Ketika Cinta Datang Season 2

Ketika Cinta Datang Season 2
Chapter 55 Rasa Ini


__ADS_3

Dokter Farhan pun, datang memeriksa Azka, kondisinya sudah cukup baik, luka paska operasi itu, mulai tertutup rapat.


"Apakah, masih ada yang sakit Azka?" tanya Dokter Farhan saat memeriksanya.


Laki-laki itu menggelengkan kepalanya, ia memperhatikan dokter itu, mengingat kembali tentang dokter yang memeriksa kini.


"Anda Dokter Farhan?" tanyanya tiba-tiba.


"Kamu mengingatku, Azka," jawab Dokter Farhan sambil tersenyum.


Laki-laki tersebut tersenyum, mengingat jembalib Dokter Farhan yang merawatnya dulu, saat ia koma sampai berbulan-bulan. Dokter Farhan seorang dokter spesialis penyakit yang berhubungan dengan otak dan kepala manusia.


Dokter Farhan pernah merawat Arya dulu, ia menjadi saksi Arisa saat kehilangan suaminya dulu, sekarang Azka pun di rawat oleh Dokter tampan ini. Yang dulu pernah mencintai Arisa, ibunya Azka.


"Kenapa sih, kamu sering banget membuat otak kamu bermasalah?"canda Dokter Farhan.


Azka terdiam tak mengerti.


"Dulu,Kamu koma sampai berbulan-bukan karna, pendarahan di otak. Terus sekarang otak kamu tersumbat, Terus apa lagi?" tanya Dokter Fahan lagi.


Laki-laki tesebut tersenyum, ia ingat dipaksa melupakan Darania. Sampai Pendarahan di otaknya karna, menghapus memori diingatannya, sekarang ia dipaksa kembali mengingat Darania sampai otaknya tersumbat.


"Jangan salahkan akuu Dok? Salahkan saja gadis yang ada di sebelahku ini," godanya sambil tersenyum menunjuk gadis itu.

__ADS_1


Gadis itu, tak mengerti dengan ucapan laki-laki itu, ia hanya melirik laki-laki tesebut, dengan cemberut, membuat Arisa tesenyum.


"Azka, kamu tak boleh begitu, gadis ini menantu ibu sayang." giliran Arisa mengoda Darania.


Wajah Darania memerah sekarang, saat Arisa berkata tentang sebutan menantu kepadanya. Gadis itu, menjadi malu. Karna, Arisa berkata seperti itu.


"Menantu, sejak kapan Ibu melamar gadis ini jadi menantu Ibu?" tanya laki-laki itu, masih mengoda Darania.


Semenjak pertemuan kembali Azka dan Darania. Bu Arisa memang sudah memberikan lampu hijau untuk Azka.Wajah gadis itu, semakin merah karna malu. Ia pun izin kekamar mandi lagi. Karna ibu dan anak ini, terur-terusan mengodanya.


Laki-laki tesebut tersenyum melihat tingkah gadis itu, ia memperhatikan Dokter Farhan, sudah tak muda lagi, namun masih terlihat gagah dan tampan. Laki-laki ini pun mulai berpikir untuk menjodohkannya dengan ibunya, Arisa. Ia sedari tadi memperhatikan wanita dan pria separuh baya ini, selalu memcuri pandang, ia yakin dokter tampan itu, masih menyimpan perasaan kepada ibunya.


Ehhmmm, laki-laki itu berdehem, membuat pria dan wanita separuh baya ini, tesenyum malu menyadari kalau, tak hanya mereka berdua yang berada di ruangan ini.


Arisa batuk-batuk tersedak, endengar ucapan putranya tertuju padanya.


"Ibu kenapa?" tanya Azka, mengerut keningnya. Menyadari ibunya, memiliki rasa yang sama kepada dokter Farhan.


"Ibu tidak apa-apa?" jawabnya sambil mengambil gelas yang berisi air putih di meja putranya, dan meminumnya segera, namun ia masih terus-terusan batuk. membuat wajahnya semakin merah.


"Azka bolehkan aku menjadi ayahmu," ucap Dokter Farhan tiba-tiba tanpa basa-basi melamar Arisa di depan Azka, putranya.


Laki-laki itu, menelan salivanya, ia tak menyangka dokter Farhan melamar ibunya. Ia menjadi kalah dari langkah dari pria separuh baya ini. Wajah Arisa memerah karna, malu sama persis seperti gadis itu tadi. gadis itu, keluar dari kamar mandi tak mengerti dengan apa yang terjadi? Saat ia, berada di kamar mandi. Gadis itu, menyadari kalau ia masih berbalut handuk di kepalanya, gadis tersebut membuka handuk yang membungkus rambutnya yang panjang terurai, membuat

__ADS_1


pandangan laki-laki teralihkan begitu melihat gadis itu, dengan rambut panjangnya terurai basah, membuat hati laki-laki itu, dah dig duh tak jelas.


"Bagaimana Ka,?" tanya Dokter Farhan membuat lamunan tentang Darania buyar seketika.


"Aku terserah Ibu saja," jawabnya sambil tersenyum.


Arisa masih malu, tak menjawab lamaran dari Dokter Farhan, ia pun keluar dari ruangan Azka, disusul dengan Dokter Farhan yang mengikuti Arisa pergi.


Darania tak mengerti dengan apa yang terjadi dengan dua orang tua ini? Ia melirik laki-laki itu, yang masih dalam lamunannya.


"Azka," panggilnya.


"Apa?" jawabnya menatap dalam-dalam wajah gadis itu, dengan serius.


"Bisa tidak , kamu melihatku dengan tatapan itu, aku malu bila kamu menatapku seperti itu."


"Terus aku harus melihatmu bagaimana?" tanyanya kembali menarik tangan gadis itu, membuat wajah keduanya semakin dekat, wajah gadis itu, memerah lagi, membuatnya berpaling. Pelan-pelan laki-laki menarik dagu gadis itu, dengan lembut. Keduanya saling menatap satu sama lain, merasa cinta yang menngalir deras dalam hatinya masing-masing. Tatapan keduanya semakin dalam, merasakan cinta yang tak bisa di ungkapkan dengan sebuah kata. Laki-laki itu, mulai mencium bibir gadis itu, melumatnya dengan mesra. Sudah lama sekali laki-laki tesebut tak merasakan perasaan ini. Laki-laki itu pun melepaskan bibirnya dari bibir gadis itu, mulai mencium seluruh rambut basahnya, membuat gadis itu, tak bisa bernafas dengan baik. Merasakan getaran dalam hatinya yang membuat tak ingin melepas perasaannya ini, "Aku memcintaimu," bisiknya pelan.


Gadis itu tersenyum, ia hanya menatap laki-laki tesebut dengan penuh cinta dalam hatinya. Gadis itu pun baru merasakan perasaan yang tak bisa dijelaskan. Perasaannya kali ini, berbeda saat bersama mantan tunangannya dulu, laki-laki tesebut tak meminta jawaban gadis itu, ia pun memeluk tubuh gadis itu. Menyenderkan kepalanya di dada gadis itu. Ia mendengar debaran jantung gadis tersebut, begitu kencang tak beraturan. Ia tersenyum, gadis itu merasa apa yang ia rasakan saat ini. Walau pun gadis itu tak mengucapkan kata cinta untuknya, namun ia tau gadis itu merasakan perasaan yang sama dengannya.


Dari luar, Soni menyaksikan semua yang terjadi antara Azka dan Darania. Ia tak menyangkan bosnya ini akan selangkah lebih maju darinya. Untuk pertama kalinya, ia melihat bosnya seromantis itu terhadap seorang gadis. Selama sepuluh tahun ia mengenal Azka. Belum pernah melihat ia seromantis ini. Bosnya ini, sekali cuek dan dingin terhadap seorang gadis. Ia pun berpikir tentang Darania, cinta pertamanya makanya ia seberani itu untuk mencium bibir gadis itu. Melihat momen itu, membuatnya teringat dengan gadis yang ia sukai sekarang. Ia memikirkan tentang gadis itu sekarang. Membuatnya gelisah sepanjang malam memikirkan gadis itu. Soni tak mau kalah dengan bosnya ini. Namun ia berpikir lagi, Darania bukan gadis yang akan menikah bulan depan. Buktinya ia bersama Azka sekarang. Tinggal Elis dan Shintia, siapa diantara dua gadis ini yang akan menikah. Pertanyaan itu, membuatnya pusing memikirkannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2