
Darania merasa cemas dengan Lilian. Tanpa sepengetahuan Lilian, Darania mengikuti Lilian dari belakang. Lilian sudah mencari sekeliling namun Elsa dan Yasmine tak ada. Membuat Lilian hampir menangis.
"Kamu kenapa Mba?" tanya Darania ikutan lelah karna, mengikuti Lilian dan Elma mencari Elsa dan Yasmine.
Lilian memeluk Darania. Darania bingung. Karna, Lilian malah menangis.
"Dara, Elsa dan Yasmine menghilang!" seru Lilian sudah menangis.
Darania tersenyum, jadi Lilian muter muter itu mencari Elsa dan Yasmine. Darania melepaskan pelukan Lilian.
"Jadi Mba nyari Elsa sama Yasmine" ucap Darania.
Lilian menganguk.
"Yasmine sama Elsa ada kok" guman Darania.
"Di mana?"
"Dari tadi mereka ada diruang Elis"
Lilian menghapus air matanya dan menepuk keningnya, "Ya ampun kok aku ga kepikiran ke sana yah".
Darania tersenyum.
"Syukurlah kalau mereka ada di sana. Aku kwatir sekali" Lilian merasa lega.
"Momy" pangil Elsa dari belakangnya.
Lilian menoleh, begitu senangnya melihat putri kecilnya langsung memeluknya. Elma anak tertua Lilian begitu lega melihat adiknya ini. Elma benar-benar kwatir bila adiknya ini, beneran hilang.
Yasmine masih memegang tangan Azka. Sedari tadi Azka mengasuh Yasmine dan Elsa karna, memcari Lilian dan juga Darania.
Darania tersenyum melihat Yasmine. Yasmine membalas senyuman Darania.
"Om-om Tante itu, pacarnya Om'nya?" tanya Yasmine dengan suara lantang sambil menunjuk Darania.
Azka tersenyum begitu juga Darania. Darania melihat kedekatan Yasmine dengan Azka. Yasmine begitu akrab dengan Azka. Tak segan-segan untuk meminta apapun?. Azka selalu menuruti semua keinginan Yasmine. Darania hanya tersenyum melihat sisi lain dari calon suaminya itu.
Di balik sikap cuek dan dingin. Azka ternyata sosok yang hangat dan penyayang. Darania merasa beruntung memperhatikan Azka dan Yasmine ke sana ke mari mengikuti Yasmine dan Elsa. Dua bocah itu, seperti sengaja mengerjai Azka. Azka tak marah. Walau terlihat lelah Azka masih menuruti keinginan Yasmine dan Elsa.
__ADS_1
"Azka kaya baby sitter yah" bisik Lilian sambil tertawa-tawa melihat Azka tak bisa diam. Karna terus di gangu Elsa dan Yasmine.
Darania tersenyum.
"Mom aku dapet, anter aku ke toilet?" bisik Elma pada Lilian.
Lilian menganguk.
"Dara, aku ke toilet dulu yah, anakku dapet" bisik Lilian pada Darania meminta Izin.
Darania menganguk.
Darania melihat Lilian dan Elma berlaku melewati kerumunan orang-orang di pesta pernikahan. Darania tak melihat Azka. Entah ke mana dua bocah itu, membawa Azka. Hingga Darania ditinggalkan sendiri.
Hingga seseorang menarik tangan Darania. Darania menoleh ternyata, Ibas!.
Darania menghempas tangan Ibas, untuk melepaskan tangan Darania.
"Jangan pernah datang ke hadapanku lagi!" bentak Darania berpaling, mulai melangkah pergi. Namun lagi-lagi di halangi Ibas dengan menegang tangan Darania semakin erat. Hingga Darania tak bisa melepaskan tanganya dari genggaman Ibas.
Darania menoleh lagi, "Lepasin aku!" bentak Darania lagi.
Darania terpaksa, mengikuti Ibas. Walau hatinya sudah kesal dan tak ingin berurusan lagi dengan Ibas. Ibas sudah menjadi suami Vivian. Darania tak ingin Vivian cemburu bahkan salah paham. Darania sudah memilih Azka.
Darania melihat sekitar, Darania berharap Azka datang untuk membawa pergi Darania dari tangan Ibas. Namun sepertinya tak ada tanda-tanda Azka akan muncul.
Ibas menghempaskan tangan Darania sampai Darania akan terjatuh, untuknya Darania segera berpegangan ke tembok hingga Darania tak terjatuh ke lantai.
"Lama aku nunggu saat ini" ucap Ibas sambil menarik tangan Darania lagi dan melepaskannya lagi. Ibas mendorong tubuh Darania sampai nempel pada tembok. Tangan kanan Ibas, memegang tembok. Muka Darania dan Ibas menjadi lebih dekat. Hanya berjarak beberapa centimeter saja.
"Mau ngapain kamu?" tanya Darania mulai ketakutan karna, wajah Ibas begitu dekat dengan Darania.
Ibas tersenyum, membelai lembut wajah Darania. Namun segera Darania tepis tangan Ibas.
"Jangan sentuh aku!" seru Darania murka. Darania sudah terlalu sakit hati dengan perbuatan Ibas. Darania benar-benar muak dengan Ibas.
"Kamu jadi galak sayang" guman Ibas mengoda Darania.
Darania mendorong tubuh Ibas dengan sekuat tenaganya membuat Ibas hampir terjatuh. Namun Tubuh Ibas masih seimbang. Darania mulai melangkah namun lagi-lagi di halangi Ibas.
__ADS_1
"Kamu mau apa lagi?"
"Kita belum selesai bicara Dara?"
"Apa lagi yang harus aku dengar dari kamu?!"
"Aku ingin kamu dengarkan aku, setelah itu terserah kamu"
"Kamu mau bilang apa lagi, sudah cukupkah kamu nyakitin aku, dengan memilih Vivian"
"Itu kesalahan aku, Aku akan mengembalikan semua yang aku ambil darimu. Asalkan kamu mau kembali padaku" ungkap Ibas penuh penyesalan.
PLAK tampar Darania pada pipi sebelah kirinya.
"Kamu sudah tidak waras, kamu laki laki beristri, kamu juga seorang Ayah. Pantaskah kamu berbicara kurang ajar seperti itu" bentak Darania hampir menangis, kedua matanya sudah berkaca-kaca hampir menangis.
Ibas masih memegang pipi kirinya yang di tampar Darania. Tamparan itu, cukup keras dan kuat. Pipi Ibas terlihat bengkak dan merah meninggalkan bekas yang cukup terlihat.
"Aku menyesal Dara. Tolonglah, kembali lagi padaku. Aku janji akan mengembalikan semua milikmu dan juga mengembalikan Ayahmu!" seru Ibas.
Darania terkejut dengan ucapan Ibas. Ayah Darania ternyata selama ini, bersama Ibas. Pantas saja, sudah mencari kemana-mana tak ketemu. Ternyata Ibas sudah merencanakan ini.
"Aku tak meminta jawabanmu sekarang, Aku ingin kamu tinggalkan Azka. Jika ingin Ayahmu selamat" ucap Ibas melangkah pergi Darania.
Darania menangis sejadi-jadinya. Darania bingung harus apa?. Dari jauh Vivian melihat Ibas dan Darania yang sedang berbicara. Vivian begitu memcintai Ibas. Tak ingin Ibas kembali pada Darania.
Vivian segera mencari Azka. Vivian yakin hanya Azka yang bisa menyelamatkan Ayah dari Darania. Vivian sudah cukup bersalah pada keluarga Darania. Kini, Vivian harus menolong Darania. Agar Ibas tak meninggalkan.
Vivian berhasil menemui Azka. Azka masih belum tau, tentang keberadaan Darania. Vivian mengajak Azka untuk berbicara serius. Awalnya Azka menolaknya untuk berbicara serius dengan Vivian.
Vivian memaksa Azka, karna, ini soal Darania. Azka pun mau mendengarkan Vivian berbicara. Vivian memceritakan semua yang Vivian dengar tadi. Tentang ucapan Ibas pada Darania. Awalnya Azka tak percaya. Namun Vivian bersumpah, kalau yang di katakannya itu benar.
Vivian menunjukan Saat Ibas berbicara dengan Darania tadi. Benar saja, Darania masih menangis sendiri di sana. Azka datang menghampiri Darania yang sedang menangis. Vivian tak berani mendekati Darania. Vivian hanya melihat Azka dan Darania dari jauh. Azka memeluk Darania dengan begitu erat. Darania belum bisa menceritakan semua pada Azka. Darania masih merasa takut akan kehilangan Azka. Azka pun membiarkan Darania menangis sampai puas. Tak bertanya apapun. Menunggu sampai Darania lebih baik.
Bersambung...
Maafnya up nya telat.
Like yah jangan lupa yah...
__ADS_1
Mampir juga ke novel Author yang lain yah. "Irani Gadis Indigo" dan "Kisah kita" Terima kasih