
Melihat Elis, seperti itu. Dengan terpaksa Elina membatalkan Lamaran itu. Elina tak bisa berpikir jernih sekarang. Bila terus memaksanya seperti itu. Elis akan memberontak.
Sebenarnya Elina tak membatalkan. Hanya menunda saja. Memang salahnya. Tak konfirmasi dulu pada Elis. Tentang perjodohan ini. Elina tak tau jika Elis sudah punya Calon.
Elina sendiri sudah tinggal di bersama Ayah ibunya di Semarang. Elina kini tinggal Di Surabaya ikut suaminya.
Elina menikah saat usia Elis 10 tahun. Walau sudah tak tinggal bersama Orang tuanya. Elina tetap mengatur Elis. Harus bersekolah disini. Mengambil jurusan ini. Harus masuk perusahaan ini. Pokonya semua harus keinginan Elina.
Elis mulai memberontak saat, Elis lulus kuliah. Elis sebenarnya S1 jurusan Hukum. Elis harusnya jadi hakim. Seperti Elina yang sudah jadi Jaksa terkenal.
Elis malah bekerja di Resto milik Azka. Ada perdebatan rasa tak suka Elina pada Elis. Namun lama lama. Elina membiarkan Elis.
Sekarang Usia Elis sudah 25 tahun. Sudah hampir sepuluh tahun menikah. Tapi belum mempunyai anak. Tahun lalu. Elina bercerai dengan suaminya. Karna Jordan suami Elina selingkuh dengan sekertaris nya sendiri.
Semenjak bercerai. Elina tinggal kembali bersama orang tuanya. Membuat Elis seperti di neraka.
Makanya Elis rajin bekerja. Agar tak bertemu dengan Kakaknya ini. Elis malas bertemu dengan Elina. Elis mengaggap Elina Musuh.
Sebenarnya, Elina begitu menyayangi Elis. Walau Elina keras pada Elis. Tapi itu menuru Elina. Itu demi kebaikan Elis. Kata kata itu membuat Elis muak.
Keluarga besar pak Burhan langsung meninggalkan rumah Elis. Begitu saja. Mereka merasa Elina mempermainkan mereka. Hanya pak Burhan yang masih ramah. Tak ada rasa kesal di wajahnya.
Elina meminta maaf pada keluarga pak Burhan karna penundaan lamaran ini. Namun Pak Burhan tetap ramah. Tak memaksakan Elis untuk jadi menantunya.
Laki laki berjas hitam itu masih merasa kesal. Karna pembatalan lamaran itu. Laki laki itu, melihat Soni murka begitu mobil mereka melewati Soni yang masih duduk di motornya sambil memainkan Ponselnya.
Elina masih duduk di ruang tamu. Elina tak berbicara apapun pada Elis. Elis juga terdiam.
Elis pun teringat dengan Soni. Elis pun segera berlari ke luar berharap Soni belum pulang. Namun ternyata Soni memang belum pulang. Soni masih setia menunggu Elis. Masih duduk di motornya. Dengan Santai.
Elis pun mendatangi Soni. Sambil setengah berlari.
"Mas Soni masih di sini?" Tanya Elis merasa bersalah.
Soni pun langsung menyimpan ponselnya kesaku celananya. Dan mematikan rokok hanya sudah hampir habis satu bungkus untuk menunggu Elis..
__ADS_1
Soni Tersenyum melihat Elis.
"Maafkan aku mas" Ucap Elis menunduk hampir menangis.
Soni memegang kepala Elis dengan kedua tangannya. Melihat wajah Elis dalam dalam. Dan menghapus air mata Elis dengan ujung jarinya.
"Udah jangan nangis, jelek" Seru Soni sambil tersenyum.
"Maafkan aku mas"
"Kok minta maaf lagi. Aku yang salah. Datang di waktu yang tidak tepat".
Elis menggeleng kan kepalanya.
"Lis, boleh saya masuk rumahmu. Rasanya tak enak ngobrol malam malam di luar sana seorang gadis" Ucap Soni beranjak dari motor nya.
Elis menganguk.
Dari teras rumah Elis, Elina memperhatikan mereka sedari tadi. Sesaat setelah Elis keluar.
Ayah Ismed. Bu Fatimah dan Elina sudah duduk di ruang tamu menunggu kedatangan Soni dan Elis di rumahnya.
Soni mengucapkan salam saat masuk rumah Elis. Dan memberi salam pada kedua orang tua Elis dan Elina kakaknya Elis.
Soni pun duduk di depan kedua orang tua Elis dan kakaknya Elis. Elis pun duduk di pinggir Soni.
Elis deg deg kan. Karna ini. Sedangkan Soni terlihat santai. Karna ini bukan yang pertama bagi Soni. Soni sudah pernah menikah. Makanya Soni sudah tak tegang lagi.
Malahan, Elis yang terlihat tegang. Keringat terus bercucuran. Badan Elis bergetar merasa resah. Karna ini yang pertama bagi Elis membawa laki laki kerumah.
Elis tak pernah berpacaran dengan siapa pun. Sekarang tau tau, Elis membawa laki laki kerumahnya. Membuat Orang tua Elis terkejut senang bahagia dan bercampur menjadi satu.
"Maaf, kedatangan saya. Membuat Keluarga Elis tak nyaman" Ucap Soni memulai pembicaraan karna dari tadi bisu. Seperti kuburan. Tanpa ada suara sedikitpun dan tak ada kata yang keluar dari orang tua atau kakak Elis. Mereka bertiga terus memperhatikan Soni.
Soni memang tegang. Namun Soni berusaha santai. Agar tak terlihat kalo Soni juga gugup bila berhadapan dengan orang tua gadis yang akan Soni nikahi.
__ADS_1
"Kamu Lulusan mana?. Kerja dimana?." Tanya Elina tiba tiba.
"Saya lulusan universitas Y. Perhotelan. Saya bekerja di tempat Yang sana Dengan Elis" Jawab Soni santai.
"Oh, kerja Di Resto" Seru Elina merendahkan.
Elis melihat kakak nya, kesal. Tak sepantasnya Kakaknya bersikap seperti itu.
"Soni Tersenyum. Soni tak merasa di rendahkan. Karna Bagi Soni kerjanya itu, halal. Jadi tak perlu malu. Itu yang dipikirkan Soni.
Lagipula gajih Soni lebih besar dari PNS kok. Azka sering memberikan bonus yang besar bagi Soni. Karna kerjanya yang bagus. Membuat Azka lebih percaya Soni di banding Arya adiknya.
Pak Ismed dan Bu Fatimah. Tersenyum. Seperti nya orang tua Elis sangat suka dengan Soni. Karna Sopan santunnya pada orang tua Elis. Berbeda dengan Laki laki yang berjas tadi. Yang akan di jodohkan oleh Elina.
Laki laki berjas itu. Terlihat merendahkan Orang tua Elis. Bersalaman saja. Laki laki itu seperti terpaksa. Karna Laki laki tadi langsung. Mengelap tangannya dengan Tissue setelah bersalaman dengan orang tuan Elis dan Elina. Membuat Ada rasa sakit hati di dalam hati Orang tua Elis dan Elina dan kecewa. Belum juga jadi menantu. Sudah bersikap seperti itu. Membuat orang tuan Elis dan Elina tak respek.
Berbeda dengan laki laki laki yang di bawa Elis. Laki laki ini begitu sopan. Membuat mereka langsung suka pada calon yang di bawa Elis.
"Nak, siapa namamu?" Tanya Pak Ismed Ayah Elis dan Elina.
"Soni, Soni Pratama"
Pak Ismed Tersenyum bersama dengan Bu Fatimah.
"Saya, kesini. Ingin melamar putri bapak dan Ibu" Ucap Soni langsung pada Pokoknya.
"Pak Ismed dan Bu Fatimah Tersenyum mendengar ucapan Soni itu. laki laki ini. Begitu jentel datang langsung untuk melamar putri bungsunya.
",Kamu punya apa? Untuk menghidupi adik aku. Aku mau Adik aku sengsara setelah menikah. Harus ada jaminan untuk hidup Bahagia" Seru Elina yang Gila Hormat dan Harta.
"MBA" Bentak Elis. Murka. Elis ga mau Kakaknya ini menghancurkan pernikahan dengan laki laki yang Elis pilih.
Elina tak perduli adiknya murka. Elina tak mau. Elis seperti Elina yang di hina dan di cemooh karna tak punya apa apa. Elis tak boleh merasa seperti itu. Elina takut Elis memilih laki laki yang salah.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa Like yah..