Ketika Cinta Datang Season 2

Ketika Cinta Datang Season 2
Chapter 72 Teman Lama.


__ADS_3

Darania masih memperhatikan Azka dan dua temanya yang asik mengobrol, Kali ini Darania benar benar di cuekin oleh Azka.


Tanpa bisa berkomentar, Darania hanya mendengarkan mereka bertiga mengobrol mengenang masa masa kuliah mereka. Membuat Darania sedikit terlupakan.


Saat, sedang mengobrol, Azka pun teringat dengan sesuatu. Azka menoleh ke belakang. Ternyata Darania masih berdiri mematung.


"Sory, Kenalin dulu ini calon istri aku!" memotong pembicaraan mereka yang sadari tadi tanpa henti berbicara. Sambil menarik tangan Darania.


Dea dan Imam pun saling melihat dan Tersenyum seketika.


"Aku Dea, temen sekampus dulu bareng Azka. Dan ini, Imam suami aku" perkenalkan Dea, sembari menyayunkan tanganyan.


"Darania" jawab Darania menjabat tangan Dea. Sambil tersenyum ramah.


Sedangkan Imam hanya tersenyum saja, tak menjabat tangan Darania.


Azka memegang lengan Darania dengan tangannya yang kekar.


"Gimana calon aku!" seru Azka membanggakan diri. Sedangkan Darania hanya tersenyum saja, melihat tingkah Azka yang begitu bangga dengan Darania.


"Kamu tuch tekat yah, Yang lain udah berbuntut banyak. Ini malah baru mau bertelor" Guman Dea.


Mendengar ucapan Dea. Darania dan Azka Tersenyum.


" Oh yah, kalian di sini. Tinggal di mana?" tanya Azka.


"Kamu ga perlu kuatir, kita dah pesen hotel. Kita kesini cuma mampir aja kok". Guman Imam.


"Dari pada bayar hotel. Mending kalian tinggal di sini!" seru Azka.


Dea Tersenyum.


"Kita ke sini, dalam rangka bulan madu masa tinggal di rumah kamu". guman Imam sambil tersenyum.


Darania dan Azka Tersenyum lagi.

__ADS_1


"Aku masih heran, kok kalian bisa bersama gini?" tanya Azka lagi.


"Ceritanya panjang. Yang jelas Aku ketemu Imam. Saat kita sudah sama sama sendiri" jelas kan Dea.


Azka terlihat terkejut. Temanya ini sudah menikah yang kedua kali. Sedangkan Azka baru saja mau menikah.


"Oh yah, kalo kamu nikah, Undang yah kita. Jangan lupa sama anak anak yang lain. Terus kapan kamu maen lagi ke Bandung?" Tanya Dea. Langsung menutup mulutnya.


"Maaf Azka, aku ga bermaksud gitu". Guman Dea lagi.


Mendengar nama kota Bandung. Membuat Azka menjadi pucat dan kenangan tentang kesedihan itu, muncul kembali dalam benak Azka. Kini wajah Azka mulai pucat.


Imam mengerutkan keningnya. Saat melihat reaksi Azka.


"Maaf Azka, Dea ga bermaksud gitu..."


Sebelum, Imam melanjutkan berbicara, Azka langsung memotong pembicaraan nya.


"Ga apa apa santai saja!" seru Azka. Tapi terlihat badan Azka sudah mulai bergetar.


Dea jadi merasa bersalah telah mengingatkan Azka tentang masa lalu itu. Masa lalu yang menyakitkan bagi Azka. Ucapan dan tubuh Azka tak bisa berkompromi. Berucap santai, namun badanya terus bergetar. Menandakan Azka masih troma dengan kejadian itu. Tragedi itu yang sudah hampir 10 tahun lebih itu. Tak mudah Azka lupakan begitu saja.


Mulut besar Dea. Telah membuat Azka merasa kan sakit lagi di palung hatinya. Azka tak menyangka bila rasa sakit itu masih ada daka hatinya.


Sebenarnya Dea, masih ingin mengobrol dengan Azka. Dea begitu merindukan Azka sahabatnya dulu. Namun karna ucapanya itu. Malah membuat Azka terpuruk lagi.


Sebelum meninggal rumah Azka. Dea minta maaf, yang teramat sangat. Dea meneteskan air matanya. Dea benar benar menyesali ucapanya itu. Walau bagaimana pun juga, ucapan Dea tak bisa di tarik kembali.


Tubuh Azka masih bergetar, setelah dua temanya pergi. Darania bingung dengan kondisi Azka sekarang. Terlihat Azka pucat sekali. Air matanya tak berhenti keluar. Membuat Darania terkejut, dengan apa yang terjadi pada Azka.


"Azka, kamu kenapa?" tanya Darania masih terkejut, karna kondisi Azka yang seperti orang sakit.


Azka tak menjawab pertanyaan Darania. Azka terus menangis. Membuat Darania semakin bingung.


"Azka, kamu kenapa?. Jangan buat aku takut Azka!. Aku mohon kamu berbicaralah" pinta Darania yang benar benar takut melihat kondisi Azka menangis dengan badanya yang bergerak.

__ADS_1


Azka melihat Darania. Seketika kilasan masa lalu itu, tentang tragedi berdarah itu, hilang sudah. Azka langsung memeluk Darania. Namun badanya masih terus bergetar.


Darania hanya bisa pasrah saat Azka memeluknya. Darania benar benar tak tau, Apa yang terjadi pada Azka. Darania tak bisa bertanya lagi pada Azka. Walau sebenarnya, Darania begitu penasaran dengan apa yang terjadi pada Azka itu.


Azka masih memeluk Darania dengan begitu erat. Beban yang selama ini di pukul Azka. Kini terasa lebih ringan saat memeluk Darania. Darania memang bisa membuat Azka merasa tenang dan nyaman.


"Aku mohon, tetaplah seperti ini, sebentar saja" bisik Azka. Karna saat ini Azka benar benar merasa lemah.


Darania hanya terdiam saja, Walau tak mengerti namun Darania, mengizinkan Azka memeluknya seperti biasa.


Lama sekali Azka memeluk Darania, entah apa yang ada dalam pikiran Azka saat ini. Yang jelas, Darania merasa sekarang hati Azka, sedang merasa sakit, Darania merasakan itu. Merasakan betapa hati Azka begitu rapuh untuk sekarang. Ada rasa sakit, kecewa, penyesalan dan entah lah, Darania sendiri bingung kenapa Darania merasa seperti ini.


Apakah Azka sedang merasakan perasaan ini?. Perasaan yang begitu menyakitkan ini. Perasaan kehilangan yang begitu dalam. Menyisakan rasa sakit yang teramat sangat menyiksa hati. Itu yang ada dalam pikiran pikiran Darania saat ini, tentang Azka.


Azka melepaskan pelukanya. Azka sudah tak meneteskan air mata lagi, badanya sudah tak bergetar lagi. Namun Azka malah melamun sekarang.


"Azka" pangil Darania pelan.


Azka melihat Darania, langsung Tersenyum.


Melihat senyum Azka. Membuat Darania merasa tenang.


"Maaf, karna melihat aku terpuruk seperti ini" ucap Azka pelan.


"Kamu, ga apa apa?" tanya Darania.


Azka terdiam lagi. Azka lama diam. Membuat Darania sedari tadi bingung dengan apa yang terjadi pada Azka setelah kedatangan temanya itu.


"Kamu, pasti udah mendengar kisah aku, dari Nadia kan" ucap Azka tiba tiba.


Darania mengingat tentang apa yang di ceritakan Nadia. Yah, tentang masa lalu Azka yang begitu menyakitkan. Kehilangan gadis yang begitu Azka sesali, Setelah melihatnya tewas di hadapannya sendiri. Bukanya itu sungguh tragis. Karna ini juga, yang membuat sikap Azka menjadi dingin dan cuek selama 10 tahun ini.


Azka dan Darania mengalami kisah yang berbeda selama 10 tahun ini. Darania disakiti, ditipu, dihiyanati, ditinggalkan, dicampakkan, oleh seorang Ibas. Hubunganya selama 10 tahun hanya kebohongan saja.


Karna Ibas, tak pernah mencintai Darania. Yang Ibas cintai hanya harta Darania saja. Begitu juga dengan Azka. Selama 10 tahun ini. Azka tak bisa move on, dari masa lalunya yang begitu nyakitikan. Membawa Azka, dalam penyesalan yang begitu dalam dan menyakitkan.

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa like yah. Pembaca setiaku jangan lupa mampir yah, ke Novel aku yang lain. "Irani Gadis Indigo" dan "Kisah Kita". Terima kasih sudah membaca.


__ADS_2