
Kanaya melihat jam tangannya baru menunjukan jam 08.00 malam. Gadis itu pun menghembuskan napas panjang. Tak ada cara lain selain menunggu di bukakan pintu dari luar. Kamar ini begitu pengap hanya sedikit udara yang masuk di bagian atas ada berbagai ventilasi udara.
Kanaya pun menoleh, lagi-lagi Bumi menatapnya dengan sebegitunya. Gadis itu pun tersipu malu. "Bumi, hentikan," ucap Kanaya sembari berpaling.
"Kenapa? Aku begitu merindukanmu Kanaya? Tiga tahun aku menahan semuanya. Sekarang hanya malam ini saja aku bebas memandang mu sampai pagi," tutur Bumi menatap Kanaya sedari tadi tanpa berkedip sedikit pun.
"Aku malu!" seru Kanaya karna, wajahnya sudah merah sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Perlahan Bumi mendekati Kanaya. Pelan-pelan Bumi mulai membuka kedua tangan Kanaya dengan lembut untuk bisa melihat wajah Kanaya. Gadis itu masih saja menunduk karna, malu. Pelan-pelan Bumi mengangkat bahu Kanaya sampai keduanya saling berpandangan.
Perlahan Bumi mulai mengecup kening gadis itu setelah itu, turun ke bawah sampai seluruh muka Kanaya Bumi kecup dengan lembut. Gadis itu benar-benar berdebar saat semua sentuhan itu mendarat di seluruh wajahnya. Kanaya hanya bisa menutup matanya untuk merasakan semua sentuhan Bumi padanya.
Jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, Kanaya begitu merindukan Bumi. Cinta pertamanya yang selalu membuatnya gelisah sepanjang hari. Apa yang dirasakan Kanaya sama seperti yang dirasakan Bumi. Begitu juga laki-laki itu yang benar-benar mencintai seorang gadis saat sudah kehilangan Kanaya.
Bumi tak pernah main hati pada gadis manapun. Kecuali Kanaya yang memakai hatinya untuk bisa mencintainya setulus hatinya. Bumi merasa jatuh cinta pada Kanaya dengan segenap jiwa raganya. Begitu besar cinta Bumi untuk Kanaya sampai selama tiga tahun ini Bumi hanya menunggu Kanaya saja.
Keduanya mulai saling mengecup bibir bermain Saliva saling beradu merasakan cinta yang begitu besar diantara keduanya. Walaupun Kanaya belum mengungkapkan perasaannya pada Bumi. Namun, Bumi dapat merasakan cinta dari Kanaya yang begitu besar untuknya.
Tak hanya saling mengecup bibir saja. Tangan Bumi mulai nakal yang meraba seluruh dada milik Kanaya tak hanya dada tangan Bumi pun sampai pada bagian sensitif milik Kanaya.
Kanaya hanya bisa diam saja saat Bumi memperlakukannya seperti itu. Bahkan Bumi mulai berani membuka baju yang Kanaya Kenakan. Memainkan dua benda kenyal yang menggantung di dadanya tak hanya itu. Bumi pun mulai menghisap benda kenyal itu dengan mulutnya sembari memainkan. Napas Kanaya naik turun merasakan sentuhan itu yang untuk pertama kalinya Bumi lakukan padanya. Sebagai tubuhnya sudah polos memperlihatkan dada Kanaya yang putih dengan dua benda kenyal yang seperti balon mengoda Bumi untuk memainkannya.
Tak hanya Kanaya tang merasakan itu Bumi pun merasa keindahan tubuh Kanaya yang hampir saja polos. Kanaya mulai nakal memainkan senjata milik Bumi dengan tangannya. Sampai Bumi tak bisa berkata-kata.
__ADS_1
Kanaya dan Bumi hanya bermain sebatas itu saja. Bumi tak berani menodai Kanaya. Setelah ****** ***** milik Bumi keluar. Keduanya pun berhenti melakukan itu. Kanaya segera memakai bajunya kembali.
Bumi merangkul tubuh Kanaya beberapa kali mengecup keningnya. "Terima kasih yah, Sayang," guman Bumi begitu erat merangkul Kanaya.
Kanaya mengangguk mengingat hal tadi gadis itu begitu malu sekali. Kenapa bisa tadi Kanaya diam saja saat Bumi melakukan itu padanya.
"Sayang, hari ini kita resmikan hubungan kita yah," ucap Bumi masih merangkul tubuh Kanaya.
"Tidak Bumi, aku tidak mau? Aku harap kita merahasiakannya dari yang lain," sanggah Kanaya khawatir Prita akan berbuat sesuatu padanya.
"Baiklah, jika itu mau mu aku terima," ucap Bumi menyetujui saran dari Kanaya. Bumi pun sama memikirkan tentang Prita yang akan berbuat sesuatu pada Kanaya. Sekarang Bumi lebih khawatir dengan keselamatan Kanaya dari pada dirinya sendiri.
Kanaya tersenyum melihat Bumi yang masih memeluknya dengan erat. "Maaf Mayang, aku ingkari janjiku padamu. Setelah tiga tahun ini aku tak bisa melupakan Bumi sama sekali," gumannya dalam hatinya sendiri.
"Aku gemas sekali padamu. Padahal kamu itu jelek tapi, kenapa aku tak bisa melupakanmu," goda Bumi sembari memegang hidung Kanaya yang kurang mancung.
"Bumi," gumannya lagi sambil cemberut.
Bumi tertawa melihat reaksi dari Kanaya yang kini kembali menjadi kekasihnya. "Sayang, aku berjanji kali ini tak akan menyakitimu lagi. Aku akan selalu menjagamu dari semua marabahaya yang akan menghadang mu. Aku akan menjagamu dari apa pun," ungkap Bumi sebagai ungkapan hatinya sendiri pada Kanaya yang belum sempat ia ungkapkan dulu padanya.
Tiba-tiba saja Kanaya meneteskan air matanya. Entah kenapa ucapan Bumi itu membuatnya terharu.
"Sayang, kamu menangis!" seru Bumi memegang wajah Kanaya dengan kedua tangannya. Perlahan Bumi menghapus air mata kekasihnya dengan ujung jarinya.
__ADS_1
"Sayang, aku tak suka kamu menangis karna, aku!"
"Ucapan mu itu yang membuat aku menangis!"
Bumi tersenyum lagi. "Aku hanya mengungkapkan apa yang ada dalam hatiku yang tak sempat aku ucapkan padamu saat aku kehilanganmu tiga tahun yang lalu," ungkap Bumi sembari mengaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kamu itu dari dulu selalu membuat aku terbang tinggi. Sampai saat terjatuh rasanya sakit sekali," ucap Kanaya lagi.
"Aku tak akan membuatmu terjatuh lagi. Bila kamu terjatuh pun aku akan menangkap mu dengan kedua tanganku. Asalkan kamu tak sampai terjatuh ke tanah."
"Benarkah, Sayang!"
"Sayang."
"Yah, dari tadi kamu memanggilku Sayang. Kenapa aku tak boleh memanggilmu, Sayang." Kanaya pura-pura cemberut.
Bumi mencubit kedua pipi Kanaya dengan kedua tangannya. Kanaya selalu membuatnya gemas.
Kanaya tersenyum sembari memegang kedua pipinya dengan kedua tangannya.
Keduanya mengobrol sampai pagi bercerita tentang masa lalu mereka saat-saat keduanya terpisah. Baik Bumi ataupun Kanaya merasakan hal yang sama. Karna, perasaan mereka berdua masih menyatu dalam satu hati yang tak bisa dipisahkan. Walaupun keduanya berjauhan selama tiga tahun ini. Akan tetapi perasaan mereka tetap saja. Saling memikirkan satu sama lain. Tak hanya itu keduanya saling merindukan yang tak bisa diungkapkan antara Bumi dan Kanaya. Sekarang baik Kanaya ataupun Bumi sudah mengetahui perasaan masing-masing kalau antara Bumi dan Kanaya masih tersimpan satu cinta yang belum selesai di masa malu. Keduanya putus tapi, masih belum bisa menerima keputusan itu. Karna, perpisahan itu juga membuat Bumi benar-benar berubah selama tiga tahun ini. Benar-benar menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Bumi sudah berjanji bila di beri kesempatan untuk bersama Kanaya. Ia tak akan menyia-nyiakannya lagi.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen yah untuk meninggalkan jejak kalian dan mampir juga ke karya Author yang lain terima kasih.