
happy reading all π
.
.
.
.
.
.
.
.
bismillah
.
.
.
.
.
" kamu sedang apa disitu ???" tanya Om Za melihatku berdiri di balkon kamar nya,jangan berfikir aku akan bunuh diri seperti seorang gadis frustasi.
" lagi cari angin Om...." jawabku ngasal ,padahal tak tau saja pria matang ini walaupun kebersamaan kami hanya beberapa hari dan itupun hanya sedikit sekali moment romantisnya tapi untuk ukuran seorang gadis baperan seperti ku lumayan ngena di hati.
" haa...hoffff....." aku menghela nafas
" ko nyesek ya..." gumamku ,apalagi mengingat bahaya ulet keket selalu mengintai di samping Om Za.
aku mengusap pelupuk mata yang sudah tergenang air dan berniat beranjak kembali masuk
" kamu nangis ???" tanya Om Za menghampiriku yang gelagapan karena tertangkap basah ,seperti maling sendal...
menatap wajah teduh nan kaku nya ,yang pasti akan kurindukan , walaupun kebanyakan berantemnya , sepertinya aku akan merindukan si pria matang keturunan Fir'aun ini...tak rela jika wajah kaku bak spons cuci piring itu dipandang lama lama oleh kaum hawa lain tanpa penjagaan,ingat saja aku sewaktu ikut Om Za mengunjungi desa bahkan ada pasukan berdaster yang dengan lancang mencubit pipinya saking gemas lihat wajah tampan sang camat muda ini ..ahhh tidak tidak,, Om Za tidak muda lagi.
aku hanya takut saja di belakang ku Om Za akan mencari ban serep yang tentunya lebih matang,lebih hot,dan tidak sepecicilan diriku.
aku kembali menyedot ing*us ku " kamu kenapa ???" tanya Om Za meraih tanganku.
" Om ...menurut Om Salwa gimana sih Om ???" tanyaku sontak membuat Om Za mengernyit pasalnya baru sekarang aku menanyakan hal yg menurutnya tak penting.
" memang kenapa dengan kamu ???" tanya nya balik
" ihh Om Za nyebelin..ditanya malah balik nanya.." cemberut ku.
" jawab aja Om... Salwa itu gimana menurut Om..." paksaku.
Om Za menghela nafasnya " kamu itu manja..kamu pecicilan,selalu mendebat abang..." jawabnya tidak sesuai ekspektasi ku.
" buk....!!!" aku menghadiahi Om Za dengan pukulan pukulan kecil yang malah membuatnya tertawa , karena merasa pukulan itu seperti gelitikan untuk nya,ia menangkap tanganku yang tenggelam di genggamannya.
__ADS_1
" lagian kenapa kamu bertanya hal yang tidak penting...." jawabnya ,mataku membola apa dia kata??? tak penting ????
" Om emang ngeselin...buat Salwa itu penting Om...karena...." aku menggantungkan ucapan ku ,ragu untuk mengatakan.
" karena apa ???" tanya nya ,ada rasa sedih untuk mengungkapkannya tapi itulah yang memang sedang ku pikirkan.
" karena Salwa takut.... Salwa tidak bisa menjadi istri yang Om inginkan... Salwa merasa kerdil bila dibandingkan sama tante...."
" stop..!! ga usah kamu teruskan ,abang tidak suka Salwa berbicara seperti itu...abang tidak suka kamu membandingkan diri kamu sendiri dengan orang lain.." ucapnya serius.
" tapi seperti Om bilang kan Salwa itu manja.. Salwa pecicilan dan Salwa selalu mendebat Om...rasanya Salwa ga pantes buat jadi istri Om..." jawabku menunduk .
" yang bisa menentukan pantas atau tidak itu abang sendiri...kamu memang manja , pecicilan,selalu mendebat abang ...tapi abang suka...." jawabnya .
tau ga rasanya kaya apa ???yang tadi itu apa ya ??apa Om Za sedang menyatakan perasaannya??ko ga berasa di tembak sih gue ....
semburat merona tak bisa ku sembunyikan,wajahku seketika menghangat mendengar pernyataan cinta yang tidak romantis seperti drama Korea yang sering gue tonton.
" Om lagi nembak Salwa ???" tanyaku dengan polosnya .
" engga...!!" jawabnya membuatku kembali cemberut
" terus tadi itu apa ???"
" ngapain abang nembak kamu ,kalau abang sudah milikin kamu...emang masih perlu kamu abang tembak ??" tanya Om Za yang memang ada benarnya juga
" sekarang abang mau tanya sama Salwa, bagaimana perasaan Salwa terhadap abang ??" tanya nya
masa iya gue harus jelasin juga ,emangnya ga keliatan apa kalo gue udah nangis bombay gini masa iya bilang ga suka,aku masih bisu dalam diam.
" ga usah dijawab...!!" tegasnya.
" bagaimana pun perasaan kamu saat ini abang akan berusaha membuat kamu jatuh cinta sama abang..."
blushing....
Om Za menarikku ke dalam pelukannya ,terdengar jelas detak jantungnya sama dengan detak jantungku berdetak kencang tak karuan,dada bidang itu terasa begitu hangat
" abang tidak suka kalau Salwa dekat dekat dengan laki laki lain..." jawabnya seperti anak kecil mengadu ketidaksukaannya saat sesuatu miliknya disentuh orang.
" terserah Salwa mau menyebut abang apa ,yang jelas belajarlah menerima abang mulai saat ini..."
singkat ,jelas dan tak banyak basa basi.. itulah Om Za...aku kembali merapatkan pelukanku seakan baru saja menemukan sebuah kehangatan baru dan tak ingin melepaskan nya.
" tolong biarkan seperti ini dulu Om..karena besok , Salwa udah balik ke Jakarta..." ucapku
.
.
.
.
" tak ada yang ketinggalan lagi kan ???" tanya Om Za,aku mengetuk ngetuk jidat ku
" ada..." jawabku , Om Za mengerutkan dahinya beberapa lipatan
" apa ??" tanya nya
__ADS_1
" hati Om..." kekehku ,wajahnya datar saja menanggapi kelakar ku namun sepertinya tak membuat si pria matang ini tergoda.
raut wajahku menjadi berubah masam ,sekali kaku ya tetap saja kaku...namun saat aku sudah berbalik dan mengomel ada senyum tipis di bibirnya sangat tipis.
" abang...!!!" umi mengetuk pintu dan memanggil dari balik pintu kamar
" iya, mi..." Om Za membukakan pintu kamar
" dibawah ada Cut Fitri dan Mirza ....." jawab umi ,aku memang harus berterimakasih pada Allah yang telah menciptakan pendengaran yang tajam untukku.
" iya mi suruh lah mereka tunggu sebentar..."
" sal...abang turun dulu ke bawah... " ijinnya.
" ihhh ngapain sih ,kaya ga rela gitu kalo ga ketemu Om Za gue barang sehari...." gumamku menggerutu,dengan segera aku membereskan semuanya dengan cepat, rapi atau tidak biar jadi urusan nanti.
aku mengendap-endap,berjalan ke lantai bawah, jiwa ke kepoan anak muda ku berkobar ,tak bisa kubiarkan dengan mudahnya tante tante kegatelan itu mendekati Om Za ku...
" sal...kamu sedang apa nak ???" suara lembut umi mengejutkanku,auto mati kutu gue...
" ini...umi..apa sih..?? Salwa pengen bantuin umi nyiapin sarapan..." kilahku sambil menggaruk-garuk kepala tak gatal,hanya itu ide yang melintas di otak cetekku ,umi tertawa kecil melihat aku yang gelagapan, bagaimana tidak aku ketauan sedang menguping Om Za dan kedua tamunya itu.
" kan kita sudah sarapan ,sayang ..." jawab umi
astaga gue lupa lagi apa kabar perutku yang memang sudah diam dan anteng karena masakan lezat umi di pagi hari.
" kalau memang ingin tau , samperin aja..." ucapan umi bak petir di siang bolong ,umi juga pernah muda kali, sal...."
" nih , berikan minum untuk tamunya abang..." umi menyodorkan nampan berisi dua buah cangkir berisi teh ,aku mengangguk.
dengan sigap dan hati hati aku membawakan nampan itu ke depan
" eh... dek Salwa...masih disini ??" tanya Om Mirza
" iya Om Mir,hari ini Salwa balik dianter Om Za..." jawabku merangkul lengan Om Za di depan keduanya ,sengaja agar tante Cut ini tau kalau Om Za hanya milikku .
" ekhemmm..." Om Za berdehem " sal... bisa lepaskan lengan abang..." ucap Om Za
" engga udah pewe...!!" jawabku menolak permintaan Om Za, Om Za tau tidak mudah untuk berdamai secara baik baik tanpa berdebat denganku ,terlebih di hadapan orang lain,ia hanya pasrah saja menerima kelakuanku..
Om Mirza tertawa kecil " ga usah kaku gitu kali bro..namanya juga pengantin baru ,ya ga sal ???"
" apa ????!!!!" ..
" pengantin baru ??? " tante Cut tersedak teh hangat yang baru saja tersaji ,pengakuan Mirza tentang status ku dan Om Za di depannya ,dunia seperti runtuh untuknya, belum berjuang sudah kalah duluan.
air matanya tiba-tiba lolos tanpa bisa tertahan ,
" bang...saya permisi sebentar..." ia langsung menyambar tasnya dan pergi keluar .
aku yang asik bergelayut manja ,menegakkan kepalaku ,mungkin hanya aku yang terkejut disini ,wajah Om Mir menunduk tak nyaman dan Om Za hanya lempeng lempeng saja ,memang susah bila tercipta sebagai orang kaku , apapun suasana hatinya tetap saja air muka nya tanpa ekspresi dan kalem kalem saja.
" Tante Cut kenapa , Om???" tanyaku polos
" dek Cut tidak tau kalau Salwa dan Zaky sudah menikah. "jelas Mirza
" ohhh " aku hanya berohria.
" bro ..sebaiknya loe susul dulu dek Cut..."
__ADS_1
aku tidak tau apa yang sudah terjadi diantara mereka bertiga, ataupun antara Om Za dan tante Cut yang jelas aku tidak menyukai usulan Om Mirza,yang langsung diangguki oleh Om Za.
" tunggu sebentar ...." ucapnya padaku.