
Bismillah happy reading all π
.
.
.
.
.
Ini si mamang gegara nunduk terus sampe ga liat jalan apa gimana? batinku.
"Suttt bang, ini halaman rumah orang jangan asal masuk aja !!" ucapku menatap kesal. Namun, pedagang itu malah semakin mendekat. Aku hanya melihat gelagatnya seraya berdiri dan menutup laptopku.
Dari perawakannya aku hafal dengan lelaki ini. Ia memutar mesin pembuat permen kapas, memasukkan beberapa sendok gula berwarna itu dan mulai memutar stick di tempat keluarnya lembaran lembaran permen kapas. Ajaib sekali seperti di dalam film fantasi lembaran kapas berwarna warni tersemat di stick yang di putar. Aku semakin mendekat, penasaran siapakah pedagang yang tak tau malu ini, main masuk halaman rumah orang, ia memakai topi dan ditutupi hoddy pula.
Lama lama lembaran kapas ini berbentuk menyerupai hati, walaupun jauh dari kata sempurna, tapi tetap terlihat. Lalu lelaki itu menyerahkannya padaku. Dari aroma tubuhnya aku hafal betul siapa dia.
Aku tersenyum dan mendekat, tanganku terulur untuk membuka hoddy dan topinya.
"Abang !!!" aku tertawa.
"Buat uminya om bayi !!" lirih om Za. Aku mengambil permen kapas ini,
"Makasih, ini bentuk apa?" tanyaku.
"Bentuk hati," jawabnya, " memangnya adek tidak melihatnya?" tanya om Za.
"Ini kaya alien bang," kekehku.
"Maaf jelek, abang tidak bisa," ringisnya.
Aku menaruh permen kapas di gerobaknya. Lalu maju, memeluk om om yang selalu hangat untukku.
"Abang yang terbaik," saking terharunya aku sampai menangis.
"Hey, dikasih kejutan ko malah nangis ?? ga suka?" tanya nya. Aku menggeleng "suka banget, sayang banget sama abang !!" aku kembali masuk ke dalam pelukan om Za.
"Tapi sayang abang lebih banget pada adek dan om bayi!" jawabnya.
Aku kembali tertawa sambil sesenggukan, sesekali om Za mengelap jejak jejak air mataku dengan jempolnya.
"Abang dapet gerobak permen kapas ini darimana?? abang juga bisa bikin permen kapas??" tanyaku.
"Afrian yang bantu cari, kemarin waktu abang pulang telat itu karena abang nyari pedagang permen kapas sambil belajar. Kan katanya adek mau beli permen kapas sama abang abangnya sekalian,"
Padahal permintaanku hanya karangan belaka, agar om Za kesulitan memenuhi permintaanku dan merasa bersalah nantinya.
"Beneran abangnya boleh Salwa beli juga?" tanyaku.
"Boleh, ambil aja gratis !!" om Za merentangkan kembali tangannya memelukku.
"Jadi, abang boleh tidur lagi di kamar?" tanya nya. Aku mengangguk.Om Za memelukku dari belakang dan mengangkatku, memutarku hingga aku tertawa sambil memekik minta diturunkan.
"Bang, apa apaan ihh kaya bocah!!"
"Adek makin berat," ucapnya.
"Bang nanti jika pengambilan raport dan ijazah?? apa Salwa harus ke sekolah?? ini perut Salwa udah keliatan gede loh !!" seruku.
"Tidak usah, biar abang saja nanti yang ambil," jawabnya.
__ADS_1
"Bang, besok jadwalnya kontrol ke dokter kandungan," ucapku.
"Insyaallah abang antar," jawabnya.
"Sudah malam, masuk ke dalam. Udara malam tidak baik buat ibu hamil," mendorong pelan kedua pundakku untuk masuk ke dalam rumah.
"Tapi itu permen kapasnya !!" tunjukku pada beberapa bungkus permen kapas yang menggantung.
"Nanti abang bawakan ke dalam !!" om Za merangkulku dan membawaku masuk.
.
.
Sepasang mata teduh itu sedang memperhatikan layar yang hanya 14 inchi. Gerakan gerakan alat usg melingkar lingkar di perutku.
"Sehat, normal..insyaallah semuanya baik baik saja pak, bu !" ucap dokter perempuan berjilbab di sampingku.
Ada senyum kecil di bibirnya, melihat calon buah hati yang ada di dalam perutku lewat alat ini membuat rasa rindu ingin segera bertemu terobati.
.
.
"Hari ini kita pulang ke rumah umi, abang tidak mau adek sendiri. Soalnya besok besok abang sibuk dan mungkin akan selalu pulang telat untuk beberapa hari ke depan."
Aku mengangguk "Oke,"
"Oh ya, lusa ada undangan perayaan kerjasama antara perusahaan pak Jamal dan abang, acaranya sore hari apakah adek mau ikut?" tanya om Za.
"Mau bang!!" seruku.
.
.
Benar yang dikatakan om Za jika ia akan sibuk, dari pukul 6 pagi saja ia sudah berangkat sampai sekarang pukul 5 sore ia belum juga pulang. Bell rumah berbunyi, seseorang mengirimkan sebuah paket. Dan asisten rumah tangga bilang kotak berwarna maroon ini untukku.
Drrtt...drrtt....
ponselku berdering, nama suami tersayang memanggil.
"Assalamualaikum dek,"
"Waalaikumsalam abang!!" seruku.
"Sudah dicoba?? bagaimana, suka??" tanya nya.
Aku sedikit bingung, "apanya bang?" tanyaku.
"Gaunnya dek, apa kamu sudah menerimanya?" tanya om Za.
Aku baru sadar jika sedang memegang kotak paket, rupanya ini kiriman om Za.
"Belum Salwa lihat bang, paketnya baru datang," jawabku.
"Kalau begitu bukalah dan cobalah, abang tutup panggilannya ya, assalamualaikum !!"
"Waalaikumsalam,"
Aku segera membuka kotak paket ini, gaun muslimah berwarna biru tua ini tampak elegan dan indah, ukuran dan seleranya cocok denganku. Sebegitunya om Za memperhatikan istrinya.
"Jadi makin cinta !!" gumamku gemas seraya melihat pantulanku dari cermin.
__ADS_1
.
.
Itu artinya hari ini aku akan bertemu dengan Rayyan si bocah aktif yang membuat orang pusing 7 keliling. Seperti biasa, om Za tidak perlu diragukan lagi, ketampanan dan kharismatiknya yang haqiqi membuat para bisnis men yang nantinya hadir disana akan dibuat minder olehnya.
Om Za melihat tampilanku yang paripurna.
"Cantik !!" satu kata yang bisa membuatku terbamg hingga menembus langit langit rumah. Walaupun kusadari perutku buncit. Justru menurut om Za, inilah salah satu faktor yang membuat ku menjadi makhluk tuhan yang paling sexy versinya. Sebucin itu om om pria matangku. Belum juga kuberi ajian jaran goyang tapi sudah klepek klepek. Hebat sekali pesonaku.
"Salwa malu lah bang, apa disana banyak tamu yang hadir?" tanyaku.
Kriik..kriik... seharusnya pertanyaan itu tak perlu kulontarkan, sudah pasti jawabannya banyak, kalo sepi mah kuburan namanya.
"Banyak, kebanyakan rekan dan partner bisnis pak Jamal," jawab om Za.
"Ayo dek, kita sudah terlambat !" bagai sepasang ratu dan raja yang sedang berjalan berdampingan, selalu saja ada orang ketiga. Yaitu supir dan itu adalah om Ramli, merangkap sekaligus asisten om Za.
Suasana disana begitu ramai, namun berkelas. Kebanyakan adalah pria paruh baya yang sudah lebih tua dari om Za, definisi pengusaha perut buncit sebenernya menurut bayanganku. Pengusaha muda disini hanya dapat dihitung oleh jari.
"Assalamualaikum pak Zaky, dek Salwa!!" salam pak Jamal.
"Wahhh kalian serasi sekali, bagaimana kabarnya?" tanya pak Jamal.
"Alhamdulillah pak," jawabku dan om Za.
"Dimana Rayyan dan bu Miranda, pak?" tanyaku.
"Ahh..Rayyan tidak ikut soalnya dia sedang sakit !" jawab pak Jamal, aku mengangguk.
"Sayang sekali, pak. Padahal Salwa kangen Rayyan !"
"Kalau begitu silahkan nikmati dulu hidangannya pak, dek Salwa. Saya menghampiri yang lain !!" jawabnya .
Begitu banyak makanan yang menggugah selera. Mataku sampai tak lepas melihatnya.
"Bang, Salwa pengen itu !!" tunjukku seperti anak kecil yang menginginkan jajan. Om Za menurut.
"Abang ambilkan, atau adek ambil sendiri dan abang temani?" Om Za tak sekalipun meninggalkan aku sendiri disini. Aku melihat para pengusaha lainnya yang saling bertegur sapa demi meluaskan pergaulan bisnis, tapi tidak dengan lelaki ini. Bukannya ia tak peduli dan melewatkan kesempatan emas ini. Namun, ia lebih memilih menemani istrinya ini disini.
"Abang ga deketin mereka juga?" tanyaku sambil memakan kue dan puding. Om Za menggeleng " tak perlu abang mencari muka sekarang, lagipula istri abang disini membutuhkan teman," jawabnya mengusap noda bekas coklat di ujung bibirku.
"Om Ramli aja ikut ngobrol," ucapku lagi.
Om Za tersenyum," ada saatnya nanti semua akan melihat abang, disitu abang sudah termasuk promosi secara elegan !"jawabnya.
"Justru, jika abang meninggalkan wanita cantik yang sedang bersama abang ini, maka pria pria yang disana dengan senang hati akan menggantikan posisi abang ," tambahnya telak, membuatku tak bisa berkata kata. Satu kata yang menaungi pikiranku MELAYANG.
Mataku tak sengaja menangkap pemandangan menohok mata, "bang,," bisikku.
"Hemmm?" tanya nya sesekali ia tersenyum pada para pengusaha lainnya yang menegur om Za dan mengajak mengobrol.
"Itu pak Jamal sama siapa?? ko mesra gitu !!" saat aku melihat seorang wanita menggandeng pak Jamal mesra.
"Sekertarisnya!" jawab om Za. Jika hubungan mereka hanya sebatas bos dan sekertaris seharusnya tidak sampai memeluk lengan dan bergelayutan, mereka bukan muhrim. Terlebih lagi pak Jamal sudah memiliki istri dan anak. Om Za saja dan Om Ramli tidak pernah gandengan.
"Kenapa dek?" tanya om Za tersenyum.
"Tidak usah dipikirkan, biarkan saja itu menjadi urusan mereka, kita cukup diam dan jangan ikut campur !" jawab om Za.
"Tapi ga bisa gitu dong bang, ga bisa dibiarin. Mesti dilaporin sama bu Miranda !!" sewotku. Sebagai sesama wanita aku bisa merasakan apa yang bu Miranda rasakan. Tanganku sudah terkepal kuat. Sepertinya lahar dalam kepalaku siap meletus " Laki laki kaya begini tuh yang mesti dibinasakan, giliran susah sama bini giliran seneng seneng sama yang bening !!!" gumamku menggertakan gigi.
"Apa abang juga kaya gitu??" aku mulai melirik laki laki sebelahku yang sedang disapa oleh salah satu pengusaha lainnya.
__ADS_1