Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
Bimbang


__ADS_3

Bismillah happy reading all 😘


.


.


.


.


.


"Mir, nanti siang mampir dulu ke tempat penjualan kerbau !" pinta om Za.


"Siap pak bos !" jawabnya terkekeh,


Tumben sekali abinya om bayi belum pulang, padahal biasanya akhir akhir ini ia sering pulang cepat, katanya tak bisa berlama lama pada dua kesayangannya ini.


"Nak, susui dulu Al, sepertinya haus !" umi menyerahkan Al Fath ke pangkuanku.


"Iya umi," aku segera meraih Al dari gendongan umi.


"Minum dulu air hangat, biar ASI nya hangat !" memang umi adalah mertua ter the best sepanjang masa.


"Makasih mi,"


Setelah meneguk air minum, segera aku mengeluarkan sumber kehidupan Al Fath, dengan rakus bayi gembul ini melahapnya.


"Takut keduluan abi ya dek," kekehku asyik melihat bayi gembul ini makan siang.


"Apanya yang keduluan abi?" ucapnya, tiba tiba ada di belakang lalu mengecup pipiku tanpa permisi.


"Abang! kapan abang pulang, ko ga kedengeran suara mobilnya?" tanyaku.


"Abang berhenti di luar pagar, " jawabnya melengos ke dalam toilet.


Ia keluar dengan wajah yang sudah basah," uhh anak abi rakusnya, lapar ya dek? jangan lupa sisakan abi !" ujarnya, aku mengernyitkan dahi.


Come on dude ! anda berebut ASI dengan anakmu.

__ADS_1


"Ihhh ga tau malu !" gumamku menggerutu melihat sikap om Za , dan ia tertawa kecil.


"Ada ribut ribut apa bang di luar?" tanyaku.


Om Za membuka seragamnya dan menggantinya dengan pakaian santai,


"Mungkin mereka sedikit kesusahan menurunkan kerbau," jawabnya. Aku mengangkat kedua alisku, "kerbau??!"


"Disini Aqiqah biasanya memakai kerbau jika dia mampu dek,"


Aku menaruh baby Al di kasur dan menepuk nepuk pan*tat nya sampai ia tenang dan tertidur pulas. Lalu melongokkan kepala keluar jendela kamar, dan benar saja di halaman bawah sudah ada seekor kerbau cukup gemuk di jaga beberapa orang karyawan om Za yang ia bawa dari perkebunan, untuk membantunya mengurus acara Aqiqah.


"Ko dimasukkin lagi? abinya ga boleh nyicip juga?" laki laki matang ini memelukku mesra.


"Ga boleh nakal, nanti ada yang bangun berabe !!" jawabku mengalungkan tangan dilehernya.


Keluarga dan kerabat umi juga beberapa orang tetangga mendatangi rumah, upacara Peutrôn Aneuk Manyak adalah tradisi turun tanah bayi, biasanya masyarakat Gayo melaksanakan tradisi ini pada hari ketujuh setelah bayi lahir, bersamaan dengan akikah, pemberian nama dan cukur rambut. Sama halnya dengan wilayah lain, berbeda marga atau suku adat ada pula perbedaaanya, walaupun inti dan makna tradisinya masih sama saja. Masyarakat Aneuk Jamee melakukannya pada hari ke 40 setelah bayi lahir, biasanya disertai dengan acara hadiah.


Para ibu sudah memasak bersama di dapur sebagai hidangan untuk tamu yang hadir di acara baby Al nanti, om Za sebagai anak Aceh sudah semestinya melestarikan budaya dan adat kampung halamannya. Ia mengundang beberapa sesepuh kampung dan para karyawan kecamatan. Mereka sudah datang dengan pakaian rapi, tak lupa kain tenun dan songket khas daerah Serambi Mekkah ini menghiasi penampilan mereka.


"Uhhh anak umi, sudah ganteng !"ucapku yang sudah sedikit mahir mengurus Al. Aku sangat sangat menikmati peranku menjadi seorang ibu.


"Sekarang tinggal umi yang berganti pakaian, biarkan dede sama abi !" om Za menyuruhku berganti pakaian.


"Murah rezekimu, taat dan beragama!!" ucap tante Mia.


Lalu tante Mia menyerahkan baby Al pada seorang yang terpandang, baik perangai dan budi pekertinya di wilayah ini, disini om Za mempercayakannya pada seorang sesepuh desa yang sudah berpakaian bagus dengan songket dan tenunnya. Untungnya baby Al adalah bayi yang anteng, jadi digendong oleh siapapun ia nampak tenang saja tertidur, Baby Al dan yang menggendongnya ditudungi sehelai kain dengan dipegangi di keempat seginya. Setelah sampai di halaman diatas kain itu dibelahlah kelapa, tujuannya agar si bayi tidak takut dengan suara petir. Aku sedikit terkejut awalnya.


"Bang masa iya mau belah kelapa diatas, itu dede gimana!!" bisikku mengeratkan cengkraman di lengan om Za. Ia malah tertawa.


"Adek lihat saja !" jawabnya.


Karena baby Al laki laki setelah itu, abi bergegas mencangkul tanah, mencencang batang tebu sebagai simbolik kesatriaan. Baby Al yang belum bisa di berdirikan, hanya dijejakkan saja kakinya di tanah, Tengku Sagoe / imam lalu berhitung.


"Saa, dua, lhee, peut, limong, nam, tuuuujoh!" lantangnya.


"Lagee bumoe nyoe teutap, meunan beuteutap pendirian gata !" tambahnya ( seperti kukuhnya bumi ini,maka demikianlah pendirianmu harus tetap ).


Baby Al lalu dibawa mengelilingi masjid dekat rumah lalu kembali lagi kerumah dengan mengucapkan salam. Belum selesai, saat masuk baby Al diraih dan digendong umi masuk ke dalam rumah, di ruang tamu yang sudah disulap menjadi ruang untuk marhaban ini sudah berjejer tamu undangan lainnya. Umi membawa baby Al berkeliling untuk di potong rambutnya oleh para tetamu, rambut baby Al dimasukkan dalam kelapa muda yang sudah di ukir dalam talam. Shalawat nabi dan irama marhaban bersahutan.

__ADS_1


Selanjutnya om Za menyerahkan kerbau yang sudah dibeli kemarin dan seluruh keperluan kenduri/pesta pada Tengku Sagoe dan Geuchik. Mereka yang akan memanggil pemuda kampung sebagai tenaga upacara yang mengurus acara Aqiqah dalam hal ini.


Acara sudah selesai, kerbau sudah disembelih,tinggal para tamu dan yang ada disini sedang sibuk mengurus acara Aqiqah. Aku lebih memilih pergi ke kamar dan membawa baby Al beristirahat.


" Dede bobo ya !" aku menaruh baby Al di box bayi, suasana di bawah sangat ramai dan aku kurang suka itu. Aku lebih memilih menemani baby Al disini, dirasa bosan aku menyalakan laptop om Za.


"Sehun gue mana sehun !!" gumamku sambil menscroll mencari deretan drakor yang sudah kusimpan di dalam laptop sini. Sehari saja tak melihat wajahnya bagai sayur tanpa garam.


Tapi tak sengaja, ada notif email yang masuk ke sini,


"Buka, jangan, buka, jangan??!! kalau tau urusan suami tanpa seijinnya dosa ga ya ?? " gumamku celingukan.


Tapi kekepoanku seketika luntur mengingat betapa takutnya aku pada om Za, bagaimana pun akan menjadi dosa jika tidak meminta ijinnya dulu. Lampu bohlam menyala di atas kepalaku. Aku segera bangkit dan memanggil om Za, biar dia buka sendiri di depanku.


Aku mencari cari om Za di lantai bawah, ternyata ia tak ada di keriuhan suasana. Aku kembali mencarinya ke lantai atas, mungkin saja di ruang kerjanya, karena kulihat om Mirza pun tak ada. Kembali kujejaki anak tangga.


Benar saja hanya berjalan beberapa langkah saja menuju ruangan pojok, senyumku mengembang mendengar suara keduanya dari dalam, pintunya sedikit terbuka. Baru saja akan mengetuk pintu aku tak sengaja mendengar obrolan keduanya.


"Beberapa kali pihak pusat sudah mengonfirmasi surat petisi, yang meminta mu untuk kembali menjabat sebagai Camat, Za !" ucap om Mirza.


"Iya sudah 3 kali mereka mengirimkan email, Mir !" jawab om Za.


"Lalu apa jawabanmu ?" tanya nya.


Terdengar helaan nafas berat dari om Za.


"Salwa baru saja melahirkan, bahkan Al belum genap sebulan, jika harus mengikuti pelatihan selama 3 bulan jauh dari mereka, aku berfikir dua kali, Mir...masalah perkebunan memang bisa kupercayakan padamu dan Ramli, tapi...." om Za menggantungkan ucapannya.


Om Za tau aku sangat sangat menolak jika ia kembali mencalonkan menjadi seorang camat.


"Petisi ini di adakan oleh warga dan beberapa pejabat daerah..Za, "ucap om Mirza.


"Mereka mempercayakan amanahnya, dan menginginkanmu kembali menjabat," tambahnya.


Hatiku terasa bimbang, aku mengurungkan niatku untuk mengetuk dan kembali ke kamar saja. Jadi email itu adalah email petisi. Aku kembali ke kamar dan dengan so tau nya membuka file email om Za, membaca setiap kata per katanya.


"Jawa Timur, ya ..." gumamku.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2