
bismillah happy reading all😘
.
.
.
.
.
.
.
.
.
" sayang ...!" lirih seseorang bersuara bass saat aku hendak beranjak dari tempat bersama Adam.
" abang ," gumamku tak percaya jika si titisan syurga campuran malaikat pencabit nyawa itu mendatangiku.Ke gep berduaan sama cowok yang bukan muhrimnya panik ga ??? ya panik lah....
" pak Zaky..," gumam Adam bersamaan namun sesaat kemudian Adam langsung memalingkan wajahnya mendapat tatapan intimidasi dari om Za, belum lagi dengan panggilan sayang om Za ia mengartikan jika aku adalah hak paten miliknya.
" dik disini?" tanpa aba aba om Za meraih dan mengecup kepalaku yang terbalut jilbab hijau mint di depan Adam.Bukan hanya Adam saja akupun terkejut om Za melakukan itu.
" abang tau darimana Salwa ada disini ?" tanyaku.
" barusan abang melihat ada Nur dan yang lain , dia bilang kamu sedang disini berduaan bersama laki laki yang bukan makhromnya !" jawabnya .Tau jika kata kata itu merupakan kalimat pengusiran Adam segera beranjak.
" Sal..aku duluan kalo gitu ," seakan memberi privasi untukku dan om Za , padahal hati kecilku tak ingin Adam pergi , jujur aku masih malas berbicara dengan om Za.
" abang kira dik , bukan akan jalan jalan kesini !" ucapnya .Aku celingukan bukannya om Za lagi bareng rombongan pak walikota kenapa juga ia tau aku kesini .Tiada lain dan tak bukan pasti om Za bertanya pada Nur dan yang lain.
" abang ngapain kesini ? balik sana nanti rombongan nyariin !!" ketusku mengusirnya.
" masih marah ? " tanya nya mendekat meraih tanganku .
" ga usah pegang pegang !" jawabku.
" ohh atau tak mau pacarnya tau kalo dik sudah menikah ? " ucapnya ,apa kata kata ini bisa dikategorikan ungkapan cemburu ?
" pacar ?" beo ku.
" kenapa tidak bilang jika mau kesini ? bareng dia pula ? apa karena takut tidak abang ijinkan ?" senyumnya menggoda namun merasa seperti sebuah ejekan bagiku.Senyuman manis tercetak air perasan tebu saja kalah manis sama senyum si om pria matang ini.
" bukannya ga penting juga ya, toh abang lebih milih pak walikota dibanding Salwa !" jawabku.Ia menghela nafasnya meraup rasa sabar banyak banyak sebanyak air di lautan .
Kalau bukan tempat umum ia sudah pasti menggendongku dan menjatuhkanku di ranjang saking gemasnya akan tingkahku yang selalu membandingkan dengan pak Walikota.
__ADS_1
" mau ikut abang ? atau masih mau jalan jalan setelah ini ?" tanya nya.
" engga mau , Salwa mau pulang aja ! ngapain ikut abang , Salwa ga mau jadi orang ketiga antara abang sama walikota !" masih kekeh marah.Ia terkekeh.
" dik tunggu disini abang selesai setelah ini, jangan kemana mana !" pintanya.Bola mataku memutar namun tak berani membantah , aku tau jika ia marah akan bagaimana jadinya , bukan lagi pecah perang dunia persilatan marahnya bahkan mampu mengalahkan kacaunya desa yang ditelan lelehan lava gunung berapi.Atau perkampungan kaum nabi Luth yang di timpa gunung oleh Allah sebagai azab mereka.
Aku memutuskan untuk mengikutinya dari belakang , mataku memicing melihat adegan di depanku.
" apa apaan ini ? gue disuruh nunggu dia malah enak enakan selfie ria sama ibu ibu juga cewek cantik mana segala cowok serong gitu dilayanin !" ketusku saat melihat ada beberapa orang yang meminta berswafoto dengan om Zaky terlebih laki laki gemulai.Apalah daya remahan rengginang sepertiku ingin memiliki om Za seutuhnya belum bisa terwujudkan, om Za sudah seperti properti umum saja.
Yang walikota itu siapa sih ?? ko yang lebih eksis bawahannya.Aku memutuskan duduk di kursi panjang yang tersedia di sana meredam rasa kesalku untuk yang kedua kalinya .Aku mengetik pesan pada Nur jika aku pulang bersama om Za.
" giliran gue bareng Adam dibilang pacaran , nah dia senyum sana senyum sini ga kenal tempat , senyumnya murah banget..." omelku lagi.
" senyum siapa yang murah ?" tanya seseorang mengagetkan hingga aku menoleh.
" senyum pak suami !!" sarkasku, ia terkekeh.
" ayo pulang ," ajaknya meraih tanganku.
"ga usah gandengan kita bukan mau nyebrang !" aku melenggang duluan.
.
.
Aku memalingkan wajahku ke arah luar jendela.
" tadi ke sana naik apa ?" tanyanya membuka obrolan setelah sekian lama diam diaman.
" kenapa tidak meminta diantar Mirza atau bilang sebelumnya jika dik akan ke museum juga ?"
" suka suka, " kembali jawabku asal , ia kembali tertawa kecil sepertinya bukan waktu yang tepat untuknya kembali bertanya karena sudah pasti yang keluar itu jawaban jawaban aneh bin ajaib dari mulut merconku .Jalanan yang terlewati begitu saja membuat mataku seperti terhipnotis tak lama akupun tertidur.Beberapa lama aku tertidur tapi rasanya mobil masih tetap melaju ,
Tunggu , ini bukan jalanan menuju arah pulang..tapi ini kemana ?
" kita mau kemana bang ?" tanyaku sambil menyesuaikan mataku dan menguceknya.
" Medan ," jawabnya singkat.Alisku terangkat mendengarnya tapi bahuku hanya bergidik acuh.
12 jam seperti sudah biasa , karena bukan sekali dua kali aku melakukan perjalanan ke Medan.Om Za menggendongku saat sudah sampai di parkiran rumah yupp...ini sudah pukul 11 malam , sudah masuk waktu tidurku .
" badanmu kecil tapi makin hari makin berat, dik " lirihnya bergumam namun nampak tidak kepayahan menggendongku menuju rumah setelah sebelumnya mengabari penjaga rumah jika kami akan berkunjung kesini.
" maaf ya bu , jadi membangunkan malam malam, " ucapnya .
" ahh tidak apa apa pak," senyum dari wanita paruh baya itu.
Setelah menaruhku di ranjang om Za terduduk di sampingku menatapku lama lama lalu membuka jilbabku .Om Za beralih ke lemari mengambil pakaian ganti untuknya lalu bersih bersih.
.
__ADS_1
..
Aku menggeliat namun tertahan, sebuah lengan kekar sedang memelukku dari belakang, aku berbalik kali ini gantian aku yang menatapnya .Meskipun dengan wajah bantalnya lelakiku ini tetap tampan malah terkesan sexy dari sisi manapun lihatlah rahang tegasnya ketegasan mantan menteri kelautan saja kalah sama rahangnya om Za san lihatlah akis tebalnya jika dibayangkan dengan mata tajam nan indahnya berasa pengen bawa pinjem buat dipake kondangan karena tak perlu repot repot cetak alis atau sulam alis dan lihatlah idung perosotannya bikin cewek cewek berubah jadi anak tk dadakan karena pengen main disana san jangan lupakan wangi , pantas saja gelar camat ganteng melekat di namanya karena memang benar adanya .
" ganteng banget suami gue " gumamku sambil menenpelkan tanganku di rahang tegas dan sekitaran pipinya.
" makasih ," sontak aku membulatkan mataku ternyata om Za sudah bangun dan mendengarnya ia menahan tanganku .
" abang !! udah bangun ??" pekikku.
" dik pegang pegang pipi abang jadinya abang bangun ," ia membuka matanya.
" lepas .." ucapku menarik narik tanganku tapi bukannya melepaskan om Za malah membawa tanganku dan menariknya ke pinggangnya ia mendekatkan posisi tubuhnya denganku bahkan terkesan menempel.
" abang apa apaan sih, Salwa masih kesel sama abang ga usah nempel nempel gini !" omelku.
kesel kesel tapi ga nolak .
" abang rindu dik...sudah seharian kamu tidak memberikan jatah vitamin abang .." jawabnya.
Masih dalam posisi yang saling berpelukan dengan wajah yang saling bertatapan hanya berjarak beberapa inci saja.
" vitamin apa ?" tanyaku polos sepolos kertas hvs.
" vitamin kiss dan jatah si junior abang " kekehnya, wajahku memanas .
Tanganku yang melingkar di pinggangnya tak kusia siakan , aku mencubit pinggang om Za sekencangnya sebagai bentuk pelampiasan kekesalanku .
" awww...sakit dik !" aduh nya.
" biarin abisnya omongannya mesum terus inget ya bang Salwa ini masih bocil di bawah umur 21.." jawabku so benar.
" dibawah umur 21 tapi sudah hebat di ranjang apalagi kalau sudah 21..." kekehnya membuat wajahku semakin memerah.Aku mencubit untuk kedua kalinya , om Za menangkap tanganku sedangkan yang satunya lagi mengapit daguku memajukan wajahnya dan memulai mendaratkan benda kenyal miliknya, lalu menyesap milikku hingga ia puas. Tak kupungkiri ini pun menjadi asupan vitamin harianku dan aku rindu itu.
" camat mesum !" ucapku sesaat setelah om Za melepaskan pagutannya.
" sama istri sendiri halal , sudah ada label MUI nya ko , alhamdulillah jadi pahala ," jawabnya menghapus jejak jejak basah di sekitaran bibirku menggunakan jempolnya.
" Salwa minta ganti rugi ..." jawabku ia mengerutkan dahi.
" ganti rugi karena abang udah bikin Salwa kesel.." jawabku.
" oke dik , mau apa ?"tanya nya .
" Salwa mau nonton , Salwa mau ke salon.." jawabku , tak pikir panjang om Za langsung mengiyakan hanya nonton dan salon baginya tak masalah jika perlu ia beli dengan salon salonnya sekalian.
" tapi abang ikut nyalon ," tambahku membuatnya terbatuk dengan salivanya sendiri.
" apa , dik ??" tanya nya memastikan.
.
__ADS_1
.
.