
Ben dan Alexsa pun sampai di sebuah Resto yang tak jauh dari lokasi syuting. Tempatnya lumayan ramai. Alexsa terdiam saat sampai di tempat parkir. Ben masih belum menyadari dan turun terlebih dahulu.
"Lex, ayo!" ajaknya di luar mobilnya.
Alexsa masih terdiam. Tempatnya begitu ramai sampai Alexsa takut untuk keluar. Sekarang Alexsa bukan gadis biasa seorang model terkenal. Bila datang ke tempat rampai akan mengundang banyak wartawan dan ia tak akan bisa makan dengan tenang.
Ben memperhatikan sekitar begitu ramai. Laki-laki itu baru menyadari kalau Alexsa sekarang bukan gadis biasa. Ben yang menyadari lebih cepat pun masuk kembali ke dalam mobil dan keluar dari area parkir Resto itu.
"Maaf yah, Ben!" seru Alexsa.
Ben tak menjawab dan tersenyum. Beberapa kali ia mencari Resto yang tak terlalu ramai akan tetapi disepanjang perjalanan pun semua resto penuh. Sampai ujung-ujungnya keduanya makan di pinggir jalan depan komplek perumahan Alexsa.
"Mang biasa!" seru Ben memesan mie ayam kesukaan keduanya yang selalu setia pada makanan yang satu ini.
"Eh, Ben dan Alexsa sudah lama yah, tak mampir! Mamang kira kalian sudah lupa sama pedagang kecil ini," ucapnya sambil tersenyum sembari menyajikan mie ayam pesanan keduanya.
"Tidaklah Mang, bagi aku mie ayam Mang Dadang juara," ucap Alexsa bersemangat.
Sudah lama sekali Alexsa tak menyantap mie ayam kesukaan ini. Biasanya setiap hari keduanya makan mie ayam bersama akan tetapi semenjak Alexsa menjadi model ia jarang sekali makan makanan yang ia suka.
Sedari tadi Ben tersenyum melihat reaksi dari Alexsa saat melihat reaksinya seperti itu membuatnya bahagia. Hal-hal kecil yang tak pernah pernah bisa tergantikan oleh siapapun.
Saking senangnya Alexsa sampai menambah tiga mangkok sekaligus membuat kekenyangan. "Ha, senangnya bisa makan mie ayam kembali," gumannya senang.
Tanpa Alexsa sadari sedari tadi laki-laki itu memperhatikannya. Rasa laparnya hilang seketika saat melihat Alexsa begitu lahap memakan makanan kesukaannya. Rasanya sudah lama sekali tak melihatnya selahap ini dan entah kenapa membuat hatinya senang.
"Ben, kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" tanyanya baru menyadari kalau sedari tadi memperhatikannya.
"Enggak apa-apa sudah lama saja tak melihatmu makan selahap ini," jawabnya sembari masih senyum-senyum.
Alexsa masih mengerutkan keningnya. Ben pun mengambil sisa-sisa makanan yang menempel dagunya sampai membuat Alexsa berdebar karna, reaksi Ben yang spontan membuatnya terkejut.
"Ben, kamu apa'an sih!" serunya lagi menahan malu lagi-lagi Ben sekali membuatnya ke-GR-an.
__ADS_1
Ben tersenyum. Entah kenapa perlakuan kali ini, membuat berdebar sama seperti Alexsa yang sudah berdebar dari dulu karna, Ben sedangkan Ben baru merasakan debaran itu.
Mang Dadang pun selalu senyum-senyum melihat tingkah Ben dan Alexsa dari dulu sampai sekarang tak berubah. Namun, yang membuatnya bingung kenapa sampai sekarang sepasang anak muda ini belum juga jadian juga benar-benar gemas yang melihat mereka berdua.
🍀🍀🍀🍀
Setelah mengantar Khanza pulang suara ponsel Bima pun berbunyi. "Hallo," jawabnya.
"Kamu masih di jalankan Sayang?" tanya Darania pada putra bungsunya.
"Iya, Bun mau pulang."
Bima pun menutup ponselnya dan melaju
"Bisa mampir dulu ke toko kue langganan Ibu."
"Bisa."
"Tolong ambilkan yah, untuk Ibu."
"Bisa."
"Sama-sama."
Bima pun melaju kembali untuk mampir terlebih ke toko kue langganan Ibunya. Tanpa melirik kiri dan kanan anak laki-laki itu pun mengambil pesanan Ibunya saat menoleh ia pun terkejut saat melihat gadis itu lagi ada dihadapannya.
Vanesa, sudah menyadari sedari tadi kehadiran Bima. Akan tetapi Bima tak memperhatikannya. Melihat gadis itu membuatnya berpaling seketika. Lagi-lagi Bima harus bertemu dengan gadis itu lagi dan lagi.
Hari ini sampai beberapa kali. Bima pun mencoba bersikap biasa dan pura-pura tak mengenalinya.
"Bima," panggilnya.
Laki-laki itu pun berjalan lurus tak menghiraukan panggilan dari gadis itu. Ia begitu malas melihatnya. Bima keluar dan segera masuk mobilnya. Terlihat Vanesa mengejarnya keluar tapi, Bima tak peduli sama sekali dan terus menyetir meninggalkan parkiran toko kue tersebut.
__ADS_1
Vanesa hanya bisa melihat Bima dari tempatnya. Sikapnya tak berubah sama sekali. Harus bagaimana lagi supaya Bima memaafkannya. Gadis tersebut pun meneteskan air matanya.
Bima masih menyetir, ia heran kenapa hari ini beberapa kali bertemu dengannya lagi. Hatinya masih belum sembuh karna, gadis itu. "Kenapa sih harus bertemu kembali? Sekuat tenaga aku berusaha melupakanmu," gumannya sendiri meneteskan air matanya sembari menyetir mobilnya.
Karna, melamun Bima hampir saja kecelakaan dan membuat kue pesanan Ibunya hancur. Dengan terpaksa ia kembali ke toko kue itu lagi. Untunglah kue-nya masih ada.
Bima terus saja menyumpahi Vanesa semua karna, gadis itu yang selalu membuatnya kacau seperti ini. "Kenapa kamu harus datang lagi ke dalam hidupku. Aku sudah bahagia tanpamu. Kenapa-kenapa?" pikirkannya sendiri.
Hati Bima benar-benar sakit hati kembali saat melihat Vanesa. Mungkin benar rasa cintanya tak sebesar pada Khanza. Sampai saat ini Bima masih mencintainya. Karna, itu juga yang membuat rasa sakit itu ada dalam hatinya. Tak mudah untuk bisa melupakan rasa sakit itu. Tak mudah pula untuk memaafkannya.
Bima menghembuskan napas panjang saat sampai rumah. Ia tak mau memperlihatkan wajah sedih di depan orang tuanya. Bima tersenyum untuk dirinya sendiri. Memperlihatkan kalau ia laki-laki yang kuat. Bima pun keluar dari mobilnya.
Bima pun memanggil Pak Udin. "Iya, tuan muda," ucap Pak Udin.
"Ikh, panggil aku Bima saja Pak!"
Pria tua itu pun tersenyum menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Iya, Nak Bima," ulangnya lagi.
"Nah gitu, jangan panggil Tuan lagi yah, aku tak suka."
Pria separuh baya itu pun mengangguk.
"Pak, tolong cuci mobilku yah," pintanya.
"Siap, Tuan eh Nak Bima."
Bima pun tersenyum. "Terima kasih yah, Pak." Bima pun melangkah masuk ke dalam rumahnya.
Keluarga Azka begitu baik pada semua asisten rumah tangganya. Dari Azka sebagai kepala keluarga sampai Bima anak bungsu mereka tak pernah bersikap kasar pada mereka. Azka dan Darania tak pernah mengajarkan ketiga putranya untuk bersikap manja dan seenaknya pada mereka. Walaupun kehidupan keluarga mereka begitu mapan dan sangat cukup akan tetapi mereka selalu bersikap baik dan santun pada orang yang lebih tua dari mereka dan menghargai kerja mereka.
Sesuatu yang paling penting yang Azka dan Darania ajarkan selalu menganggap mereka itu keluarga merangkul mereka. Memperlakukan mereka sebagai manusia bukan beradab itu juga yang membuat para asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Azka merasa betah karna, perlakuan mereka yang baik dan menghargai mereka.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen yah untuk meninggalkan jejak kalian dan mampir juga ke karya Author yang lain terima kasih.