
happy reading all π
.
.
.
.
.
.
bismillah
.
.
.
.
" apa Om??
" jadi ??!"
" sudah ! abang malas cerita nya , nanti saja kalau sudah di rumah , sekarang lebih baik kita bersiap pulang !" Om Za meraih tas milikku membawa nya ke mobil ,meninggalkan ku dengan semua rasa penasaran yang sudah menggunung ..
" doyan banget bikin anak gadis orang penasaran !!" gumamku sebal.
.
.
" ka Salwa ,kapan kapan main lagi kesini !!" seru Amir dan anak anak yang lain.
" oke !! tapi nanti kalo ka Salwa kesini kalian harus udah jago main bola ya !!" aku mengacak rambut anak anak satu persatu.
" Za..! " senggol Om Mirza pada Om Za
" doi seneng anak kecil ,kode tuh ....!" kekehnya.
" Salwa masih sekolah Mir..." balas Om Za,sedangkan senyuman kecut menyungging dari wanita di sebelahnya.
" panggil ibu ,Amir...!!!" ralat ibunya.
__ADS_1
" maaf ya bu,pak ..." nyengir bu Samadi
Aku terkekeh " tak apa-apa bu, lagian ga usah ada embel-embel ibu camat segala lah Salwa ga terlalu suka..!" jawabku .
Setelah berpamitan ,kami melanjutkan perjalanan pulang.
" Om...ayo dong Om cerita !!" rayuan gadis kecil memang tak semanis rayuan pulau kelapa ,tapi setidaknya bisa lah ! untuk merayu lelaki berwajah kaku ini. Aku menggelayuti lengannya menempel agresif dan mendongakkan kepalaku,dengan puppy eyes ,jiwa kepo.. memang selalu meronta-ronta minta dikasih tau.
Om Za mengangkat alisnya sebelah ia malah mendorong keningku dengan telunjuk nya
" abang belum mau menceritakannya , Salwa belum cukup umur buat mengerti !" jawabnya mencengangkan. Apa dia lupa umurku sudah lewat dari angka 17 dan sebentar lagi akan bertambah satu angka lagi ,aku juga sudah tau yang mana hak dan yang bathil ditambah aku sudah mengalami yang namanya siklus wanita setiap bulannya kurang dewasa apanya ,bahkan aku juga sudah menyandang status sebagai nyonya Teuku Zaky.
" hey kisanat , mulutnya disuruh sekolah dulu sana , Salwa udah gede Om,sudah tau yang benar dan salah Salwa juga sudah men*stru*asi dan jangan lupakan yang Om bilang belum dewasa ini adalah istri sah Om Za!!" ucapku tak terima.
Kedua lainnya hanya melihat ribut ribut ini dari depan tanpa berniat menoleh ,bila Om Mir sudah mengulum bibirnya ingin tertawa lain halnya dengan tante Cut seperti nya dimanapun ada aku pasti mendung untuknya.
Om Za memajukan wajahnya ke depan wajahku " oh ya ??? lalu siapa yang sering bilang kalau penampakan Om sehabis mandi meracuni otak gadis kecil nan suci ini tiap pagi ??'" tantangnya terkekeh melihat ekspresi saltingku yang skak mat.
" itu..itu....itu beda lagi ceritanya Om ...itu porno aksi dan Salwa belum siap buat hal itu...!!" kilahku. Selalu ada saja jawabanku untuk mendebat Om Za,
" oke , Om bakal cerita tapi setelah kamu beri hak Om sebagai seorang suami ,bagaimana ??" bisik Om Za di telingaku membuatku bergidik ngeri. Sontak saja aku melepaskan tanganku yang menggelayuti lengan Om Za dan menjauhkan badanku
" dasar suami mesum !!!" pekikku tak sadar sedangkan Om Za tertawa geli melihatku yang kesal plus wajah memerahku.
Hati tante Cut semakin ngebul dibuatnya ,ingin sekali ia menangis sekencang kencangnya ,ia berusaha menyadarkan dirinya dari situasi ini namun hatinya tetap tak mau move-on..semakin ia ingin melupakan Om Za semakin ia ingin mengejar suami orang .
" bang Za!" panggil Tante Cut dari kursi depan membuat kami sontak menoleh ke arahnya.
Om Za menghela nafas ,pasalnya tidak etis rasanya membicarakan masalah pribadi di depan orang lain yang tidak tau duduk perkaranya ,,disini Om Mirza ,tapi apa mau dikata tante Cut sudah membahasnya.
" abang harap tidak ada lagi kejadian seperti itu ,kamu harus hargai kalau sekarang Salwa adalah istri abang...dan masalah pribadi kami biar abang, Salwa ,dan Allah yang tau.." jawabnya menegaskan ,sudah tau bakal begini jawabannya tapi tante Cut tetap saja ngeyel seperti tak patah arang walaupun sudah menjadi abu .Ada sedikit rasa kelegaan di dada mengingat Om Za yang sudah memproklamirkan hubunganku dengannya tapi tetap saja kurasa wanita wanita pemuja Om kesayangan ku ini tak akan melepaskan Om Za begitu saja,mungkin masih ada tante Cut lainnya diluaran sana.
.
.
.
.
Langkahku bukan lagi mengekor di belakangnya tapi kini Om Za memposisikan dirinya disampingku dan menggenggam tanganku , walaupun saat menoleh ke samping wajahku pas mengenai lengan atasnya karena tinggiku hanya sepundaknya.
" Om ! Tante Cut kayanya cinta banget deh sama Om!!" ucapku meskipun hatiku sakit tapi aku juga perempuan merasakan apa yang Tante Cut rasakan. Langkah kaki Om Za terhenti di depan pintu kamar.
Ia berbalik ke arahku menatapku penuh arti tangannya menggenggam kedua tanganku .
" abang sudah memiliki Salwa , tidak perlu yang lain ,abang hanya perlu memikirkan perasaan Salwa saja bukan perasaan wanita lain...dan Salwa cukup pikirkan saja perasaan abang !" ucapnya ,aku tertegun dengan lelaki yang selama ini kukenal kaku namun perlahan menghangat , sikapnya seperti cuek di luaran namun begitu menjunjung tinggi sebuah komitmen dan perasaan, beda dengan diriku yang jiwa mudanya masih bergelora jika suka akan bertindak agresif di luar namun masih belum memahami betul rasa itu di dalam , namun bagi Om Za untuk saat ini setidaknya aku cukup mengerti saja menghargai sebuah komitmen,maka selebihnya biar diriku sendiri yang belajar.
__ADS_1
Aku mengangguk mengerti,ada senyum tipis diwajahku ,dan perasaan menghangat di dada.
.
.
.
Secangkir kopi sudah siap ku sajikan untuk menemani Om Za mengerjakan pekerjaan nya. Sejak kapan aku memiliki perasaan tanggung jawab begini akupun tak tau yang kutau aku nyaman melakukannya dan senang , rasa mulai terikat dan tak ingin jauh dengannya.Berada disamping Om Za membuatku merasa nyaman ,aman,rasa sayang dan tentu saja rasa takut kehilangan.
" kopinya Om ...!" ucapku menaruh cangkir kopi di samping laptop
" makasih sal..." ia tersenyum.
" umi sama abi kemana , Om??!" tanyaku celingukan baru menyadari semenjak siang tadi tak terlihat umi dan abi.
" umi dan abi sedang di rumah dekat perkebunan kopi ,ada urusan perkebunan yang harus abi handle sementara abang tidak bisa..." jawabnya.
" jadi ,cuma kita berdua disini ??" tanyaku , Om Za mengangguk
" kenapa ??" tanya Om Za,aku menggeleng dan duduk disampingnya Om Za.
" Om.. apa ucapan tadi pagi artinya Om cinta sama Salwa ??" pertanyaan itu lolos dari mulutku memang itu yang selalu menjadi beban pikiranku mengingat sikap Om Za yang selalu seperti seorang penjajah untukku membuatku berfikir kalau Om Za terpaksa menikahiku karena sebuah perjodohan yang tak diinginkan. Aku menunduk sambil memainkan jari jariku.
Om Za menghentikan pekerjaannya , sepertinya memang aku belum cukup dewasa untuk merasakan kepekaan ,malam ini akan menjadi malam yang panjang untuknya karena bisa semalaman ia akan menjelaskan .
" abang cinta Salwa , bahkan sejak Salwa masih berupa bayi merah !!" jawabannya membuatku tergelak Om Za ikut tersenyum
" bohong banget !!" seruku.
" mana ada..! berarti Om Za pedofil dong...!!" jawabku.
" senyum dan tawa itu yang selalu ingin abang lihat darimu..." gumamnya.
"abang akan menceritakan tapi hanya sekali ini ! tak ada ulangan lagi karena abang tidak mengulang ...!! jadi dengarkan baik baik!!" tegas ,lugas maklumlah bawaan jabatan sampai juga ke rumah .
" abang tau semua tentang Salwa... ,abi dan umi sangat dekat dengan ayah dan bunda hampir setiap waktu liburan mereka habiskan mengunjungi satu sama lain sampai bunda mengandung Salwa dan melahirkan Salwa ,abang sering menimang Salwa bermain bersama Salwa ...semasa SMA abang sudah jarang menemui Salwa dan keluarga begitupun abi dan umi karena kesibukan kami padahal abang dipindahkan ke Jakarta, tinggal bersama orangtua Afrian dan bersekolah disana, sampai Abang kuliah abang memutuskan untuk menyewa kamar kost dan bertemu dengan Mirza ,abang sering mengunjungi ayah dan bunda tapi abang tak pernah menemui Salwa, Salwa selalu menghabiskan waktu di luar ,seiring berjalannya waktu entah disengaja ataupun tidak, foto foto Salwa ,keseharian Salwa bagaimana Salwa saat ini selalu menjumpai Abang ,entah lewat umi Abi ataupun ayah bunda, Salwanya abang tumbuh menjadi gadis cantik idola kaum Adam, timbul rasa lain di hati abang bukan perasaan sayang layaknya abang terhadap adik seperti dulu ,melainkan perasaan laki laki terhadap perempuan ,abang meminta abi dan umi untuk meminang Salwa untuk abang , Abang sekeluarga tak menyangka ayah dan bunda akan setuju ,anak gadis nya dilamar oleh pria tua seperti abang " Om Za menjeda penjelasan nya.
Otakku mencerna semua cerita Om Za dan masih diam melongo.
" Salwa boleh menilai abang terlalu buru-buru menikahi Salwa namun yang jelas ,abang ingin abanglah yang menjadi cinta pertama dan terakhir Salwa " kalimat terakhir itu membuat rongga dadaku mendadak jadi taman bunga,tak bisa dipercaya pria yang kusebut diktator ,om om tua yang kaku dan dingin seperti spons cuci piring bisa se sweet dan seromantis ini.
" jadi ,apa abang boleh meminta balasan dari Salwa ?? " tanya nya berbalik.
.
.
__ADS_1
.
.