
Soni merasa lega, dengan apa yang dititipkan Vivian padanya. Soni sendiri tak tau apa isi dari dokumen-dokumen itu. Namun syukurlah semua milik Darania sudah kembali pada Darania.
Setelah itu, Soni pamit untuk segera pulang ke rumahnya. Karna, setelah menikah Soni belum menyentuh istrinya Elis. Semua gara-gara masalah Azka membuat Soni tak bisa menyentuh istrinya.
Sekarang, Soni sudah merasa lega. Akhirnya malam ini, Soni bisa berpetualang dengan Elis. Sebenarnya, Elis tak marah, namun Soni merasa tak enak saja.
Darania masih di ruang UGD bersama Azka untuk menemani Aldi-Ayah Darania. Aldi masih belum juga sadar. Darania begitu sedih melihat Aldi-Ayah yang begitu jadi kurus dan tak terawat. Semua karna, Ibas. Ibas begitu tega membuat Aldi-Ayah Darania seperti ini.
Darania terus saja menangis. Azka setia menemani Darania. Azka tetap bersama Darania. Membuat Darania menjadi kuat. Untuk bisa menghadapi semua ini.
Bu Arisa, memeluk besannya ini, semua sudah kembali ke tanganya. Rumah, perusahaan, properti dan surat-surat penting lainya. Mamah Yesa belum bisa memberitahukan pada Darania. Darania masih bersedih dengan kondisi Aldi-Ayahnya.
Samar-samar Aldi-Ayah Darania, mulai membuka matanya. Aldi mulai melihat ke atas tempat ia berbaring. Sama sekali tak dikenali Aldi. Aldi melihat sekitar. Terlihat Darania dan seorang laki-laki disampingnya tertidur.
Aldi tersenyum bisa melihat putrinya lagi, Aldi ingin sekali membangunkan Darania. Namun Aldi tak ingin membangunkan Darania. Darania terlihat lelah, matanya sudah bengkak. Mungkin sedari tadi menangis.
Aldi melihat Azka di samping Darania. Aldi benar-benar tak mengenali pemuda tampan itu. Aldi berpikir "Mungkinkah Darania sudah menemukannya".
Aldi menghembuskan nafas panjang. Aldi tak tau, sudah berapa lama disekap Ibas. Aldi menyesal sudah mempercayai Ibas. Aldi masih berpikir, Ibas masih menguasai harta miliknya. Sebenarnya Aldi tak masalah kalau semua diambil Ibas. Aldi hanya ingin berkumpul dengan Istri dan putrinya itu saja.
Namun Aldi sudah merasa, waktunya sudah tak banyak lagi. Aldi masih memperhatikan Azka. Melihat Azka, entah mengapa, mengingatkan Aldi pada anak laki-laki yang menolong Darania dulu. ( Baca lagi, Chapter tentang Nia ). Namun Aldi masih tak yakin.
Namun bila didihat dari wajahnya. Seperti memang mirip. Aldi berpikir lagi. Mungkin anak itu, juga seumuran sama pemuda ini. Aldi berharap. Laki-laki ini, bisa menjaga Darania dan istrinya.
Pundak Azka terasa sedikit sakit, Azka memcoba membuka matanya. Perlahan Azka melihat Aldi-Ayah Darania sedang mengelus-elus rambut Darania. Sontak Azka langsung bangun.
"Om" guman Azka hendak akan membangunkan Darania. Namun di cegah Aldi-Ayah Darania.
"Jangan Nak" gumanya dengan suara lemah dan pelan.
__ADS_1
Azka menganguk dan Aldi tersenyum pada Azka. Azka memperhatikan Aldi-Ayah Darania. Mengingat kembali dengan sosok Aldi-Ayah Darania. Azka memang pernah bertemu dengan Aldi-Ayah Darania. Ketika usianya masih tujuh tahun.
Yah Azka mengingat wajah Aldi yang tak berubah sama sekali. Yang berbeda hanya sekarang sudah banyak keriput di wajah Aldi. Namun perawakannya sama.
Samar-samar Darania membuka matanya, dilihatnya Aldi-Ayahnya sudah membuka matanya. Darania langsung bangun dan tangis haru tumpah begitu saja. Darania begitu bahagia saat Aldi -Ayahnya telah sadar. Lama Darania menunggu sampai 12 jam lebih.
"Terima kasih Tuhan, telah membuat Papahku sadar kembali" batin Darania bergumam. Merasa bahagia bisa melihat Aldi, sudah sadar. Walau tubuhnya masih lemah dan tak berdaya.
Darania memeluk papahnya dan Azka pun keluar memangil dokter.
Melihat Azka keluar dari ruangan UGD. Mamah Yesa dan Ibu Arisa yang masih terjaga. Segera beranjak untuk menghampiri Azka.
"Azka"pangil Mamah Yesa menahan Azka untuk tak segera pergi.
Azka menoleh, melihat Ibunya, Arisa dan Ibu mertuanya Mamah Yesa.
"Mas Aldi sudah sadar?" tanya Mamah Yesa berharap jawaban Azka sesuai dengan keinginannya.
Mamah Yesa menangis haru, segera masuk ke ruang UGD tempat Aldi-Ayah Darania dirawat. Masuk bersama Ibu Arisa.
Terlihat Darania masih memeluk Aldi begitu erat. Mamah Yesa pun langsung memeluk suaminya ini. Rasa rindu yang begitu menumpuk di hati Mamah Yesa untuk Aldi. Begitu dalam dan sangat mendalam.
Tangisan Ibu dan anak itu. Tumpah ruah, merasa bahagia melihat suami dan papahnya sadar kembali. Baik Darania dan Yesa begitu merindukan sosok ini. Belum pernah Aldi meninggalkan Darania dan Yesa selama ini. Sampai hampir lima bulan lebih. Biasanya mereka selalu berkumpul dalam suka mau pun duka.
Bu Arisa, terharu melihat pertemuan mereka. Bu Arisa tau, begitu berat untuk Yesa dan Darania. Saat kehilangan Aldi.
Beberapa saat kemudian, Azka datang bersama dokter Linda. Dan segera memeriksa Aldi. Darania kembali memeluk Azka. Darania masih menangis. Azka memeluk Darania.
Dokter Linda, perlu memeriksa lebih lanjut kondisi Aldi. Meminta Darania, Azka, Mamah Yesa dan Ibu Arisa untuk keluar sebentar.
__ADS_1
"Azka, Papahku akan sembuhkan!" seru Darania. Tak ingin Papahnya kenapa-kenapa?. Karna, ekpresi Dokter Linda seperti itu.
"Kita berdo'a saja yah. Semoga Papah baik-baik saja" guman Azka memeluk erat Darania. Azka sendiri tak tau, harus bilang apa.
Dokter Linda memeriksa Aldi, sekali lagi. Namun kondisi Aldi benar-benar sudah tak bisa di tolong lagi.
"Dokter, sudah tak usah di periksa lagi?. Aku tau usiaku cuman sampai disini. Aku minta, bertemu dengan seluruh keluarga saja" pinta Aldi-Ayah Darania dengan suara pelannya.
Dokter Linda menganguk. Dokter Linda, sudah tak bisa berkata-kata lagi. Kondisi Aldi memang cukup parah. Sudah tak ada kesempatan untuk selamat. Makanya Dokter Linda hanya mengikuti keinginan terakhir dari pasien.
Dokter Linda segera keluar dari UGD. Darania dan Mamah Yesa segera memburu Dokter Linda.
"Bagaimana Dok, keadaan papah saya?" tanya Darania sudah tak sabar.
"Maafkan aku, Aku sudah berusaha yang terbaik. Permintaan pasien, agar seluruh keluarga berkumpul..."
Belum selesai, Dokter Linda berbicara. Darania langsung berlari masuk ruangan UGD di susul Azka, Yesa dan juga Arisa.
Darania memeluk erat tubuh Aldi yang masih terbaring lemah di ranjang ruang UGD.
"Papah" pangil Darania sambil menangis lagi dan lagi.
Aldi-Ayah Darania tersenyum.
"Maafkan Papah yah, tak bisa lagi menjaga kalian" gumanya lemah.
"Papah jangan ngomong kaya gitu. Papah harus sembuh. Papah tau, Aku sudah bertemu lagi dengan Azka!" seru Darania sambil menarik tangan Azka untuk berdiri disampingnya sambil masih menangis. Memperkenalkan Azka sebagai calon suaminya kelak.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like dan ikutin Author yah. Untuk lanjutan ceritanya. Mampir juga ke karya Author yang lain. "Irani Gadis Indigo" dan "Kisah Kita" Terima kasih.