
Semalaman wanita itu, tak bisa memejamkan matanya, kedua matanya sebab karna, sedari tadi menangis. Lilian bingung harus bagaimana? Hatinya begitu sakit melihat pria itu lagi? Begitu mudah ia, meminta maaf dengan semua yang telah ia lakukan kepada wanita itu.
Wanita tersebut, melihat kedua putrinya Emma dan Elsa. Keduanya tertidur, di sampingnya. Emma pun, berbalik badannya melihat ibunya masih menangis mengingat sakit hatinya.
"Bunda," panggil Emma
Wanita itu pun, menghapus air matanya dengan ujung jarinya, "Kok kamu belum tidur sayang?" tanyanya sambil tersenyum masam.
"Aku tak bisa tidur bunda,?" jawabnya masih memperhatikan raut muka wanita itu.
"Kenapa? Bukanya besok kamu sekolah?" tanya wanita itu lagi.
"Bagaimana, aku bisa tidur kalau Bunda menangis terus," ucapnya sambil tersenyum.
Wanita tersebut tersenyum, "Maafkan bunda yah sayang? Kamu tidur gih, besok kamu harus sekolah."
"Bunda, tadi sore ayah jemput kita di rumah nenek, ayah menangis menyesali perbuatannya. Nenek sampai menampar ayah sambil menangis. Ayah memaksa membawa kita pulang. Elsa tak mau deket-deket Ayah. Dia takut sama ayah," tutur Emma menjelaskan semuanya kepada ibunya.
Wanita itu, memeluk putrinya Emma sambil menangis kembali. Pria itu, membuat ia merasakan sakit hati yang teramat sangat dalam hatinya.
Esoknya, wanita itu sudah bersiap untuk bekerja. Pria itu, berdiri di depan pintu rumahnya. Namun sikap wanita itu dingin, tak menghiraukan pria itu.
"Ayah antar kalian, ke sekolah yah?" ajaknya sambil tersenyum.
Elsa menggelengkan kepalanya, sedangkan Emma hanya diam saja tak berekspresi. Wanita itu, menyuruh ke dua putrinya untuk ikut bersamanya. Melakukan aktivitas seperti biasa. Kedua putrinya di antar ke sekolah oleh ibunya.
Pria itu terdiam, tak akan mudah untuk membujuk wanita itu. Ia bersabar dan berusaha suatu hari ini, wanita itu akan memaafkannya.
Dalam perjalanan mengendarai motornya, wanita itu menangis kembali. Hatinya begitu sakit, kenapa pria itu datang lagi dalam hidupnya, setelah ia terbiasa bernafas lagi tanpanya. Hatinya begitu sakit, tak ingin memaafkan pria itu sama sekali. Yang ada di pikirannya, untuk mengurus surat perceraian saja. Wanita itu menginginkan perpisahan selesai selama-lamanya dengan pria itu.
__ADS_1
Sampai di Resto, wajahnya masih bengkak karna, menangis semalam. Soni dan Azka tak berani bertanya apapun kepada wanita itu. Kedua laki-laki itu, memilih untuk membiarkanya saja, walau sebenarnya mereka berdua penasaran dengan apa yang terjadi kepada wanita itu.
Pria bernama Angga itu, telah diterima oleh Azka untuk mengantikan pekerjaan Darania. Pria itu, lulusan S2 kepintarannya melebihi Azka, walau pun umurnya sudah tak muda lagi, namun pria itu masih tampan dan hebat.
Clek.
Suara pintu di buka dari luar. Lilian memcoba menyibukkan dirinya untuk tetap fokus, tak ingin mencampuri urusan pribadinya dengan pekerjaannya. Apalagi, banyak pekerjaan yang harus diurus. Shintia, Elis dan Darania keluar bersamaan membuat ia dan Soni yang harus mengerjakan semuanya.
Wanita itu masih belum menyadari kalau pria tersebut sudah memasuki ruangannya. Azka tersenyum melihat wanita itu, "Mas Angga, bila ada yang perlu ditanyakan , bisa ditanyakan kepada Mba Lili," ucap Azka memberikan setumpuk berkas kepada pria itu, dan meninggalkan pria itu bersama wanita itu.
"Mas, maaf mejaku sebelah mana yah,?" tanyanya bingung.
Azka pun menoleh, " Terserah Mas Angga saja, di mana saja boleh," ucapnya sambil tersenyum.
Pria itu pun masuk, bingung memilih duduk di mana, ia pun memilih duduk disamping tempat Lilian, tempat Elis dulu. Pria itu berpikir akan lebih mudah bila duduk di sana, bila ada yang ia tanyakan kepada wanita itu, tinggal menepuk pundaknya.
Kring kring kring.
Suara ponsel Lilian berbunyi, wanita itu pun menggangkat telponnya, "Halo," ucapnya.
"Bunda," ucap seseorang dari bari telpon.
Wanita pun menutup telponnya. Dan mematikan ponselnya. Tak ingin pria itu mengganguknya lagi. Ia pun memijit-mujit keningnya kepalanya pusing mengingat suara pria tersebut. Wanita pun menghembuskan nafas panjang. Begitu terkejutnya ia saat di lihatnya seseorang pria telah duduk di sampingnya. Pria itu, tesenyum karna, sedari tadi memperhatikannya. Wanita itu pun berpaling, "Sejak kapan dia duduk di sini," tanyanya dalam hati.
"Mba," panggil pria itu.
Lilian menoleh, deg kedua hati dua orang manusia itu bergetar. Benar-benar seperti tersengat listrik. Keduanya berpaling kembali. Keduanya mulai bingung dengan hatinya mereka, "Ada apa dengan hatinya," ucap keduanya secara bersamaan dalam hatinya.
Pria itu pun mencoba untuk membuang jauh-jauh debaran hatinya yang entah kenapa membuatnya merasa bingung, "Mba kita belum berkenalan," ucap pria itu.
__ADS_1
Lilian pun tesenyum walau hatinya, masih tak tenang, masih bingung dengan hatinya sendiri.
"Aku Angga, salam kenal dan mohon bantuannya," ucapnya lagi sembari mengulurkan tangannya.
"Lilian," ucapnya menjabat tangan pria itu.
Deg, keduanya saling menatap satu sama lain. Ada sesuatu yang membuat mereka resah dengan perasaan yang tak bisa di mengerti. Lamun keduanya buyar ketika Soni dan Azka berdehem, Ehmmmm.
Wanita itu pun melepaskan tanganya dari tangan pria itu, sedangkan pria itu tersenyum kepada Azka dan Soni.
"Sudah sesi perkenalannya," goda Soni duduk di kursinya.
"Apa'an sih?" guman Lilian berpaling, kembali mengerjakan pekerjaannya.
"Mba, matanya kenapa?Habis nangis yah?" ucap Soni lagi.
Angga kembali melirik Lilian, tadi ia benar-benar tak memperhatikan apa yang terjadi dengan wajah wanita itu. Sedangkan Azka tersenyum masih berdiri memeriksa berkas-berkas di meja Soni.
Mendengar ucapan Soni, wanita itu kembali menangis sejadi-jadinya membuat Soni, Azka dan Angga bingung apa yang terjadi kepada wanita itu.
"Son Lo, ngomong apa? Lihat Mba Lili nangis lagi," guman Azka menepuk jidatnya sendiri bingung dengan wanita ini. Lilian dari kemarin menangis terus-menerus membuatnya pusing. Karna, pekerjaannya akan semakin menumpuk.
Soni mengelengkan kepalanya, bangkit dari tempat duduknya berjalan ke meja Lilian. Sedangkan Angga masih memperhatikan, tak tau apa yang terjadi dengan wanita di sebelahnya itu.
"Mba kenapa sih? Maaf kalau kata-kata aku menyinggung Mba," ucapnya pelan takut salah berbicara lagi.
Namun wanita itu, terus saja menangis. Sebenarnya bukan karna, ucapan Soni ia menangis! Semua ini, gara-gara suaminya yang datang kembali dalam kehidupannya yang damai membuat ia merasakan kembali sakit hatinya. Namun rasa sakitnya itu, tak biasa wanita itu jelaskan kepada tiga laki-laki ini.
Bersambung....
__ADS_1