
Bismillah happy reading all π
.
.
.
Tak pernah semenit pun om Za meninggalkanku, layaknya habibie dan ainun versi kekinian, aku terbangun di tengah malam karena ulu hatiku yang sakit, ditambah rasanya tenggorokanku kering. Jangankan untuk makan minum, bernafas pun rasanya sakit.
Aku bangun dan meraih raih kepayahan gelas yang berada di atas meja, mungkin karena gerakanku yang tak mau diam, om Za jadi terbangun. Semalaman pria matang ini tertidur berbantalkan tangannya, dengan posisi terduduk di kursi.
"Adek mau minum?" tanya nya. Aku mengangguk, "maaf ya, Salwa ganggu abang !" jawabku.
Om Za mengambil gelas berisi air, "tidak apa, bilang saja sama abang, biar abang bantu !" ucapnya.
"Masih sakit?" tanya nya.
"Iya, ulu hati Salwa sakit bang, buat nafas aja susah !" aduku.
"Pelan pelan aja nafasnya dek, yu minum, abang bantu !" jawabnya. Meskipun sakit tapi kupaksakan.
"Alhamdulillah, " jawabnya
"Iya Alhamdulillah, ada abang sii..jadi nafasnya ringan ! abang kan oksigen Salwa !" kekehku.
"Tuk !!" kepalaku dijitaknya.
"Apa DBD membuat orang berhalusinasi dan otak jadi geser ?" tanya om Za,
"Ish abang !" bibirku mengerucut, sakit bukan penghalang otak untuk berfikir kan, sakit bukan menjadikan seorang Salwa jadi manusia kaku modelan om Zaky.
"Abang kalo ngantuk tidur sini aja !" jawabku menggeser posisiku di ranjang, kurasa ini muat untuk kami berdua. "Biar so sweet bang kaya di film film !!" kekehku,
"Biar so sweet, apa biar kepergok lagi suster??" tanya nya.
"Abang, mau sholat malam dulu dek, adek tidur saja lagi. Istirahat !" om Za akhirnya bangkit dan pergi ke toilet. Aku hanya bisa memperhatikan om Za, wajah dewasa yang tampan dibasahi air wudhu. Menggelarkan sajadah dan melaksanakan kewajibannya sebagai umat, mengadukan semua masalahnya pada Sang Pencipta, terselip namaku dan Al di dalam do'a do'a nya. Al...apa kabar jagoan kecilku, mungkin ia sedang berguling guling lucu bersama bunda di kasur, terlelap, sambil mencari cari sumber kehidupannya, ternyata seperti ini rasanya jauh dari malaikat kecilku. Galau tak karuan.
Romantisnya pria dewasa ya seperti ini, tak ada waktu untuk memikirkan gombalan receh, baginya lebih afdol memasukkan langsung namaku di list teratas dalam setiap do'a nya. Bertanggung jawab dunia akhirat, lahir dan bathinnya. Peluk cium untuk pria matangku. Kutarik kata kataku yang dulu, kalau menikah dengan om Za akan membuatku seperti di neraka. Kalau menikah dengannya akan seperti hidup di jaman penjajahan, atau hidup dengan seorang datuk maranggi, si tukang mendzalimi istri.
Menatap pria itu tak membuatku bosan, wajahnya teduh menenangkan, mengantarkanku kembali tidur. Ke dalam mimpi yang indah.
.
.
.
Suster mengantarkan air untuk berseka, hanya satu baskom saja plus lap untuk menyeka badan.
"Bang, Salwa maunya mandi..ga mau sekaan gini !" decihku.
"Biar abang yang minta, " jawabnya kembali memanggil untuk meminta air panas.
"Abang tidak ke kantor?" tanyaku.
"Abang sudah ijin, abang akan disini menemani dan merawat adek !" jawabnya sibuk mengeluarkan baju gantiku. Lihatlah lelaki itu begitu semangatnya mengeluarkan pakaian gantiku, tak ada lagi rasa malu memilah milah dalaman, emang om Za yang paling tau.. Wajar saja hampir tiap malam dia melihatnya. Malahan dibandingkan aku, om Za sepertinya lebih hafal dengan nomer dalamanku.
"Abang semangat banget !" aku menyipitkan mata dengan bibir mendengus.
__ADS_1
"Oh jelas, memandikanmu akan masuk ke dalam daftar hobby abang !" kekehnya.
"Lagipula ini kamar VVIP, hanya ada kita saja disini !" ujarnya menaik turunkan alisnya sepaket dengan mesumnya.
Dengan telaten om Za mengurusku. Seperti ayah yang sedang memandikan anak gadisnya.
"Ga usah dipandang kelamaan !!" sarkasku menutup wajahnya dengan telapak tanganku. Dipandang intens begini bikin aku malu sendiri.
"Terus kalo ga liat gimana abang mau mandiinnya !! ga usah malu malu geer gitu, abang sudah melihatnya setiap malam !" jawabnya datar meskipun ia pun harus bersusah payah menahan sesuatu yang sudah bergejolak disana.
"Salwa ngerasa ternodai tau ga !" ketusku, so so seperti masih gadis. Om Za terkekeh.
"Abang juga sudah cicip, sudah unboxing !" jawabnya membuatku malu.
"Mulutnya !!! minta di suntik pake jarum infusan !!" jawabku.
"Lagipula ngapain harus malu, abang sudah tau bagian mana saja yang nikmat dicicip !" ucapnya lagi, aku membulatkan mataku. Meraih air dan mencipratkannya ke wajah om Za.
"Kayanya abang perlu di ruqyah, " jawabku. Om Za mengusap wajahnya yang basah sambil tertawa.
.
.
"Abang, " panggilku melihatnya sibuk mengurusku.
"Iya, sakit??" tanya nya menghentikan sisirannya di rambutku. Aku menggeleng dan malah terisak.
"Lalu, kenapa adek nangis?" tanya nya.
"Salwa terharu, harusnya Salwa yang ngurusin abang ! tapi Salwa malah sakit dan malah diurusin abang !"
"Makasih sudah memilih Salwa jadi istri abang, Salwa kira abang bakal jadi suami yang nyebelin, suami yang ga romantis, kaya datuk maringgih ! "
"Jadi adek mau muji abang atau mau jelek jelekin si pria tua ini?" tanya nya, aku mendongak.
"Ish, ga asik lah !" aku menepuk dada liat itu dengan tangan yang masih terpasang infus.
"Apa abang sudah makan?" tanyaku.
"Nanti saja setelah selesai mengurusmu !" jawabnya.
"Salwa bisa makan sendiri bang, Salwa udah ga terlalu pusing ko ! abang makan ya, jangan nanti abang yang sakit !" ucapku.
.
.
Terhitung sudah 3 hari aku disini, om Za pun sejak kemarin sudah kupaksa untuk masuk kantor, hari ini ibu ibu tetanggaku menjenguk ke ruanganku. Jangankan dari dekat, dari jauh saja suara mereka sudah terdengar, "Mbak Salwa itu masuk VVIP !!" ucap salah satunya.
"Oalah ini RS apa hotel bu ? ko beda dengan yang dibawah tadi??"
"Assalamualaikum, "
"Waalaikumsalam !"
"Apa kita harus lepas sandal dulu ini bu?" bisik bu Lia pada bu Rt. Om Za tertawa kecil, "masuk saja bu, tidak usah di lepas !"
"Oh iya pak, " jawabnya.
__ADS_1
"Mbak Salwa, pak Zaky... maaf baru bisa menjenguk sore sore begini !" ucap bu Rt beserta gerombolannya, memang begini kalau ibu ibu yang menjenguk, suka keroyokan.
"Tidak apa bu, terimakasih sebelumnya !" jawab om Za.
"Oh iya bu, katanya mbak Siska juga di rawat ya? dimana?? " tanyaku.
"Iya mbak, dia kena Dbd, di rawat di RS umum..pasti di rumahnya jorok itu, makanya nyamuk seneng bertelur!! "ucap ibu ibu, tak lengkap rasanya jika ibu ibu tidak dilengkapi dengan mulut ghibahnya. Om Za memilih keluar menuju kantin RS dan melakukan meeting teleconference bersama om Mirza, dan yang lain.
"Maaf ibu ibu, saya tinggal sebentar ya !" ucap om Za membawa laptopnya.
"Nggeh pak !"
"Iya mbak, makanya kemarin kampung kita di fooging," jawab bu Surti.
"Ahh iya maaf banyak repotin ya bu, " ucapku pada bu Surti.
"Tak apa mbak, oh iya kemarin ibu nya mbak Salwa sudah datang ke rumah, " jawab bu Surti, yang menceritakan kedatangan bunda.
"Wah, ibunya cantik ya mirip sama mbak Salwa, keliatan awet muda !" kikik bu Surti, "sama lah kaya saya !" tambahnya.
"Makasih, " jawabku, sungguh mendengar ocehan ibu ibu membuatku kembali pusing.
"Oh iya mbak, pak Zaky kemana??" tanya bu Lia.
"Lagi di kantin bu, " om Za mana mau mendengar curahan hati para emak emak, apalagi bahan ghibahannya.
"Mbak Salwa cepat sembuh ya, biar busa gabung lagi sama ibu ibu !" ucap Bu Wati.
" Aamiin, insyaallah bu !"
"Maaf kami tidak membawa apa apa !" ujar bu Rt menyerahkan buah tangan.
.
.
"Ibu ibu sudah pulang?" tanya om Za yang baru datang kembali dari kantin.
"Udah bang, "
"Maaf abang barusan masih sibuk meeting, jadi tidak bisa menemani !" jawabnya, aku mengangguk.
"Dek, minggu depan mungkin adek harus pulang ke Aceh, ajaran semester baru sudah akan dimulai !" ucapnya.
"Iya bang, terus abang gimana?" tanyaku.
"Pulang saja duluan bersama Al Fath, nanti abang menyusul!" jawabnya. Sebulan bukanlah waktu yang sebentar. Bibirku mengerucut.
Aku menggeleng, "ga mau, Salwa mau sama abang !" rajukku,
"Biar nanti ada Mirza atau Ramli yang mengantar jemputmu ! abang hanya tinggal sebulan kurang lagi disini !" jawabnya.
"Harus pisah lagi ya ?" tanyaku cemberut, padahal dulu pun terpisah, tapi sekarang rasanya berbeda.
"Kalo gitu Salwa kuliahnya nyusul aja bang !" pintaku. Seperti anak kecil meminta balon.
.
.
__ADS_1