
Bismillah happy reading all π
.
.
.
.
.
Anak koala !! sebutan itu mungkin yang cocok untukku saat ini, memeluk bunda erat, tak ingin dilepas. Al Fath hanya bengong, dengan sesekali tertawa, menggertakan gusinya gemas yang masih merah, tanpa ada gigi, melihat uminya menempel pada oma nya, layaknya anak koala. Mungkin jika sudah besar Al Fath akan menepuk jidatnya sendiri, pusing melihat kelakuan uminya yang manjanya melebihi anak bayi yang habis diimunisasi, seringnya sih...nemplok gini pada abinya.
"Bunda oh bunda ! bawa aku bersamamu !"rayuku. Hanya beberapa hari bersama bunda tidak cukup rasanya.
"Ga malu sama anak sama suami??!" tanya bunda sedikit melengking.
"Engga!" jawabku santai. Baru tadi malam mengucap janji setia mengikuti suami kemanapun, ke lubang semut sekalipun, lihatlah pagi ini !! memang kata bunda aku tukang php, kemarin sore begini sekarang begitu dan esok beda lagi. Tidak bisa dipegang ucapannnya.
"Al, jaga uminya yang manja ya, kalo bisa nangis kejer aja biar dia pusing !" ucap bunda.
"Oma pulang dulu, jadilah anak sholeh sayang, apalagi nanti jauh jauhan dulu sama abinya !" ucap bunda, si gemoy ku ini malah tertawa sampai matanya menyipit.
Bunda pulang diantar om Za yang sekalian berangkat kerja.
"Bunda hati hati !" ucapku. Bunda mengangguk, "always !"
Hari ini bunda yang pulang, 2 hari lagi aku pun akan segera terbang ke Aceh.
"Sini Al, sama umi..abi sudah terlambat !" pintaku menggendong Al !"
"Abang pergi dulu, hati hati di rumah..jangan beraktivitas terlalu berat, tunggu abang pulang saja !" pesannya. Tangannya terulur mengusap kepalaku dan mencium keningku, beralih pada Al.
.
.
"Mbak Salwa !!" pekik bu Surti, saat aku hendak masuk ke dalam rumah.
"Eh bu Surti??!"
"Sudah sehat mbak?" tanya nya.
"Alhamdulillah," tiba tiba ia menyendu, "apa benar mbak Salwa akan pulang?" tanya nya.
"Iya bu, hari senin lusa saya sudah harus masuk kuliah bu, di Aceh. Abang pun hanya tinggal sebulan lagi disini !" jawabku ikut merasa sedih, pasalnya selama disini, aku sudah merasa dekat dengan ibu ibu berbadan gemuk yang perutnya beberapa lipatan ini.
"Hm, saya pasti merindukan anak ganteng ini !" gemasnya di pipi Al.
"Bu, terimakasih banyak ya, selama disini ibu baik banget sama Salwa. Sudah seperti ibu sendiri !" suasana pagiku berubah jadi haru biru.
Mata bu Surti berkaca kaca, tiba tiba tubuh gemuknya memelukku hangat. "Semoga mbak Salwa jadi orang sukses, jangan lupa untuk mengunjungi saya disini !" ucapnya.
"Insyaallah bu, terimakasih !"
"Assalamualaikum !" sapanya lembut, aku dan bu Surti sontak menoleh ke asal suara.
__ADS_1
" Wa'alaikumsalam," ini hari ga akan hujan badai kan?? tidak angin tidak mendung, mbak Siska datang ke rumah.
"Mbak Siska??!" gumamku.
"Mbak Salwa, saya....saya...minta maaf selama ini sudah jahat mbak, saya akui pak Zaky memang suami idaman. Saya juga salah sudah memiliki niat jelek untuk merebut perhatian pak Zaky, yahh...walaupun saya tau pak Zaky tidak pernah sekalipun melirik saya !" aku nya.
"Saya juga mau ucapin makasih banyak, mbak Salwa baik banget sama saya ! " tambahnya tulus.
"Sama sama mbak Siska, maaf juga kalo saya sering balas kelakuan mbak Siska, " jawabku.
"Bagaimana kalau siang ini kita adain makan makan bu, sekaligus perpisahan buat mbak Salwa?" usul mbak Siska.
"Wah ide bagus mbak, saya setuju !! sekalian saya masak buat jum'at berkah di masjid !" jawab bu Surti.
.
.
Aku duduk di teras depan rumah bu Surti, terharu?? sudah pasti. Aku adalah warga baru disini tapi sambutan dan rasa kekeluargaan mereka membuatku merasa nyaman dan betah.
Di depanku sudah terhidang sajian sederhana, tapi banyak. Seperti sedang hajatan saja,
"Ya allah banyaknya, " seruku.
"Yu, di makan mbak Salwa, makanan kampung ala kadarnya !!" ucap bu Surti dan ibu ibu yang lain. Mereka tertawa tawa tak ada beban, hanya candaan receh ala masyarakat kelas bawah, dan aku lebih menyukainya. Dibandingkan dengan obrolan tak jelas kelas atas yang bikin otak pengen lompat ke jurang karena ga ngerti.
"Mbak Salwa kenapa buru buru pulang?" tanya bu Rt, tangannya sibuk memetakan nasi dan lauknya.
"Salwa mau kuliah bu," jawabku.
"Lah, piye to! terus dedek Al Fath sama siapa??" tanya bu Lia.
Ibu ibu berohria, tapi bukan ibu ibu namanya jika hanya berohria tanpa pertanyaan menginterogasi.
"Sewa asisten tambahan ?? memangnya sebesar itu gaji seorang camat ya mbak Salwa?? setau saya gajinya tak seberapa !" jawab bu Rt, aku memandang mata para ibu ikut penasaran menatapku. Bagaimana tidak, mereka melihat dari sandal yang kupakai saja mungkin harganya setara dengan gaji para suaminya 3 bulan plus uang lemburan. Belum lagi hadiah untuk bu Fatma dan bayinya kemarin. Jangan sampai setelah ini mereka menyuruh suaminya untuk kerja rodi biar bisa kebeli sendal chann3l.
Aku hanya nyengir saja, "abang punya usaha kecil kecilan bu, " jawabku.
"Iya kalo hanya mengandalkan gaji seorang perangkat kecamatan saja tidak mungkin bisa membeli barang barang mahal !" jujur bu Fatma.
"Saya searching di mbah guugle harga stroller yang diberikan buat saya, ck ck ck !" decak bu Fatma. Aku berdehem tak nyaman, malu rasanya jika sesuatu yang sudah diberi diungkit ungkit, bukankah riya namanya.
"Ahh itu hanya kebetulan diskon saja bu, daripada ngomongin gaji suami mendingan kasih tau saya bu, ini tuh namanya apa ya, cara bikinnya gimana??!" tunjukku pada mangkuk daun singkong yang membalut isian kelapa, dan teri.
.
.
Perutku kenyang, Al pun sudah terlelap tidur di pangkuan. Karena kebetulan searah, mbak Siska pulang, ia membantu membawa bouncer milik Al.
"Maaf ya mbak jadi ngerepotin!" aku membenarkan letak gendongan Al, pundakku hampir copot rasanya, anak dan ayah sama sama berat, sedangkan aku sendiri bertubuh mungil.
"Ndak apa apa mbak Salwa, ini tidak bikin repot !" jawabnya.
"Mbak maaf sekali lagi ya, saya banyak salah ! terutama, seringnya bikin mbak Salwa sama pak Zaky bertengkar !" sekali lagi ucapnya penuh sesal.
"Ga apa apa mbak Siska, sudah biasa ! bukan cuma mbak Siska doang ko ! banyak !" jawabku enteng.
__ADS_1
"Maklum sih, pak Zaky memang menawan !" kekehnya, aku melihatnya penuh curiga, jangan sampai tobatnya tobat sambel.
"Eh, bercanda mbak, saya sudah tobat ko !" jawabnya. Aku ikut tertawa, "ga apa apa mbak !"
Aku masuk ke gerbang rumahku, mbak Siska mengekor di belakang.
"Sebentar ya mbak, Salwa naro dulu Al di kasur !" jawabku melengos masuk ke kamar.
Ia menunggu dan menyimpan bouncer Al di ruang tengah.
"Mbak Siska !" aku menyerahkan kantung kain bermerk Chan*nel.
"Apa ini mbak ?!" tanya nya menautkan alisnya.
"Ini tempat sendal itu, ambil aja mbak ! anggap aja sebagai tanda pertemanan kita dan ucapan perpisahan dari Salwa buat mbak Siska !" jawabku memberikan sandal yang pernah ia sembunyikan.
"Eh, ga usah mbak !! dulu saya hanya usil saja !" jawabnya menggeleng.
"Itu asli ko mbak, dibeliin abang waktu Salwa hamil Al pas 8 bulan, karena waktu di mall, kaki Salwa kesakitan pake sepatu, jadi cuma kepake sebulan, itupun jarang dipake ! maaf ya bukan barang baru !!" mbak Siska yang selama ini hanya bisa berandai andai ingin membeli barang mewah, karena penghasilannya manggung dari satu kondangan ke kondangan lain, hanya cukup untuk makannya sehari hari dan bedak saja sebagai penunjang untuk manggung, senang dan terharu.
"Makasih ya mbak Salwa, seumur umur saya belum pernah punya barang yang saya inginkan. " ucapnya memelukku.
"Iya mbak, sama sama !" jawabku.
.
.
Mbak Siska pulang, aku mulai membereskan pakaian dan barang barangku, agar nanti tidak terlalu sibuk. Mataku mengerjap melihat satu buah gaun milikku.
"Kapan gue bawa nih baju ?" gumamku sendiri geli. Dulu niatnya hanya untuk menggoda om Za saja, sebuah gaun seksi berwarna merah menyala terdapat belahan sampai paha, aku tertawa cekikikan, mengingat dulu saat membelinya. Teingaku sampai kena jewer oleh om Za dan ujungnya aku yang dikunci di kamar.
Aku mengesampingkan gaun itu,
Ceklek...
"Sibuk?? abang salam sampai ga di dengar?" tanya nya.
"Eh, maaf bang.. Salwa lagi beres beres !" jawabku.
"Bang, Salwa boleh minta sesuatu ngga?" tanyaku dengan mata berbinar.
Om Za mengangkat alisnya sebelah. Apapun sudah ia berikan apalagi yang akan diminta, pikirnya.
"Sebelum Salwa pergi, Salwa mau minta candlelight dinner !" jawabku.
"Candlelight dinner??" tanya nya.
"Iya, ga usah ke hotel ataupun rumah makan mahal ko, cukup di halaman depan rumah aja !" jawabku.
.
.
.
.
__ADS_1
.