
Bismillah happy reading all π
.
.
.
.
.
.
Sebelum permintaan terpenuhi aku tak mau satu ranjang dengan om Za.Malam ini om Za tidur di kamar yang biasa ditempati oleh abi dan umi, jika mereka ada disini.
Sedangkan Afrian berada di kamar tamu.
"Pfftt !!" Afrian menahan tawanya melihat om Za yang duduk di sofa ruang tengah, bergabung dengannya yang sedang menonton tv.
Om Za tidak membalas ataupun mengucapkan sepatah kata pun. Ia membiarkan Afrian menertawakan sepuasnya.
"Bapak diusir?" tanya nya menggoda.
"Bawel, menurut ngana ??" Afrian tergelak puas, kapan lagi ia melihat abang nya yang dingin dan kaku ini menderita, selama ini ia belum pernah melihat om Za terdzolimi di rumahnya sendiri.
"Enak bang? ga nyangka gue, akhirnya ada orang yang powerfull bisa bikin abang tunduk !" ucap Afrian.
"Nanti pun kamu akan merasakannya," jawab om Za memeriksa notif di ponselnya. Sekaligus menyuruh om Ramli mencarikan pedagang permen kapas.
"Gimana tuh?? Salwa minta permen kapas sekalian abang abangnya?? hayoo pak Camat dan pemilik perkebunan digeser tukang permen kapas !!" sepertinya hari ini Afrian sangat beruntung bisa mengantarku pulang ke Aceh, ia mendapatkan tontonan gratis yaang langka, bahkan belum pernah terjadi.
"Coba tolong carikan, apakah ada di sekitar sini pedagang permen kapas?" tanya om Za pada Afrian.
"Ko nanya gue bang? mana gue tau! biasanya di pasar pasar tuh kalo ngga di alun alun kota," jawab Afrian.
Afrian terlihat seperti berfikir " di pasar Aceh coba bang!" serunya.
"Kalo begitu kamu yang mencari!!" pinta om Za pada Afrian
"Ko gue bang?? kan yang kena hukuman loe !!" Jika ujung ujungnya dia yang kena, menyesal barusan ia mrmberikan saran.
" Terimakasih sebelumnya sudah mau membantu abang, sebaiknya kamu bergegas sebelum hari semakin malam. Karena abang mau malam ini juga ada kabar baik tentang ini, abang tidak mau tidur sendiri berlama lama ," ia langsung melenggang pergi tanpa mendengar dahulu jawaban Afrian.
"Ihhhh kenapa jadi gue yang nyari !! abang yang punya salah, abang yang kepengen tidur berdua, gue yang susah !!" gumam Afrian.
Akhirnya mau tidak mau Afrian menurut, ia meraih jaket dan bergegas menyalakan motor yang terparkir di garasi.
Afrian berputar putar sekitaran alun alun kota,
"Ini gue mesti cari kemana ? bumil permintaannya aneh aneh, kenapa ga minta berlian kek, emas kek, saham kek !!" gerutunya sepanjang jalan seperti orang kurang waras. Sudah cukup lama ia berputar putar, sampai saat matanya memicing melihat roda penjual permen kapas, matanya berbinar.
"Nih kalo cowok sholeh yang nyari Allah selalu memudahkan," gumamnya.
"Bang ! gue dah nemu!!" ucapnya di ujung telfon.
"Oke, abang kesana sekarang !!" jawab Om Za.
Ia segera meraih kunci mobil dan melaju menembus jalanan kota menuju Afrian berada. Disana pemuda itu tengah asyik mengobrol sambil memakan permen kapas yang pedagang itu jual. Aji mumpung , mumpung dibayarin...ternyata permen kapas memang semanis dan seenak ini, pantas saja anak kecil suka, termasuk pasangan yang tengah kasmaran saja sering berbagi permen kapas berdua, biar hubungannya makin sweet. Tak tau karena cowoknya sedang mode ngirit.
"Bang kenalin ini abang saya, orang yang mau menyewa dan membeli permen kapas abang !" Afrian mengenalkan.
"Zaky !" ucapnya.
"Fahrul," jawabnya.
"Saya akan menyewa roda abang sekaligus ingin belajar membuat permen kapas," jawab om Za to the point.
"Abang serius? mau belajar membuat permen kapas?" tanya Fahrul, melihat dari perawakannya dan tampilannya, Fahrul yakin om Za bukanlah seorang pengangguran. Ia seperti hafal wajah lelaki ini.
__ADS_1
"Tenang saja bang, saya bukan mau mencuri lahan usaha abang, istri saya sedang ngidam ingin permen kapas!" jawab om Za.
Sesaat kemudian Fahrul tersadar "Pak Zaky !! bapak camat daerah ******, ya Allah !!!" seru nya.
"Dengan senang hati pak, saya akan mengajarkan," serunya senang.
Di lain tempat
Aku tak bisa tidur, bergerak gerak gelisah.
"Ini om Za kemana sih? udah malem malah keluyuran. Bagus banget istrinya marah malah ditinggal !!!" ketusku, tak ingat dengan permintaanku tadi.
Mataku sudah 5 watt, aku memutuskan untuk tidur saja.
.
.
.
Berkali kali om Za memutar kayuh mesin pembuat permen kapas, lalu tangan satunya memutar stick untuk meraih tiap lembaran lembaran kapas berwarna warni itu. Tapi, bentuknya tidak seindah buatan ahlinya. Sampai ngilu kulit perut Afrian tertawa, melihat bentukan dan kesulitan seorang pengusaha yang biasanya hanya tinggal menyuruh nyuruh orang, kini menjadi murid tukang permen kapas.
"Ahahahah gilaaaa !! mesti gue viralin ini !!" serunya, Fahrul yang usianya tak jauh dari om Za mengulum bibirnya, ingin tertawa takut dosa.
"Hahahaha turun kadar kegantengan loe bang," tambah Afrian.
"Seumur umur belum pernah gue liat camat atau pengusaha yang biasanya duduk di ruang meeting, sekarang lagi muterin stick buat bentukin permen kapas !!" tawa Afrian puas.
"Diam kamu !! harusnya kamu bangga, punya abang yang low profile dan sayang istri !" jawab om Za seraya mata dan tangannya fokus pada aktivitasnya.
"Sayang istri apa takut istri ?" tanya nya kembali.
"Wahhh !! saya bangga sama bapak, bapak tidak malu untuk belajar membuat permen kapas !" ucap Fahrul.
"Alhamdulillah, terimakasih Fahrul," balas om Za.
"Deg...!!"
Ada rasa bimbang dari diri om Za, mengingat permintaanku yang tak ingin om Za kembali menjadi seorang Camat.
"Bahkan saya akan mendukung jika bapak mencalonkan diri jadi walikota, pak !" timpal Fahrul.
"Insyaallah jika Allah mengijinkan," jawaban diplomatisnya.
Bukan hanya Allah yang mengijinkan tapi jika Salwa mengijinkan, pikirnya dalam hati.
Malam sudah larut, mereka paham betul mengenai jam malam disini.
"Pak Fahrul bagaimana jika roda ini saya sewa malam ini sampai besok malam, ini uang sewanya. Apakah cukup?" tanya om Za menyerahkan amplop coklat berisi uang. Fahrul membukanya.
"Setidaknya dapat mengganti penghasilan bapak untuk hari esok," ucap om Za lagi.
"Masyaallah pak, ini banyak sekali. Ini lebih dari cukup. Bahkan ini bisa saya pakai untuk makan 2 minggu !! bahkan harga gerobaknya saja tidak semahal ini,terimakasih."
"Ini kartu nama saya dan alamat saya, lusa pagi pagi sekali bapak bisa ambil rodanya di alamat itu."
"Iya pak, sekali lagi terimakasih," ucapnya bersyukur.
"Sama sama pak," jawab om Za.
Om Za menelfon om Ramli, menyuruhnya membawa roda permen kapas ini ke rumah perkebunan.
.
.
Hari sudah pagi, adzan subuh juga sudah berkumandang, aku turun dari kasur menuju kamar mandi. Setelah mandi dan menunaikan kewajibanku sebagai hamba Allah yang lemah. Aku keluar dari kamar untuk menyiapkan sarapan.
Aku menggelengkan kepala saat melihat dua orang manusia sedang tertidur di sofa ruang tengah. Aku mendekat, duduk di sofa samping om Za yang sedang tertidur, menatapnya lekat.
__ADS_1
Aku bermonolog, "om bayi, abi mu pulang jam berapa? darimana? asik asikan disini bareng om ian, umi dikamar sendirian !" gumamku mengelus perutku.
Dua buah tangan merangkulku dan menarikku ke dalam pelukannya, sontak aku terkejut.
"Abang pulang jam sebelas, abis nyari nyari pedagang permen kapas seperti keinginan uminya om bayi, abang tidak suka dengan Afrian, tapi uminya om bayi yang ngusir abang dari kamar !" jawabnya parau khas orang bangun tidur.
"Abang lepasin, ini om bayi kepencet !!" bukannya langsung melepaskan pelukannya, om Za malah sengaja menciumi seluruh inci wajahku.
"Abang kangen sama uminya om bayi, nungguin pulangnya dari Jakarta, sekalinya pulang malah marah marah dan salah paham," matanya masih terpejam namun, mulutnya terus berbicara.
"Abang sudah bangun? kenapa tidak langsung ke kamar mandi dan shalat ??" tanyaku.
"Abang baru bangun, denger suara wanita kesayangan !" jawabnya sudah pintar menggombal seperti buaya darat.
"Ohhh jadi semalam pergi bukan cari tukang permen kapas, tapi belajar merayu !! cepet bangun, Salwa mau siapin sarapan !!" jawabku.
"Oke, morning kiss nya mana?" tanyanya.
"Malu ada Afrian !! lagipula Salwa kan lagi marah sama abang," jawabku.
"Hari ini Salwa harus cap 3 jari ke sekolah," ucapku.
" Jadi adek pulang cepat karena akan melakukan cap 3 jari?" tanya om Za, aku mengangguk mengiyakan.
"Jadi awas ! Salwa mau ke dapur, sebaiknya abang cepat shalat, waktunya sudah mepet !" aku melepaskan tangan om Za.
Om Za bangun sekaligus membangunkan Afrian.
"Abang pergi dulu, hari ini ada kunjungan dari pusat ," ucapnya, meninggalkanku di gerbang sekolah.
"Hemm!!" jawabku bergumam.
"Hubungi saja abang kalo sudah mau pulang !"
ucapnya.
"Bang Salwa minta ijin, mungkin nanti sepulang sekolah Salwa akan ikut dengan yang lain, untuk berjalan jalan di Blang Padang !" pintaku.
"Boleh, kalau begitu kabari abang jika ada apa apa !" jawabnya.
.
.
.
Sepulang dari sekolah, aku tidak segera pulang. Tapi makan siang bersama yang lain. Berjalan jalan sebentar di pasar Aceh, mengusir kebosanan. Om Za pulang saat menjelang maghrib, untung saja sebelumnya aku sudah pulang.
"Tadi pergi kemana saja bersama yang lain?" tanya om Za.
"Salwa ga kemana mana cuma ke blang Padang dan pasar saja !" jawabku.
"Abang mau mandi? sudah Salwa siapkan air hangat dan juga bajunya !" ujarku.
"Terimakasih sayang, abang akan ada pekerjaan bersama Ramli di ruang kerja!" jawabnya.
Aku mengangguk pasrah, tau begini lebih baik aku pulang ke rumah umi, jadi ada yang bisa kuajak ngobrol. Berasa jadi pajangan saja disini. Aku memilih, duduk di teras belakang sambil menonton drakor kesukaanku ditemani setoples cemilan. Kalo kata om Za ini adalah kegiatan seorang pemalas. Tapi tidak menurutku, ini adalah kegiatan yang membuatku bisa mengembalikkan stamina.
Tak terasa langit sudah gelap, bintang bertaburan menemani bulan. Bulan aja di temenin bintang, aku disini hanya berteman setoples keripik dan laptop saja.
Tiba tiba dari arah samping rumah seorang pria memakai hoody dan bertopi, mendorong sebuah roda dengan lampu kecil kerlap kerlip menempel di seluruh sisi rodanya. Dan beberapa bungkus kapas berwarna menggantung di sekitaran atasnya.
.
.
.
.
__ADS_1