
Semalaman Bima dan Ben mencari keberadaan Bumi. Karna, ada berita yang tak mengenakan dari dari medsos yang mencemarkan nama baik Bumi. Sebelum ketahuan oleh orang tua mereka Azka dan Darania.
Ben dan Bima pun mencari Bumi ke tempat Haikal. Pagi sekali Dua kakak-beradik ini pun ke tempat Haikal yang menjadi tempat Bumi mangkal.
Ben dan Bima pun mengetuk pintu rumah Haikal, beberapa kali sampai seseorang membuka pintu rumah. "Eh, kalian," ucap Tobi salah satu teman Haikal yang sering menginap di rumah Haikal.
"Bumi ada di sini?" tanya Ben cemas.
"Yah," jawab Tobi masih menguap.
Bima dan Ben pun menutup mulut mereka berdua. Karna, Tobi baru bangun tidur dan napas Tobi sangat bau.
Tobi tersenyum melihat reaksi dari Ben dan Bima. "Mana Bumi?" tanya Bima.
"Ada di kamar," ucapnya sembari mengambil kunci kamar yang mengunci Bumi dan Kanaya.
Ben dan Bima mengerutkan keningnya. "Kalian mengunci Bumi sama siapa?" tanya Ben penasaran.
"Kanaya," jawab Haikal yang segera bangun setelah kedatangan Ben dan Bima.
"Kanaya," ucap Ben dan Bima mengerutkan keningnya merasa bingung.
"Kalian mengunci Bumi dan Kanaya dari kapan?" tanya Bima sama-sama penasaran.
"Dari jam tiga sore," jawab Tobi masih menguap.
Ben dan Bima saling melihat satu sama lain dan mengambil kunci kamar yang di pegang Tobi. Setelah itu membuka kamar yang mengunci Bumi dan Kanaya.
Terlihat Bumi dan Kanaya sedang tidur sambil berpelukan satu sama lain. Ben dan Bima pun mengelengkan kepalanya. Ben dan Bima pun membangunkan keduanya.
Bumi dan Kanaya pun terkejut saat melihat Ben dan Bima. "Ada masalah gawat Bumi!" seru Ben serius.
__ADS_1
Bumi dan Kanaya pun beranjak bangun. "Ada apa?" tanya Bumi penasaran.
Bima pun mengambil ponselnya dan memberikan sebuah Vidio yang viral semalam. Bumi dan Kanaya terkejut melihat Vidio itu sudah jelas bukan dirinya.
"Sialan, ini bukan aku? Semalaman aku bersama Kanaya," ucap Bumi kesal.
Kanaya mengangguk membenarkan ucapan Bumi. Kanaya pun memperhatikan laki-laki yang ada dalam Vidio itu. Bumi pun mengambil ponsel Bima dari tangan Kanaya. "Sudah jangan dilihat lagi? Itu bukan aku? Aku tak mungkin melakukan hal itu pada Prita kalau sama kamu aku mau!" goda Bumi sambil tersenyum.
Ben dan Bima pun tersenyum. Ben teringat dengan Alexsa saat melihat itu. Rasanya Ben juga tak bisa melupakan kejadian itu.
"Kita harus mencari bukti!" seru Bima khawatir kalau saudaranya akan terkena masalah seperti ini.
Ponsel Ben pun berbunyi. Ben melihat siapa yang menelponnya. "Bunda?" ucap Ben khawatir.
"Kita sebaiknya pulang," ajak Bima
Bumi menganguk.
"Jangan Sayang, bahaya! Biar aku dan yang lain yang menyelesaikan semua ini!" seru Bumi.
"Tapi...." ucapan Kanaya terhenti saat Bumi memotong ucapannya.
"Jangan Sayang, aku yakin semua akan membantuku untuk masalah ini. Karna, aku tak salah dan tak sendiri," ucap Bumi sambil tersenyum.
"Mending, kamu pulang saja Kanaya? Percaya pada kita? Aku akan membantu Bumi mengungkapkan siapa laki-laki yang menyerupai Bumi. Aku ahlinya," ucap Tobi percaya diri.
"Benar yang diucapkan Tobi, Kanaya!" ucap Haikal.
Kanaya pun mengangguk walau sebenarnya ia khawatir dan cemas apa yang terjadi pada Bumi. Belum apa-apa, Prita sudah membuat rencana licik. Kanaya hanya bisa berharap kalau kalau semua masalah ini akan selesai secepatnya.
Setelah mengantarkan Kanaya pulang ke kost-annya. Ben, Bima, Bumi, Tobi dan Haikal pun pulang ke rumah orang tuanya.
__ADS_1
Sampai rumah sudah ada beberapa polisi yang datang untuk menangkap Bumi. Laki-laki itu pasrah saja membiarkan polusi itu melaksanakan tugasnya karna, Bumi yakin kalau itu bukan dirinya.
Terlihat Darania syok dan menangis melihat putra keduanya itu ditangkap polisi. Sebelum ikut ke kantor polisi, Bumi pun menghampiri Darania. "Bunda, percayakan sama anakmu ini. Aku tak mungkin melakukan hal kurang aja itu. Jadi Bunda jangan bersedih aku tak apa-apa? Karna, aku tak bersalah," ucap Bumi memberikan semangat untuk Darania.
Darania masih saja mengangguk mempercayai putranya. Akan tetapi Ibu mana yang tega melihat putranya masuk masuk penjara karna, fitnah seseorang. Bumi pun menghapus air mata Darania.
Dua orang polisi itu pun membawa Bumi ke kantor polisi. Darania dan Ben pun ikut ke kantor polisi karna, Ibunya memaksa untuk ikut. Sedangkan Bima, Haikal dan Tobi pun mulai mencari bukit dengan mengunakan Laptop milik Tobi yang seorang hacker itu.
Tobi seorang ahli IT kemampuannya melebihi yang lainnya. Apa pun bisa ia tuntaskan. Baginya ini mudah dan cepat atau lambat akan mendapatkan siapa pelaku yang sebenarnya.
Di kantor polisi Januar dan Prita sudah ada di kantor polisi. Prita yang melaporkan semuanya sambil menangis tersedu-sedu seolah-olah menjadi korban. Sedangkan Januar yang mempercayai ucapan putrinya itu tanpa mencari bukti terlebih dahulu langsung ikut melaporkan kejadian yang menimpa putrinya itu.
Januar geram melihat Bumi hampir saja akan memukulnya namun, Bumi tak takut sama sekali. "Silahkan saja anda memukulku? Aku akan melaporkan balik putri anda atas pencemaran nama baik setelah aku mendapatkan bukti kalau aku tak bersalah," ucap Bumi menantang Januar.
Mendengar ucapan Bumi, Januar kesal bukan main bukanya minta maaf atau mengakui kesalahannya ini malah akan melaporkan balik putrinya. Sedangkan Prita terlihat pucat takut Bumi menemukan bukti yang sebenarnya kalau laki-laki dalam Vidio yang sudah viral itu bukan Bumi melainkan Thomas.
Ben memperhatikan raut wajah Prita yang tiba-tiba saja pucat mendengar ucapan dari Bumi yang menantang Januar yang akan melaporkan balik putrinya.
Januar pun mendekati Bumi yang sudah masuk penjara. "Lebih baik kamu akui perbuatan mu? Aku akan mencabut laporanku!" seru Januar.
"Tidak akan pernah aku akui perbuatan yang bukan aku yang melakukannya," ucap Bumi semakin menantangnya.
"Baiklah jika ini yang kamu siap-siap saja mendekam dalam penjara?"
"Harusnya anda yang bersiap karna, aku akan menuntut putri anda balik dan siap-siap putri anda yang akan mendekam di penjara," bentak Bumi kesal dan semakin membenci Prita karna, sudah membuatnya seperti ini.
Januar pun melangkah meninggalkan Bumi. Pria itu sangat kesal karna, putrinya begitu mencintainya. Prita masih saja pura-pura menangis berharap mendapatkan simpati orang-orang karna, ia seolah-olah menjadi korban. Prita tak tau kalau Bima, Tobi dan Haikal sudah mempunyai bukti yang sebenarnya dan akan segera ke kantor polisi untuk membebaskan Bumi yang tidak bersalah. Kanaya masih harap-harap cemas berdoa pada Tuhan agar pelaku sebenarnya segera terungkap.
Bersambung...
Jangan lupa like dan komen yah untuk meninggalkan jejak kalian dan mampir juga ke karya Author yang lain terima kasih.
__ADS_1