
Bismillah happy reading all π
.
.
.
.
.
Sudah beberapa hari kota ini dilanda hujan, akibatnya terjadi banjir di beberapa kawasan.
"Abang mau kemana?" tanyaku, pasalnya lelaki ini meminta aku menyiapkan bekal baju ganti untuknya.
"Abang mau meninjau daerah yang tergenang banjir !" jawabnya.
"Abang yakin? sama siapa?" tanyaku, seperti ada rasa khawatir yang menggantung disini, di dalam dada. Setauku banjir bisa semakin parah, saat ini saja ketinggian air mulai naik sampai lutut.
"Yakin, ada Mirza ada Riski juga !" jawabnya.
"Hati hati ! apa Salwa perlu ikut?" tanyaku, ia menggeleng.
"Adek kuliah saja, nanti ada Afrian yang menjemput ! kalau abang telat !" jawabnya lagi. Seperti biasa lelaki ini tak ingin dibantah. Daripada nantinya harus mendengarkan siraman rohani seharian lebih baik aku iya kan saja.
"Al, abi berangkat dulu ya !" kecupnya di kening Al penuh sayang.
"Uminya??!" tanyaku, seraya menunjuk pipiku.
"Uminya nanti saja, kalau sepi !"
"Biasanya kalo sepi, suka ditambahin modus !" bibirku mengerucut manyun.
"Abang yakin ga mau Salwa temenin aja ?? kalo nanti abang kangen Salwa gimana?" om Za melirikku, dengan alis terangkat. Seakan bilang yang benar saja, jangan kepedean fernando ??!
"Insyaallah engga, kan nanti bisa bertemu di rumah !" jawabnya. Mentang mentang semalam sudah mendapatkan jatahnya, sekarang berlagak tak kangen, habis manis sepah dibuang, awas saja nanti malam. Tidur di luar !
"Abang pergi dulu, " tangan yang di jari tengahnya melingkar cincin pengikat antara aku dan dia itu, meraih kepalaku, lalu mendaratkan kecupan manisnya di keningku.
"Iya, hati hati...Salwa pamit belajar dulu, "
Sebelum masuk ke kelas, aku terlebih dahulu masuk ke perpus, ada beberapa buku yang ingin kupinjam.
Alhamdulillah, semalam aku memanjatkan do'a di sepertiga malamku agar hari hariku ini damai, ternyata di kabulkan oleh Allah. Sejak pertama menjejakkan kakiku di kampus pagi ini, aku belum bertemu dengan si nene lampir ataupun Zidan. Bahkan aura gelapnya saja tak terasa, semoga saja pagi ini dan seterusnya mereka tak pernah lagi bertemu ataupun berpapasan denganku. Atau mungkin besok besok aku harus melarungkan sesajen di laut agar membuang si@*l. Agar keduanya pergi jauh jauh dari hidupku.
Aku yang sedang membaca buku mencari beberapa sumber untuk tugas tugasku teralihkan dengan tayangan di tv. Yang rata rata isinya berita seputar banjir yang terjadi, memang mengkhawatirkan. Bahkan sampai ada beberapa kawasan yang warganya harus sampai mengungsi, dan yang kutau daerah daerah itulah yang akan menjadi tempat tujuan om Za, karena memang wilayah kepemimpinan om Za, memang di perpustakaan ini ada televisi, layaknya di ruang tunggu klinik. Aku mendongak ke arah luar ruangan, langit sudah kembali mendung. Enaknya jika sudah begini tuh, rebahan dan makan cemilan, kembali tarik selimut dan pelukan sama om om pria matang. Pikiranku merayau kemana saja. Kira kira om om pria matangku sedang apa sekarang.
"Dicariin ternyata malah nyungsep disini !" ucap Alisha.
"Hey, iya. Ini lagi cari beberapa buku buat tugas makalah !" jawabku gak fokus dengan cuaca di luar.
"Kenapa Sal?" tanya nya mengerutkan dahinya.
"Itu liat awan udah mendung aja jam segini !" aku melirik jam tangan, jarumnya baru menunjukkan pukul 10 pagi.
"Iya, cuaca lagi musim hujan. Sampe di beberapa daerah banjir juga !" jawabnya.
Do'a ku semoga hari ini semua urusan om Za dilancarkan. Petir sudah bersahutan saling menimpali. Tak lama kemudian hujan mulai turun membasahi bumi untuk ke sekian kalinya.
"Mungkin ga sih, banjir naik lagi ?!" tanyaku pada Alisha.
__ADS_1
"Bisa jadi Sal, kasian deh sampe ngungsi juga !" jawabnya, "kenapa Sal?!" tanya Alisha, akhirnya ia melihat raut kekhawatiran di wajahku.
"Abang lagi disana, Sha !" jawabku.
"Lagi ngunjungin warga yang terdampak ?" tanya nya, dan aku mengangguk.
"Ga usah khawatir, pasti pak Zaky milih tempat yang aman lah, Sal !" ujar Lisha menenangkan.
*******************
"Masih ada beberapa warga yang tak mau mengungsi, dan memilih bertahan di rumah, pak !" ucap salah seorang relawan dan para perangkat desa.
"Subhanallah ! kalau begitu saya ikut kesana, mengecek warga dan daerah terdampak !" ucap om Za.
"Za, disana tidak aman. Tidak menutup kemungkinan, ketinggian air bisa bertambah lagi !" jawab om Mirza.
"Insyaallah aman, ada yang lain juga."
Om Za ikut dengan tim relawan, ia naik ke dalam perahu karet, memastikan langsung untuk membujuk beberapa warga yang bandel, melihat langsung separah apa dampaknya dan bagaimana caranya membenahi lingkungan ini. Sebagai seorang yang bertanggung jawab, ia merasa harus ikut turun langsung bersama yang lainnya, bukan hanya bisanya menunjuk nunjuk saja, tanpa mau ikut berjuang.
Seorang yang tau wilayah ini, menunjukkan tempat tempat mana saja yang terdampak dan beberapa warga bandel. Om Za memutuskan untuk mendatangi seorang perempuan tua yang memilih bertahan.
"Tapi pak, ini terbilang cukup dalam ketinggian airnya," ucap salah seorang relawan.
"Seberapa tinggi ? apa tinggi badan saya kalah tinggi? disini ada nyawa orang lain yang dipertaruhkan, " ujar om Za. Relawan itu garuk garuk kepala, sebenarnya tinggi air mungkin sebatas perut orang dewasa.
"Apa masih mungkin di lalui?" tanya om Za.
"Ma..masih pak ! tapi..tidak menutup kemungkinan tinggi air akan bertambah !" jawabnya ragu.
"Kalau begitu tunggu disini, saya coba bujuk ibu yang ada di dalam !" ucap om Za. Tidak tau saja relawan itu, siapa yang ia hadapi. Jangankan ia yang baru dipelototin saja sudah tunduk, aku saja yang istrinya dan terbilang cerewet dan magic tak pernah bisa menang jika melawannya.
Lelaki itu turun, benar saja air setinggi perutnya. Bajunya sudah basah kuyup, ditambah hujan turun makin deras.
Om Za meyakinkan nenek itu untuk mau mengungsi, dengan membawa barang seperlunya saja, seperti pakaian. Setelah melalui proses meyakinkan yang alot, akhirnya nene itu mau juga mengungsi. Nene nene saja tau mana yang tampan. Karena ketinggian air yang tidak memungkinkan si nene untuk berjalan, om Za memutuskan menggendong nene itu di pundaknya.
"Ayo bu, naik ke punggung saya saja ! biar saya gendong sampai perahu !" ucapnya. Nene itu menurut, dan nemplok di lunggung om Za, yang mulai berjalan keluar dari dalam rumah.
Om Za berhasil keluar dari dalam rumah si nene, disambut oleh para relawan. Setelah menaikkan si nene ke dalam perahu karet, tak disangka air dari kali beberapa meter dari sana meluap kembali, karena mendapat air banjir kiriman.
"Pak Zaky !!!" teriak yang ada di perahu. Perahu karet mereka terpundur menjauh. Om Za juga ikut terbawa arus air. Dengan menggunakan HT, mereka berkomunikasi dengan tim di pengungsian mengatakan jika om Za butuh bantuan.
Afrian datang ke kampus dengan terburu buru.
"Sal, abang !" Afrian menceritakan kabar yang ia dapat dari beberapa relawan yang merupakan temannya. Tak tunggu lama, aku langsung ijin pada dosen dan berlari menuju parkiran.
"Abang ngapain sih pake turun langsung ke sana !!! dah tau cuacanya begini !!" aku mengomel sendiri di dalam mobil.
"Loe kaya ga tau bang Zaky aja Sal, dia kan seloyal itu sama tugasnya !" jawab Afrian.
"Bisa cepetan ga sih Ian, kalo ga bisa, sini gue yang bawa !!" Afrian pun kena semprot karena laju mobil yang menurutku lamban. Kaki ku tak mau diam, mungkin jika dihitung sudah berapa ratus ketukan dari kakiku ke alas mobil Afrian. Dan sudah beberapa kali aku berganti posisi duduk, saking paniknya.
Si@*lan sekali laki laki itu, baru kemarin membuatku khawatir dan bahkan sudah hampir putus asa, sekarang dia mengulanginya lagi. Awas saja kalau sampai bertemu nanti, akan ku borgol tangan dan kakinya.
Afrian malah berbelok masuk ke dalam spbu, di situasi seperti ini dia malah kebelet.
Aku manyun dan marah marah.
"Loe ga tau situasi kondisi banget sih ! tau gue lagi buru buru !!"
"Ya maaf, namanya juga kebelet Sal ! mana bisa pilih waktu ! " jawabnya. Di saat Afrian pamit ke toilet, aku berpindah posisi. Berada di jok pengemudi.
__ADS_1
Afrian hendak masuk ke dalam kursi pengemudi.
"Loe ke samping ! nyetir loe kelamaan, katanya sering balapan !" ucapku.
"Emang loe bisa nyetir Sal?! loe pindah deh, Sal ! biar gue aja !" beonya. Tak tau saja, selama ini aku menutupi kenakalan lainku. Semasa kelas 1 SMA, aku pernah belajar mengendarai mobil pada ayah. Dan terkadang diam diam aku selalu membawa mobil ayah.
"Liat Sebastian Vettel beraksi !" jawabku. Aku menarik tuas rem tangan dan gigi, lalu tancap gas, membelokkan mobil seraya melihat ke belakang.
"Titt !!!" aku membunyikan klakson mobil, agar pengemudi lain memberiku jalan, kunaikkan kecepatan, Afrian sudah beberapa kali memperingatkanku seperti emak emak yang sedang mengomel jika anaknya main di kali.
"Berisik !" jawabku.
"Sal ! yang bener aja, jangan sampe nanti kita mati konyol !" jawab Afrian.
"Palingan di kubur !!" jawabku enteng.
"Kamvrettt, " gumamnya, aku terkekeh.
Stir ku banting ke kanan dan ke kiri, melihat 3 detik lagi lampu merah, aku menaikkan speedo meter, membuat Afrian kembali mengomel.
Aku melirik sampai benar aku melintas tak selang satu detik lampu menjadi merah.
"Hofff !!! gillakk loe Sal ! gue kira loe ga bisa nyetir !" ujar Afrian.
"Bisa lah, Acha aja tau !" jawabku.Tak lama mobil sampai di daerah pengungsian. Aku melepas seatbelt dan turun, meninggalkan Afrian.
Setengah berlari dengan rok panjang di tengah hujan. Tak mengurungkan niatku untuk secepatnya mengecek keadaan om Za.
Aku masuk ke dalam gedung serba guna mencari dimana rombongan kecamatan berada, beberapa berpakaian safari, dan kuyakin itu pasti rombongan om Za.
"Bang Riski !! mana abang?!" tanyaku melihat di dekatnya tak ada om Za.
"Bu Salwa !" ia terkejut dengan kedatanganku.
"Bapak, "
"Iya abang mana??!" tanyaku tak sabar, jangan bilang kalau ia belum di temukan atau semacamnya. Jantungku sudah hampir menggelinding dan ikut hanyut.
"Sal??!" sapa om Mirza dari arah samping.
"Om Mirza??! abang mana?!" tanyaku sudah hampir memecahkan tangisan.
"Disana !" tunjuknya.
Aku bernafas lega, jika saja jawabannya bukan yang kuinginkan sudah ku bom tempat ini.
Aku membuka tirai ruang kesehatan, melihat lelakiku tengah duduk mengobati kakinya yang lecet, dengan pakaian yang sudah diganti, hanya saja memang rambutnya basah.
"Dek, " ia mengerutkan dahinya.
Mataku menyorot tajam, aku masuk dan memeluknya. Tapi sejurus kemudian aku memukulnya.
"Abang tau ga, jantung Salwa udah hampir copot ! denger abang malah ikut keseret air banjir !!"
"Salwa sampe ijin, terus ujan ujanan !!" setetes air mata kesal bercampur sedih menetes di pipi.
"Abang ngapain sih selalu kaya gini??!!! dah bosen idup??! mau ninggalin Salwa sama Al Fath ??!!" tanyaku membentaknya.
.
.
__ADS_1
.
.