
Bismillah happy reading all😘
.
.
.
.
Mbak Siska menabuh genderang perang denganku, disini om Za bukanlah camat, bagus ! tak perlu aku menjaga image di depan siapapun. Tindakanku setidaknya tidak akan membuat om Za kena sp.
"Kenapa diem mbak?? udah ketemu belangnya ?? kalo mampu buat beli, kenapa sendal saya, kamu umpetin ?!" tanyaku, sedangkan ia terdiam layaknya robot yang kehabisan batre. Bukankah, tadi ia sendiri, yang berkoar koar dan bersungut sungut menghakimi dan memfitnahku berselingkuh dengan Roni.
"Itu...saya cuma...iseng !" jawaban yang tak masuk di akal. Ciri ciri maling yang kepergok maling.
"Bilang aja biar bisa jebak saya kan? biar bisa aduin saya kalo saya lagi berduaan sama Roni ??!", tanganku di tarik om Za, agar segera mengakhiri pertengkaran ini. Tapi tak seru jika pertarungan ini diakhiri begitu saja, tanpa membuatnya malu.
"Bilang aja mbak Siska suka sama suami saya, ngapain coba tiap pagi nyatronin rumah saya kaya maling ayam, kalo bukan mau liatin suami saya !!" Layaknya akun lambe turah, mulutku nyeroscos membuka aib mbak Siska satu persatu. Maafkan mulutku yang remnya blong Ya Allah, bukankah di hari penghakiman nanti pun mulut akan berbicara semua hal jujur??
"Jangan asal ngomong kamu !!" pekiknya, dari tadi ucapannya hanya berputar putar ditempat tanpa penjelasan pasti sudah seperti komedi putar saja,
"Nah kan ga bisa ngomong !" jawabku mencercanya menyudutkan perempuan ini, memberikan gerakan gerakan skak mat , jangan mengira orang diam akan selamanya diam jika di diusik terus.
Tidak terima ia meraih raih ingin menjambakku lagi, sedangkan kakiku sudah menendang nendang udara karena tak sampai. Mau sampai ronde berapa pun kujabani.
"Dek, sudah cukup !" ucapnya tatapannya memberiku peringatan
"Abang bilang cukup ! abang sendiri termakan omongan si ular ini kan ? jelaskan Roni apa yang kita lakukan sore kemarin?? apa kita bercu*mbu??atau mesra mesraan??" tanyaku kesal.
"Salwa, stop !"
"Salwa hanya diam saat dia !!" tunjukku penuh kebencian, menekankan kata dia pada mbak Siska.
"Terang terangan curi pandang pada abang, bahkan menyebarkan gosip murahan yang tidak bermutu ! tapi sekarang dia coba fitnah Salwa, Salwa ga bisa diem !!" jawabku mendebat om Za. Ia terdiam.
__ADS_1
" Kalau yang istri saya katakan memang benar adanya, kamu berhutang permintaan maaf pada istri saya, Salwa. Begini saja, jangan disini kita selesaikan ini baik baik di dalam, malu dilihat orang !" om Za membawaku masuk ke rumah bu Surti, namun tak disangka saat diminta masuk, mbak Siska lepas dari pengawasan pak Rt dan lari kabur dari sana.
"Nah kan !! bisa lihat mana yang salah !" jawabku jumawa.
"Hey mbak Siska!!" suara panggilan yang memekik pun tak di dengar, ia sudah mengambil langkah seribu.
"Maaf sebelumnya, apa yang dikatakan mbak Salwa memang betul adanya !" jawab Roni, pemuda itu menjelaskan kronologi pada semua yang hadir.
"Mbak Salwa, pak Zaky, atas nama kampung saya meminta maaf atas ketidaknyamanan salah satu warga kami," ucapnya.
"Iya sama sama pak Rt, maaf jika kami juga jadi mengganggu ketenangan disini," ucap om Za, aku menoleh pada om Za. Meraih Al Fath dari tangan bu Surti.
"Makasih bu, maaf kalo jadi bikin ribut ya !" ucapku meminta maaf,
"Tidak apa mbak, memang ada kalanya kita harus melawan saat di injak seseorang, " jawab bu Surti, orang orang sudah membubarkan diri. Tontonan gratis sudah habis. Seharusnya kupasang tarif saja pada setiap orang yang menonton.
Aku berjalan menggendong Al Fath meninggalkan om Za di belakang memanggil manggil. Sebenarnya aku merasa bersalah, tapi apa boleh buat rasa kesal sudah berbuah layaknya mangga yang sudah matang, hanya tinggal di petik lalu dinikmati hasilnya oleh om Za.
"Dede, diam dulu disini ya !" aku menaruh Al Fath di kasur.
"Dek, " panggil om Za.
"Dek," panggilnya lagi tapi tak kuhiraukan, memang harus memiliki extra tenaga, extra kesabaran, dan extra ide cemerlang untuk membujuk istri labilnya ini.
"Dede nanti kalo istrinya lagi lawan, dede jangan mudah terhasut, kalo bisa ikutan aja gontok gontokan !" ucapku lagi.
"Astagfirullah ! "
Aku menatapnya mengangkat alis sebelah. "Kenapa?"
"Jangan mengajarkan yang tidak tidak pada Al,"
"Lagian ngapain abang pulang? kalo abang ga pulang dan tiba tiba narik Salwa, mungkin Salwa udah puas tuh botakin mbak Siska !" ucapku bangga.
"Terus dengan begitu kamu puas?" tanya om Za.
__ADS_1
"Mungkin !" anggukku.
"Itu artinya abbang harus guyur kamu biar otaknya dingin !" jawabnya, ia mencari cari salep di kotak P3K, tangannya mendudukanku, dengan telaten ia mengolesi salep di pipi ku bekas tamparan mbak Siska tadi.
"Siapa yang duluan?" tanya om Za. Bukannya om Za lemah ataupun tak mau membela, ia rasa jika ia ikut ikutan maka semua akan terasa berat sebelah di mata orang lain, om Za hanya ingin orang orang yang bersaksi menyatakan dahulu kesaksiannya, agar semua ikut mendengar kejadian sebenarnya. Ia pun tak ingin berapi api dan bertindak kasar, sebab dari sikaplah orang orang akan melihat pribadi seseorang, seperti apa yang dilakukan mbak Siska tadi.
"Mbak Siska lah ! masa iya Salwa ! sebar bar nya Salwa, Salwa ga mungkin tiba tiba nampar orang lain !" aku sedikit meringis saat salepnya menyentuh permukaan kulitku yang terluka.
"Ini yang abang tidak suka, emosi menyakiti seseorang, termasuk si empunya sendiri !"
"Aww !! perih bang !!" desisku.
"Maaf," ia merapikan rambutku yang semrawut. Lalu tak lama tertawa, "istri abang hebat, mbak Siska lebih besar dari adek loh badannya ! tapi justru dia yang k.o !" tawanya serenyah remahan bagelen.
"Abang ga marah?" tanyaku membeo.
"Memang benar kata bu Surti, semut pun jika terinjak akan menggigit, tapi lain kali emosi jangan sampai mengalahkan akal sehat, ujung ujungnya adek sendiri yang ikut terluka!" ia mengakhiri olesannya.
"Atlit gulat bebas dilawan !!" ucapku jumawa.
"Abang kenapa pulang, tumben??" tanyaku.
"Kebetulan ada yang tertinggal, sekalian abang mau makan siang di rumah !" jawabnya.
"Apa yang ketinggalan?"
"Rindu !!!" ucapnya mencolek daguku, bibirku mengerucut 5 cm tapi hatiku dikelilingi oleh kupu kupu yang berterbangan.
"Maafkan abang yang sampai saat ini masih selalu cemburu jika mendengar kamu dengan lelaki lain, sekalipun abang tau kamu tidak mungkin mengkhianati abang, " jawabnya meraih jemariku.
Aku menggeleng, "jangan bang, jangan sampai abang tidak cemburu, jujur Salwa memang benci abang yang suka marah marah ga jelas, dan tiba tiba nuduh. Tapi dari situlah Salwa tau kalau abang cinta sama Salwa. Rasa cemburu itulah yang menunjukkan kalau abang tidak rela Salwa di dekati lelaki lain. Cemburulah, jika Salwa dekat dengan lelaki selain abang, cemburulah..jika Salwa memikirkan lelaki selain abang dan Al, agar Salwa tau kalau abang masih menginginkan Salwa."
"Terimakasih sayang, umur tak menjadikanmu seseorang yang tak dapat mengerti. Pengalamanlah yang mengajarkan semuanya. Terimakasih kamu mau menerima pria matang ini dengan segala kekurangannya !" jawabnya.
Di tengah melow dan romansa suasana siang hari yang terik, berbekal kipas angin sebagai pendingin ruangan, suara tangisan Al membuyarkan moment romantis ini.
__ADS_1
"Eh, iya sayang maafin abi sama umi.. kalo udah berduaan suka khilaf !" ucap om Za.
"