Ketika Cinta Datang Season 2

Ketika Cinta Datang Season 2
Chapter 78 Akh...


__ADS_3

Elis perlahan membuka matanya. Waktu sudah menunjukan jam 9 malam. Elis tak sadar sudah berapa jam iya tertidur. Terlihat Soni sedang tertidur di samping nya.


Elis tak berani membangunkan Soni, Ia terlihat lelah. Begitu juga, Elis yang masih terasa sakit di bagian pahanya. Dan darah segar itu, tak berhenti keluar dari bagian sensitif Elis. Membuat Elis semakin merasakan sakit. Elis tak bisa bangun, karna Soni telah tertidur di samping nya. Namun Elis sudah seperti sedang datang bulan yang tembus. Elis tak nyaman, dengan kondisi nya sekarang. Elis ingin segera berganti celana. Namun bingung harus mencari pakaian ganti dimana. Elis tak bisa membangunkan Soni.


Soni membuka matanya perlahan, Teringat Elis terlihat bingung, dan salah tingkah. Tiba tiba saja suara ponsel Elis berbunyi. Elis pun mengangkat telponnya yang ternyata dari Mba Elina kakak kandung Elis.


"Elis, kamu ada dimana sekarang, kenapa belum pulang?" tanya Mba Elina terdengar begitu khawatir dengan nada satu oktaf lebih tinggi.


"Maaf, Aku masih di rumah Soni".


"Pulang sekarang?"


"Tapi Mba,.." Elis bingung harus bilang apa pada kakaknya ini. Tak mungkin kan Elis bilang. Kalo dia dan Soni sudah melakukan malam pertama. Elis pun memikirkan cara untuk berbohong kalo Elis sedang datang bulan dan tembus.


"Tapi apa?" tanya Mba Elina semakin khawatir.


"Aku, tembus Mba, Aku bingung mau pulangnya gimana?, Aku ga baju ganti" bisik Elis. Namun Soni masih bisa mendengar ucapan Elis.


"Owh, Kasih alamat rumah Soni dimana?. Biar Mba yang jemput kamu"


"Okey".


Elis pun, meminta Izin pada Soni. Untuk Mbanya datang ke rumah Soni. Soni mengizinkan itu. Setelah dapat izin dari Soni. Elis pun mengirim pesan pada Mba Elina, Alamat rumah Soni saat ini.


Soni mengangkat tubuh Elis, Soni penasaran seberapa banyak darah yang keluar dari area sensitif Elis. Ternyata cukup banyak. Sampe terkena dan kemana mana.


Soni menurunkan Elis. Soni bingung dengan keadaan Elis. Kenapa berbeda dengan keadaan Kalula dulu. Darah yang keluar dari area sensitif Kalula tak sebanyak Elis saat ini.


"Kita ke dokter yah" ajak Soni, merasa khawatir dengan kondisi Elis.


Elis mengelengkan kepalanya. Menandakan penolakan dari Elis.


"Kenapa?" tanya Soni lagi.

__ADS_1


"Aku rasa, tak perlu seperti itu"


"Pokonya, besok harus ke dokter. Aku ga mau,kamu terjadi apa apa. darah yang keluar tak wajar"


Elis tersenyum,


"Aku tak apa apa mas".


"Tapi.." Belum selesai, Soni berkata, terdengar suara klakson mobil dari luar. Soni melihat dari jendela kamar. Ternyata Elina, yang sudah membawa tas kecil.


Soni membuka pintu rumahnya, begitu, Elina datang.


"Di mana Elis" tanya Mba Elina serius.


"Di kamar Mba" sambil menunjuk arah pintu kamarnya.


Elina langsung masuk kamar Soni. Dan Soni hanya menunggu di luar.


Elis mulai membuka pakaian lengkap. Darah segar, masih mengucur di paha Elis, yang semakin banyak. Seperti sedang datang bulan. Elis melihat sekilas, tubuhnya yang penuh dengan tanda merah, yang di berikan Soni buat Elis. Elis mulai mandi. Karna tubuhnya terasa lengket dan bau amis. Elis melihat baju yang di bawakan Mba Elina. Syukurlah Mba Elina membawa baju yang tertutup untuk Elis. Membuat Elis, bisa menyembunyikan tanda merah di tubuhnya.


Setelah selesai, Elis pun keluar dari kamar mandi. Mba Elina masih ada di kamar itu. Mba Elina tak berkata apapun. Hanya melipat sprei dan selimut yang terkena darah Elis saja. Untuk di bawa pulang.


Elis, memcoba berjalan biasa, agar Mba Elina tak curiga. Elis menahan sakit, seperti menginjak duri. Yang begitu terasa menyakitkan. Namun Elis tak bisa menyembunyikan itu. Namun, Mba Elina, tak curiga sama sekali. Mba Elina, masih berpikir Elis benar benar sakit karna datang bulan. Karna Elina tau, Setiap datang bulan, Elis selalu merasa kesakitan setiap bulanya.


Setelah selesai, Elis dan Elina pamit. Meninggalkan Soni di rumahnya sendiri. Sebenarnya Soni, tak tenang saat Elis pulang hanya berdua dengan Elina. Makanya diam diam. Soni mengikuti mobil Mba Elina, untuk menjaga Elis dan Elina yang hanya dua perempuan saja, pulang di waktu malam.


Elina tau, Soni mengikuti mobil Elina. Elita tak masalah, jika Soni mengikuti mereka. Setidaknya, Elina dan Elis merasa aman sekarang.


Terlihat, Mba Elina tak berkata apapun. Sedangkan Elis, masih bingung harus mulai dari mana. Untuk mengucap terima kasih karna sudah merestui Elis dan Soni.


"Mba" pangil Elis, memcoba memulai pembicaraan yang sangat sulit untuk Elis ucapkan.


Elina, hanya menoleh tanpa menjawab ucapan Elis. Karna Elis, tak melanjutkan ucapannya. Elina kembali fokus ke depan. Untuk menyetir, namun masih menunggu Elis untuk melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


Elis mengumpulkan seluruh keberanian. Dan mengembuskan nafas panjang.


"Mba, terima kasih sudah merestui Aku dan Mas Soni" guman Elis pelan. Elina mendengar jelas ucapan Elis itu.


Elina hanya tersenyum. Sudah lama, Elis tak melihat senyum Mba nya ini. Biasanya, Elina selalu bersikap sinis dan judes ma Elis. Namun hari ini. Soni sudah memberi tahu semuanya tentang Mbanya ini. Yang ternyata tak seburuk yang Elis pikirkan.


"Kamu, senang Elis. Mba akhirnya merestui kamu" guman Mba Elina membuyarkan lamunan Elis. Yang sudah salah paham pada Kakaknya ini.


Elis menganguk. Elis tak menyangka Mba Elina bisa berbuat sejauh ini. Untuk Elis. Elis tak pernah berpikir kalo yang dilakukan Mba Elina kali ini. Begitu berkesan untuk Elis. Tanpa sadar Elis pun meneteskan air matanya.


"Maafin Mba yah. Yang selalu bersikap seenaknya, tanpa bertanya dulu sama kamu. Mba merasa, Mba paling tau tentang kamu. Tapi ternyata, Mba salah" tutur Mba Elina tulus dari dalam hatinya paling dalam. Sambil masih fokus menyetir.


Elis langsung memeluk Elina. Jarang jarang Elis bersikap manja pada Elina. Karna sikap Elina yang keras dan egois. Elis tak peduli Makanya sedang menyetir, Elis terus memeluk tubuh Elina.


Elina meneteskan air matanya.


"Udah, Mba lagi nyetir, bahaya" pinta Mba Elina.


Elis melepas kan pelukanya.


"Makasih banyak yah, Mba" guman Elis lagi.


Elina tersenyum. Kesalah pahaman yang selama ini. Terjadi di antara Elina dan Elis. Terselesaikan sudah, berkat Soni. Yang menyatukan kakak beradik ini. Elina berharap, Soni menjadi yang terbaik untuk Elis. Elina percaya pilihan Elis, tak akan mengecewakan Elina dan kedua orang tuanya. Karna orang tua Elis dan Elina. Begitu menyukai Soni. Karna sikapnya yang sopan dan menghargai orang yang lebih tua dari Soni. Membuat Orang tua Elis dan Elina. Percaya kalo Soni bisa jadi imam yang baik untuk Elis kelak.


Bersambung.


Hay, Author ga bosen bosen nih, buat minta kalian ngucapin selamat tahun baru untuk Author ini. Yang masih pemula jadi penulis. Sebelumya terima kasih yah, yang udah setia nungguin untuk Up dan ngasih like buat karya Author ini, yang masih jauh dari sempurna.


Dan permintaan Author ini, mampir juga yaah, ma novel Author yang lain. "Irani Gadis Indigo" dan "Kisah Kita" Author ucapkan terima kasih.



__ADS_1


__ADS_2