
Dari ketiga saudara kembar sifat Benyamin yang paling kalem dan tenang sama seperti sang Ayah Azka. Ben tak banyak bicara sekali melakukan dengan tindakan.
Dari dulu tak ada yang bisa mendekati Ben kecuali Alexsa. Hanya gadis itu saja yang membuat luluh. Ben selalu bersikap dingin dan cuek plus masa bodo. Sudah hampir 18 tahun, Ben belum pernah jatuh cinta sama sekali.
Bumi dan Bima tau kalau Ben sudah lama menyukai Alexsa tapi, Ben tak pernah mau mengakui perasaannya itu. Padahal Alexsa sudah beberapa kali bergonta-ganti pacar agar Ben peka. Tapi, tetap saja Ben tak pernah peka sama sekali. Sampai Bumi dan Bima merasa gemes sendiri.
Setiap berjalan Ben selalu lurus ke depan tak pernah melirik kiri ataupun kanan langsung pada tujuan.
Seseorang memeluknya dari belakang membuat ia terdiam dan menoleh. "Alexsa," panggilnya melepaskan pelukannya.
Gadis itu cemberut karna, Ben selalu tau kalau itu dirinya. Dengan cueknya ia kembali melangkah. "Ben," panggilnya.
Ben berhenti menghembuskan napas panjang kemudian menoleh. "Apa?" tanyanya.
Alexsa berjalan dengan mengunakan sepatu hak tinggi mendekatinya namun, saat mau sampai Alexsa pun tersandung segera ditangkap oleh Ben.
Entah kenapa untuk pertama kalinya hatinya berdebar untuk Alexsa. Rasa terkejut itu membuatnya melepaskan tangannya sampai membuat Alexsa terjatuh ke lantai.
"Ben," panggilnya lagi sambil menangis karna, laki-laki itu malah menjatuhkannya.
Mendengar suara tangisan dari Alexsa membuatnya menyadari kalau ia melepaskan Alexsa. "Maafkan aku?" ucapnya merasa bersalah dengan hati dah dig dug tak jelas. Sambil membantu Alexsa berdiri.
'Kamu sengaja," bentaknya masih menangis.
"Maaf, aku tak sengaja," ucapnya berusaha menyembunyikan hatinya yang menjadi tak jelas saat bertemu dengan Alexsa.
Setiap hari keduanya bertemu namun, kali ini ada yang aneh dengan hatinya.
"Kamu sengaja," ucapnya lagi masih menangis.
"Beneran aku tak sengaja!"
"Bohong."
Entah kenapa Ben menarik tangan Alexsa dan memeluknya. "Maafkan aku, aku beneran tak sengaja," gumannya pelan.
Alexsa senang menggoda Ben seperti ini. Untuk mendapatkan perhatiannya. Namun, ada yang berbeda dengan Ben hari ini. "Kenapa hatinya berdebar begitu kencang?" pikirannya sendiri.
Ben pun melepaskan pelukannya. "Maaf yah," ucapnya lagi kaku.
Ben memperhatikan penampilan Alexsa yang berubah. Dulu gadis mungil ini tak pernah mengunakan rok mini tapi sekarang ia lebih sering menggunakan rok mini. Ben pun berpaling tak suka melihat bagian tubuh Alexsa yang ia umbar.
__ADS_1
"Kalau ke kampus jangan pakai rok mini!" seru Ben.
Alexsa mengerutkan keningnya. "Sejak kapan kamu peduli?" tanyanya bingung.
"Sejak sekarang! Kamu tak melihatnya pandangan orang lain tentang kamu!" serunya lagi.
Alexsa masih bingung dengan perubahan sikap Ben. "Kamu salah minum obat!" serunya masih bingung.
"Yah, terserah sih!" ucapnya berlalu meninggalkan Alexsa sendiri.
Gadis tersebut masih tak mengerti dengan perubahan sikap dari sahabatnya ini. Sampai membuatnya tak fokus sama sekali. Alexsa melihat penampilannya dari bawah sampai atas. Rasanya tak ada yang aneh dengannya.
Ben masih berdebar tak jelas merasa bingung dengan hatinya sendiri. Sedari tadi ia berusaha menyembunyikan debaran hatinya. Ia berpikir beberapa kali. "Masa iya, ia jatuh cinta pada Alexsa," gumannya sendiri.
Ben pun berhenti berjalan dan menoleh pada Alexsa gadis itu sedang bersama Rangga. Rasanya Ben marah melihat Alexsa dengan laki-laki lain. Padahal ia tau kalau Alexsa hanya menyukainya dan beberapa laki-laki itu hanya menjadi mainannya. Tapi, hatinya kini merasa sakit yah.
Rasanya ia tak rela. Alexsa menoleh ke arah Ben hingga keduanya saling menatap satu sama lain. Keduanya berdebar tanpa mereka sadari. Hingga Rangga merasa tak suka dengan keduanya.
"Lex," panggilnya.
Alexsa masih menatap Ben yang kembali menatapnya. Tak ada yang lain yang membuat Alexsa jatuh cinta hanya Ben saja. Alexsa selalu menyakinkan hatinya kalau suatu saat nanti Ben akan berbalik menyukainya. Namun, entah kenapa ia merasa lelah untuk terus mencintai Ben.
"Alexsa," panggilnya untuk yang kesepuluh kalinya.
"Eh iya Gga?" tanyanya bingung.
"Aku di sini!"
Alexsa tersenyum. "Maaf," ucapnya.
Tanpa Alexsa sadari Ben masih terus menatapnya. Entah kenapa ia merasa tenang saat menatap Alexsa. Untuk pertama kalinya rasanya tak mau menerima kalau Alexsa memilih laki-laki lain.
Ben mulai mengingat janji Alexsa tiga tahun yang lalu. "Sampai kapanpun Alexsa akan selalu mencintai Ben apa pun yang terjadi."
Sekarang Alexsa harus menepati janjinya.
Hatinya merasa sakit saat Alexsa dan Rangga bersama seperti itu. "Alexsa hanya miliknya tak boleh dimiliki siapapun?" gumannya sendiri berlalu meninggalkan Alexsa.
Walaupun Alexsa sedang mengobrol dengan Rangga namun, sedari tadi Alexsa masih memperhatikan Ben dengan ujung matanya.
Beberapa kali Alexsa berpikir kalau hari ini. Ben berubah dan aneh atau ada sesuatu yang lain. Alexsa menjadi penasaran.
__ADS_1
Ben benar-benar bingung dengan hatinya. Perasaannya menjadi aneh pada Alexsa. Ia tak mau mengakui kalau sekarang Ben menyukai Alexsa.
Di hari pertama Ben benar-benar tak fokus dengan sistem di kelasnya. Hatinya tak tenang ingin selalu berada di dekat Alexsa.
Ben ingin benar-benar memastikan tentang perasaannya pada Alexsa yang berbeda dengan Alexsa yang sekarang. Kondisinya sekarang berbeda. Semakin banyak yang menyukainya dan mengaguminya padahal Ben lebih suka Alexsa yang dulu dengan gaya khas tomboinya.
Ben menghembuskan napas panjang. Ia bertanya-tanya pada hatinya sendiri. "Kenapa ia memikirkan Alexsa."
Apa kata dua adiknya nanti, kalau mengetahui kalau sekarang Ben sudah bisa jatuh cinta pada Alexsa?. Padahal dulu ia berjanji tak akan pernah jatuh cinta pada siapapun. Sekarang Ben malah kemakan ucapannya sendiri.
Rasanya tak akan mudah untuk mencintai Alexsa sekarang. Ben merasa bodoh sekarang. Kenapa tak dari dulu ia jatuh cinta pada Alexsa saat ia belum menjadi siapa-siapa? Malah sekarang ia merasa jatuh cinta.
Ben tak ingin Alexsa salah paham. Ben hanya telat menyadari kalau sebenarnya ia menyukai Alexsa. Ben menghembuskan napas panjangnya lagi sampai seseorang yang duduk disebelah itu merasa bingung.
"Kamu kenapa?" tanya Aris memperhatikannya sedari tadi.
"Aku tak apa-apa?"
"Benar kamu tak apa-apa?"
"Yah!"
"Aku Aris," kenalkannya.
"Benyamin, kamu bisa memanggilku Ben!"
"Ben, yang kembar tiga itu!"
Ben tersenyum. "Yah, aku si sulung Ben."
Aris tersenyum. "Senangnya bisa punya saudara kandung."
Ben mengerutkan keningnya. "Aku sebaliknya aku tak suka punya saudara semua harus berbagai."
"Kamu beruntung Ben! Ada adik-adik kamu yang selalu menemanimu disaat sepi sedangkan aku hanya sendiri tak ada siapapun?"
Ben melihat Aris rasanya kasihan yah. Mungkin iya Ben harus bersyukur mempunyai dua adik kembar yang menyebalkan walau terkadang bikin kesel.
Bersambung...
Jangan lupa like dan komennya untuk meninggalkan jejak kalian dan mampir juga ke karya Author yang lain terima kasih.
__ADS_1