
Darania sudah pulang ke rumah Azka. Sepasang mata Darania terlihat sembab, karna, sedari tadi terus-terusan menangis. Darania memceritankan semuanya pada Mamahnya Yesa, tentang Papahnya Aldi yang selama lima bulan ini, ada bersama Ibas. Darania juga memceritankan tentang, Ibas ingin mengembalikan semua harta yang Ibas ambil asalkan, harus kembali padanya dan meninggalkan Azka.
Darania terus-terusan menangis memceritan tadi. Semua jadi bingung dengan kondisi Darania ini, Bu Arisa malah terlihat sedih. Jika Darania benar-benar meninggalkan Azka. Bu Arisa ikut menangis, dan juga Mamah Yesa. Darania harus memilih. Namun dua-duanya bukan pilihan yang baik.
Azka terlihat santai, begitu juga Arya membuat Nadia curiga, memperhatikan mereka berdua.
"Kamu, sudah merencanakan sesuatu?" bisik Nadia pada Arya.
Arya hanya tersenyum, tak menjawab Nadia.
"Kasih tau, dong apa rencana kalian?" tanya Nadia lagi penasaran.
"Maaf, Aku dah janji sama Mas Azka"
Nadia cemberut.
"Maaf yah"
Nadia berpaling.
Darania terus-terusan menangis matanya sudah bengkak dan sembab. Mamah Yesa tak berdaya tak bisa menolong putrinya. Karna, Mamah Yesa sendiri bingung harus bagaimana?.
Esoknya, Darania menghubungi Ibas, untuk ketemuan di tempat biasa mereka janjian. Di sebuah taman dekat rumah Darania yang dulu. Ibas begitu senang dan Bahagia saat Darania menghubungi terlebih dahulu.
Dengan semangat, Ibas sudah menunggu Darania. Darania pun datang mengunakan taksi online untuk segera sampai di tempat yang Darania janjikan pada Ibas.
"Dara, aku seneng banget akhirnya kamu menghubungi aku duluan" guman Ibas langsung memeluk Darania.
Darania diam saja, saat Ibas memeluknya. Rasa cinta yang dulu pernah singgah di hati Darania, hari ini sudah tak ada. Rasa bersalah pun kini hinggap di hati Darania. Namun hanya ini jalanya. Karna, Darania sendiri tak bisa jika harus meninggalkan Azka.
Ibas melepaskan pelukannya, "Kamu sudah mengambil keputusan sayang" tanya Ibas, mulai mengelus rambut Darania yang terurai panjang, Darania segera menepis tangan Ibas. Darania sudah benar-benar muak dengan Ibas. Ucapan sayang dari mulut Ibas, menjadi racun untuk Darania. Darania sudah tak sanggup, namun demi Papah Aldi. Sebisa mungkin Darania bertahan.
Darania hanya mengangguk,
"Kamu jadi galak yah, tapi tak apa,? Nanti juga kamu bakal jatuh cinta lagi padaku" guman Ibas sambil tersenyum.
Azka, Soni dan Arya sedang melihat Darania dan Ibas di monitor. Kalung yang di pakai di leher Darania itu, sebuah kamera kecil khusus mengintai. Walau kamera itu kecil, namun gambar yang di tampilkan cukup jelas.
__ADS_1
"Ikh Ci kampret itu, berani banget bilang sayang sama pede gitu" guman Soni dalam mobil yang tak jauh dari taman tempat Darania dan Ibas bertemu.
Wajah Azka sudah memerah menahan cemburu. Arya cuman nyengir aja. Soni terus-terusan mengkompori Azka.
"Katakan di mana Papahku?" tanya Darania serius.
"Sabar, santai kamu harus benar-benar meninggalkan Azka. Baru aku kasih tau kamu di mana Om Aldi berada?" Jawab Ibas dengan senyum jahat dengan penuh kelicikan.
Darania meneteskan air matanya lagi.
"Ha, semudah itu kamu melupakan perasaanmu padaku Dara" bentak Ibas kesal, Karna, Darania menangis untuk Azka.
"Kamu yang mulai, menyakiti aku Ibas" guman Darania pelan. Hati Darania begitu terasa sakit sekali, bertemu dengan Ibas. Rasa sakit ini, begitu jelas terasa. Darania sempat berpikir kenapa, dulu Darania bisa memcintai Ibas.
"Maafkan Aku"
"Tolong lepaskan Papahku" pinta Darania memohon.
"Aku akan melepaskan, Om Aldi. Asal kamu meninggalkan Azka"
"Aku ga bisa" Darania menangis, Darania tak bisa jika harus berpura-pura meninggalkan Azka. Darania begitu memcintai Azka sekarang.
"Kamu kejam Ibas, dulu kamu nyakitin aku untuk bersama Vivian. Sekarang kamu menyakiti aku, karna Papahku di tahan oleh mu, sampai kapan? Kamu nyakitin aku terus" Darania masih menangis, hatinya benar-benar sakit saat ini.
"Aku menyesal, sudah memilih Vivian. Aku baru sadar kalau aku sangat mencintaimu Dara"
"Kamu bohong Ibas, kamu hanya terobsesi sama kamu, karna, aku akan menikah dengan Azka" bentak Darania.
"Cukup Dara, jangan sebut-sebut nama itu lagi di depanku lagi"
"Kenapa, aku hanya memcintai Azka"
Aaaaaaa Ibas berteriak, hendak akan memukul Darania namun tak jadi. Ibas masih bisa menahan.
Tadi Azka, Soni dan Arya sudah terkejut karna, melihat Ibas hampir memukul Darania. Azka sudah bersiap akan menghajar Ibas. Namun tak jadi, karna, Ibas tak melakukan apapun pada Darania.
Soni dan Arya sudah lega sekarang, Azka sudah tenang. Hampir saja, Azka menggagalkan rencananya sendiri, karna, emosi pada Ibas.
__ADS_1
Ibas melihat Darania masih menangis. Ibas begitu kesal dan jengkel melihat Darania menangis karna, tak ingin meninggalkan Azka. Semua itu membuat semakin kesal. Namun Ibas masih menahan amarahnya. Tak ingin mencelakakan Darania. Ibas tak ingin mengambil resiko. Ibas tak ingin berurusan dengan polisi dulu. Karna, polisi akan tau kalau Ibas sudah menyekap Papahnya Darania.
"Aku sudah menyerahkan semua yang kamu mau, kenapa kamu masih menahan Papahku?" tanya Darania masih menangis.
"Belum semua, Dara!"
"Tubuhmu aku masih belum menikmatinya"
Plak tampar Darania, mendengar ucapan Ibas yang sudah merendahkan Darania.
Ibas, tersenyum.
"Aku ga menyangka kamu bisa berpikir seperti itu"
"Aku masih waras Dara. 10 tahun aku jadi Pacarmu. Selama 10 tahun juga, aku belum pernah menyentuhmu, sekarang Si brengsek Azka. Mau menikah denganmu. Bukanya aku yang rugi" tutur Ibas tersenyum licik.
"Aku menyesal pernah mencintamu, Aku menyesal sudah percaya padamu"
Ibas tersenyum lagi.
"Aku pun menyesal, tak menyentuhmu terlebih dahulu" bisik Ibas
Darania hendak menampar Ibas lagi. Namun di tahan Ibas. Dengan cepat, Ibas memegang tangan Darania agar tak kembali di tampar Darania.
Aaaaaaa jerit Darania sambil menangis, Darania melepaskan tanganya dari Ibas. Namun cengkraman Ibas begitu kuat sampai Darania sulit untuk melepaskan diri.
"Sampai kapanpun aku tak akan membiarkan kamu menikah dengan ci brengsek itu"
"Lepaskan aku" bentak Darania sudah merasa sakit, karna, Ibas mencengkeram tangan Darania terlalu kuat.
Ibas malah tersenyum, tak berniat melepaskan tangan Darania. Darania pun menginjak sepatu yang Ibas pakai. Sehingga Ibas melepaskan cengkramannya pada Darania.
"Sekarang, aku beri waktu kamu tiga hari, untuk memikirkan. Pikirkan baik-baik kalau kamu ingin Om Aldi selamat. Kamu harus meninggalkan Azka. Jika tidak tanggung sendiri akibatnya. Pikirankan baik-baik keputusannya ada di tanganmu kalau kamu salah pilih. Maka Om Aldi mungkin tak akan selamat" tutur Ibas mengancam Darania dan meninggalkan Darania sendiri. Ibas langsung mengendarai motornya yang terpakir di depan taman.
Setelah Ibas pergi jauh. Azka datang dan membawa Darania masuk mobil yang agak jauh terparkir dari taman tempat Darania dan Ibas bertemu tadi.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like yah
Mampir juga ke novel Author yang lain yah, "Irani Gadis Indigo" dan "Kisah Kita" Terima kasih.