Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
sogokan.


__ADS_3

bismillah happy reading all 😘


.


.


.


.


.


.


"Assalamualaikum !" pekikku .


Hari ini aku dijemput oleh bang Riski , katanya om Za masih banyak pekerjaan yang menumpuk padahal aku sudah menyimpan setumpuk rindu untuknya.


ceklek ..


Senyumku mengembang melihat laki laki yang kusayangi banyak banyak, sebanyak pasokan air di lautan ini sedang duduk di kursi kebesarannya sambil berkencan dengan pulpen dan kertas juga layar laptop di depannya.


"Waalaikumsalam," jawabnya mendongak, menghentikan sejenak aktivitas pekerjaannya.


" Loh ko kesini ?" tanya om Za mengerutkan dahinya.


"Emang ga boleh ya, Salwa nyamperin suami sendiri ?" tak tanggung tanggung aku langsung saja duduk di atas pangkuan om Za yang memang sepertinya hanya diciptakan untukku.


"Boleh, tapi kan nanti adek bosan, di rumah kan ada bunda dan ayah, ada umi dan abi juga."


"Engga ah, Salwa males bang, kuping Salwa panas dengerin khotbah terus, umi kalo udah ketemu bunda mode kalemnya berubah jadi ibu ibu rempong," kataku sambil melihat lihat kertas yang bertumpuk di depan meja seperti seorang yang mengerti padahal sedikit pun aku tak mengerti apa yang di maksud.


"Adek sudah makan?" tanyanya. Aku menggeleng hanya makan bekal roti isi selai kacang saja tadi yang dibawa dari rumah.


"Salwa lagi pengen makan junkfood bang," jawabku .Dari raut wajahnya sudah pasti jawabannya tidak, om Za adalah salah satu si manusia sehat yang menolak keras makanan cepat saji, tidak sepertiku yang semua macam makanan ku tampung alias perut TPA, apalagi makanan junkfood bukan anak muda namanya kalau tidak suka.


"Tidak !" jawabnya singkat.


Aku merengut, untuk sekali saja kapan aku bisa merayu dan menghasut om Za tapi sepertinya bukan aku yang akan memberikan pengaruh buruk tapi om om hot itu yang akan membawaku ke jalan yang lurus dan datar, rayuan mautku tidak mempan terhadapnya.


"Om bayi tidak boleh diberi makan begituan , dek. Tidak sehat !"


Ia meraih ponselnya dan menyuruh seseorang membelikan makanan.


"cup"


Kecupan disarangkan di bibirku yang manyun, lalu ia terkekeh.


"Jangan manyun begitu abang semakin gemas !" ia mencubit pipiku gemas.


tok..tok..tok...


"Permisi pak," seorang pegawai kecamatan mengantarkan beberapa bungkusan, ia mengulum senyumnya melihat pemandangan manis yang tak kalah dari manisnya kue onde.


Aku dengan sengaja tak mau beranjak, biarkan saja kepalang tanggung anggap saja sebagai ajang balas dendamku pada om Za.


"Dek," lirihnya.

__ADS_1


"Apa? Salwa terlanjur nyaman bang, biarkan saja lagipula sudah muhrim kan, kenapa harus malu?"


Om Za berdehem mengusir rasa tak nyaman.


"Makasih om Fauzi !" ucapku.


"Terimakasih, Zi !" ucap om Za.


"Sama sama bu, pak," ia tersenyum usil lalu sedetik kemudian senyumnya luntur karena tatapan tajam yang menyorot dari laki laki yang memangku ku.


" Mari makan bang !" seruku membuka bungkusan yang dibawa om Fauzi tadi, namun tak berpindah posisi.Om Za hanya diam, bagaimana tidak ia tak bisa meraih apa apa saat ini.Kalau tidak sayang dan sedang mengandung anaknya mungkin kepalaku sudah mendarat mulus di lantai karena didorongnya.


" aaa...!" aku menyendokkan nasi ke depan mulut om Za, ia melahapnya.


" enak ?" tanyaku .


" emmhhh enak ! apalagi disuapin ," jawabnya sambil mengunyah makanan.


" bayi gede !!" gumamku sambil cekikikan.


"Bagaimana abang bisa makan, kalau adek duduk di depan abang ?" ucapnya menghela nafas. Kesabaran sudah menjadi nama tengahnya sekarang.


" Biar aja posisinya tetap begini, biar Salwa aja yang jadi mata dan tangan abang,"jawabku jumawa.


"Ekhemmm!" seru seseorang di ambang pintu.


" Duh..enaknya mesra mesraan di kantor, bikin iri yang jomblo," ucap seseorang dari ambang pintu.


Om Mirza datang dengan membawa kotak paket pada om Za. Aku mengernyitkan dahi penasaran dengan isi kotak yang dibawa om Mirza.


"Kalo dari bentukan kotaknya kayanya spesial, Za.Jangan jangan ....." om Mirza menyipitkan matanya menggodaku dan om Za.


Mataku melirik tajam pada laki laki yang sedang memangku dan memelukku menumpukkan dagunya di bahuku.


" Dek, bisa tolong pindah sebentar ?" pintanya, mataku menyipit seakan mengintimidasi dan mengintrogasi. Telunjukku menunjuk mataku dan matanya,


"Salwa cctv ya bang!!" ancamku membuat om Mirza terkekeh.


"Tampol aja Sal, jangan dikasih tidur di kamar, suruh tidur di luar aja," kekehnya.


"Ngaco kamu, abang tidak mungkin selingkuh!" aku nya. Apakah bisa dikategorikan suami suami takut istri?


Aku heran saja setauku om Za tidak pernah belanja online seperti orang orang jaman sekarang, ia lebih memilih langsung membeli ke tokonya. Kolot memang ...


Ia membuka sebuah kotak yang terlihat spesial itu, aku yang sedang makan pun jadi penasaran dan ikut melihat isinya. Sebuah jam tangan ber merk ternama asal negeri Swiss.


"wuihhh ! ckckckck...jam tangan mas bruh !" seru om Mirza.


"Dari siapa bang ?" tanyaku penasaran dengan identitas si pengirim, karena setauku itu adalah jam tangan mahal.


"Tak tau dek," jawab om Za. Ia mengambil secarik kertas dari dalam kotak yang datang bersama jam itu.


"Pak Ryan..." gumam om Zaky. Aku dan om Mirza menengok.


"Pak Ryan yang sedang mengurus perijinan bangunan tempat usaha di jl.xxxx itu kan Za?" tanya om Mirza.


"iya" jawabnya menatap tajam pada perlengkapan pria berharga jutaan itu.

__ADS_1


"Setau gue Za, beliau ini saingan bisnismu juga kan?" ucap om Mirza.


" Sudah kita pikirkan saja nanti, dek sebaiknya kita lanjutkan saja makannya, dan Mir..jangan sentuh barang itu nanti akan ku kembalikan" jelas om Za yang beranjak menuju sofa untuk meneruskan makan siangnya.


"Hahh !! dikembalikan?" jawabku kompakan dengan om Mirza, ini dia definisi menolak rejeki tuh kaya begini nih, aku tau suamiku ini pebisnis uangnya pastilah banyak tapi apa betul jam tangan mewah ditolak begitu saja ? tak tau aku saja yang matre.


Aku dan om Mirza masih terbengong mendengar ucapan om Za.


"Apa saya bicara kurang jelas?" tanyanya datar melahap nasi di depannya.


" Wah sayang sekali, Za.." lirih om Mirza.


"Yang bener aja bang ? masa pemberian orang ditolak, kan lumayan itu mahal kalo abang tidak mau untuk Salwa saja ! lumayan kan bisa pamer sama temen temen di Jakarta kalo engga Salwa jual di online uangnya buat tiket nonton konser boyband Korea" jawabku tapi om Mirza malah tertawa.


"Kalau adek memang ingin sesuatu insyaallah abang akan penuhi, abang masih mampu mencukupi dan memenuhi kebutuhan adek," jawabnya mengajakku duduk untuk kembali makan.


"Kalo gitu Salwa pengen...." belum aku meneruskan ucapanku om Za kembali memotong.


"Tapi tidak dengan konser pria pria yang menyanyi sambil berjogetitu, abang tidak suka kamu lebih memperhatikan laki laki lain dibanding abang," jujurnya.


" Ihhh abang kuno, lagian mereka itu ganteng ganteng berbakat pula, lah abang kan tidak dapat menari macam itu," sewotku.


Om Mirza menggelengkan kepalanya, melihat perdebatanku dengan om Za.Tadi saja saling pangku pangkuan nah sekarang berantem lagi.


"Pokonya abang tidak akan ijinkan titik," keputusan si pemilik kehidupan tak dapat diganggu gugat. Aku merengut kesal ini lah efek sampingnya kalau menikah dengan om om yang hidupnya lempeng kaya penggaris.


" cihhh sayang banget harus dibalikkin, lagian abang manusia jaman apa sih ga tau boyband!" dumelku. Moment ini sayang untuk dilewatkan.


" Tau gini tadi gue bawa kacang sama soda buat nontonin debat pasangan beda generasi beda selera gini, seru !" seru om Mirza.


"Kalau memberinya ikhlas abang terima, tapi ini adalah pemberian dengan maksud terntentu dek," lirihnya.


"Maksud abang nyogok gitu ?" tanyaku frontal.Ia mengangguk.


"Hati hati, Za...yang ku tau beliau nekat orangnya, kita harus waspada," ucap om Mirza.


"Awasi saja pergerakannya Mir.." titah om Za.


"Siap bos, kalau gitu gue balik kandang deh, liat ibu camat sudah manyun gitu takut nanti gue lagi yang disuruh cari tiket nonton konser ke Korea," om Mirza berlalu kembali.


" Ya sudah, mau dilanjutkan debatnya atau mau lanjut makan ?" tanya om Za.


"Udah ga ***** lagi !" jawabku.


"Pasti nafsunya sama abang saja kan?" godanya dengan santai dan menyuapkan nasi ke mulutnya sendiri. Wajahku tiba tiba panas.


"Dihhh.....pede ! abi nya om bayi kepedean!" sarkasku.


"Abang tidak kepedean tapi fakta,"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2