
Dokter sempat menggeleng, dan menyarankan untuk operasi sesar, karena tenagaku yang sudah terkuras habis.
"Bang, Salwa ga kuat !!" hampir mataku tertutup, karena tak sanggup saking lelahnya.
"Salwa ga boleh bilang gitu, adek harus kuat !! jangan menyerah sayang. Abang disini !!" ucapnya dengan mata yang sudah meneteskan air mata, menyarangkan beberapa kecupannya di pipi dan dahiku.
"Sekali lagi bu, jika tetap tak bisa dan sudah benar benar tak kuat. Kami akan melakukan operasi sesar," ucap dokter paruh baya ini.
Inilah tenaga terakhirku, ku kumpulkan seluruh sisa sisa energi dalam tubuh berikut tekadku,menghirup nafas dalam dalam, mencari kekuatan dan ketenangan.
"Push !!" pinta dokter.
Dorongan terakhir ini menjadi sebuah anugerah terindah, lemas seluruh badanku terbalaskan dengan kehadiran seorang bayi laki laki lucu dan tampan.
"Om bayi !!" gumamku.
"Alhamdulillah !!" om Za semakin terisak.
"Alhamdulillah, " ucap dokter dan suster. Suara tangisan makhluk kecil nan suci itu bagai nyanyian indah di malam hari.
"Alhamdulillah, makasih dek !!" ia kembali menyarangkan kecupannya.
"Abang jangan nangis, malu maluin !!" ucapku, dokter dan suster menahan kedutan di bibirnya.
By. Teuku Al - Fath Ananta.
Gelang mungil biru terbuat dari plastik bertuliskan itu, di tempelkan di tangan malaikat kecilku. Setelah diadzani oleh om Za, bayi kecilku kembali disimpan di box bayi.
Aku bersumpah setelah ini akan pergi ke salon untuk spa dan perawatan diri, dan om Za harus membayar liburanku nantinya. Tubuh yang sudah remuk redam, seperti tak berbentuk ini tak kuat walau hanya untuk mengambil gelas. Setelah mendapat kabar yang membahagiakan ini, Bunda dan ayah langsung memesan tiket penerbangan ke Medan.
Om Za mengcancel dan mewakilkan semua janji temunya dengan klien pada om Ramli. Om Mirza dan ka Aisyah pun langsung tancap gas untuk datang.
"Ayo makan dulu, dek !" pinta om Za.
"Sebentar bang, om bayi lucu ya! kaya siapa ya bang?" seruku menyenggol nyenggol pipi gemoy nan pink ini.
"Sini biar umi, gendong dulu Al Fath. Dan uminya makan dulu !" ujar umi, aku memberikan Al Fath pada umi. Rasanya tak ada puasnya memandangi wajah lucu nan menggemaskan itu.
Seketika aku berubah menjadi bayi besar om Za. Dari mulai menyuapiku makan, hingga aku ke kamar mandi om Za lah nanny ku.
"Bang, Salwa pengen ke toilet, kebelet !!" ucapku. Om Za membantuku turun dan membawa infusanku.
Mulai dari masuk sampai keluar kamar mandi om Za tak pernah membiarkanku sendiri, ia tak merasa jiji ataupun risih.
"Uhh abinya om bayi udah pinter banget !!" saat celanaku ditariknya ke atas lagi.
"Iya dong, hampir tiap malam latihan !!" kekehnya membuatku ikut tertawa renyah,
"Dasar camat mesum !" sarkasku.
"Tapi adek suka kan ??" godanya menjiwir hidungku. Membuatku cemberut.
"Jangan gemesin gitu, soalnya abang sedang puasa makan kamu !" ucapnya datar.
"Ahhh mau tetep cemberut juga !!" godaku mencolek colek perutnya, menggoda om om ini sungguh menyenangkan.
"Dek !!" kesalnya.
"Apa abang sayang,," jawabku mengesalkan.
__ADS_1
"Jangan mancing mancing !!" jawabnya.
"Kenapa? dingin ya, mandi malem malem !!" kekehku.
.
.
Padahal aku ingin sekali pulang, tapi om Za tak mau mengambil resiko, katanya dokter menyarankan untuk disini beberapa hari saja, takut jika terjadi komplikasi pasca melahirkan, karena umurku yang masih sangat muda.
"Lucunya !!" seru ka Aisyah. Al Fath, tertidur pulas meski pipinya diusap dan di senggol senggol oleh ka Aisyah. Ia masih anteng tak merasa terganggu.
"Kalem banget, walaupun diganggu !!" ucapnya lagi.
"Berarti kita tau gen siapa yang mendominasi !" jawab om Mirza.
"Jadi maksud om Mir, kalo nangis mulu gen Salwa gitu !!" jawabku yang sewot.
" Ga mungkin kan abang bilang Salwa kalem ?" tanya nya. Membuat yang lain menahan sudut bibir yang melengkung.
"Dek, abang mau menjemput bunda dan ayah di bandara," ucap om Za.
"Oh oke bang, hati hati !" jawabku.
Ia menyentuh kepala anaknya, lalu mengecup keningnya.
"Umi, abi ..Za pamit dulu jemput ayah dan bunda," diangguki umi dan abi.
Beberapa lama, om Za datang bersama rombongan dari Jakarta, bunda, ayah, adikku Yusuf dan pasangan kekasih yang sedang anget angetnya kaya poop ayam yang baru keluar, Afrian dan Acha.
"Assalamualaikum !!" seru mereka.
"Surprise !!!" pekik Acha dan bunda heboh.
Aku melongo melihat keduanya, "Mahmud !!" Acha berlari memelukku.
"Ga ada apa panggilan lain, loe pikir gue ustadz kampung sebelah !!" omelku.
"Mamah muda, Sal..elah...!!!"
"Mana cucu bunda??" Sekarang yang dicari adalah Al Fath, sepertinya kini Al Fath menjadi idola keluarga menggeser posisi umi dan abinya.
"Aduhhh !! lucunya cucu bunda, ganteng banget !"
"Ini mah mirip abang," ucap Yusuf. Membuatku membulatkan mata, tak ada yang membelaku disini, aku seperti ibu yang dibuang.
"Loe emaknya bukan sih Ka?" tanya Yusuf.
"Maksud loe !!! loe fikir Al Fath dikeluarin dari mana?? dari lubang idung bang Zaky?? " sarkasku.
"Selamat ya Sal, bang ! akhirnya rilis juga jadi abi dan umi !!" ucap Afrian.
Bukan hanya dari pihak keluarga saja yang datang, tapi dari kolega om Za pun saling berlomba lomba mengucapkan selamat dengan hadiah kelahiran bayi yang tidak bisa disebut sederhana.
Semua keluarga dibawa ke rumah, tentunya di Medan, sedangkan om Mirza, bunda dan om Za, yang menemaniku di RS.
Satu persatu, kolega om Za datang silih berganti.
"Gilaaak ! gue minder sama kadonya, Za !!" bisik om Mirza, melihat beberapa kotak kado berjejer di pojok ruangan sebesar besar dirinya.
__ADS_1
"Bukan dari kadonya tapi dari keikhlasannya, Mir !" jawab om Za.
Tok..tok..tok...
2 orang masuk ke dalam ruanganku, mataku memicing. Bunda menyambut tamu yang datang,
"Assalamualaikum Zaky, Salwa !" sapa pak Ilham yang datang bersama Susan. Tatapannya getir melihat om Za sedang menggendong baby Al. Sayangnya bukan dialah perempuan yang menjadi ibu si bayi lucu ini.
"Selamat ya Za, Sal !!" jawabnya tersenyum yang dipaksakan. Ia lantas memberikan sebuah bingkisan kado lainnya dan menaruh di pojokan bersama kado lainnya.
"Terimakasih pak Ilham, Susan," ucap ramah om Za. Suamiku ini kenapa sih? dibilang jangan senyumin ulet bulu, sudah tau mereka itu gagal move on, senyum yang manisnya tumpah tumpah gitu, auto bikin mereka ga bisa tidur karena kebayang terus wajah abinya dedek Al Fath.
Tak tau saja, jika ada ulat bulu disekitar om Za, radar peringatanku selalu berbunyi.
"Bang, Salwa pengen ke toilet !" pintaku, Om Za langsung membantuku turun dan membawaku ke kamar mandi.
Aku duduk di closet duduk, dengan om Za di depanku.
"Ko wajahnya ditekuk gitu !" ucapnya.
"Abang ga usah senyum senyum gitu sama Susan, udah tau Susan masih nyimpen rasa sama abang !!" sarkasku.
"Ko tua !!" kelakarnya terkekeh, pria kaku ini mencoba menggodaku.
" Tau bang tau !! ya tau lah, keliatan jelas di jidatnya ada tulisan ga bisa move on dari Zaky !!" sewotku.
"Uminya dedek Al Fath jangan marah marah terus, nanti gemesinnya nambah !!" cubit om Za di kedua pipiku.
"Ga usah cubit cubit, sana jauh jauh !!" decihku kesal. Rasanya bayiku sudah lahir, jadi kesal ini tak mungkin hormon kehamilan.
.
.
Dokter berkata sebagai perawatan ibu pasca melahirkan agar melancarkan ASI ialah dengan menjaga mood, makanan bergizi, menjaga pay*udara tetap hangat dan sering mengosongkan isi si kembar sintal. Maka itu yang dilakukan oleh om camat ini.
.
.
"Sakit bang !!! abang bukannya mau ngosongin ASI tapi ini mah plus ***** !!" sarkasku menepis keras tangan om Za yang sedang membantu memompa ASI, sedangkan bayi kecil kami dipegang bunda.
"Astagfirullah ! ini pelan pelan dek," ia mengelus dadanya, tak taukah ibu muda di depannya ini. Begitu tersiksanya dirinya menahan sesuatu yang menggebu di dalam sana, apalagi dalam jangka waktu yang tidak sebentar.
"Awas air kompresannya jangan kepanasan, nanti kulit Salwa malah melepuh !!" omelku lagi, bunda yang mendengar nyanyian sumbang di pagi hari ini hanya tertawa kecil sambil bermonolog dengan cucu pertamanya yang sama sekali belum mengerti apa apa.
Om Za berulang kali mengelus dada dan beristighfar, Berkali kali juga aku memukulnya keras dan berteriak di depannya.
"Sabar ya Za, merawat ibu pasca melahirkan memang tak semudah mengadakan penyuluhan di desa atau memenangkan sebuah tender bisnis !" lirih bunda memberikan kesabaran pada menantu tampannya ini.
"Iya bun," jawabnya singkat sekaligus pasrah.
.
.
.
.
__ADS_1