
Bismillah happy reading all π
.
.
.
.
.
.
.
Sayup sayup terdengar suara orang mengobrol dari balik ruangan.
"Tunggu ini gue lagi dimana?" kamar nuansa putih cukup bagus tapi terasa asing.
Aku segera berlari menuju pintu namun apa yang diharapkan, pintu terkunci dari luar. Aku teringat kejadian terakhir saat aku dipaksa orang untuk menyerahkan diri.
"Si*al ini gue diculik kah? buat apa coba? apa mau dijual ke luar negeri kaya yang sekarang marak diberitakan?" gumamku ngeri sendiri mengingat berita akhir akhir ini yang sering tayang di acara berita bahwa tengah marak human traficking khususnya gadis gadis sepertiku.
Ditambah keadaanku yang sedang hamil muda semakin membuatku ingin menangis meraung raung dan pulang saja, "om bayi, sabar ya abi pasti nyariin kita!" aku bermonolog.
"Ehh ponsel gue mana?" aku mengingat ingat.
"Ya allah ketinggalan di mobil!" gumamku.
"Assalamualaikum," seseorang masuk ke dalam kamar, sesosok laki laki paruh baya lebih tua dari om Za membawa nampan sepiring makan dan segelas air putih.
"Waalaikumsalam, jadi anda yang bawa saya kesini? saya mau pulang !!" ucapku ngotot.
"Maaf, saya dengan susah payah membawa..." ia melirikku dari atas sampai bawah seolah menelitiku. Stelan seragam SMA apakah pak Zaky yakin memperistri anak SMA??
"Apa yang harus saya sebutkan ibu kah adek kah??" tanya nya.
" MBAH!!" jawabku sarkas namun ia malah tertawa.
"Ibu camat kita satu ini menggemaskan pintar sekali pak Zaky mencari daun muda, ternyata seleranya yang galak galak macam ini, saya jadi tertarik ingin mengikuti jejaknya walaupun saya pria beristri !" aku nya. Sumpah demi apapun aku tidak ingin mendengar pengakuan manusia sampah macam dia yang menurutku memuakkan.
"Cihh sampai kapanpun mau anda guling guling ke salon buat rubah penampilan ataupun banyak duit, ga akan bisa kaya abang!" sarkasku. Jika ada kontes makhluk terjutek dengan tingkat kepedasan mulut yang setara dengan jalapeno akulah orangnya.
"Hahahaha....adek semakin menggemaskan!" sungguh tidak ada yang lucu menurutku, bibirnya yang kehitaman akibat asap rokok dan nikotin juga kumis tipisnya membuatku eneg ingin memuntahinya.
"Jangan panggil saya adek, saya bukan adik anda!"bentakku lagi.
"Ini saya bawakan ibu makan, saya tau ibu sedang hamil, saya masih baik memberikan ibu makan karena saya membutuhkan ibu hidup hidup !"jelasnya. Hatiku sudah menggebu gebu ingin rasanya menyumpalkan sendok garpu ini ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Ternyata di muka bumi ini masih ada manusia sa*mpah seperti anda,terlebih lagi di bumi serambi mekkah seperti ini!" decihku ia sudah mengepalkan tanganya sepertinya ia sudah terpancing emosi oleh kata kata pedasku.
"Kasihan sekali dengan orang orang baik disini harus dirusak oleh orang orang macam anda!" ucapku lagi. Ia mendekat hendak melayangkan tangannya aku meraih garpu di atas piring siap melawan.
"Apa ???!! anda mau menampar saya? sifat pria murahan adalah gampang tersulut emosi dan main tangan, tapi alhamdulillah suami saya tidak memiliki keduanya!!" jawabku.Tangannya sudah menggertak namun ia turunkan.
"Kenapa? apa mulut jujur saya mengurungkan niat anda untuk memperistri seorang gadis menggemaskan macam saya??" tanyaku.
tok..tok..tok...
"Pak, ada pak Zaky di bawah!" ucap orang suruhannya.
Akupun ikut menoleh. " Om Za," gumamku.
"Wahh ! cepat sekali pak Zaky kesini, bukankah ia sedang seminar di luar kota?" ia tersenyum jahat.
"Abang, abang...!!!" pekikku.
"Salwa?!" gumamnya.
"ck, cerewet sekali gadis ini!" decaknya.
"Gus, bawa dia kesini !!" pintanya seorang pengawalnya mencengkram pergelangan tanganku kuat.
"Lepasin!!! jangan sentuh saya !!" pekikku.
Sosok yang kurindukan dari kemarin sedang berdiri bersama om Mirza di depan pintu
"Salwa !!" gumamnya keras.
"Abang ," ingin rasanya aku menangis berguling guling, tak tau kah abang kalo Salwa takut, Salwa kangen abang dan yang jelas Salwa lapar sekarang.
"Lepaskan istri saya pak Ryan...tidak bisakah anda bermain secara sehat dan menerima dengan lapang dada?" tanya om Za.
Elah om..om...hari gini nyuruh orang buat ikhlas, ngasih pengamen aja dua ribu hati berasa ga ikhlas ragu ragu padahal duitnya lecek.
"To the point saja pak Zaky, saya ingin segera mendapatkan surat ijin membangun dan usaha di tanah yang sudah saya ajukan, dan satu lagi saya minta pak Zaky membatalkan tender brand ternama itu dan menyerahkannya pada saya!" jelasnya tak mau berbasa basi.
Picik sekali orang disampingku ini, ralat bukan orang lebih menjurus ke se*tan.
Om Zaky menggelengkan kepalanya " picik sekali anda pak, menggunakan cara kotor seperti ini lagipula tanah yang akan anda pakai itu masih milik warga yang bersangkutan saya tau anda juga mencurangi mereka, belum lagi bangunan usaha anda adalah usaha judi dan tempat hiburan terkutuk," Om Za melempar beberapa lembar kertas beserta map berwarna biru berisi surat surat pengajuan perijinan.
"Kembalikan istri saya !!" ucap om Za datar namun suaranya mampu membuat siapapun merasa langsung menelan ludahnya takut.
"Kita ini pebisnis pak, setiap pertukaran pastilah ada sesuatu untuk ditukar!" jawabnya tak mau kalah.
"Saya kembalikan istri bapak tapi surat perijinan anda loloskan, juga tender kopi anda berikan pada saya,"pinta pak Ryan, laki laki berkemeja hitam itu maju beberapa langkah ke arah om Za.
"Jangan bang! jangan mau!" pekikku. Ia menoleh ke belakang ke arahku yang sedang berontak.
__ADS_1
"Apa ibu bisa diam ! ini urusan pekerjaan !" bentaknya.
"Jangan pernah membentak atau menyakiti istri saya !" om Za mulai naik pitam, ia menoleh ke arah om Mirza. Sepersekian detik om Za melihat titik lengah pak Ryan yang sedang berbicara padaku dengan berlari dan menendang kuat pria yang tengah memegang tanganku hingga ia tersungkur, sedangkan om Mirza memiting pak Ryan dan menguncinya dengan pitingan tangannya.
"Brukkkk!!" laki laki bertubuh tegap itu tersungkur, aku pun sejenak tersentak akan terbawa namun om Za menarikku ke dalam pelukannya.
"Adek tunggu disini sebentar," ucapnya melihat kedua orang yang tadi hendak membalas om Za membogem nya duluan, aku sampai menutup mulutku yang terbuka dengan kedua tanganku. Melihat om Za tanpa kesusahan menghajar habis habisan para dekeng pak Ryan. Pak Ryan sendiri sudah diamankan oleh om Mirza, Kejadian ini begitu cepat sampai polisi yang sedang di luar bersama om Ramli masuk.
"Adek tidak apa apa kan? apa ada yang sakit ?" tanya nya. Aku menggeleng namun aku sesenggukan.
"Abang tau adek takut, jangan khawatir abang ada disini," ia memelukku dan aku membalasnya.
"Salwa laper bang.." ucapku, om Za langsung meregangkan pelukannya.
Ia tertawa kecil "Jadi istri dan anak abang ini lapar? kurang aj*ar sekali dia menculik tapi tak memberi adek makan," om Za merangkulku sambil berjalan keluar bersama.
"Sempet dikasih bang, tapi Salwa nolak takut uangnya ga halal." Om Za tertawa kecil lagi dan mengusap kepalaku.
"Ya sudah kita pulang, umi mungkin memasak masakan kesukaan adek.." jawabnya.
"Pak Zaky, terimakasih atas laporannya saya mungkin akan meminta beberapa keterangan nantinya!" ucap seorang pria berpakaian casual namun berjaket kulit dibagian sabuknya terselip sebuah pistol.
"Sama sama pak, saya yang harusnya berterima kasih pada bapak dan rekan rekan, mungkin nanti saya ke kantor polisi untuk memberikan keterangan setelah saya antar pulang istri saya dahulu pak,"jawab om Za.
"Oh iya untuk ibu juga nanti akan dimintai keterangannya," akhir kalimat polisi itu masuk ke mobil.
"Mir, saya antar Salwa pulang berikanlah keperluan bukti dan laporan pada polisi jangan lupa hubungi pak Rifa kuasa hukumku."
Om Mirza mengangguk " Hati hati Za, Sal..."
"Bang, Afrian bagaimana?" tanyaku masuk ke dalam mobil, om Za memasangkan sabuk pengaman.
"Afrian baik baik saja, dia hanya luka luka sedikit dan sudah diperiksa dokter," om Za mengarahkan duduknya ke arahku ia menunduk dan mencium perutku yang masih rata.
"Om bayi tidak apa apa kan? abi sangat khawatir pada om bayi dan uminya," katanya, aku mengangkat kedua alisku melihat tingkah konyol calon ayah ini.
"Alhamdulillah abi, om bayi baik baik saja hanya saja umi nangis soalnya kangen abi..." seruku berbicara mewakili om bayi.
"Bilangin sama umi jangan cengeng, abi juga kangen umi.." jawabnya.
Aku mencubit gemas pipi yang tidak chubby itu, sweet banget jodohnya orang...
.
.
.
.
__ADS_1