Love Me Please , Uncle Camat

Love Me Please , Uncle Camat
Kontrakan


__ADS_3

Bismillah happy reading all 😘


.


.


.


.


.


Umi beberapa kali menciumi pipi dan setiap inci wajah baby Al Fath.


"Umi ko belum ridho ya, ditinggal Al Fath !" seru Umi.


Baru saja memasuki 2 bulan merasakan nikmatnya punya cucu, harus berkangen kangen ria lagi.


"Kaya ditinggal kekasih, ya mi?? cuma 3 bulan mi, ga lama ko !" ucapku.


"Al Fath baik baik disana ya nak, umi bakal rindu Al Fath !!"


"Za, hati hati, jaga anak istrimu !" ucap abi.


"Iya bi,"


Kami pamit, membawa si kecil Al Fath, sebelumnya keluarga di Jakarta pun sudah diberi kabar.


Beberapa jam perjalanan kami tempuh, hingga sampai ke depan sebuah rumah, yang sengaja di sewa om Za selama 3 bulan kedepan, pihak dari pemerintah sebenarnya menyediakan mess, namun karena om Za yang membawa turut aku dan baby Al Fath jadinya kami menyewa sebuah rumah kontrakan.


Om Mirza sudah mencarikannya, jadi om Za dan aku hanya tinggal menempatinya saja.


"Bang, ini rumah yang mau disewa kita selama 3 bulan?" tanyaku cukup lelah karena perjalanan.


"Iya, Mirza sudah mencarikannya, yu masuk !" jawabnya. Kami mengetuk pintu, setelah sebelumnya menghubungi langsung si pemilik rumah dan berjanjian.


"Ini kuncinya pak, semoga betah !" seru si ibu tersenyum ramah.


"Makasih bu, insyaallah !" jawab om Za.


"Wahhh !! bawa anak, masih kecil ya, berapa usianya bu?" tanya nya padaku sambil melongok melihat ke dalam gendongan.


"Sudah 2 bulan bu," jawabku.


"Wahhh masih kecil to, mungkin kalian mau istirahat, kalau begitu ibu tinggal yo, kalo ada butuh apa apa, panggil saja. Rumah ibu di belakang rumah ini."


"Iya bu, terimakasih !!" jawabku.


Bu Surti pun pamit undur diri.


Aku segera mengganti popok Al Fath, dari tadi ia bergerak gelisah, mungkin sudah tak nyaman.

__ADS_1


"Ini perabot rumah,punya ibu yang punya rumah atau abang yang menyuruh om Mirza juga?" tanyaku, pasalnya begitu masuk ke dalam rumah di dalamnya sudah ada kasur di kamar lengkap dengan bantal dan selimut, ada pula kompor beserta wajan dan pancinya.


"Abang yang menyuruh Mirza membeli peralatan rumah," jawabnya mulai memasukkan koper koper.


"Maaf tidak terlalu lengkap, kita disini hanya 3 bulan saja dek," ucap om Za. Aku tersenyum, "ga apa apa bang, Salwa ngerti ko."


Aku membuka koper mencari peralatan Al Fath, ia sudah menangis karena tak nyaman.


"Uuu.. sayang, dede sudah ga nyaman ya?" waktu 2 bulan ku jadikan waktu untuk belajar mengurus Al Fath si bayi gembulku. Tanganku terampil mengganti popok instan nya.


Selanjutnya ku keluarkan sumber kehidupannya, ia menyedotnya dengan rakus.


"Haus ya nak ?"


Om Za menaruh koper di pojokan kamar yang kosong melompong, hanya ada kasur saja. Ia berkeliling ke seluruh penjuru rumah yang tidak besar, seperti rumah kontrakan dua petak.


Sedikit lama om Za mengecek, rupanya laki laki itu langsung bersih bersih. Makanya ia kembali hanya dengan handuk melingkar di pinggangnya.


"Al Fath tidur dek?" tanya nya, aku mengangguk.


"Iya bang, abang mandi??"


"Iya, sana giliranmu !!" ujar om Za mencari pakaian, aku membantunya terlebih dahulu, sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar mandi.


Jangan berharap tersedia shower ataupun bathtub, hanya ada bak kecil dan gayung saja, tapi sungguh adem, rasanya guyuran air membawa serta semua beban selama perjalanan tadi. Aku kembali dari kamar mandi, mengedarkan pandanganku ke segala arah, baru menyadari jika disini tidak ada barang lain selain kasur, kompor.


"Terus gue mau makan apa??" gumamku, mengingat ini sudah sore, dan aku belum makan siang.


Keningku mengernyit, saat tidak menemukan om Za di kamar maupun ruang tengah.


Sekitar 15 menit aku menunggu, terdengar suara motor bebek dari depan rumah, aku melongok.


"Abang !!"


"Motor siapa itu bang?" tanyaku terkekeh, biasanya om Za tampak gagah memakai motor besar miliknya dan kini ia memakai motor bebek, terlihat sangat kentara perbedaannya.


"Motor punya bu Surti, tadi pinjem sebentar mencari makan ke depan. Tapi abang hanya mendapatkan warteg dan membeli nasi bungkus. Abang cepat cepat takut Al Fath terbangun, dan adek masih mandi !" jawabnya.


"Ga apa apa bang, Salwa makan ko !! justru Salwa pengennya kita ngerasain dari nol bang, kayanya seru !!" jawabku terkekeh. Om Za mengacak rambutku gemas, memang benar benar magic istri kecilnya ini.


"Kalau begitu bawa ini ke dalam, abang mau mengembalikan motornya dulu !" ujar om Za.


2 nasi bungkus dengan lauk ayam goreng dan tempe orek, menjadi makan malam ku dan om Za malam ini.


"Bang, kita harus membeli beberapa perabot lainnya, biar tidak terus terusan membeli makan di luar !" ucapku.


"Iya nanti saja dek, sebaiknya kamu makan saja dulu makanan mu !" jawab om Za.


Duduk melantai bersama orang yang disayang berteman nasi bungkus, not bad !!


Tidak ada AC, ataupun kipas, untung saja cuacanya tak sepanas di Aceh. Kasur yang biasanya empuk dan luas, kini hanya tergeletak di lantai dan berbagi 3 orang berdempetan.

__ADS_1


Om Za memeluk menyamping, aku terkekeh.


"Kenapa?" tanya nya, suaranya pas dekat telingaku.


"Sekarang tidurnya mepet mepet terus, menang banyak dong abang !" ucapku.


"Bagus, kalau gitu nanti kasur di rumah abang ganti, dengan ukuran yang segini ! Mirza emang pinter milih kasur !!" jawab om Za, membuatku tertawa kecil.


"Modus terus pak !!!" godaku.


"Dek, adek tidak keberatan kan selalu ikut abang? apalagi selama 3 bulan ini, adek tidak ada yang membantu di rumah selama abang pelatihan."


"Insyaallah ini sudah menjadi kewajiban Salwa bang, kemanapun abang pergi Salwa dan Al Fath ikut, apapun kondisi abang !!"


"Anggap saja, adek pun tengah mengikuti pelatihan menjadi seorang istri dan ibu mandiri, menjadi wanita tangguh !" ucap om Za.


"Iya bang," jawabku jariku dan jari om Za bertautan, seakan tak membiarkan ada celah diantaranya.


Tok..tok..tok...


Pintu rumah diketuk, kulirik jam di ponsel pukul setengah 8 malam.


"Bang, itu siapa?" tanyaku.


Om Za bangkit, "biar abang saja yang membukanya!!"


ceklek !!


"Assalamualaikum, pak Zaky. Maaf mengganggu malam malam, saya hanya ingin memberikan ini lumayan buat makan malam," bu Surti menyodorkan nampan berisikan nasi beserta lauk pauknya.


"Alhamdulillah bu, jazakillah khairan," jawab om Za.


"Sama sama pak, mungkin bu Salwa sudah tidur, maaf sekali lagi sudah mengganggu pak, assalamualaikum !" bu Surti pamit.


"Iya bu waalaikumsalam,"


"Siapa bang ?" tanyaku keluar kamar.


"Bu Surti dek, beliau memberikan makanan."


Om Za menaruh nampan itu diatas meja kecil yang ada di pojokan ruang tengah.


"Alhamdulillah, lumayan buat sarapan bang. Tinggal diangetin. Kalo masih pagi kan susah cari warteg yang udah buka, palingan ada juga nasi pecel dan lontong sayur. Itupun tak tau harus cari kemana karena Salwa belum hafal jalan, yang ada abang telat !" jawabku.


"Iya Alhamdulillah, kalau begitu besok seoulang dari kantor, abang temani adek membeli beberapa perabotan rumah agar kita tidak selalu membeli."


Perjalanan seorang istri sebenarnya versiku dimulai dari sini !!


Kalo ada yang belum mampir ke ceritaku yang lain, kuy sudah up beberapa episode, yang ga akalah seru juga sama Salwa dan om Za.


__ADS_1


genre misteri horor



__ADS_2