
Bumi melangkah dengan riang tak menyangka kalau akhirnya ia masuk bisa masuk kampus impiannya. Saking senangnya ia pun sampai tak memperhatikan jalan.
Brukkk
Tiba-tiba saja ia menabrak seseorang sampai keduanya terjatuh secara bersamaan. "Aww," guman seorang gadis yang membuat Bumi terkejut. "Kanaya," panggilnya
Gadis tersebut pun terkejut saat namanya dipanggil seseorang yang tak asing baginya. "Bumi," panggilnya beranjak bangun.
Melihat gadis tersebut bangun, Bumi pun ikut beranjak. "Kamu sedang apa di sini?" tanyanya ketus.
"Kamu sendiri lagi apa?" tanyanya kembali tak kalah judes dari Bumi sembari berpaling namun, hatinya bergetar tak tentu.
Bumi menghembuskan napas panjang. "Kenapa sih selalu mengikuti aku terus," bentaknya tiba-tiba membuyarkan lamunan gadis itu yang tak bisa mengontrol hatinya yang tak menentu setelah pertemuannya kembali dengan Bumi.
"Hello, ini bukan kampus nenek moyangmu! Siapapun bebas kuliah di sini," bentaknya ikut emosi meninggalkan laki-laki itu yang selalu saja marah setiap bertemu dengannya.
"Urusan kita belum beres." tahan Bumi sembari memegang tangan kanannya.
Entah kenapa? Hatinya tak tenang. Debaran ini membuatnya tak bisa lagi menyembunyikan perasaannya selama ini. "Tuhan, kenapa kita bertemu kembali dengannya," pikirnya sendiri. Kanaya menghembus napas panjang kemudian menghempas tangannya dari genggaman Bumi.
"Urusan apa lagi?" bentaknya lagi.
"Kamu tuh setiap ketemu aku selalu saja nyolot ngajak ribut. Bisakah kita seperti dulu lagi," pintanya memohon tak melepaskan genggaman.
Ucapannya begitu menggetarkan hatinya. "Tak bisa! Setelah apa yang kamu lakukan pada Mayang," ucapnya melepaskan secara paksa dari genggaman Bumi dan berlaku meninggalkan Bumi dengan hati yang tak menentu.
Bumi hanya bisa menatap gadis itu dari belakang. Tak bisa ia sentuh lagi. "Kenapa harus sesulit ini sih? Untuk bisa mencintaimu, Kanaya," gumannya lirih.
Dengan hatinya tak menentu, Bumi pun kembali melangkah tak ingin melihatnya lagi. Semua kenangan bersamanya sirna sudah.
__ADS_1
Sedari tadi hatinya berdebar tak menentu. Kanaya terus memegang dadanya. Rasanya sesak sekali harus berpura-pura membenci laki-laki yang selalu ia rindukan selama ini.
Hampir dua tahun dari saat itu hatinya tetap sama merasakan rasa cinta yang pernah ada dalam hatinya. Selama dua tahun ini juga ia, berusaha melupakan rasa cintanya padanya. Akan tetapi rasa itu tak bisa ia lupakan begitu saja. Kanaya takut mencintainya hanya akan menyakiti Mayang. Gadis tersebut menghapus air matanya. Dengan berat hati ia pun menoleh untuk melihat Bumi dari belakang yang sudah berada jauh darinya. Setelah itu Kanaya pun kembali melangkah.
Bumi pun masuk jurusan sebagai siswa tingkat pertama di jurusan animasi yang selalu ia cita-citakan. Begitu mudah baginya untuk mendapatkan teman baru dan semua serba baru. Semua begitu indah yang terlihat. Namun sampai saat ini hatinya tak bisa apgrade dari model lama.
Dari dulu sampai sekarang hanya Kanaya saja seorang gadis cantik nan manis yang mengisi hatinya. Walaupun sudah mencoba dengan gadis lain tetap saja ia tak bisa melupakan rasa cintanya pada Kanaya.
Bumi sadar diri kalau ia tak mungkin bisa mendapatkan gadis tersebut. Dalam keramaian pun ia masih merasa sepi. "Tuhan, kenapa selalu gadis itu yang ada dalam hatinya?" pikirannya sendiri.
Lamunan buyar saat seseorang mendekati. "Bumi," panggilnya. Laki-laki itu mengerutkan keningnya. Sama sekali tak mengenali siapa gadis yang memanggilnya. "Siapa?" tanyanya bingung.
"Kenalkan aku Prita," ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
"Bumi." menjabat uluran tangan gadis tersebut yang baru saja ia kenal hari ini.
"Semester ini kita akan sering bersama. Mohon kerjasama," ucapnya lagi.
Gadis itu pun berlalu meninggalkan Bumi yang masih bingung dengannya.
"Cie-cie langsung dapat gebetan nih," goda Haikal sambil senyum-senyum sendiri.
"Apa-an sih! enggak jelas!"
"Kamu itu enak dan harus bersyukur karna, para gadis mendekatimu duluan," ucapnya pesimis.
"Kamu ngomong apa sih? Tak enak tau dalam satu rumah mempunyai wajah yang sama sampai orang lain pun menganggap sama padahal beda."
"Aku kagum loh sama kalian!" seru Haikal sumeringah.
__ADS_1
"Kagum kenapa? Aku masih normal?"
"Yah, kalau aku perempuan pasti aku suka sama kalian."
Bumi mengelengkan kepalanya. Haikal teman baiknya dari SMA. Geng Catrut ada enam orang dengan lima laki-laki dan satu perempuan. Ben, Bumi, Bima, Haikal, Restu dan si cantik Alexsa. Kita tuh kompak. Namun, hanya Bumi dan Haikal yang mempunyai hobi yang sama gambar mangga, kartun dan anime. Ben juga mengambar namun, ia lebih ke desain grafis. Bima malah suka masak dan suka masak makanya badannya paling besar diantara Ben dan Bumi. Restu ia mengambil jurusan sastra ia ingin menjadi penulis sedangan Alexsa walaupun ia tomboy namun, sekarang ia sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan super model.
Dan hampir enam bulan ini, kita sudah jarang kumpul hanya Haikal saja yang setia bersama tiga bujang kembar ini.
Pandangannya teralihkan saat melihat Kanaya. Lagi-lagi gadis itu. Di mana pun ia berada selalu saja bertemu disengaja maupun tidak. Bumi sampai tak berkedip melihatnya.
Setelah dua tahun berlalu Kanaya masih tetap cantik seperti dulu. Perasaan masih dah dig dug tak jelas. Rasanya lelah memendam perasaan yang tak bisa diungkapkan.
"Kanaya Brow," guman Haikal.
"Yah."
"Kalian sudah bertemu terlebih dahulu," tanya Haikal pemasaran.
"Yah, sikapnya masih sama seperti dua tahun yang lalu," gumannya sedih.
Haikal menatap wajah sahabat baiknya ini. Ia tau bagaimana frustasi Bumi saat Kanaya memutuskannya setelah Mayang meninggal. Padahal sudah tak ada halangan lagi tapi, tetap saja tak bisa bersama. Haikal merasa kasihan pada Bumi.
Haikal tahu keduanya memiliki perasaan yang sama. Semua karna, Mayang setelah Mayang meninggal pun ia masih menjadi halangan untuk keduanya bersama. Sifat keras kepala Kanaya yang membuat keduanya tak bisa bersama.
Bumi yang gengsinya terlalu besar pun menjadi alasan keduanya tak bisa bersama. Terkadang Haikal lelah melihat mereka berdua yang saling menyakiti. Mereka lebih mementingkan ego masing-masing dari pada perasaan dalam hatinya.
Haikal masih memperhatikan Bumi yang begitu mencintai Kanaya. Rasa cintanya itu terlihat dari tatapan matanya yang tak bisa berbohong kalau perasaan diantara keduanya pun masih ada tersimpan dalam lubuk hatinya.
Haikal menghembuskan napas panjang. Terserah saja tak mau ikut campur. Laki-laki itu masih belum mendapatkan pacar. Setiap gadis yang ia sukai pasti menyukai tiga kembar ini. Capek berteman dengan mereka rasanya Haikal hanya menjadi bayangan dari ketiga sahabatnya ini. Kasihan amat yah nasib Haikal. Namun, hanya mereka bertiga saja yang paling setia menemaninya dalam suka dan duka Haikal yang hidupnya suram.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like dan komennya untuk meninggalkan jejak kalian dan mampir juga ke karya Author yang lain terima kasih.