
bismillah happy reading all π
.
.
.
.
.
.
"Yu !" biar abang antar, sekalian abang pun ingin rehat sudah jam 11 juga kan?" om Za berdiri dari duduknya lalu mengambil kunci mobilnya. Bola mataku mengikuti pergerakan laki laki posesif ini.
Melihat keterpakuanku om Za mendekat dan menyentuh tanganku.
"Katanya mau beli cemilan?" tanya nya " jadi atau tidak sama sekali?" tanya nya mulai mengeluarkan si Hitler dalam dirinya.
"Jadi ! abang ihhh !" seruku sewot.
Ck dasar suami Londo ! untung cinta, gumamku mendumel tanpa bersuara.
Aku masuk ke dalam mobil entah kenapa kian hari kadar cemburu pria ini makin bertambah, begitu pula level kemesumannya, sebenarnya yang sedang hamil aku atau om Za sih..
Ini dia yang tak kusuka jika pergi dengan om om manis satu ini, selain aset wajah yang ia miliki bisa membuat kaum hawa berpaling dari pasangannya, larangannya pada beberapa jenis cemilan favoritku selalu membayangi, motto nya adalah hidup lebih lama dengan makanan sehat dan bergizi.
Mataku kalap memilih milih beberapa bungkus makanan yang akan kuambil , kesemuanya mengandung kadar micin yang cukup tinggi tapi bagi anak muda seperti ku gaskeun....
"Dek, bisa kan, ga usah banyak banyak makanan ringan yang banyak micinnya, abang tidak mau om bayi dikasih kebanyakan micin !" gerutunya yang mengikuti di belakang dengan membawa keranjang belanjaan.
"Om bayi lagi ngidam bang," ucapku mencari alasan supaya om Za tak menolak.
"Om bayi tidak mungkin ngidam begitu, karena abi nya tidak suka makan makanan mengandung banyak micin!"
Jadi tema perdebatan kami kali ini adalah makanan yang berpengawet dan penyedap rasa sumber penyakit kata om Za. Tiada hari tanpa perdebatan. Sepertinya aku memang diciptakan untuk menjadi lawan debat yang tangguh untuk om Za.
Om Za menaruh sebagian makanan favoritku ke tempatnya lagi dan mengganti dengan buah dan keripik tanpa micin,
"Kenapa ga sekalian makanan yang cuma direbus aja sih biar kaya orang sakit diabetes, ubi rebus kacang rebus ," cerocosku.
"Ibu hamil butuh makanan yang membangun mood bang," jawabku masam. Pria ini memang kepala batu terkadang aku seperti terpenjara dengannya karena aturannya apalagi akhir akhir ini tingkat kecemburuannya dan keposesifannya terkadang membuatku sulit bernafas.Tadi pagi saja aku kesulitan untuk bergerak karena ia yang memelukku bak ketempelan kingkong.
"Boleh, tapi jangan kebanyakan, hanya beberapa adek membeli begitu banyak kenapa tidak sekalian saja buka pabrik ciki ," jawabnya melenggang ke kasir untuk membayar.
Aku menyusul di belakangnya, entah kenapa moodku sangat jelek ditambah sikap om Za yang menyebalkan, rusak sudah hariku.
.
.
"Makasih bang," ucapnya, karena sedari tadi aku diam tanpa berucap apapun aku sengaja mendiamkannya sebagai bentuk protesku.
"Dek, ga usah marah kaya anak kecil..lagian itu makanan ga sehat !" katanya lagi.
"Salwa emang masih kecil, apa abang lupa ?" ucapku sedikit tersentil dengan ucapan om Za.
Ia menghela nafasnya lelah. Lalu menghentikkan mobilnya ke pinggir jalanan.
"Abang minta maaf jika abang salah," ucapnya meraih tanganku.
__ADS_1
"Emang bener kan Salwa emang masih kecil, dan abang menikahi anak kecil ini !! kalau memang abang menyesal pulangkan saja Salwa" jawabku membuat om Za tersentak.
"Abang ga bermaksud seperti itu dek,"melihatku yang cemberut dan hampir saja menangis membuat om Za menarikku dan memelukku.
"Abang ralat ucapan abang kalau begitu ! abang yang salah,abang sayang Salwa," om Za harus banyak banyak mengalah kali ini, sebenarnya ia sangatlah gemas. Perasaan ibu hamil memang sulit ditebak, terkadang bisa bersikap cuek tapi juga terkadang membuatnya sering salah mengartikan ucapan orang lain.
"Lepasin ! Salwa mau pulang saja," ucapku ketus.
Akhirnya om Za menuruti keinginanku untuk pulang ke rumah, sepertinya rumah sangat ramai, saat masuk ternyata ada kerabat jauh umi yang datang ke rumah sengaja bertandang.
"Assalamualikum,"
"Waalaikumsalam"
Seorang wanita paruh baya dan laki laki yang hampir seumur abi sedang duduk di sofa.
" Bibi Ratna, paman Rio ?" ucap om Za.
"Zaky!" seru mereka, om Zaky menyalami keduanya.
"Ka Ratna bang Rio kenalkan ini Salwa istri Zaky," ucap umi.
"Wahhh cantiknya, masih muda..jadi ini menantu yang sudah berhasil meluluhkan hati dingin Zaky.." ucap bibi Ratna. Aku hanya tersenyum nyengir bagai kuda.
"Salwa, bi..."
"Paman, bibi Salwa pamit ke atas dulu berganti pakaian," ijinku.
"Silahkan nak," jawab mereka.
Tak lama om Za pun menyusulku setelah berbasa basi sebentar dengan kedua kerabat umi dan abi itu.
"Hati hati bang, waalaikumsalam!" Sungguh hebat betul hormon kehamilanku baru tadi beberapa jam yang lalu aku bermanja manja ria sekarang aku tidak ingin melihat om Za lama lama, mungkin jika tidak sayang sudah jatuh aku di pukul om Za saking menyebalkannya.
"Ya sallam.." geramnya.
.
.
" Semuanya, Za kembali lagi ke kantor masih banyak pekerjaan barusan istirahat sekalian antar Salwa pulang.." jelas om Za pada keempat orangtua yang ada di ruang tamu.
"Iya Za, hati hati...tetap sukses nak!" jawab paman dan bibi.
"Loh Salwa mana Za?" tanya abi.
"Salwa masih di kamar, bi. Kalau begitu Za pamit assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam."
Aku turun dari kamar setelah dirasa memakai pakaian sopan, ternyata paman dan bibi sudah lama berada di rumah jadi saat ini mereka sudah akan pulang.
"Sudah siang, kami sudah harus pulang, kapan kapan jika sedang ke Aceh kami mampir kembali." ucap bibi.
"Yah sayang banget paman dan bibi cuma sebentar ketemu Salwa," senduku baru aku sadari mereka orangnya menyenangkan ternyata tidak semua orang kaku bergaul dengan orang kaku pula. Malah mereka orangnya pintar berkelakar hingga aku tak canggung dan mudah akrab.
"Kapan kapan Salwa mainlah ke rumah bibi dan paman," tawar paman.
"Iya Sal, rumah paman dan bibi di Medan kan di sana kalian pun punya rumah" ucap umi.
"Iya bibi insyaallah nanti Salwa dan abang berkunjung !" jawabku.
__ADS_1
.
.
.
Om Za melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah jam pulang, pekerjaannya juga sudah selesai.
"Mir, data warga yang sudah masuk nanti kirim lewat email saja!" ucap om Za mengunci ruangannya.
"Siap bos !!" mereka berdua keluar dari kantor bersama.
"Haaaa !! gue rindu masakan Aisyah !!" pekik om Mirza. Seketika om Za menjadi kepikiran denganku yang sedang marah padanya.
"Mir, jika wanita marah apa yang harus gue lakuin, qpa yang dapat membuat hatinya luluh?" tanya om Za membuat om Mirza menaikkan kedua alisnya tak percaya. Seumur hidupnya baru kali ini om Zaky menanyakan perihal ini bahkan dulu saat ia berpacaran dengan Susan sekalipun ia tak pernah mau berusaha untuk membuat Susan senang yang ada Susan lah yang selalu mengejar om Za.
"Salwa sedang marah Za??" om Mirza tertawa.
"Nyesel gue nanya sama loe !" lirih om Za berjalan duluan menuju mobilnya.
"Hahaha Za, ternyata seorang Zaky bisa bucin juga. Atau takut jatah malammu hilang?" godanya terus. Om Za menatapnya malas, inilah yang terjadi jika bertanya pada sahabat kurang akhlaknya.
"Perempuan itu senang diberi hal romantis Za, pikir selama ini apa yang Salwa suka?" tanya om Mirza. Jika ditanya begitu tentulah om Za adalah orang yang tepat ia sangat tau apa yang kusuka hingga ke hal hal yang paling kecil sekalipun. Maklum saja seumur aku hidup selama itu pula om Za sudah mengenalku.
.
.
Mobil om Za memasuki halaman rumah, sore ini angin yang berhembus cukup bersahabat menyejukkan udara sesiang tadi yang panas, daun daun pohon Cempaka yang menaungi halaman ikut terbawa hembusan sang pemilik kesejukan.
"Blughh.."
Om Za menutup pintu mobilnya, membawa sebuket bunga dan sekotak coklat kesukaanku yang dirangkai indah satu keranjang penuh berpita.
"Assalamualaikum" lirihnya.
Tapi tak ada yang menjawab hanya ada asisten rumah tangga saja,
"Bu, umi sama abi kemana?" tanya om Za menaruh buket bunga dan coklat di sofa
"Ibu sama bapak sedang mengantar tamunya pulang , pak" jawabnya.
"Kalo Salwa?" tanya nya.
"Dek Salwa kurang tau pak, tapi rasanya sedari tadi tidak ada di rumah," jawaban bu Inah membuat om Za flashback ke masa saat aku kabur ke Cirebon.
Ia segera menghubungi nomerku tapi sayang nomorku tidak aktif memang habis batre.
"Shitttt !!!" om Za menghubungi setiap teman temanku tapi hasilnya tetap nihil
"Dek, kamu kemana??" gumamnya, om Za juga menyuruh om Mirza dan om Ramli mencariku.
"Elah Za...Za ..baru juga balik udah disuruh kerja lagi!" dumel om Mirza, kalau bukan sobat dan atasan sudah ia jadikan gantungan pintu.
.
.
hay guys mau numpang promo ceritaku yang lain , jika kalian suka dengan cerita romantis, melow melow plus pengen baper mampir juga yu cek profilku dan klik ceritaku yang ini...see u disana π
__ADS_1