
Bismillah happy reading all π
.
.
.
.
.
Aku berbalik ke arah Wisnu.
"Loe pikir gue takut sama ancaman loe ??! jangan harap !! mendingan sekarang loe duduk manis di kelas, ujian dengan benar dan raih cita cita loe. Jangan sampai gara gara ambisi loe dan ancaman loe itu, bikin loe jadi nyesel seumur hidup!" jawabku dingin meniru gaya sang ditaktor, om Za. Aku tersenyum manis pada Wisnu lalu pergi ke kelas untuk melaksanakan ujian.
"Si Wisnu mau apa Sal?" tanya Uni dan Nur penasaran.
"Mau cari gara gara !" jawabku kesal.
"Gara gara gimana maksudnya?" tanya Uni membeo.
Memang, duo temanku ini selalu kepo mirip emak emak yang selalu nangkring di tukang sayur, rasanya tak tenang saja hidupnya jika gosip apapun di sekolah mereka tidak tau, meskipun mereka tidak sebocor ember bolong namun, tetap saja sifat yang satu ini tidak untuk ditiru.
"Tau ga kalo kepo suka memperpendek umur?" tanyaku mencopy paste ucapan om Za.
"Idih ! masa ? ga mungkin !" jawab Uni. Dan aku tertawa melihat ekspresi mereka yang sudah kepo maksimal, harus menerima kenyataan ku goda.
"Yang bener Sal! serius ini !" ucap Nur.
"Dia ngancem aku, katanya aku harus jawab kalo aku bukan istri bang Zaky, kalo engga dia bakal bocorin kalo aku sudah nikah, satu sekolah ini !" jawabku mengeluarkan alat tulis.
"Ishhh cowok satu itu ga tau diri banget, udah mau kawin juga !" dumel Uni.
" Nikah Ni, nikah !" ralat Nur.
"Oh iya satu lagi, dia pengen batalin perjodohan, kalo aku masih gadis !" tambahku.
"Wah ! muka gi*la tuh cowok, ga liat ini udah kaya balon gini !!" seru Uni tak dapat mengontrol volume suaranya. Langsung di bekap Nur.
"Terus kamu mau gimana?" tanya Uni.
"Biarin aja lah aku yakin cuma gertak doang !" jawabku tak peduli.
Bel masuk sudah berbunyi, waktu mengerjakan soal soal ujian sekitar 90 menit.Inilah ujian terakhirku di masa putih abu abu ku. Selanjutnya yang akan aku alami adalah ujianku sebagai calon ibu.
Gosip sudah menyebar di seantero sekolah, mulut para siswa mendadak berubah seketika menjadi mulut nyinyir lambe turah.Apakah sekolah sudah berubah menjadi akun gosip Nasional ??
Vita dan kawan kawan datang ke kantin dengan iringan tatapan seluruh penghuni kantin.
"Vit, selamat ya bukan lagi pacaran nanti kamu akan menjadi ny. Wisnu !!" seru salah satu temannya, seakan mereka berseru kegirangan, padahal gosip yang berhembus jika mereka dijodohkan karena kepergok berduaan di malam hari.
Mereka duduk dan memesan mie. Tatapan Vita tak lepas dariku, tak sengaja tadi pagi, ia memergoki Wisnu yang menarikku dan berbicara hanya berdua.
Aku sedang menatap layar ponsel dan cekikikan, sedangkan Nur dan Uni menengok nengok ke arah ponselku mencari tau.
Sebuah foto yang dikirim oleh suami tercinta berhasil membuatku tersenyum puas.
Tempat lain
Ting...
Baru saja menutup beberapa lembar map, ponselnya berbunyi.
"Jangan lupa dimakan oppa" di bubuhi emot sun jauh. Om Za menggelengkan kepalanya tak tau harus bersikap bagaimana lagi menghadapi istri magicnya ini. Ia mengeluarkan kotak bekal, dari dalam sebuah tas jinjing kecil yang kusiapkan dan mengeluarkannya. Kotak makan berwarna ungu kombinasi merah dan diberi pita layaknya kado.
"Hahahahaha !!" suara tawa pecah dari ambang pintu, membuat om Za menoleh.
"Sejak kapan seorang Zaky suka sama yang cute cute bak anak TK?" tanya nya mendekat. Berkat sifat dinginnya, om Za tak perlu repot repot meladeni ucapan temannya ini.
"Salwa..Salwa...ada ada saja !" kekehnya.
__ADS_1
Om Zaky membuka kotak bekalnya, senyumnya tersungging. Di dalamnya masakan enak sudah menanti untuk disantap, untung saja kemampuan memasak ku tidak seburuk kemampuan menyanyiku.
"Wah ! ga percaya, gadis semanja Salwa bisa memasak seperti ini," decak kagum Om Mirza. Tak tau saja aku memasaknya dari subuh dengan perjuangan yang tidak mudah, hanya untuk satu kotak makan bekal ini.
"Gadis manja dan usil, bukan berarti tidak bisa menjadi istri yang baik dan penurut kan?" pertanyaan om Mirza dibalas pertanyaan oleh om Za.
"Tinggal bagaimana caranya saja kita mengarahkannya!" tambahnya menyendok nasi.
Sudah habis sayang, alhamdulillah terimakasih.
.
.
Di sekolah kedua temanku tertawa puas, mereka gagal fokus oleh wujud kotak makan milik om Za.
"Ya Allah Sal, masa pak Zaky yang cool udah kaya anak SD dikasih kotak makan ada pitanya!!" seru Uni.
"Emang kenapa?? itu estetika namanya!!" jawabku.
"Iya deh iya !!" tawa Nur " terserah bu camat saja !"
Di tengah tengah asyiknya tertawa, ucapan beberapa orang menggelitik telingaku.
"Alhamdulillah makasih ya, aku dan Wisnu bisa berjodoh, walaupun selalu ada cewek ganjen yang mepet mepet terus sama Wisnu, kaya cewek murahan tapi insyaallah aku dan Wisnu bakal menikah setelah lulus," pekiknya.
"Waw...setauku Wisnu itu anak tunggal dan ayahnya itu memiliki pabrik ya Vit?" tanya temannya.
"Iya betul, jadi setelah lulus Wisnu akan meneruskan usaha keluarganya menjadi bos !" ucapnya.
"Wahhh hebat dong kamu calon ibu bos, Vit...!"
"Iyalah laki laki baik baik hanya untuk wanita baik baik, bukan wanita yang sudah bersuami tapi genit sama laki laki lain !!" desisinya mengarah padaku.
Mulut mercon itu rupanya minta digaruk pake garpu rumput, apa di hidupnya tidak ada pekerjaan lain selain mengganggu hidup orang lain??
Aku menoleh menatap tajam pada Vita.
" Aamiin, semoga Wisnu tetap tahan godaan ulet ulet bulu kaya cewek yang lagi duduk disana itu !!" tunjuk Vita padaku.
Cukup sudah kesabaran uminya om bayi sudah habis, sepertinya pasokan kedabaranku juga sudah habis oleh Rayyan kemarin kemarin. Akan kugaruk mulut gatal yang tiada hentinya mencari masalah denganku ini.
Aku beranjak dan mendekat ke arah Vita, mengulurkan tangan berniat mengucapkan selamat.
"Selamat ya Vita atas perjodohanmu dengan Wisnu, semoga kalian nantinya samawa, dan Wisnu benar benar tak tergoda dengan wanita wanita di luar sana khususnya wanita sepertiku. Kalau tidak, mungkin nanti pendapatan Wisnu yang seorang bos itu habis dipakai ke salon buat vermak wajah ! biar bisa cantik kaya ulet bulu yang satu ini !" dengan menunjukkan wajahku yang dibuat semanis mungkin.
"Bukan bos Sal, masih calon !" ralat Uni dengan polosnya.
"Upsss salah ya !!"
"Oh iya belajar deh dari sekarang buat berkata kata pedes supaya kalau nanti Wisnu ketauan tergoda oleh wanita di luaran sana, kamu sudah siap dengan kata kata super pedasmu!!" ucapku lagi sambil menambahkan sambal pada mangkuk baso yang sudah ia pesan. Tak tanggung tanggung satu mangkok sambal ku tuangkan semuanya. Lalu melengos pergi meninggalkan kantin. Tak lupa kutinggalkan selembar uang biru berlogo pahlawan dan menaruhnya di meja depan Vita.
"Masih jadi calon ibu bos kan, kali ini kutraktir deh tuh baso !" ucapku.
"Salwa !!!!" pekik Vita. "Kubales kamu !!" pekiknya.
.
.
"Assalamualaikum imamku !!" bisikku berjinjit di belakang om Za yang sedang menunggu di parkiran.Lalu memeluk pinggangnya
"Waalaikumsalam,masuk " pinta om Za.
"Dihhh datang lagi nih mode kaku nya !" manyunku yang melepaskan pelukanku dan masuk ke dalam mobil, yang pintunya dibukakan om Za. Ia memasangkan seatbelt dengan hati hati agar perutku tak terjepit.
Kucubit kedua pipinya "abi nya om bayi manis, baik banget sih, makasih !" lirihku tersenyum lebar.
"Abang memang baik dari dulu !" jawabnya.
"Dihh nyesel deh muji, pedenya tingkat dewa. Suami siapa sih?" kataku. Tapi om Za tidak menjawab.
__ADS_1
"Jawab kek bang," tidak bisa diajak gemes gemesan nih om om, masih harus banyak berlatih. Dan aku adalah gurunya.
" Iya suaminya Salwa Zahratunissa," jawabnya.
"Bagaimana ujiannya?" tanya om Za.
"Susah banget !! Salwa aja sampe nyontek !!" jawabku. Membuat om Za menaikkan alisnya sebelah.
"Terus bangga?" tanya om Za, melihatku mengucapkan kata mencontek seperti suatu perilaku membanggakan.
"Bangga dong !! nyontek waktu ujian tuh susah setengah idup apalagi guru pengawasnya killer ! dan Salwa berhasil, hebat ga tuh??" ucapku jumawa.
Om Za menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan mindset otakku. Hebat sekali istri magic nya ini, pola pikir beda dari yang lain.
"Hebat ! saking hebatnya, jika abang gurunya, adek sudah abang kunci di kamar mandi sampai sore!!" jawab om Za.
"Ihh abang jahat, abang cocok tuh jadi guru guru killer yang sering di usilin, ditempelin permen karet di bangkunya !!" jawabku lagi.
Bagaimana ceritanya? jika seorang ibu camat begini cara kerja otaknya, mungkin besok besok tidak akan ada guru tegas lagi di sekolah yang ada di bawah naungan kecamatannya, karena habis ia usili.
"Bang,enak ga makanannya? mau Salwa siapin tiap hari ngga?" tanyaku.
"Boleh," jawabnya singkat, tangannya masih memutar kemudi dan menyetir mobil.
"Suka sama penyajiannya ngga?" tanyaku kembali.
"Suka" jawabnya kembali singkat.
Memang, kata kata sepertinya mahal untuk lelakiku ini,entah ia memang memiliki penyakit tahunan sariawan. Aku tak peduli apa yang dikatakan orang, yang penting om Za suka. Perkataan orang lain kuanggap angin lalu.
"Abang balik lagi ke kantor?" tanyaku setelah melihat gerbang kompleks rumah terlihat.
"Engga kayanya, pekerjaan abang tidak terlalu banyak. Abang akan menyelesaikannya di rumah. Justru abang masih ada urusan pekerjaan perkebunan!" jawabnya.
"Temenin Salwa nonton drakor dong bang!" rengekku. Sontak saja om za langsung menolak mentah mentah.
"Abang masih banyak pekerjaan dek, lagipula nonton film begitu tak ada faedahnya!" jawab om Za menolak dengan perkataan logis.
"Ih abang jahat ah, istrinya lagi hamil.juga ga mau nemenin!!" keluhku.
"Lebih baik banyakin olahraga di usia kandungan menginjak 5 bulan harus mulai gerak dek,jangan bermalas malasan terus," ucapnya.
Malas saja untukku. Lebih baik rebahan sambil nonton dan ngemil. Benar saja, saat sore menjelang, om Za memaksaku untuk ikut berolahraga ringan.
Om Za sudah memakai t-shirt tipis mencetak badannya. Wah itu badan minta dijilatin kayanya !! ia menarik narik tanganku lembut mengajakku berolahraga.
"Ayo dek, biar sehat !"
"Salwa malas bang, capek!" jawabku ogah ogahan.
"Ini yang harus kamu rubah, kebiasaan malas malasan," ucapnya.
"Abang tunggu di ruang gym, abang hitung jika dalam 5 menit tidak segera menyusul. Uang jajan bulan ini abang pangkas semua!!" ancamnya.
Aku segera turun dari sofa saat sedang enak enaknya menguap, segera ganti baju.
"Ihh abang !! ga bisa gitu dong , abang !!!" pekikku segera berganti pakaian dan menyusul ke ruang gym. Wajahku berubah seketika menjadi cerah ceria, kalo gini aku tak akan menyesal dan semangat 45 untuk olahraga, lihatlah roti sobek yang sedikit berkeringat, otot perut yang tetap terjaga di bentuk sempurnanya, tidak seperti kebanyakan pria seusianya, yang rata rata bentukan perutnya offset alias melebihi batas lingkar pinggang.
Aku mendekat, menelan salivaku berat. Sebagai seorang perempuan yang sudah merasakan manisnya pubertas dan menikah, pastilah ini adalah godaan terlezat, terlebih lagi ini halal bagiku.
Disana om Za sudah menyediakan karpet senam, yang didepannya sudah tersedia televisi kecil dan pemutar kaset, rupanya om Za menyiapkan ruang untukku melakukan senam hamil sesuai usia kandunganku.Aku berdecak kagum, sampai segitunya lelakiku ini memperhatikan kehamilanku.
"Abang yang menyiapkan semua ini??" tanyaku mendekat. Ia menghentikan lari kecilnya di treadmill dan turun meraih handuk kecil.
"Iya, kata dokter itu cocok untuk ibu hamil, abang juga sudah berkonsultasi!" jawabnya.
Boleh peluk ga sih, Jika di dunia ini ada petani yang menanam bunga berbentuk love maka akan kubeli lahannya beserta petani petaninya sekalian untuk kuberikan pada om Za.
"Uhhhh abang perhatian banget, makasih !!" seruku.
"Sama sama sayang," jawabnya mengecup keningku lama.
__ADS_1