Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
Hebatnya umi baby Al..


__ADS_3

Bismillah happy reading all 😘


.


.


.


.


Mataku memicing ke arah perempuan yang katanya janda kembang , sepertinya kalau di animasikan dari arah mataku sudah keluar pancaran kilat pokemon listrik, menabuh genderang perang pada perempuan satu ini, apa perlu kutaburi bedak salicil biar ga gatel gatel, atau perlu kusembur pake air bunga setaman biar sadar kalo lelaki yang sedang ia tempeli itu udah ada label halalnya dari KUA. Untung saja om Za tidak bentol bentol ketempelan ulat. Tidak dimana mana perempuan yang begini selalu ada, ga bisa liat laki laki bening dikit berasa be mine...


"Saya bikin sendiri loh, bu ibu. Sengaja luangin waktu buat bikin kue, buat bapak bapak ," ucapnya.


Sumpah, ga pengen tau ! gumamku, om Za mengusap tanganku, seakan memberi peringatan, alisnya mengernyit mengatakan jangan menanggapi mbak Siska. Om Za tak tau saja mulutku ini rasanya sudah gatal pingin kunyah tuh perempuan. Kenapa ga sekalian aja bikin pengumuman di masjid biar satu kampung tau.


"Wah, kerja bakti kali ini kenyang, enak enak pula !" seru salah satu bapak.


"Terima kasih pak Zaky, mbak Salwa, juga mbak Siska !" ucap pak Rt menghaturkan terimakasih.


"Ini lontong sayur nya masak sendiri mbak?" tanya bu rt.


"Hah??!" aku tersentak dari lamunan seraya tanganku mengusap lembut pipi Al, bayi gembulku ini mengantuk.


"Iya, bu. Masak di rumah saya, hebat ya masih muda sudah pintar memasak. Pak Zaky bersyukur punya istri muda, cantik dan pintar masak !" bukan aku yang memuji diriku sendiri, tapi bu Surti yang malah terprovokasi sikap menyebalkan mbak Siska, tetangganya yang satu ini memang lain daripada yang lain, doyannya godain laki laki, tak penting siapa lelaki itu. Apalagi liat om Za, bahkan gadis saja kepincut bapak satu anak ini.


Mbak Siska yang kesal karena semua perhatian tertuju untukku, memilih diam. Om Za meraih gelas yang kebetulan di dekat mbak Siska.


"Biar sama saya pak," ucapnya mesem mesem sendiri meraih gelas belimbing dari tangan om Za. Mungkin sedari tadi ia menunggu moment moment untuk bisa berdekatan dengan om Za.


Tiba tiba datang seorang pemuda menghampiri,


"Mbak Siska, kata'e mama mau minta uang sisa bayar kue kue barusan !" betapa terkejutnya ia didatangi Soni, anak bu Wati.


Semuanya saling memandang, sedangkan bu Surti mengulum bibirnya menahan tawa.


"Son !" desis mbak Siska.


"Jadi ini bikinan bu Wati ? pantes saya hafal rasanya !" jawab bu Rt.


Ia menarik Soni menjauh dari kumpulan, bukannya membayar ia malah memarahi Soni, menagih uang sisa kue, aku melihat gelagat mbak Siska yang memarahi Soni,


"Bang, pegang Al sebentar !!" pintaku.


"Kamu mau kemana?" tanya om Za.


Aku mendekati keduanya, terlihat mbak Siska langsung bersikap manis, " ada perlu mbak Salwa?" tanyanya.

__ADS_1


"Soni, berapa sisa uang kue yang belum dibayar?" tanyaku.


"150 ribu mbak !" jawab anak itu, aku merogoh saku ku, lalu memberikan uang pecahan merah dan biru, kutambahi 10 ribu untuk Soni.


"Ambil sisanya buat jajan es dawet !!" ucapku pada Soni. Sontak anak itu mengambil uang dari tanganku dan berseru senang.


"Eh, tak usah saya juga bisa bayar sendiri !!" ucapnya tak terima.


"Ga apa apa mbak, kebetulan saya ada rejeki lebih, mungkin sudah jadi porsi rejekinya bu Wati dan Soni !!" aku kembali.


Menampar orang tidak harus memakai kekerasan, hal itu yang lelaki matang ini ajarkan padaku, sekuat mungkin aku meredam emosi dan mencoba belajar dewasa dan bijak.


Karena rasa malu yang sudah menggunung, mbak Siska pamit undur diri. Jadilah namanya menjadi bahan ghibahan ibu ibu disini, sementara bapak bapak melanjutkan kegiatan kerja baktinya.


"Ibu ibu saya pamit pulang ya," ijinku, melihat baby Al yang sudah terlelap, tak baik juga kuping sucinya di cemari dengan ghibahan murahan macam ini.


.


.


Aku meringkuk bersama Al yang tertidur, mamasak banyak ala orang hajatan ternyata menguras tenaga.


"Cup"


Aroma sabun menguar di penciumanku, pipiku terasa dingin, beberapa kali aku mengerjapkan mata, bersyukur pada Tuhan, saat bangun tidur disuguhi pemandangan indah. Apa aku sedang di taman langit? ko ada penghuni surga disini.


Om Za lalu melirik perutnya, "Abang ga pamer, cuma mau bikin uminya Al ngiler, " jawabnya. Memang mulut selalu berkhianat, nyatanya saat om Za mendekat dan mengecupku, aku langsung mengalungkan tanganku di lehernya, hingga terbawa bangun dan duduk di pangkuannya.


Om Za tertawa, rambut basahnya yang acak acakan, berasa pingin di jambak aja, bikin gemes.


"Katanya bosen, tapi nempel nempel?" tanya nya menjiwir hidungku.


"Sayang, mubadzir !!! yang indah indah ga boleh sampe dilewatkan, apalagi sekarang makin banyak ulet bulu !!"jawabku.


"Uminya Al kalo lagi cemburu menggemaskan, bikin abang pingin makan !!"


"Otaknya abang kan emang mesum !!"


"Awas abang mau berpakaian!" jawabnya tapi aku malah menggeleng, " biar saja begini, mirip kaya orang orang barat, cuma pake singlet doang!"


"Oke kalo gitu ke warung pun abang cuma mau pake singlet doang !"


"Jangan !!!, ini cuma milik Salwa !!!" aku menggigit bahu kekar ini hingga si empunya menringis.


"Mau tumbuh gigi?? " ujarnya, mengusap bekas gigitanku.


" Stempel, biar orang tau ini udah ada hak patennya !"

__ADS_1


Aku turun dari pangkuan om Za, lalu membawakannya t-shirt. "Bang, sepulang dari sini Salwa mau kuliah!! apa abang udah dapet Salwa nantinya bakal kuliah dimana?" tanyaku seraya melengos keluar kamar ke ruang tengah.


" Abang sudah mendaftarkan nama Salwa untuk semester nanti di salah satu universitas di Aceh !!" jawabnya.


" Oke,"


Ada rasa tak tega meninggalkan Al, mungkin nanti waktuku dengan Al akan tersita oleh urusan kampus, dan aku harus membagi waktu.


"Abang yakin, adek bisa. Menjadi istri, ibu dan mahasiswa. Abang selalu ada buat dukung Salwa !" ucapnya memelukku dari belakang.


Sedang bermanja manja ria, pintu diketuk oleh seseorang dari arah depan. Om Za sudah akan membuka pintu, tapi kutahan


" Sebentar !" aku mengambil krim masker wajah milikku, tanpa ijin atau permisi aku mengoleskannya di wajah om Za.


"Abang diem !!"


"Ini apa apaan dek??"


Kaya sinteron lagi adegan asik tiba tiba terganggu iklan, aku berdecih..lagipula siapa sih yang datang tak tau saja sang tuan rumah lagi ga pengen diganggu.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam, bu rt?!" sapaku, om Za menghela nafasnya lelah.


"Maaf mengganggu mbak Salwa...ibu ibu mau menjenguk bu Fatima yang baru saja melahirkan besok, kalau mbak Salwa sempat bisa ikut menjenguk !" ucap bu Rt, ternyata keberadaanku diakui juga disini.


"Oh boleh bu, kira kira jam berapa?" tanyaku.


"Setelah ashar saja bu, " ucap bu Rt, aku mengangguk setuju.


"Boleh, bu..." mata bu Rt mengarah pada om Za, ia terkikik melihat wajah om Za yang kuolesi masker tak menampakkan wajah aslinya.


"Pantas saja bening, wong tiap hari maskeran !" gumam bu rt, mungkin besok besok ia akan menyuruh suaminya maskeran pikir bu Rt.


" Astaga pak Zaky, saya pikir siapa, pak Zaky maskeran??" tanya bu Rt, mata om Zaky menatap tajam ke arahku.


"Iya bu, lagi main salon salonan !!" jawabku. Manusia keren plus kaku dan dingin modelan om Za maskeran?? mungkin memang dunia sudah menggila.


"Kalau begitu saya permisi mbak ! assalamualaikum"


"Silahkan bu, wa'alaikumsalam "


"Dek, cepat bersihkan !!" omelnya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2