Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
Pembalap amatiran.


__ADS_3

Aku menarik tuas rem tangan, dan menginjak gas.


"Bismillah !" ucapku. Semoga saja nanti yang menjadi pasien disini hanya ka Aisyah.


Om Za dan om Mirza menyusul di belakang,


"Salwa yang mengendarai Mir ?!" tanya om Za.


"Iya bini loe !" jawabnya panik.


Brummm !!!! deru berat mesin mobil Afrian, terdengar seperti sudah siap untuk dibawa berpacu dengan wedannya.


Ka Aisyah merintih, begitupun Afrian dan bang Riski, jika ka Aisyah memekik dan mengaduh karena rasa sakit di perutnya, lalu bang Riski dan Afrian, memekik karena di re*mas oleh ka Aisyah, ditambah, laju mobil yang kubawa seperti sedang balapan liar saja.


Aku memindahkan gigi, lalu membanting stir ke kanan, saat belokan. Sesekali kulirik jalanan dan speedometer.


Melihat ka Aisyah yang semakin kesakitan penuh dengan peluh membuatku, ikut merasakan mules.


"Sal !!! " pekik Afrian saat lengannya di cengkram ka Aisyah.


"Sabar, gue cari dulu celah, buat salip !" jawabku.


"Aaaaa !!" pekik kedua laki laki bujang di belakangku, saat ka Aisyah mencakar keduanya.


"Za itu mobil Afrian !!" tunjuk om Mirza.


"Salip Za !!" tunjuk om Mirza, melihat mobil yang kukendarai. Om Za, menaikkan kecepatan, dan menyalip beberapa mobil di depannya. Hingga kini mobil yang dikendarainya berada tepat di samping mobil yang kukendarai.


Om Mirza membuka kaca jendela mobil,


"Sal ! jangan ngebut ngebut, kasian Aisyah !" teriaknya.


"Ga bisa om, ini kayanya ka Aisyah mau lahiran apa gimana, Salwa ga ngerti, udah berdar4h dar4h!" jawabku membuka kaca jendela juga, tanpa mengalihkan pandangan dari depan jalanan.


"Aaaa !! sakit kak !" pekik bang Riski. mendengar teriakan bang Riski, om Mirza semakin khawatir.


"Sal ! berenti dulu, kita gantian !" pekiknya lagi.


"Dek, bisa menepi dulu, biar abang yang bawa mobil ?!" pekik om Za, ikut bicara.


"Pada ga percaya banget deh, susah bang !" jawabku.


Aku menyeringai melihat jalanan ber zig zag.


"Om Mirza tenang aja ya, insyaallah do'ain aja tuh bujang dua ga muntah !" pekikku menutup kaca mobil.


"Sal !! ya Allah, gue makin khawatir Za, kalo bini loe yang bawa !" paniknya, sudah pasrah.


"It's show time baby !" gumamku, menarik tuas gigi, lalu membanting stir ke samping kanan dan kiri sesuai jalanan yang kosong.


Om Za sampai berdecak, dan tersenyum.


"Itu Salwa bini loe kan Za?!" tanya om Mirza.


"Gue juga masih ga percaya, " jawabnya.

__ADS_1


Di depan sana ada sebuah truk pembawa pasir, namun jika aku berhasil maka ke depannya jalananku bebas hambatan.


"Za, Za...itu Salwa ga serius kan mau salip ?" tanya om Mirza panik, sudah tak enak duduk. Om Za menaikkan speedometer mobil, agar bisa mendampingi. Tapi sepertinya sulit.


"Bang, Ian..pegangan ya !" pintaku.


"Hah??!" beo mereka. Aku langsung tancap gas, mengambil lajur berlawanan arah, kulajukan sampai jarum speedometernya lewat dari setengah. Suara deru mesin mobil saja sampai terdengar, untung saja mobil Afrian sudah modern, dan memang dirancang untuk anak anak muda balapan.


"Aaaa !!! dek Salwa, abang sudah mual ini !" ucap bang Riski.


"Sal, loe yakin bakalan keburu lewatin mobil?" tanya Afrian.


"Insyaallah, kalo Allah mengijinkan !!" jawabku terkekeh.


"Ya Allah bini gue, Za !!" ucap om Mirza. Moncong truk saja sudah mendekat, hanya tinggal satu mobil lagi kulewati.


Kubanting stir ke kanan kembali ke lajurku, dengan kaki yang lihai menginjak gas dan rem.


"Wohooooo !!! bravo Salwa !!" puji Afrian.


"Alhamdulillah," bang Riski menghela nafas lega.


"Bini loe bikin gue jantungan Za !" omel om Mirza, om Za menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Salwa, sejak kapan kamu dek..bisa begitu ?" gumamnya.


Rumah Sakit sudah di depan mata, aku berbelok dan masuk ke parkiran RS. Aku keluar duluan dan memanggil perawat agar membawa blangkar, lalu Afrian dan bang Riski keluar membantu, keduanya tak kalah nelangsa dari ka Aisyah, bahkan muka mereka lebih pucat, sepaket dengan peluh yang banjir.


"Gue nemenin dulu ka Aisyah, kalian kalo mau masuk nyusul aja !" ucapku sebelum ikut berlari bersama perawat ke dalam.


"Gilakk si Salwa bisa gitu ! ga nyangka gue !" kekeh Afrian.


"Lemas saya bang !" ucap bang Riski pada Afrian, ia lantas duduk di jok mobil yang dibuka pintunya. Mobil om Zaky baru saja sampai.


Om Mirza keluar dengan terburu buru, "mana Aisyah?" tanya nya.


"Dibawa ke dalem bang," jawab Afrian. Ia langsung berlari ke dalam. Om Za tertawa kecil melihat kedua bujang ini nampak menyedihkan. Afrian tertawa, "ga nyangka cewek manja kaya Salwa bisa garang bang !" ucapnya.


"Awas jatuh cinta lagi, itu istri abang !" jawab om Za mewanti wanti.


"Engga, " jawabnya meragukan ucapannya sendiri.


"Ris, kamu tak apa apa?!" tanya om Za.


"Saya hanya lemas saja pak, mau ngumpulin dulu nyawa, bu Salwa pembalap ya pak?" tanya nya, om Za hanya tersenyum.


"Saya masuk dulu, beliin dia minum..Ian, !" pinta om Za, lalu masuk ke dalam.


*************


"Sal, kaka takut...aaaaa !" tangannya menggenggam tanganku hingga buku buku kukunya memutih.


"Insyaallah, kaka sama dede bayi pasti selamat !" jawabku.


"Brakkkk !!" om Mirza masuk ke ruang bersalin seoaket dengan wajah pucat karena panik dan khawatirnya.

__ADS_1


"Sayang, " panggilnya.


"Abang...ashhh" ka Aisyah menangis pada suaminya, seraya menahan sakit yang semakin mendera.


"Ya Allah, kenapa bisa begini?" tanya nya.


Suara dokter mengejutkannya, "siap ya bu, pembukaan sudah lengkap," ucap dokter perempuan itu.


"Hah??! melahirkan dok ?" tanya om Mirza membeo.


"Dokter, karena suaminya udah dateng..Salwa keluar ya !" ucapku. Dengan segera, aku meninggalkan ruangan bersalin. Olahraga lewat tengah hari begini membuatku lumayan berkeringat.


"Rekor banget gue pake jilbab gini balapan lagi, jadi kangen Jakarta !" gumamku. Pemandangan pertama yang kulihat adalah seorang pria matang memakai seragam safarinya, tampak gagah, memasukkan tangannya ke saku celana. Selalu tampak kalem.


"Abang, " aku masuk ke dalam pelukannya. Lelaki itu membalas pelukanku dan mengecup pucuk kepalaku.


"Liat ka Aisyah kaya gitu, Salwa ikutan mules lagi !" ucapku, ia terkekeh.


"Kirain, mau punya lagi !" jawabnya. Aku membulatkan mataku dan mencubitnya.


"Abang yang enak, Salwa yang ngerasain sakitnya !" jawabku ketus.


"Sejak kapan istri abang jadi pembalap ?" tanya nya.


"Sejak belajar bandel," jawabku nyengir. Ia lalu menjiwir hidungku.


"Bu camat nakal, " ucapnya.


"Salwa kangen Al, bang ! Salwa pengen pulang, Salwa pengen mandi, udah kaya uang kembalian terasi, lecek, bau !" ucapku.


"Kamu seksi.." bisiknya,


"Ih, ini rumah sakit bang !" jawabku kembali mencubitnya.


"Mau pulang sekarang ?" tanya nya.


"Om Mirza sama ka Aisyah gimana?" tanyaku.


"Abang sudah telfon ibunya Aisyah dan Mirza, sebentar lagi mereka datang,"


"Ijin dulu, " jawabku.


Suara bayi terdengar dari ruangan itu, umur kandungannya baru 7 bulan. Namun, gara gara terjatuh di kamar mandi tadi akibatnya kandungannya turun, kantung janin masuk ke dalam jalan lahir.


"Eh, udah lahiran bang !" seruku. Tak lama terdengar suara om Mirza yang sedang mengadzani anaknya. Anak yang lucu dan gemoy keluar dari ruang bersalin menggunakan inkubator dan di dorong menuju ruang bayi, bayi lucu yang hanya diselimuti oleh selimut rumah sakit. Karena datang kesini tanpa persiapan.


"Za, anak gue cewek !!" isaknya menangis.


"Ihh, cengeng banget sih om, abang aja Salwa sampe pendarahan ga mewek !" ucapku.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2