Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
Rasa kemanusiaan


__ADS_3

Bismillah happy reading all 😘


.


.


.


.


"Abang berangkat dulu, titip Al..." ucapnya.


"Iya.."


"Titip rindu abang juga !" kekehnya, lelaki jutek dan cuek ini sudah berubah menjadi pribadi yang hangat, romantis dan juga jangan lupakan mesum. Karena baginya romantis itu sepaket dengan kata mesum, yang ia pelajari dari k@m@*sutr@.


"Ga mau titip atm gitu, sekalian sama investasi sahamnya !" jawabku hanya tinggal memakaikan bedak tabur, wajah gemoy ini sudah seperti kue mochi isi kacang merah.


"Semua saham abang sudah atas namamu dan Al Fath !" jawabnya santai, sesantai makan kacang rebus, tapi mampu membuatku tercengang. Mataku membelalak, hampir saja telur rebus ini kumakan bersama kulit kulitnya.


"Yang bener, abang seriusan ??!!" tanyaku masih terkejut, pagi pagi ketiban durian runtuh satu pohon, sultan mendadak. Jangan membuatku jadi ingin salto pagi pagi, bang !!


"Abang yakin? abang ga takut kalo nanti uangnya, sahamnya, perusahaannya Salwa bawa kabur !" ancamku usil.


"Sejauh apa kamu akan berlari abang akan kejar !" jawabnya.


"Salwa bakal foya foya buat hal yang ga guna, mau mabuk mabukan mau coba nar*koba !!" jawabku.


"Itu artinya abang sudah gagal membimbingmu !" jawabnya santai, seperti baginya uang dan kekayaannya bukanlah hal yang penting untuknya, aku menatapnya haru, boleh cip*ok basah ga sih kalo di depan Al, apa harus ada tulisan 17 +dulu, berlebihan kah jika aku meminta pada Tuhan ingin bersamanya sampai nanti di dunia yang kekal.


Maafkan umi mu yang kembali menaruhmu di ayunan Al bukan berarti umi membuang Al Fath, tapi untuk beberapa menit sebelum abimu pergi. Umi ingin memberikan salam pamit yang spesial pake telor. Walaupun sudah memiliki anak, tapi bermanja manja terhadap lelaki matang ini hukumnya wajib, om Za seperti memiliki dua anak, malah yang ini lebih manja dibanding Al. Baby Al mengerjap lucu, keheranan melihat uminya yang nemplok bebas di pangkuannya macam anak lutung.


"Abang mau dibuatin apa? Salwa masakin?" begini tingkah perempuan, giliran hal yang berurusan dengan uang pasti bersikap manis semanis tebu yang diperas dan diambil sarinya. Manusiawi, yang terpenting bersikap manis pada yang sudah halal.


"Hemm, manisnya umi Al...!! abang ga minta dibuatin apa apa, tetaplah jadi istri nakalnya abang, istri nakal yang nurut !" jawabnya.


"Always bang, gampang sii itu !" jawabku jumawa. Apakah aku sudah mirip cabe cabean dempet 3?? liat duit matanya berubah ijo kaya hulk.

__ADS_1


"Sekarang turun, abang sudah telat !" pintanya tapi aku menggeleng bahkan sampai om Za bangun dan berdiri, tenaganya kuat sampai sampai aku ikut terangkat, samson betawi versi kerennya. Tak tau aku yang bertubuh mungil.


"Abang, pegangin Salwa !!!" pekikku mencoba bertahan mengalungkan tanganku di lehernya dan melingkarkan kaki ku di pinggang om Za.


"Turun, dek !"


"Engga ! kiss dulu !!" aku memonyongkan bibirku. Namun pria matang ini malah mendorong jidatku.


"Ga malu diliat anaknya sampe bengong ?" ia mengangkat alisnya sebelah. Rambut pendek potongan undercut nya tampak rapi di pomade, aroma tubuhnya yang menguar membangunkan sisi kewanitaanku.


Aku sebentar melirik Al yang masih bengong dan menggerak gerakkan anggota geraknya heboh, seperti tak mau kalah untuk di gendong abi nya.


"Baby Al sayang, pinjem abi nya sebentar ya !!" ucapku pada Al yang terkikik tertawa khas bayi.


"Tuh kan boleh, apa perlu mata Al, Salwa tutup dulu biar ga liat adegan hot ?" tanyaku polos, om Za menggelengkan kepalanya, memiliki istri muda memang memusingkan sekaligus menyenangkan, tapi yang jelas ia jadi merasa selalu muda. Hidupnya jadi penuh warna, tak hanya warna monokrom, kebayang kan kalo istrinya macam tante Cut, mungkin hidup om Za akan membosankan, tak ada seru serunya.


"Kenapa??" tanyaku melihat om Za yang hanya menatapku.


"Turun atau abang jatuhkan !!" ancamnya, aku malah semakin mengeratkan kaki ku dan tanganku. Engga untuk menjejakkan kaki di lantai.


"Selalu manis !" jawabnya.


"Abang curang ga pake aba aba dulu, kan Salwa jadi ga ancang ancang !!" ketusku.


"Ancang ancang?? kamu mau kissing atau mau lomba marathon ?" tanya nya, tangannya menahan berat badanku.


"Kan harus pake awalan, ******* sama akhiran bang !" jawabku, makin di dengarkan makin ngawur pikirnya.


"Nanti saja debatnya, kalau abang libur, sekarang abang sudah benar benar telat ! hanya tinggal satu bulan setengah lagi, dek !" jawabnya. Akhirnya aku harus melepaskan om Za, ternyata acara manja manjaannya harus bersambung.


"Hati hati, jangan senyum kalo di luar !" ucapku, pesan dari istri absurdnya memang tak biasa.


"Pesan menyesatkan !" jawabnya memakai sepatu pantofelnya.


"Iya lah, senyumnya abang cuma boleh buat Salwa sama Al Fath, bahaya kalo abang senyumnya di depan perempuan lain ! bikin orang susah move on !" jelasku


"Ya sudah abang pergi dulu ! assalamualaikum ! "

__ADS_1


pamitnya.


"Waalaikumsalam !" balasku.


Semua pekerjaan sudah beres, tinggal pekerjaan ibu ibu saja yang belum kuselesaikan. Yaitu menyatu dengan forum ghibah ibu ibu di kampung ini, biar tidak di bilang sombong. Dosa yang nikmat dan tak terasa, kebanyakan perempuan lah pelakunya. Tapi selama itu tidak merugikan dan jatuhnya fitnah, menurutku masih oke oke saja.


Cuaca hari ini begitu panas, malahan mungkin kebanyakan orang inginnya diam di rumah dan berendam di kuah es cendol. Tapi kenapa malah aku merasa suhu tubuhku ini tak menentu, terkadang panas terkadang dingin.


"Yu sayang, temenin umi. Sekali kali anaknya abi Zaky harus diajarin jadi pasukan ghibah !!" kekehku, Al Fath malah ikut tertawa.


"Uuuuu gemesnya anak umi !! cium gemes buat Al !!" aku menciumi seluruh permukaan kulit wajah Al Fath yang menggemaskan.


Kuraih gendongan, 4 bulan sudah mahir untukku memakai gendongan yang ribetnya ngalahin keruwetan ngurusin ktp ke kelurahan.


Sejak kejadian kemarin mbak Siska tak muncul ke permukaan, bahkan ia tak terlihat menyanyi di acara kondangan nikahan kampung sebelah. Mungkin sedang membuat lubang yang besar di rumahnya dan bertapa, merenungi semua kesalahannya. Ayolah untuk apa aku peduli.


"Asaalamualaikum !"


"Waalaikumsalam, eh mbak Salwa sini mbak, ikut gabung. Ibu ibu sedang merencanakan membuat arisan kloter baru !" seru bu Lia. Aku heran saja apa serunya acara yang hanya mengocok ngocok gelas berisi nama, nasib seseorang ditentukan dari sebuah kertas yang keluar dari lubang kecil.


"Iya mbak, apa mbak Salwa mau ikutan ?" tanya bu Rt. Mengingat waktuku disini bersama om Za yang hanya tinggal sebulan setengah lagi, rasanya tidak mungkin aku mengikuti kegiatan yang bisa menghabiskan berbulan bulan itu. Belum lagi akhir bulan ini, aku harus kembali dahulu untuk menyurvei calon kampus ku di Aceh.


"Bu ibu, mbak Siska katanya sakit ya !" bu Lia memulai obrolan forum ghibah, dengan topik utama mbak Siska, ditemani getuk lindri dan es dawet, semakin sip saja ghibahan siang ini.


"Mungkin karma bu !" cekikikan mereka, bukan aku tak senang mbak Siska merenungi dosa dosanya, tapi sebagai sesama manusia aku tak tega membiarkannya sendirian, ada rasa ingin menjenguk, apalagi ia hidup sendirian, selepas bercerai dengan suaminya, mbak Siska hidup sebatang kara, jauh dari keluarganya yang berada di luar kota.


"Bu Surti saya bisa titip Al Fath sebentar ?" tanyaku.


"Oh boleh, sini nak sama bude !" bu Surti meraih dan menggendong Al, yang sepertinya sudah nyaman berada di gendongan bu Surti.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2