Elis benar benar sudah tersangsang tengah sentuhan Soni yang begitu membuat Elis tak bisa menolak. Sentuhan yang begitu membuat Elis merasa melayang. Jauh terbang ke awang awang.
Elis baru pertama kali, melakukan ini. Bersama Soni. Hanya Soni yang Elis cintai. Elis tak membiarkan hatinya jatuh cinta pada laki laki lain. Makanya Elis menjaga benar benar miliknya yang paling berharga, untuk Soni. Sekarang Soni benar benar menyentuh nya. Menyentuh tubuh Elis, dengan bibirnya sampai Soni sadar.
"Astaga, apa yang aku lakukan" guman Soni, sudah melihat Elis yang hanya memakai pakaian dalam saja. Dengan tanda merah yang sudah terukir banyak di tubuh Elis.
Soni berpaling. Memcoba menahan hasrat lelakinya untuk tidak menyentuh bagian sensitif Elis dengan adiknya yang sudah mulai bangun.
Elis beranjak dari tempatnya. Elis tak mengira kalo Soni akan menghentikan ini. Elis langsung memeluk tubuh Soni dari belakang, masih belum memakai pakaiannya yang benar.
"Aku kan, calon istrimu, kenapa kamu berhenti" tanya Elis, sudah merasa ketagihan karna sentuhan Soni.
Soni terdiam, naluri lelakinya mulai bergejolak. Lagi pula, Elis sudah memberikan lampu hijau. Soni benar benar tak bisa menahanya.
Bersambung..
Jangan lupa like yah. Mampir juga yah ke novel aku yang lain. " Irani Gadis Indigo " dan " Kisah Kita " terima kasih sudah mampir dan baca karya aku.
__ADS_1