
Masih Flashback.
Malam sudah larut, Namun Kedua anak itu, masih belum sadar. Arita merasa khawatir kepada keponakanya dan dan juga Nia.
"Kenapa mereka belum bangun juga?" tanya Arita khawatir pada dua anak ini.
"Dua anak ini, sedang berada di alam lain. Aku akan berusaha untuk membawa mereka pulang kembali, tolong jaga dua anak ini. Jangan sampai kalian lengah dan tertidur. Apabila salah satu dari kalian ada yg tertidur satu lagi harus sadar. Jangan sampai kalian tertidur bersama. Karna, akan bahaya bagi Azka dan Nia," jelaskan Irani.
Rudi dan Arita melihat ke arah Mbah Buyut, ia mengangguk untuk menuruti perkataan Irani.
"Mbah akan bantu, Nak Irani, jangan tinggalkan Azka dan Nia hanya berdua saja? Apapun yang terjadi kalian harus tetep disini," ucapnya.
Rudi dan Arita mengangguk. Irani dan Ci Mbah berdo'a pada yg Maha kuasa, Agar bisa menolong dua anak tak berdosa itu. Irani, masih membaca ayat ayat kitab suci Al Qur'an, dengan pelan, tanpa menyentuhnya, ia sedang datang bulan. Dibantu oleh dua teman gaibnya Cris dan Bela. Mbah Buyut segera mengambil Al Qur'an di meja dekat tv. Setelah berwudhu terlebih dahulu, ia duduk samping Azka dan Nia dan mulai membaca ayat suci Al-Qur'an.
Malam itu, suasana begitu mencekam. Ada rasa takut dihati, Rudi dan Arita. Namun mereka berdua harus menjaga Azka dan Nia. Berusaha menghilangkan rasa takut itu.
Tiba-tiba di rumah itu, angin begitu kencang,
sampai jendela dan Pintu rumah Irani terbuka.
Cklek.
Suara pintu tiba-tiba terbuka begitu keras. Membuat Arita dan Rudi terkejut dan kaget bukan main.
"Astaga," guman Arita terkejut melihat pintu rumah terbuka sendiri.
Arita beranjak berdiri, hendak menutup pintu, namun di cegah Rudi, dengan memegang tangan istrinya untuk tak keluar.
"Jangan, ingat yg di ucapkan ci Mbah tadi," gumannya mengingatkan istrinya.
Arita mengangguk dan kembali duduk, di samping Azka dan Nia.
Bleduk.
__ADS_1
Suara itu, begitu keras, seperti benda keras terjatuh dari arah dapur, membuat semuanya terkejut. Sampai ci Mbah dan Irani menghentikan mengajinya sesaat. Namun keduanya kembali lagi mengaji melantunkan ayat-ayat suci Al Qur'an, dengan suara yang lantang.
Arita dan Rudi saling memandang, rasa takut mulai menyelimuti Arita. Dengan erat, Arita memegang tangan suaminya. Rudi pun mencoba menenangkan istrinya.
Pluk.
Suara dari atas genting, begitu keras membuat debu dari atas langit langit rumah mulai berjatuhan ke kepala mereka. Seperti ada seseorang melempar benda berat ke atas genting rumah Irani.
Arita, mengusap debu di kepala Azka dan Nia. Yang membuat kepala Azka dan Nia kotor. Suami-istri itu, saling membersihkan kepalanya masing-masing. Karna debu itu, begitu Kotor! Membuat rambut mereka berwarna putih.
Serangan itu, terus-menerus menyerang rumah Irani. Membuat Arita begitu, Ketakutan dan Rudi terus, menenangkan istrinya itu. Karna, Rudi dan Arita tak meninggalkan Azka dan Nia. Membuat serangan-serangan itu, berhenti sejenak, suasana tenang seketika.
"Mas, sepertinya sudah tak ada lagi serangan," bisik Arita pada telinga suaminya.
"Kita, jangan lengah sayang, siapa tau ada serangan lanjutan?" bisik kembali Rudi pada istrinya.
Arita menganguk.
Suasana, malam ini begitu tenang sekali. Hanya terdengar suara lantunan ayat suci Al Qur'an yg di lantunkan Irani dan Mbah Buyut.
Ceket ceket ceket.
Suara itu, berisik sekali! sesekali Arita melihat keluar jendela. Namun tak ada siapapun di sana? Membuat bulu kuduknya berdiri seketika. Saat Arita tak melihat jendela, ada bayangan hitam yang memperhatikannya dari luar.
Glek.
Arita menelan Salivanya. Terlihat dari ujung matanya seseorang melihat ke arahnya. Ia tak berani melihat balik, begitu takut. Tak bisa bercerita pada suaminya. Karna terlihat suaminya, sudah kelelahan menjaga Azka dan Nia.
Rudi, mulai mengantuk. Entah mengapa matanya begitu berat? Ingin sekali ia tertidur. Namun segera menyadarkan dirinya sendiri, tak bisa meninggalkan istrinya sendiri. Menjaga Azka dan Nia, matanya sudah merah menahan kantuk yang begitu berat.
"Mas bisa tidur duluan, Biar aku yang menjaga mereka sementara," ucap Arita kasihan melihat suaminya, sudah terlihat lelah berjaga dua anak itu.
"Baiklah sayang, aku tidur duluan. Kalau ada apa-apa segera bangunkan Aku," ucapnya tertidur seketika. Sedari tadi menahan kantuk yang begitu tak tertahankan.
__ADS_1
Sebenarnya Arita lelah, namun ia tak bisa tidur, bila keadaanya seperti ini. Rasa takutnya begitu kuat di banding rasa kantuknya.
Mbah Buyut dan Irani menutup matanya Mulut nya masih melantunkan ayat suci Al-Quran. Raganya mungkin masih di sini. entah lah dengan jiwa mereka. Tinggal Arita yang sadar di sini. Sebisa-bisa ia membaca surat-surat pendek Al Qur'an, untuk menghilangkan rasa takutnya. Malam ini, belum pernah selama hidupnya mengalami kejadian ini. Namun demi keponakanya. Ia berusaha menghilangkan rasa takutnya.
"Aduh aku ingin pipis lagi," gumanya sendiri. Rasanya tak tega bila harus membangunkan suaminya. Apabila Ia merasa ketakutan, entah kenapa ia slalu ingin ke kamar mandi? Padahal setelah ke kamar mandi, tak keluar air maninya. Sebisa mungkin ia menahan, namun semakin ingin buang air keci, dan semakin menjadi.
Arita berlari ke kamar mandi tanpa membangunkan suaminya, "Tak apa-apa lah meninggalkan mereka sebentar," gumanya. Sesegera mungkin, ia kamar mandi untuk melepas air maninya dengan cepat. Ia sudah tak tahan. Setelah itu, ia keluar kamar mandi. Begitu terkejutnya dengan apa yang dilihatnya bayangan hitam hendak masuk pada tubuh Azka dan Nia.
"Mas Rudi," teriak Arita di pintu kamar mandi membuat Rudi segera terbangun. Alangkah terkejutnya ia, Karna hampir saja, bayangan hitam itu, masuk ke badan Azka dan Nia.
Mendengar teriakan Arita bayangan hitam itu segera menghilang. Dan malah berbalik menyerang Arita.
"Mas to-lo- Ng," ucapnya terbata-bata. Lehernya sudah tercekik oleh tangannya sendiri, nafasnya hampir habis.
Sebisa mungkin Rudi membaca Ayat kursi sampai selesai. Akhirnya perlahan tangannya terlepas dari lehernya sendiri.
Huuuuufffff.
Arita menghembuskan nafas panjang, berlari ke arah suaminya.
"Kamu tidak apa-apa sayang," tanya Rudi suaminya khawatir, melihat tanda merah melingkar lehernya.
"Aku tidak apa-apa mas?" jawabnya. Arita merasa bersalah karena sudah membahayakan dua anak kecil itu. Ia pun menangis. Hiks hiks hiks.
"Kenapa kamu tidak bangunkan aku, kalau kmau ke kamar mandi?" tanya suaminya serius.
"Maaf mas, aku salah! Tadinya aku tidak mau membangunkanmu, kamu terlihat kelelahan. Namun malah membuat Azka dan Nia jadi dalam bahaya," gumanya, sambil menangis merasa bersalah.
"Jangan begitu lagi yah! Bagaimana kalau, aku tak bangun. Entah apa yang terjadi pada mereka berdua?" Rudi memperingatkan istrinya, dan memeluknya karna ia, masih menangis merasa bersalah dan juga ketakutan.
Bersambung
Kawan mampir ke novel baru aku dengan judul "Irani Gadis Indigo" sekuel nya Novel ini. Masih berhubungan dengan novel pertama saya yg ini. novel baru saya menceritakan tentang asal mula Irani mendapatkan Indra ke enamnya yg bisa menyembuhkan orang lain dari penyakit tak biasa. atau di sebut "Orang Pintar"
__ADS_1
Novel ke 2 saya terinspirasi dari novel ini dan jadi saya ingin mengangkat cerita tentang kehidupan lnya sebelum ia menjadi " Orang Pintar" Cerita novel ini dan novel ke 2 aku pasti berbeda novel ke 2 saya lebih seram dari pada ini dan banyak kejadian yg terinspirasi dari kejadian yg saya alami dan dari televisi yang saya tonton. jangan lupa mampir ya dan klik suka dan komentar biar aku tambah semangat lagi nulisnya. Sebelumnya terimakasih.